Betapa bahagianya Sekar ketika dinikahi oleh dokter yang bernama Ilham Kaniago. Sekar yang bekerja sebagai perawat menyadari jika ia bukan gadis yang cantik. Kulit hitam gelap, wajah berjerawat tidak disangka jika akan dipinang oleh dokter tampan dan kaya raya. Tetapi dalam pernikahan itu, Sekar hanya mendapat nafkah batin malam pertama saja. Ilham selalu dingin dan cuek membuat hari-hari Sekar Ayu bersedih.
"Apa tujuan kamu menikah dengan aku, Mas?"
"Ya, karena ingin menjadikan kamu istri, Sekar."
Usut punya usut, Ilham menikah dengan Sekar karena ada maksud tertentu.
Tetapi walaupun hanya diberi nafkah sekali, Sekar akhirnya mengandung. Namun, sayangnya bayi yang Sekar lahirkan dinyatakan meninggal. Setelah bercerai dengan Ilham, Sekar bekerja kembali di rumah sakit yang berbeda membantu dokter Rayyan. Dari sekian anak yang Sekar tangani ada anak laki-laki yang menginginkan Sekar ikut pulang bersamanya.
Apakah Sekar akan menerima permintaan anak itu? Lalu apa Rahasia Ilham?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Sekar menjentikkan ujung kain baju yang sedikit kusut, langkahnya terhenti sejenak ketika pandangannya tidak sengaja menyambar sosok yang sedang berjalan ke arahnya di ujung lorong rumah sakit. Rambut pendek yang selalu ia kenali, baju kemeja warna biru tua warna kesukaan mantan suaminya itu.
Hatinya berdebar kencang seolah ingin melompat keluar dari dada. Jika sampai Ilham tahu ia berada di rumah sakit ini rahasianya akan terbongkar. "Tidak boleh ketemu," gumamnya pelan sambil melihat ke sekeliling mencari tempat untuk bersembunyi.
Lorong yang sepi itu begitu terbuka tidak ada ruang yang bisa dia jadikan tempat untuk bersembunyi dengan cepat. Hanya ada beberapa kursi panjang berjejer di seberang lorong dan sebuah rak kecil untuk menaruh majalah di dekat pintu kamar tunggu. Tanpa berpikir panjang, Sekar cepat-cepat melangkah ke belakang, menyembunyikan diri di balik pintu toilet yang sepi.
Dari balik pintu yang ia buka sedikit, Sekar mengintai ke arah Ilham. Mantan suaminya itu tampak sedang berbicara dengan seorang dokter pria, tangannya mengangkat sedikit seolah sedang menjelaskan sesuatu. Tubuhnya ternyata lebih kurus, walaupun setiap hari bertemu, Sekar tidak memperhatikan bahwa ada kerutan di dahinya entah karena kesibukan atau ada hal yang ia pikirkan, Sekar masa bodo.
Sekar menunggu dengan sabar walaupun dadanya berdebar khawatir ketahuan, hingga akhirnya Ilham pergi dari lorong itu masuk ke salah satu ruangan.
"Ternyata wanita seperti itu yang kamu pilih Ilham, jemput kesengsaraan kamu dan nikmatilah," batin Sekar lalu keluar dari kamar mandi melanjutkan perjalanan.
Tin-tiin... tiiinn...
Sekar kaget ketika tiba di halaman rumah sakit, klakson mobil yang sedang berjalan menggema tepat di sebelah kanannya. "Dokter Rayyan?" Sekar menghentikan langkahnya ketika kendaraan tersebut berhenti, sedetik kemudian kaca jendela diturunkan. Senyum dokter muda itu manis sekali.
"Ayo naik," titahnya, kaki kiri melompat keluar bergerak ke samping kiri membuka pintu untuk Sekar.
"Saya bisa membuka sendiri, Dok," tolak Sekar, merasa tidak nyaman akan perhatian Rayyan yang menurunya berlebihan. Hati Sekar belum bisa melihat ketulusan Rayyan karena Ilham dulu memanjakan dirinya lebih dari itu.
"Sudah... Ayo naik," titahnya.
Sekar tidak mendebat lagi, lalu masuk ke mobil. "Kok Dokter tahu kalau saya ke sini?" Sekar sedikit bingung padahal ia datang ke rumah sakit 'Sayang Anak' sengaja tidak memberi tahu Rayyan khawatir merepotkan, tapi justru dijemput.
"Pakai GPS lah" jawab Rayyan sembari memutar setir putar balik. Rayyan melirik wajah Sekar yang tampak murung, lebih baik diam. Karena waktu maghrib sudah tiba, Rayyan bersama Sekar memutuskan untuk shalat di masjid yang berdiri di pinggir jalan.
Setelah shalat magrib mereka melanjutkan perjalanan. Rayyan melirik wajah Sekar sudah tidak murung seperti sebelumnya, lalu membuka percakapan.
"Kamu ke rumah sakit 'Sayang Anak' tidak memberi tahu saya, sebenarnya ada masalah apa, Sekar?" Rayyan yang cerdas itu bisa membaca raut wajah Sekar.
Sekar menarik napas panjang, ia akhirnya menceritakan tujuannya datang ke rumah sakit. Menemui dokter Siska yang bersekongkol dengan Ilham memanipulasi data kelahiran dan kematian anaknya.
Rayyan kaget mendengarnya, tidak percaya jika Ilham sekejam itu. "Terus, bagaimana tanggapan Siska?" Rayyan ingin segera tahu asal usul Arka.
"Arka ternyata benar anak saya, Dok," Sekar sudah yakin walaupun masih 80 persen, selebihnya menunggu hasil tes DNA.
"Sudah saya duga, lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?"
"Hanya Nyonya Pratiwi yang saya yakini bisa membantu saya, Dok. Saya akan menceritakan kepada beliau dan minta dukungan agar bisa menjadi hak asuh Arka," Sekar memejamkan mata. Ada dua bayangkan gelap dan terang melintas bergantian.
Akan ada pengecualian yang Sekar terima dari tanggapan nyonya Pratiwi nanti. Jika beliu tahu anaknya lahir dari wanita miskin seperti dirinya, sikap nyonya Pratiwi akan berubah dan ikut membencinya. Tetapi jika nyonya Pratiwi memang baik kepadanya bukan karena balas budi, seharusnya akan membela dirinya walaupun seperti apa status sosialnya.
"Semoga kamu bisa melewati semua masalah ini dengan baik dan lancar Sekar," Rayyan berjanji akan membantu Sekar.
"Aamiin... Apakah Dokter Rayyan tidak takut dipecat dari rumah sakit jika membantu saya?" Sekar pikir, dokter Rayyan akan bersikap sama seperti Siska.
"Kenapa takut Sekar, jika harus keluar dari rumah sakit hanya karena membela kebenaran, saya tidak takut," Rayyan sudah mengantongi izin praktik dan sudah berjalan selama tiga tahun. Maka tidak akan menjadi pengangguran jika Ilham memintanya untuk keluar.
"Terima kasih, Dok."
Sekar menutup percakapan karena mereka sudah tiba di luar pagar rumah mewah itu.
"Suster Sekar sudah pulang?" Tanya satpam yang tengah mendorong pagar. Pria paruh baya yang tak lain istri bibi itu tersenyum.
"Iya Pak," Sekar mengangguk lalu berjalan ke teras rumah. Di tempat itu bibi pun membuka pintu untuknya.
"Nyonya Pratiwi ada Bi?" Sekar ingin segera bertemu nyonya Pratiwi.
"Nyonya berangkat keluar negeri tadi pagi setelah Suster Sekar berangkat ke rumah sakit," jawab bibi.
Wajah Sekar tampak kecewa dan kaget. "Ke luar negeri?" Sekar bingung kenapa nyonya Pratiwi tidak mengatakan kepadanya. Padahal biasanya jika hendak ke manapun selalu bilang dan menitipkan Arka kepadanya.
"Nyonya Pratiwi terburu-buru Suster, karena Tuan Kaniago sedang sakit," Kaniago suami Pratiwi sebenarnya sudah 61 tahun tapi saat ini sedang mengunjungi rumah sakit miliknya di luar negeri yang sudah berdiri sejak usia muda.
Sekar tiba-tiba lemas di kursi sofa, haruskah telepon nyonya Pratiwi? Apakah sopan berbicara masalah seberat ini melalui ponsel?
"Memang ada apa Suster? Sepertinya penting sekali?" Tanya bibi menangkap kegalauan di wajah Sekar.
"Tidak Bi, Arka mana?" Segera bangkit dari duduknya hendak menggendong Arka yang sudah menuntunnya ke rumah ini.
"Di kamar Sus,"
Sekar mengangguk, dalam langkahnya bersyukur ternyata Allah memberikan jalan untuk bertemu putranya begitu mudah. Dia dorong pintu kamar yang pertama ia lihat Arka sedang bermain ditemani Rini.
"Arka..." Sekar memekik spontan berlari menyambar tubuh putranya dengan tangis tergugu.
Rini yang melihat itu kaget, tapi hanya diam membeku, dalam hatinya bertanya. Apa yang telah terjadi?
...~Bersambung~...
dia ada di dekat mu tau...bhkn sbntr lgi bikin idup mu jungkir balik Luna.....