(WARISAN MUTIARA HITAM SEASON 4)
Chen Kai kini telah menapakkan kaki di Sembilan Surga, namun kisahnya di Alam Bawah belum sepenuhnya usai. Ia mempercayakan Wilayah Selatan ke tangan Chen Ling, Zhuge Ming, dan Gui. Sepuluh ribu prajurit elit yang berhutang nyawa padanya kini berdiri tegak sebagai benteng yang tak tergoyahkan.
Sebuah petualangan baru telah menanti. Sembilan Surga bukanlah surga penuh kedamaian seperti bayangan orang awam; itu adalah medan perang kuno para Kaisar Agung, tempat di mana Mutiara Hitam menjadi incaran seluruh Dewa.
Di Sembilan Surga, hukum duniawi tak lagi berlaku. Di sana, yang berkuasa hanyalah Kehendak Mutlak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema Pembalasan
Debu perak yang beterbangan di udara Lembah Bintang Jatuh mulai mengendap, namun atmosfer di dasar lembah itu masih terasa sangat panas akibat ledakan energi spasial. Komandan Zuo berdiri di atas bangkai kapal induknya yang hancur, memegang busur tulang naga angin dengan tangan yang gemetar. Darah biru mengalir dari pelipisnya, namun matanya yang menyala merah menunjukkan bahwa ia belum menyerah pada keputusasaan.
"Kau..." Zuo meludah darah ke tanah. "Seorang Pendaki liar sepertimu... tidak mungkin memiliki otoritas gravitasi setinggi ini! Siapa yang memberimu hak untuk mencuri harta Sembilan Surga?!"
Chen Kai berjalan mendekat dengan langkah santai. Setiap pijakan kakinya di atas tanah perak tidak menimbulkan suara, seolah-olah ia melayang di atas realitas itu sendiri. Di dahinya, simbol kuali perak yang tadi sempat muncul kini berdenyut samar, memancarkan aura yang membuat ruang di sekelilingnya sedikit melengkung.
"Hak?" Chen Kai berhenti sepuluh langkah di depan Zuo. "Di dunia bawah, hak ditentukan oleh pedang. Di Sembilan Surga, aku menyadari hak ditentukan oleh pemahaman terhadap Dao. Dan saat ini... Dao-mu terlalu dangkal untuk menghakimiku."
"SOMBONG!"
Zuo menarik tali busurnya dengan kekuatan penuh. Tiga anak panah yang terbuat dari esensi angin murni termanifestasi seketika. Setiap anak panah itu berputar dengan kecepatan yang sanggup merobek baja dewa.
"Seni Busur Naga: Tiga Jarum Pemutus Jiwa!"
Zuo melepaskan tembakannya. Ketiga panah itu melesat bukan dalam lintasan lurus, melainkan melengkung dari tiga arah berbeda—kiri, kanan, dan atas—mengunci setiap celah pelarian Chen Kai.
Chen Kai bahkan tidak mencabut Pedang Meteor Hitam-nya. Melalui Jantung Alkimia yang kini berdetak selaras dengan jantungnya, ia bisa melihat "Nadi Esensi" dari serangan tersebut. Ia tidak melihat panah; ia melihat rangkaian benang energi yang ditenun secara kasar.
"Terlalu banyak celah," bisik Chen Kai.
Ia mengangkat tangan kirinya, jari-jarinya bergerak seperti sedang memetik harpa di udara.
"Hukum Gravitasi: Singularitas."
Tepat di titik pusat di mana ketiga panah itu seharusnya bertemu di tubuh Chen Kai, sebuah lubang hitam seukuran butiran pasir tercipta. Gaya tarik yang tak terhingga meledak dari titik tersebut.
WUSH—!
Ketiga panah angin yang sangat kuat itu tiba-tiba tersedot, terpelintir, dan menyatu di depan telapak tangan Chen Kai, membentuk bola energi angin yang terkompresi hingga menjadi sangat padat.
Wajah Zuo memucat. "Apa?! Serangan terkuatku... dipadatkan menjadi mainan?!"
"Ini milikmu," kata Chen Kai datar.
Ia menjentikkan bola energi itu kembali ke arah Zuo.
BOOOM!
Ledakan energi angin itu menghantam Zuo tepat di dada, melemparkannya menembus sisa-sisa menara kapal induk hingga jatuh ke tanah perak dengan dentuman keras. Zirah kristalnya hancur total, meridian di lengannya retak akibat serangan miliknya sendiri.
Chen Kai mendarat di depan Zuo yang terkapar. Sang komandan kini hanya bisa menatap Chen Kai dengan teror murni. Ia menyadari bahwa di hadapannya, ranah Manifestasi Dao Akhir miliknya hanyalah sebuah lelucon.
"Habisi dia, Chen Kai," suara Kaisar Yao bergema dingin. "Anjing-anjing Sekte Kuali Awan tidak akan pernah berhenti mengejarmu selama mereka masih bernapas."
Chen Kai mengangkat tangan kanannya, memanggil Pedang Meteor Hitam. Bilah pedang yang kini diselimuti cahaya kelabu itu bergetar, siap memanen nyawa.
"Tunggu! Tunggu!" teriak Zuo, merangkak mundur. "Jika kau membunuhku, Jaring Takdir akan mengingat wajahmu selamanya! Kau tidak akan pernah bisa keluar dari Surga Pertama!"
"Wajah yang kau lihat sekarang..." Chen Kai melepaskan topeng ilusi Cincin Kerudung Malam miliknya sesaat, memperlihatkan rambut peraknya yang bersinar dan pupil lingkaran emasnya yang asli. "...bukanlah wajah yang bisa diikat oleh jaringmu."
Chen Kai menebas.
SRET.
Bukan tebasan fisik, melainkan tebasan ruang yang menghapus eksistensi Zuo dari Lembah Bintang Jatuh. Tubuh sang komandan hancur menjadi partikel cahaya biru yang segera diserap oleh tanah perak di bawahnya.
Chen Kai menghela napas panjang. Ia bisa merasakan Jantung Alkimia di tubuhnya berdenyut lebih tenang sekarang. Namun, perhatiannya teralih ke arah dasar lembah yang lebih dalam, di mana sebuah kawah besar memancarkan cahaya perak yang sangat pekat.
"Tuan! Anda baik-baik saja?" Mo Yan dan Ah-Gou berlari mendekat setelah memastikan tidak ada penjaga lain yang selamat.
"Aku baik-baik saja," jawab Chen Kai. Ia menunjuk ke arah kawah pusat lembah. "Mo Yan, kau bilang lembah ini adalah tempat pembuangan esensi yang gagal. Tapi aku merasakan ada sesuatu yang 'hidup' di bawah sana."
Mo Yan menatap kawah itu dengan ragu. "Konon, di dasar Lembah Bintang Jatuh terdapat sisa-sisa Kawah Bintang—tempat di mana para dewa zaman kuno menempa senjata mereka. Namun tempat itu sudah terkubur selama puluhan ribu tahun."
Chen Kai melangkah menuju kawah tersebut. Semakin dekat ia melangkah, Mutiara Hitam dan Jantung Alkimia di tubuhnya mulai beresonansi secara bergantian, menciptakan harmoni yang aneh.
Di dasar kawah, tertimbun di bawah lapisan kristal perak, Chen Kai melihat sebuah lempengan logam hitam yang diukir dengan simbol-simbol yang sama dengan yang ada pada Catatan Perak.
"Warisan Yao yang lain?" gumam Chen Kai.
Ia meletakkan tangannya di atas lempengan itu. Seketika, sebuah proyeksi hologram muncul di udara, memperlihatkan peta wilayah Surga Kedua dan koordinat sebuah tempat yang disebut Istana Hampa Abadi.
"Ternyata ada di sini..." bisik Yao dengan nada nostalgia. "Chen Kai, lempengan ini bukan sekadar peta. Ia adalah kunci untuk memanggil Fragmen yang tersisa di Surga Kedua. Namun, untuk pergi ke sana, kau harus menembus 'Dinding Awan' yang memisahkan lapisan Surga."
Chen Kai menyimpan lempengan itu ke dalam Dantiannya. Ia menatap ke langit, di mana cahaya matahari perak mulai digantikan oleh nebula ungu malam hari.
"Kita tidak bisa kembali ke Kota Awan Putih," kata Chen Kai pada pengikutnya. "Pengejaran mereka akan semakin gila setelah hilangnya Zuo. Kita akan menggunakan jalur rahasia di dalam lembah ini untuk menuju perbatasan Surga Kedua."
"Tapi Tuan, raga kami tidak akan kuat menahan tekanan di lapisan kedua!" seru Ah-Gou cemas.
Chen Kai tersenyum tipis. Ia mengeluarkan dua butir pil yang baru saja ia murnikan menggunakan Jantung Alkimia dari sisa-sisa energi di udara tadi.
"Dengan Jantung ini, aku bisa mengubah racun lembah ini menjadi obat bagi kalian. Telan ini, dan kalian akan memiliki 'Raga Dewa Sementara'."
Chen Kai menatap ke arah horison yang jauh. Perjalanannya sebagai buronan Sembilan Surga baru saja naik satu tingkat lebih tinggi. Ia bukan lagi hanya berlari untuk bertahan hidup, ia mulai memburu kembali otoritas yang seharusnya menjadi miliknya.
terimakasih Thor 🙏🙏🙏
dan semoga kedepannya lebih bagus lagi
Kai.... sikat semua dewa2 palsu nya
BTW.... pasti dewa2 Asli nya jadi tahanan mereka ya ?.......... 💪💪💪💪