Kisah ini tidak menawarkan jawaban tentang apakah Great Reset benar-benar dirancang oleh elite global. Yang dihadirkan justru sesuatu yang lebih mengganggu: bagaimana bahasa, teknologi, dan kebijakan modern membentuk kepatuhan tanpa paksaan, membuat pilihan terasa semakin sempit, dan menjadikan penyesuaian sebagai satu-satunya cara untuk tetap dianggap “normal”.
Kita yang Tidak Pernah Diundang bukan dongeng tentang konspirasi besar, melainkan tentang manusia-manusia biasa yang hidup di dalamnya… tanpa sadar, tanpa persetujuan, dan tanpa kepastian apakah kesadaran akan menyelamatkan atau justru menyulitkan.
Sebuah kontemplasi gelap-reflektif tentang sistem yang tidak memaksa, dunia yang terlalu tertib, dan pertanyaan sederhana yang terus menghantui:
…jika semuanya sudah diputuskan, apa arti menjadi manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hidup yang Makin Sempit
Hidup Kusuma tidak runtuh.
Ia menyempit.
Dan penyempitan itu tidak datang sekaligus, tidak dramatis, tidak disertai tanda bahaya. Ia datang seperti lorong yang pelan-pelan mengecil, cukup pelan untuk membuat orang terus berjalan, cukup sempit untuk membuat napas terasa pendek.
Pagi di Papua datang lebih cepat daripada di kota-kota lain. Matahari belum tinggi, tapi panas sudah menempel di kulit. Kusuma berdiri di pinggir pelabuhan kecil, helm motor touringnya diletakkan di lantai semen, rokok menyala di bibir. Matanya merah, bukan karena kurang tidur saja, tapi karena udara asin yang terus mengiritasi.
Ia menunggu.
Menunggu panggilan kerja harian. Menunggu siapa yang akan dipilih hari itu. Menunggu keputusan yang tidak pernah diumumkan secara resmi.
Beberapa lelaki lain berdiri tidak jauh darinya. Wajah-wajah lelah, tubuh-tubuh yang terbiasa mengangkat beban. Tidak ada yang banyak bicara. Obrolan ringan hanya terjadi jika ada yang ingin meminjam korek api.
Seorang mandor keluar dari kantor kecil di ujung pelabuhan. Ia membawa daftar nama di tangannya, kertas lusuh yang terlihat sering dilipat. Ia memanggil beberapa nama. Satu per satu, orang-orang maju.
Nama Kusuma tidak dipanggil.
Ia tidak bereaksi. Tidak lagi. Dulu, ia masih sempat mengernyit, bertanya, atau setidaknya berharap. Sekarang, ia hanya menarik napas, menghembuskannya pelan, lalu menyandarkan punggung ke pagar besi.
“Besok,” gumamnya pada dirinya sendiri.
Besok selalu jadi jawaban yang paling aman. Tidak menolak. Tidak menjanjikan.
Ia menyalakan motor, melaju perlahan meninggalkan pelabuhan. Jalanan berdebu, berlubang di sana-sini. Motor besar itu melaju mantap, seperti satu-satunya hal dalam hidupnya yang masih bisa ia kendalikan sepenuhnya.
Di perjalanan pulang, ponselnya bergetar. Notifikasi masuk… bukan pesan pribadi, tapi pengingat dari aplikasi logistik yang dulu sering ia pakai. Akunnya masih aktif, tapi tidak bisa menerima order baru.
Status akun: dalam peninjauan lanjutan.
Kusuma tertawa kecil, getir. Ia sudah hafal kalimat itu. Sudah terlalu sering membacanya sampai tidak lagi marah. Yang tersisa hanya lelah.
Ia mematikan notifikasi, memasukkan ponsel ke saku, dan menambah kecepatan. Angin memukul wajahnya, membuat matanya berair. Ia menyukainya. Sensasi itu setidaknya jujur.
Siang hari, ia sampai di rumah kontrakan kecil, lebih tepatnya… bangunan kayu dengan atap seng yang panasnya menumpuk. Ia membuka pintu, melempar tas ke sudut, lalu merebahkan diri di lantai tanpa alas. Tubuhnya terasa berat, seperti membawa beban yang tidak terlihat.
Ia menatap langit-langit, mendengarkan suara kipas angin yang berdecit pelan. Pikirannya melayang ke Malang… ke jalan-jalan yang dulu sering ia lewati dengan motor, ke kafe kecil tempat mereka nongkrong berjam-jam, ke masa ketika hidup terasa terbuka.
Ia tidak rindu tempat itu.
Ia rindu kemungkinan.
Ponselnya kembali bergetar. Kali ini pesan dari Random. Dari Wawan.
Wawan:
Sum,
kalau lo butuh bantuan, bilang ya.
Gue lagi agak susah juga,
tapi kita cari bareng.
Kusuma membaca pesan itu lama. Ia mengetik balasan, lalu menghapusnya. Mengetik lagi, lalu berhenti.
Ia akhirnya membalas pendek.
Kusuma:
Gue masih bisa jalan.
Kalau udah nggak,
gue kabarin.
Pesan terkirim. Ia tahu itu setengah bohong. Tapi ia juga tahu, mengakui ketidakmampuan terlalu cepat sering kali membuat orang lain merasa harus menyelamatkan, dan ia belum siap berada di posisi itu.
Sore hari, Kusuma mendapat panggilan kerja mendadak. Bukan dari pelabuhan, tapi dari seorang kenalan lama, pekerjaan angkut barang lewat jalur yang tidak sepenuhnya resmi. Bayarannya tunai. Tidak ada catatan. Tidak ada pertanyaan.
Ia bertemu kenalan itu di pinggir jalan tanah, di dekat gudang kecil. Truk tua terparkir, bak belakang terbuka, berisi karung-karung besar.
“Berani?” tanya kenalan itu singkat.
Kusuma mengangguk. Ia tidak bertanya apa isi karung-karung itu. Ia juga tidak bertanya kenapa bayarannya lebih tinggi dari biasanya. Ia tahu, pertanyaan adalah kemewahan.
Mereka bekerja cepat. Mengangkat, menyusun, mengikat. Keringat mengalir deras. Punggung Kusuma terasa nyeri, tapi ia tidak berhenti. Setiap karung yang terangkat terasa seperti bukti bahwa tubuhnya masih berguna.
Di tengah pekerjaan, salah satu karung robek sedikit. Isinya tumpah, barang-barang elektronik kecil, masih terbungkus plastik.
Kusuma berhenti sejenak. Ia tahu barang-barang ini tidak akan melewati jalur resmi. Ia tahu risikonya. Ia tahu ini bukan wilayah abu-abu lagi.
Kenalan itu menatapnya. Tidak berkata apa-apa.
Kusuma mengikat kembali karung itu, lebih rapat.
Pekerjaan selesai menjelang magrib. Ia menerima uang tunai, jumlah yang cukup untuk beberapa hari, mungkin seminggu. Ia memasukkannya ke saku tanpa menghitung ulang.
Di perjalanan pulang, motor melaju lebih pelan. Langit mulai gelap. Lampu-lampu jalan menyala jarang-jarang. Kusuma merasakan nyeri di bahunya, di punggung, di lutut. Tapi di balik rasa sakit itu, ada satu hal yang lebih mengganggu: kesadaran bahwa pilihannya makin sedikit.
Bukan karena ia malas.
Bukan karena ia tidak mau ikut aturan.
Tapi karena setiap pintu resmi menutup dengan kalimat yang sama: sementara.
Ia sampai di rumah, mandi dengan air dingin, duduk di lantai sambil mengeringkan rambut. Di tangannya, uang tunai itu terasa berat… bukan karena nilainya, tapi karena konsekuensinya.
Ia membuka ponsel, masuk ke Random. Pesan-pesan hari ini terbaca satu per satu. Tentang catatan Ari. Tentang bahasa yang dihapus Doli. Tentang keamanan Wawan yang retak. Tentang Yanto dan pertanyaan orang luar.
Kusuma menulis satu pesan, tanpa banyak berpikir.
Kusuma:
Gue ngerasa hidup gue bukan makin susah,
tapi makin sempit.
Dan ruang sempit bikin orang ngambil jalan
yang dulu nggak pernah kepikiran.
Pesan itu terkirim. Ia meletakkan ponsel, merebahkan diri lagi di lantai. Nafasnya berat, tapi teratur.
Di luar, malam Papua berjalan seperti biasa. Tidak ada yang tahu apa yang baru saja ia lakukan. Tidak ada yang akan menegurnya besok pagi.
Dan justru itulah yang membuat Kusuma sulit tidur.
Karena untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa hidup di luar sistem bukan lagi pilihan sementara, melainkan lorong sempit yang semakin lama semakin sulit untuk berbalik arah.
Malam itu, Kusuma tidak langsung tidur.
Ia duduk bersandar ke dinding kayu rumah kontrakannya, kaki lurus ke depan, punggung masih terasa panas dari kerja seharian. Uang tunai di saku celana ia keluarkan dan letakkan di lantai. Lembaran-lembaran itu terlihat biasa saja… lusuh, berbau keringat dan debu. Tidak ada tanda bahwa uang itu datang dari jalan yang ia sendiri enggan menyebut namanya.
Ia menghitungnya perlahan. Sekali. Dua kali. Bukan karena takut kurang, tapi karena ingin memastikan rasa bersalahnya sepadan.
Jumlahnya cukup.
Cukup untuk makan.
Cukup untuk bensin.
Cukup untuk bertahan.
Tidak cukup untuk merasa tenang.
Kusuma mematikan lampu, menyisakan cahaya kecil dari luar yang masuk lewat celah papan. Suara serangga memenuhi malam. Ia berbaring, tapi pikirannya tidak mau diam. Setiap kali memejamkan mata, bayangan karung robek itu muncul lagi… plastik bening, perangkat elektronik kecil, terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Ia tahu ini bukan kejahatan besar. Bukan penyelundupan bersenjata. Bukan perdagangan gelap yang diburu aparat setiap hari. Ini wilayah abu-abu yang terlalu biasa untuk dianggap darurat, terlalu kecil untuk menarik perhatian.
Dan justru di situlah bahayanya.
Pagi datang dengan kepala berat. Kusuma bangun, menyalakan rokok, berdiri di depan rumah sambil menatap jalan tanah yang masih sepi. Bahunya terasa lebih nyeri dari kemarin. Ia menggerakkan lengan pelan, meringis kecil.
Ponselnya bergetar. Pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Pesan:
Kerjaan kemarin aman.
Kalau mau lanjut, hari ini sore ada lagi.
Kusuma membaca pesan itu dua kali. Ia tidak langsung membalas. Ia memasukkan ponsel ke saku, lalu berjalan ke warung kecil di ujung jalan. Membeli kopi sachet, duduk di bangku kayu, menyeduh air panas.
Ia menyeruput kopi perlahan, menunggu pahitnya meresap. Di warung itu, dua orang lelaki berbincang soal harga barang yang naik, soal pengiriman yang makin ribet, soal akun yang “entah kenapa” tiba-tiba dibatasi.
Tidak ada yang mengeluh keras. Tidak ada yang marah. Semua berbicara seperti membahas cuaca.
Kusuma mendengarkan tanpa ikut nimbrung. Ia menyadari satu hal yang membuat perutnya mengencang: cerita-cerita ini mulai terdengar terlalu mirip dengan hidupnya sendiri.
Sore hari, ia kembali ke pelabuhan kecil. Bukan untuk bekerja, tapi untuk menunggu. Mandor keluar, memanggil nama-nama. Lagi-lagi… nama Kusuma tidak disebut.
Ia tidak terkejut. Ia juga tidak kecewa. Perasaannya sudah kebal terhadap hal itu.
Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda.
Seorang lelaki yang biasanya bekerja bersamanya mendekat, berbicara dengan suara rendah. “Sum, kamu jangan sering ambil kerjaan luar,” katanya singkat.
Kusuma menoleh. “Kenapa?”
Lelaki itu mengangkat bahu. “Gosip aja. Katanya bakal ada razia kecil. Bukan besar. Tapi yang nggak tercatat bisa kena.”
Razia kecil.
Istilah itu terdengar ringan, hampir lucu. Tapi Kusuma tahu artinya. Pemeriksaan acak. Dokumen. Identitas. Riwayat yang harus sinkron.
Ia mengangguk, tidak berkata apa-apa. Lelaki itu pergi.
Kusuma berdiri lama di situ, menatap laut. Airnya tenang, memantulkan cahaya sore. Tidak ada tanda bahaya. Tidak ada sirene.
Ia teringat pesan Wawan tentang pelanggan yang pergi. Teringat Doli tentang kalimat yang dihapus. Teringat Yanto tentang pertanyaan orang asing. Teringat Ari yang mulai mengirim catatan ke luar.
Dan ia menyadari sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak:
…semua orang sedang bergerak pelan ke arah yang sama, meski dari jalur berbeda.
Kembali ke rumah, Kusuma membuka ponsel. Pesan dari nomor tak dikenal masih ada. Ia mengetik balasan pendek, lalu berhenti. Menghapus. Mengetik lagi.
Akhirnya, ia membalas:
Kusuma:
Gue ambil satu kali lagi.
Habis itu gue stop.
Pesan terkirim. Ia tahu itu janji yang rapuh. Tapi manusia sering bertahan hidup dengan janji seperti itu, janji yang memberi ilusi kendali.
Malam itu, ia bekerja lagi. Lokasinya berbeda. Barangnya serupa. Prosesnya lebih cepat. Tidak ada karung yang robek. Tidak ada yang terlihat salah.
Sampai di perjalanan pulang.
Motor touringnya melaju di jalan gelap. Lampu depan menerobos kabut tipis. Di kejauhan, ada cahaya biru… bukan terang, tidak berkedip. Hanya ada.
Kusuma memperlambat motor.
Sebuah mobil berhenti di pinggir jalan. Dua orang berdiri di dekatnya. Tidak berseragam lengkap. Tidak menghalangi jalan. Hanya mengamati.
Kusuma menelan ludah. Tangannya refleks merapat ke setang. Ia tidak melanggar apa pun. Helm terpasang. Lampu menyala. Motor terawat.
Ia melaju pelan melewati mereka.
Tidak ada yang menghentikan.
Beberapa meter setelah itu, napas Kusuma terasa seperti baru dilepaskan dari genggaman. Dadanya naik turun cepat. Ia tertawa pendek… bukan karena lega, tapi karena sadar betapa mudahnya ia sekarang merasa terancam.
Di rumah, ia duduk lama di lantai, punggung bersandar ke dinding. Ia mengeluarkan uang tunai hasil kerja malam itu. Jumlahnya lebih besar. Terlalu besar untuk diabaikan.
Ia membuka Random. Pesan-pesan baru masuk. Tidak ada yang mendesak. Tidak ada yang dramatis. Hanya potongan kehidupan yang terus berjalan.
Kusuma mengetik, kali ini lebih pelan dari biasanya.
Kusuma:
Gue hampir kena cek malam ini.
Nggak kejadian apa-apa.
Tapi gue baru sadar,
kalau hidup kayak gini,
batas antara “aman” dan “kena”
tipis banget.
Pesan itu terkirim. Tidak ada balasan langsung.
Ia mematikan ponsel, berdiri, lalu membuka jendela kecil. Udara malam masuk, membawa bau laut dan tanah basah. Kusuma menghirup dalam-dalam.
Ia tahu, ia belum jatuh.
Ia juga tahu, ia belum selamat.
Yang ia rasakan sekarang adalah sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari ketakutan: kebiasaan. Tubuhnya mulai terbiasa dengan risiko. Pikirannya mulai menormalkan pilihan yang dulu terasa mustahil.
Dan di sanalah, hidup benar-benar menyempit.
Bukan karena dunia menutup pintu secara kasar, melainkan karena lorong-lorong kecil terasa semakin masuk akal dibanding menunggu di depan pintu yang tidak pernah dibuka.
Malam mulai menyelimuti.
Dengan seorang lelaki yang masih berdiri, masih bernapas, masih bergerak… namun mulai menyadari bahwa setiap langkah ke depan membuat jalan kembali semakin sulit dikenali.
Dan jauh di dalam dirinya,
Kusuma tahu:
…jika ia terus berjalan di lorong sempit ini, suatu hari nanti ia tidak akan lagi bertanya apakah ini benar atau salah, melainkan berapa lama lagi sampai semuanya benar-benar tertutup.