Miranda menikah selama 2 tahun berbakti pada suami
membantu suami keluar dari kebangkrutan
sayang sekali setelah sukses suaminya selingkuh
bagaimana kehidupan miranda selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MIA 25
Setelah sarapan, Anton mengajak semua orang berkumpul di ruang tengah untuk menonton televisi. Ajakan itu terasa aneh, tetapi tak seorang pun berani menolak. Mereka duduk melingkar di sofa, menghadap sebuah televisi besar yang sejak tadi sudah menyala.
Belum lama layar menampilkan acara pagi, tiba-tiba muncul tulisan breaking news. Monitor menayangkan laporan penemuan mayat seorang perempuan tanpa identitas di sebuah waduk. Gambar lokasi ditampilkan dari kejauhan, dipenuhi garis polisi dan kerumunan warga.
Anton menyandarkan punggungnya ke sofa. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Dadanya yang sejak semalam terasa sesak kini jauh lebih ringan. Apa yang dikatakan Baron dan Luki tampaknya benar. Beban besar seolah terangkat dari pundaknya.
Ia sempat berniat menyampaikan sesuatu pada anak-anaknya, tetapi ponselnya berdering. Nama Baron muncul di layar.
“Bos, Anda sudah melihat berita pagi ini?” tanya Baron dengan suara tergesa.
“Sudah,” jawab Anton singkat.
“Kalau begitu, tolong transferkan sisanya. Polisi sudah banyak di sekitar kontrakan saya. Saya harus segera pergi.”
Anton mengerutkan dahi. “Aku harus memastikan dulu itu mayat Miranda atau bukan.”
“Sudah pasti itu mayat Miranda, Bos. Semalam sepertinya ada yang melihat kami. Saya harus segera pergi.”
“Bodoh,” hardik Anton pelan. “Kenapa kalian tidak lebih hati-hati?”
“Kami juga tidak mau menyeret nama Anda, Bos,” jawab Baron mendesak.
Anton terdiam sejenak. Ia tahu satu-satunya cara agar namanya tetap bersih adalah memutus semua jejak. “Tunggu sebentar,” katanya, lalu mematikan sambungan.
Dengan cepat Anton membuka aplikasi perbankan dan mentransfer sejumlah uang ke rekening Baron. Setelah notifikasi berhasil muncul, ia kembali menelepon.
“Uang sudah aku kirim. Kalian harus segera pergi,” perintahnya tegas.
“Siap, Bos,” jawab Baron singkat sebelum sambungan terputus.
Anton menurunkan ponselnya. Senyum menyeringai kembali terbit di wajahnya. Dalam pikirannya, satu masalah besar akhirnya selesai.
“Kalian tahu itu mayat siapa?” tanya Anton sambil menatap lurus ke arah televisi.
Semua mata tertuju pada monitor. Gambar berpindah-pindah, memperlihatkan garis polisi, kerumunan warga, lalu sosok mayat perempuan yang wajahnya dibuat buram. Suasana ruang tengah mendadak hening. Tak ada suara selain narasi reporter yang terdengar samar.
“Ini mayat Miranda?” tanya Rizki dengan nada antusias, sambil melihat Anton.
“Kamu memang benar, Ki,” ucap Anton dengan dada terangkat, suaranya terdengar bangga.
“Ayah yang melakukannya?” Rizki bertanya lagi, matanya berbinar.
“Tentu saja tidak,” jawab Anton cepat. Ia menyilangkan tangan. “Ayah semalam mendapat kabar dari teman Ayah. Katanya Miranda pergi ke Waduk Melati, lalu menceburkan diri ke sana.”
“Tapi Miranda pandai berenang, Yah. Masa dia mati di waduk?” Raka menyela, nadanya datar, seolah sekadar berpikir logis.
Raka jelas tahu kalau Miranda pandai berenang karena dia pernah diselamatkan Miranda di Pantai Anyer saat dia akan tenggelam, dan sekarang mendengar Miranda mati karena tenggelam di waduk, Raka tentu saja menolak percaya.
Tentu saja Anton marah pendapatnya disanggah oleh anaknya. Dia sudah membayar 100 juta pada Baron dan Luki untuk membunuh Miranda, bagaimana dia tidak yakin. Sungguh, ucapan Raka itu menyesakkan dadanya. Dengan nada kesal Anton berkata, “Orang yang frustrasi bisa kehilangan banyak hal, termasuk kemampuan berpikir dan bertahan hidup,” jawabnya mantap.
Bukan hanya Raka yang ragu, Saras juga sama. Dengan nada kesal dia memberikan pendapat, “Miranda sudah mendapatkan uang 3 miliar, Paman. Masa iya dia frustrasi? Aku malah menebak dia saat ini sedang berpesta pora dengan para brondong atau sedang clubbing,” ketus Saras. “Enak banget jadi Miranda, bahkan aku saja belum pernah dapat yang sebesar itu.”
“Tenang saja, Saras,” ucap Anton dengan senyum tipis. “Kamu keponakan yang paling Paman sayangi. Kalau proyek dengan perusahaan Karman lancar, Paman beri kamu bonus.”
“Bonus apanya,” gerutu Saras dalam hati. “Setiap malam ingin aku layani, tapi uang selalu diteteskan sedikit demi sedikit.”
Awalnya Rizki juga ragu, tapi selama ini dia mengandalkan ayahnya dalam menganalisis. Melihat ayahnya begitu yakin, akhirnya Rizki juga yakin. Dan tentu saja dia tidak percaya kalau Miranda bunuh diri. Rizki lebih percaya kalau ayahnyalah yang sudah menyuruh orang untuk membunuh Miranda.
“Jadi sebenarnya Miranda semalam berakting, ya?” ujar Rizki, suaranya terdengar puas.
“Tentu saja,” jawab Anton ringan. “Dia sebenarnya tidak rela berpisah dengan kamu, Ki. Karena itu dia bunuh diri.” Senyum Anton mengembang, seolah kesimpulan itu membuatnya menang.
“Kalau Miranda meninggal, lalu apa yang harus kita lakukan selanjutnya?” tanya Rizki, kali ini lebih serius.
“Tentu saja kita ke rumah sakit,” jawab Anton tanpa ragu. “Ambil mayat Miranda, lalu kita tekan keluarga Sukmana. Mereka harus memberikan uang pada kita.”
“Mendapatkan uang dari keluarga Sukmana?” Rizki mengulang pelan. “Bagaimana caranya, Yah?” Nada suaranya penuh minat.
“Kita bilang pada keluarga Sukmana kalau Miranda bunuh diri karena frustrasi tidak diakui oleh mereka,” jelas Anton panjang lebar. “Kalau mereka ingin mengubah pernyataan itu, tentu saja mereka harus mengikuti syarat dari kita.”
Rizki terdiam. Ia harus mengakui, dalam urusan merangkai siasat kotor, Anton sangat piawai. Untuk pertama kalinya, Rizki bertanya dalam hati, sebenarnya ayahnya ini pengusaha atau bandit yang menyamar rapi.
“Sepertinya ini bukan Miranda.”
Semua kepala menoleh serentak. Suara itu datang dari sudut sofa. Nadia.
Anton langsung menegang. Tatapannya tajam. Saras lebih dulu bereaksi.
“Apa kamu meragukan analisis Paman Anton?” kata Saras ketus. Wajahnya sinis. Setiap ada kesempatan menekan Nadia, ia tidak pernah melewatkannya.
Nadia tidak langsung menjawab. Ia menunduk, menatap ponsel di tangannya dengan saksama, seolah sedang menyusun potongan teka-teki. “Seingat saya, semalam Miranda memakai celana panjang hitam berbahan katun dan hoodie,” ucap Nadia perlahan namun jelas. “Sedangkan korban ini memakai rok hitam pendek dan kemeja putih. Ini lebih mirip korban pembunuhan, bukan bunuh diri.”
Kata-kata itu seperti pisau. Dada Anton berdegup kencang.
“Berikan ponsel kamu,” perintah Anton tegas.
Nadia menyerahkan ponselnya. Di layar masih terpampang berita penemuan mayat tanpa identitas di Waduk Melati. Foto yang sama muncul, lebih jelas dari televisi. Seorang perempuan dengan rok pendek dan kemeja putih. Seragam itu tampak rapi, seperti seragam hotel.
Tangan Anton gemetar saat meraih ponselnya sendiri. Ia segera menelepon Baron. Nada sambung terdengar, lalu terputus. Ia mencoba lagi. Nomor itu sudah tidak aktif.
Anton meletakkan ponsel Nadia di meja. Wajahnya pucat. Nadia segera meraih kembali ponselnya tanpa bicara.
Kini Rizki, Saras, dan Raka sama-sama terdiam. Penjelasan Nadia membuat suasana berubah. Keyakinan yang tadi dibangun Anton perlahan runtuh.
“Ini ada pin Hotel Sultan di baju perempuan ini,” ucap Raka setelah sekian lama mengamati foto mayat itu dengan saksama.
Semua mata tertuju pada layar televisi. Detail kecil yang luput dari perhatian sebelumnya kini menjadi penanda penting. Bukan sekadar aksesori, pin itu adalah identitas.
“Kalau ini bukan Miranda, lalu ayah tahu dari mana kalau ini Miranda?” tanya Rizki. Nada suaranya berubah, tidak lagi emosional, melainkan penuh selidik. “Dan siapa sebenarnya teman ayah yang mengatakan Miranda menceburkan diri ke Waduk Kebon Melati?”
“Diamlah kalian,” bentak Anton. Suaranya terdengar keras, tetapi tidak mampu menutupi kegelisahan yang menyusup dari matanya.
Kepala Anton terasa berdenyut hebat. Uang seratus juta sudah berpindah tangan. Miranda ternyata tidak mati. Keberadaannya sama sekali tidak jelas. Ancaman baru muncul dari Baron dan Luki yang kini sulit dihubungi. Semua kemungkinan berputar di kepalanya, menyesakkan dada.
Tak lama kemudian, siaran televisi beralih ke konferensi pers. Seorang petugas menjelaskan bahwa mayat tersebut adalah karyawan Hotel Sultan. Keluarga korban telah datang dan memastikan identitasnya.
Seketika tubuh Anton melemas. Tangannya bergetar. Satu kepastian menghantamnya keras. Miranda masih hidup. Dan itu jauh lebih berbahaya.