Zavian Hersa mengira jalannya menuju keseriusan cinta dengan Grace akan semulus adiknya. Namun, realitas menghantam keras. Perbedaan status yang mencolok antara putra mahkota Hersa Group dan wakil ketua Gangster Blackrats menciptakan jurang yang lebar. Zavian, yang dihantui ketakutan kehilangan Grace seperti saat ia hampir kehilangan Nalea, berubah menjadi pria yang sangat posesif. Ia mencoba "menjinakkan" Grace dengan kemewahan dan perlindungan ketat, namun bagi Grace, perlindungan itu adalah penjara.
Kekosongan kepemimpinan sementara di Blackrats setelah Nalea fokus pada pendidikannya memicu gejolak di dunia bawah. Musuh-musuh lama dan baru mulai mengincar kekuasaan Blackrats. Teror silih berganti menghantui, mulai dari sabetan senjata tajam, pertumpahan darah, hingga pengorbanan nyawa.
Akankah cinta mereka bertahan di tengah pertumpahan darah dan tuntutan status sosial, ataukah mereka memilih jalan masing-masing dan merelakan cinta sejatinya?
NB: JANGAN SALFOK COVERNYA YAA😂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana
Gedung Tua Perbatasan
Di sudut kota yang terlupakan, sebuah gedung tua yang lembap menjadi saksi bisu sebuah pesta dekadensi. Asap rokok yang tebal bersaing dengan bau alkohol oplosan dan asap dari bong yang terus mengepul. Musik techno murahan berdentum pelan dari sebuah speaker butut.
Baron duduk di sebuah sofa kulit yang sudah sobek, dengan tiga wanita berpakaian minim yang bergelayutan di lengannya. Ia menenggak minuman langsung dari botolnya, lalu menyandarkan kepala dengan mata yang memerah akibat pengaruh obat terlarang.
"Boss, kapan kita akan merencanakan serangan balik terhadap Blackrats?" tanya salah satu anak buahnya yang bertubuh kurus. "Apa kita akan terus bersembunyi di tempat busuk seperti ini?"
Baron tertawa, sebuah tawa yang terdengar serak dan jahat. "Tenanglah kawan... aku sudah memiliki rencana yang sangat bagus. Aku akan membuat gangster sombong itu tidak lagi berbentuk. Blackrats akan tamat."
Ia menghirup asap bong dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. "Terutama nona gangster itu... si Grace. Aku akan membuatnya berteriak, merintih di atas ranjangku. Akan kujadikan dia budakku, tempat pelampiasan nafsu. Dia sudah berani membakar markasku, maka aku akan membakar hidupnya."
"Iya benar, Boss! Wanita-wanita di Blackrats itu memang kelas atas. Apalagi gadis yang kita sandera kemarin, Karin... kulitnya sangat mulus," timpal anak buah lainnya sambil menjilat bibir.
"Apa kau berani menyentuhnya? Dia milik ketua Krayrock, Devano si gila itu," sahut teman di sampingnya.
Baron menyeringai lebar. "Oh, milik orang? Bukankah itu akan terasa lebih manis? Kita akan hancurkan mental mereka dengan merusak wanita-wanita mereka. Hahaha!"
Suara tawa jahat mereka memenuhi ruangan itu, merencanakan sebuah badai yang akan segera menyapu kedamaian semu yang sedang dirasakan Grace dan Zavian.
Kediaman Utama Hersa
Sore itu, suasana kediaman Hersa terasa sangat sunyi. Nalea baru saja kembali dari rumah sakit. Dari ayahnya, Ivander, ia mendengar bahwa Zavian sama sekali tidak berangkat ke kantor hari ini, sebuah kejadian langka bagi seorang workaholic seperti Zavian.
Nalea melangkah ke halaman belakang dan mendapati Zavian sedang duduk di gazebo. Tatapan pria itu kosong, tertuju pada riak air kolam ikan. Di tangannya ada sebungkus pakan ikan, namun ia melemparnya secara sembarangan hingga pakan itu menumpuk di satu titik.
"Kak Vian, kamu melamun saja," sapa Nalea lembut.
Zavian tersentak kecil, ia menoleh ke arah adiknya. "Eh, Nalea. Kamu sudah pulang. Mengagetkan saja."
"Kakak saja yang melamun. Lama-lama ikan di sini bisa gendut semua atau malah mati karena overdosis pakan kalau dikasih makan seperti ini," sindir Nalea sambil menunjuk tumpukan pakan yang mengapung.
Zavian melihat kolamnya dan menghela napas. "Astaga... aku benar-benar tidak menyadarinya."
Nalea duduk di samping kakaknya. "Bagaimana kondisi Grace? Apa dia sudah sadar?" tanya Zavian dengan suara yang berusaha ia buat datar, meski matanya memancarkan kegelisahan.
"Sudah kak. Dia sudah sadar. Sementara waktu, dia akan beristirahat di rumah sakit sampai kondisinya benar-benar pulih," jawab Nalea.
Zavian terdiam sejenak, lalu bertanya lagi dengan suara lebih rendah, "Apa... apa dia menanyakan aku?"
Nalea menggelengkan kepalanya pelan, membuat bahu Zavian semakin merosot. "Untuk apa menanyakan kakak jika adanya kakak hanya untuk memarahinya saja? Grace sedang sakit, Kak Vian. Dia tidak butuh ceramah keamanan atau ancaman untuk keluar dari geng."
"Aku tahu... maaf. Aku hanya terlalu khawatir," bela Zavian.
"Tapi setiap kali Grace terluka, respon Kakak selalu berlebihan," Nalea menatap tajam kakaknya. "Grace bukan anak kecil, Kak. Dia seorang wanita. Meskipun dia kuat, dia tetap butuh kasih sayang. Cukup berikan perhatian, bukan marah-marah. Yang sakit itu bukan cuma luka fisiknya, tapi hatinya juga sakit karena merasa tidak dimengerti oleh pria yang dia cintai."
Zavian terdiam seribu bahasa. Kata-kata Nalea seperti cermin yang dipaksakan ke depan wajahnya. Ia sadar, selama ini ia mencintai Grace dengan cara yang salah. Ia mencintai Grace seperti seorang kolektor mencintai barang antik yang mahal; ia ingin menyimpannya di dalam kotak kaca agar tidak tergores, tanpa peduli bahwa barang itu memiliki jiwa yang ingin bebas.
"Dunia yang kalian genggam sangat jauh berbeda, Kak," lanjut Nalea. "Kamu di langit dengan segala kemapananmu, sedangkan dia di bumi dengan segala lumpur perjuangannya. Bukannya aku tidak merestui, tapi jika hubungan ini hanya saling menyakiti, apa gunanya? Meski cinta kalian seluas samudera, tapi kalau samudera itu penuh dengan badai, kapal kalian akan tenggelam juga."
Nalea berdiri, ia menepuk bahu kakaknya. "Tahta tertinggi dari mencintai adalah membiarkannya bahagia, meskipun tak bersama dengannya. Jika melepasnya membuatnya lebih bahagia dan tidak terluka lagi, kenapa tidak?"
Nalea pergi meninggalkan Zavian sendirian dalam keheningan sore yang kian mendingin.
Zavian mengepalkan tangannya. Ingatannya kembali ke kejadian di kantor pemasaran kemarin. Saat Grace yang tubuhnya sedang demam, justru berdiri di depannya untuk melindunginya dari Codet.
Seharusnya aku yang melindungi Grace... bukan aku yang membuatnya terluka, batin Zavian. Aku ini lemah. Kau bodoh, Zavian! Kau pria paling tolol yang hanya bisa melihat wanita yang kau cintai bertaruh nyawa sementara kau hanya bisa mengumpat dan marah-marah.
Rasa tidak berdaya itu berubah menjadi bara api di dalam dadanya. Ia tidak ingin lagi menjadi pria yang hanya bisa bersembunyi di balik jas mahal dan meja kantor.
"Aku harus menjadi kuat," bisik Zavian pada dirinya sendiri. "Aku harus melakukan sesuatu agar aku tidak hanya menjadi beban baginya."