NovelToon NovelToon
Dua Pergi Satu Bertahan

Dua Pergi Satu Bertahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Romansa / Idola sekolah
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tatie Hartati

Ada tiga remaja putri bersahabat mereka adalah Tari, Tiara , dan Karin mereka mempunyai pasangan masing-masing. dan pasangan mereka adalah sahabatan juga termasuk geng brotherhood pasangan Tari adalah Ramdan, pasangan Tiara adalah Bara dan pasangan ketiga ada Karin sama Boby.. karena ada sesuatu hal ketiga cowok itu membuat pasangan mereka kecewa dengan kejadian yang berbeda - beda namun dia antara 3 pasangan itu hanya Tari dan Ramdan yang bertahan karena Tari memberikan kesempatan kembali kepada Ramdan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tatie Hartati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10 Bait terakhir dan Janji tersisa

Pagi itu Ramdan udah mau siap berangkat sekolah, di rumah dia hanya seorang diri dikarenakan mama dan papa nya sedang ada kerjaan ke Kalimantan dan harus menetap di sana untuk beberapa bulan. Dia sudah berpakaian seragam dengan rapi yang membuat auranya itu makin keluar. Ramdan mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan chat pada seseorang siapa lagi kalau bukan Ketua OSIS Arga

"Ga coba cek ulang file yang kamu kirim semalam, takutnya ada kesalahan tapi kalau gue pribadi udah setuju dengan susunannya "

Arga Typing: "makasih ya Ndan. Oh iya kamu setuju kan kalau sekertaris OSIS itu di serahkan pada Tari, anak - anak OSIS yang lain pun sudah setuju "

Ramdan membalas"ya gue pribadi setuju tapi ga tahu sih Tari nya. Tapi mau bagaimana lagi ini sudah mendesak bagian sekertaris kosong sesudah di cabutnya Bela dari kepengurusan OSIS "

Arga Typing"iya dong harus lah kamu harus setuju "

Beres chat an sama Arga, Ramdan langsung mencari kontak dengan nama "Tari ❤️ ❤️"dan langsung saja mengirimkan chat

"Ri maaf aku gak bisa jemput kamu soalnya seperti biasa aku jagain gerbang. Tapi aku udah pesenin kamu taksi online jadi kamu nanti tinggal berangkat. Jangan ngebantah, no debat"

Tari ❤️❤️ membalas"makasih banyak ya Ndan padahal kamu ga usah repot-repot. Oh iya Hoodie hitam kamu masih ada di aku"

Ramdan membalas"iya pake aja ga usah di balikin biar bisa kamu pakai di saat kamu kedinginan atau di saat kamu tidur "

Tari ❤️❤️ membalas"iya makasih banyak ya. Ya udah aku berangkat ke sekolah dulu ya "

Ramdan membalas" oke"

Setelah chatan sama Tari,maka Ramdan pun berangkat ke sekolah dan di tempat yang berbeda pun, Tari berangkat ke sekolah dengan semangat pagi setelah hari kemarin dia izin tidak masuk sekolah karena masih demam namun sekarang Alhamdulillah sudah bisa beraktifitas lagi. Taksi online yang di tumpangi Tari berhenti di depan gerbang sekolah. Tari masuk dan mata Tari langsung bertemu dengan mata seseorang yang sedang menatapnya

" Assalamualaikum Ndan masih aman kan belum telat" Kata Tari

" Waalaikumsalam,aman Ri masih ada waktu sekitar 10 menit lagi ,ya udah sana kamu masuk ke kelas " kata Ramdan yang di angguki oleh Tari

Tari masuk ke dalam kelas dan ternyata di dalam kelas teman temannya sudah berkumpul dan langsung saja geng receh menggoda nya.

"Eh Ri, udah sehat. Tadi di gerbang ada siapa?" Tanya Alvin sambil tersenyum

"Alhamdulillah udah sehatan ya tadi di gerbang ketemu sama Ramdan dan juga kak Arga , emangnya kenapa gitu?" Kata Tari

"Oh enggak, cuma ngetes aja " Kata Alvin

" Ri,gimana rasanya di obati sama Ramdan?"Tanya Bara sambil cengengesan

"Apaan sih kalian tuh gak jelas banget "Kata Tari santai

Saat itu tiba-tiba masuklah seorang cowok ganteng yang cool siapa lagi kalau bukan Ramdan

"udah sana kembali ke bangku masing-masing, ini kelas bukan pasar yang suka rame"Kata Ramdan serius

"Yeay suka iri aja si bos , kita lagi ngobrol sama ketua kelas yang hari kemarin absen " Kata Alvin sambil menatap Ramdan

" Ri mumpung sekarang kita hadir semua, untuk tugas wawancara dari Bu Melly itu bagaimana? Dan mau kapan nih kelompok kita yang wawancara sama wakil ketua OSIS?" Kata Tiara panjang lebar

" Ya udah itu sih tergantung Ramdannya kan dia yang mau kita wawancara. Kita ngikut ke waktu dia aja " Kata Tari

"Ndan gimana?kamu siap kita wawancara kapan?" Tanya Karin

"Hari besok aku ga ada tugas apa - apa kalau mau ya udah hari besok, nah berhubung besok hari Minggu jadi kita ngumpul di lokasi yang berada di tengah-tengah biar semua pada nyaman, kita kumpul di Taman Kota jam 10 aja " Kata Ramdan

"Ih kenapa mesti besok sih ,kan bisa hari ini pulang sekolah " Kata Bara

" Hari ini gak bisa kan nanti jam 09.30 rapat akbar dan kemungkinan anak - anak OSIS pulang sore" Jelas Ramdan

" Oh gitu , ya udahlah besok hari Minggu saja sekalian liat yang hari mingguan " Kata Alvin

" Gue penasaran, kapan sih kalian mau go publik biar semua orang tahu kalau kalian itu pasangan " Kata Bara

" Kan kalian tahu, sudah cukup hanya kalian saja yang tahu" Jelas Ramdan

Tiba-tiba ponselnya Ramdan bergetar ternyata sebuah chat masuk

Arga "Ndan bilangin sama Tari,dia suruh ngaji dulu sebelum rapat di mulai"

Ramdan membalas"Oke nanti di bilangin "

Ramdan memperlihatkan chat Arga tersebut, Tari kaget dan langsung menatap Ramdan, begitu juga dengan Ramdan yang menatapnya seolah - olah Ramdan bilang ayo Ri , kamu pasti bisa,aku akan selalu ada di sampingmu

" Ya udah deh Ndan mau gimana lagi" kata Tari

Ramdan hanya memberikan senyuman yang susah di mengerti. Ramdan berpamitan kepada Tari dan juga geng receh.

"Oh iya Ri, nanti kamu kondisikan teman-teman pas masuk aula ya, di bantu sama Alvin ,Vin ingat ya nanti bantuin Tari mengkondisikan teman - teman. Sekarang aku mau ke mushola dulu " Kata Ramdan

"Siap pak Waketos gue pasti bantuin Tari " Kata Alvin sambil cengengesan

"Iya Ndan tenang aja aku sebagai ketua kelas pasti mengkondisikan kelas kok" Kata Tari

Ramdan pun hanya memberikan anggukan dan langsung saja pergi ke luar dan tak berapa lama Tari pun keluar juga. Tari dan Ramdan bertemu di depan mushola. Ramdan baru beres Wudhu auranya semakin cerah dan ketampanannya sangat luar biasa

" Kamu mau ke mana Ri?" Tanya Ramdan

"Aku mau sholat duha juga Ndan" Kata Tari

"Oh ya udah kalau gitu aku duluan ya " kata Ramdan yang di angguki oleh Tari

Ramdan shalat duha di barisan depan dia begitu khusyuknya berdo'a. Tari pun tak kalah khusyuknya berdo'a di barisan perempuan. Tari merasakan kenyamanan dan ketenangan jiwa yang luar biasa setelah melakukan shalat duha dia baru sadar selama ini dia selalu melalaikan nya . Di luar sana ada sepasang mata yang melihat kegiatan mereka. Pak Ardi sebagai kepala sekolah merasa kagum dan bangga pada mereka berdua. Bukannya pamer kemesraan mereka berdua tapi justru couple yang satu ini malah ibadah bersama.

Ramdan dan Tari berada di luar mushola mereka berdua merasa tenang setelah beribadah

" Ri ingat nanti kondisikan teman-teman ya,aku mau keruang OSIS dulu udah di tunggu ya sama Arga" kata Ramdan

" Iya Ndan " Kata Tari

Mereka berpisah, Tari menuju ke dalam kelas sedangkan Ramdan langsung ke ruang OSIS. Di ruang OSIS para pengurus OSIS inti sudah kumpul semua

" Zahra dan Arka kalian jangan lupa untuk membagikan Snack ya , untuk Anisa kamu sebagai MC ya ,karena sekertaris kita belum ada jadi sementara sama Raihan dulu. Oh iya Dika gimana meja buat kita di depan sudah ready?" Arga mulai bertanya tentang kesiapan anggotanya

" Sudah ready dong ketua" Kata Dika si teman sebangku Arga

" Bagus, oh iya Ndan gimana Tari udah siap buat baca tilawah nya?" Tanya Arga

" Iya dia sudah siap kok" Kata Ramdan

"Oh iya Ga, Ndan kenapa kalian ga jadiin Tari sebagai sekertaris baru aja soalnya kalau merangkap sama Raihan kasian" Kata Anisa

"Nah itu dia maka nya kita ngumpul dulu justru aku mau minta persetujuan kalian,aku udah fix mau jadiin Tari sekertaris OSIS " Kata Arga

" setuju" kata pengurus yang lain

"Tuh Ndan temen - temen aja udah setuju kok" Kata Arga sambil senyum

Mereka semua terus berbincang tentang kesiapan Rapat Akbar.

Sementara itu di aula para siswa-siswi udah masuk ke ruangan dengan tertib, para guru sudah duduk rapi di barisan paling depan sebelah kanan. Di depan barisan para siswa-siswi ada 3 meja panjang dan tiap meja ada dua kursi anak - anak bingung buat siapa ya itu.

"Eh Ri,itu di depan banyak banget meja ya kira - kira buat siapa ya?" Tanya Karin pada Tari

"Entahlah mungkin buat perangkat OSIS kali" Jawab Tari santai

Tak berapa lama masuklah kak Anisa dan juga Raihan mereka duduk di meja yang ada di sudut dekat white board. Disusul oleh Dika yang langsung menarik kursi satu dan di simpan disebelah Anisa dan langsung duduk di sana. Tak berapa lama masuklah dua orang lelaki tampan dan penuh wibawa ya mereka adalah Arga dan juga Ramdan. Mereka duduk di meja yang ada di tengah otomatis meja sebelah kanan kiri mereka kosong. Arga dan Ramdan duduk dengan tenang,mata Ramdan langsung mencari seseorang begitu matanya menemukan orang tersebut dia kelihatan lebih tenang lagi. Arga langsung berbicara

" Oke semuanya tenang ya karena rapat akan segera di mulai namun sebelumnya saya minta Tari dan Alvin dari kelas XI IPA 1 untuk maju kedepan dan duduk di meja yang berada di sebelah Kiri Ramdan. Tari dan Alvin pun langsung maju kedepan Alvin duduk disebelah Ramdan otomatis Tari duduk di ujung. Anisa sebagai MC langsung membuka acara

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh oke sebelum Rapat di buka alangkah baiknya kita terlebih dahulu mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur'an yang akan di bacakan oleh saudari Tari kepadanya saya persilahkan. Dengan langkah yang gugup Tari maju dan duduk di kursi yang ada di meja sebelah kanan Arga.

Ramdan yang tadinya sibuk merapikan berkas, mendadak membeku di kursinya saat suara lembut Tari mulai melantunkan ayat suci Al-Qur'an dengan tartil yang begitu indah.

Setiap huruf yang keluar dari bibir Tari terdengar sangat fasih, getaran suaranya meresap hingga ke ulu hati Ramdan. Cowok itu terdiam, pandangannya yang biasanya tegas kini melunak, menatap Tari dengan tatapan yang sulit diartikan,campuran antara kagum, bangga, dan rasa syukur yang membuncah

Dalam hati, Ramdan berbisik, "Gimana bisa gue nggak jatuh cinta sedalam ini, kalau dunia dan akhirat lo aja seimbang kayak gini?" Dada Ramdan berdesir hebat. Baginya, suara Tari saat mengaji jauh lebih merdu daripada lagu mana pun yang sering di dengarnya . Di saat itu juga, Ramdan makin yakin kalau pilihannya untuk menjaga batasan dan melindungi Tari adalah keputusan paling tepat dalam hidupnya. Dia nggak cuma pengen memiliki Tari di dunia, tapi juga jadi imam yang menjaganya sampai ke surga.

Setelah Tari selesai membaca ayat suci dan suasana masih terasa hening penuh kekaguman, Arga sengaja berdehem pelan. Matanya melirik Ramdan yang masih tampak terpaku menatap Tari dengan tatapan memuja.

Arga: (Sambil menyandarkan punggung dan melipat tangan di dada) "Biasa aja liatnya, Ndan, Jangan sampai lupa napas gitu dong. Nanti dikira lagi ikut lomba hafalan Al-Qur'an, bukan lagi rapat pensi."

Ramdan: (Tersentak, langsung membuang muka meski telinganya memerah) "Gue cuma menghargai lantunan ayat suci, nggak lebih."

Arga: (Terkekeh tipis, suaranya merendah tapi tajam) "Menghargai apa terpesona? Lagian santai aja kali, nggak perlu dijagain banget gitu tatapannya. Kan tadi lo sendiri yang bilang kalian itu 'berbeda' karena jaga batasan, bukan kayak pasangan Tiara-Bara yang kontak fisik terus."

Arga: (Mencondongkan badan ke arah Ramdan) "Tapi kalau tatapan lo se-posesif itu, lama-lama satu sekolah juga bakal tahu tanpa perlu kalian 'go public"

Ramdan hanya diam saja begitu di godain sama Arga karena memang jujur dari hatinya yang terdalam bahwa dia itu sangat terpesona dengan suara Tari.

Anisa melanjutkan lagi pembicaraannya " Oke acara yang selanjutnya adalah pembahasan agenda rapat hari ini yang sekaligus tandanya rapat di buka, yang insyaallah akan di buka oleh Waketos kita yang paling bijaksana. Ayo Ndan rapatnya baru di buka tapi hatinya sudah di tutup ya "

Ramdan yang tadinya baru saja ingin memperbaiki posisi mikrofon, mendadak gerakannya terkunci mendengar celetukan maut dari Anisa. Suasana ruang OSIS yang tadinya khidmat setelah pembacaan ayat suci, seketika pecah oleh tawa kecil anggota rapat lainnya.

Ramdan berdehem pelan, mencoba menetralkan ekspresi wajahnya yang biasanya sedingin es. Meskipun dia dikenal sebagai Waketos yang paling cool dan menjaga batasan, sindiran "hati yang tertutup" itu sukses bikin telinganya terasa panas.

Ramdan Tetap tenang, meski ada gurat canggung di matanya "Terima kasih, Kak Anisa. Agenda rapat kita hari ini lebih penting daripada agenda hati yang... belum waktunya dibahas." Ucapnya

Dia melirik Tari sekilas ,hanya sepersekian detik sebelum kembali fokus pada catatan di depannya. Ramdan berusaha keras terlihat profesional, tapi dalam hati dia merutuk karena candaan itu seolah membuka paksa rahasia yang selama ini dia simpan rapat-rapat di depan Arga.

Ramdan duduk kembali dengan gestur yang sangat tenang, meski sebenarnya dia sedang memantau reaksi Arga dari sudut matanya. Raihan, yang sudah siap dengan buku notulennya, berdehem pelan untuk memecah keheningan yang mendadak terasa mencekam.agenda pertama rapat besar kita siang ini adalah pengisian posisi yang sempat kosong di struktur inti Yaitu sekertaris dan untuk yang akan mengumumkan adalah Raihan. Ayo Han , umumin "

"(Sambil membenarkan kacamatanya) "Oke, terima kasih buat Waketos kita yang hatinya lagi tertutup tapi urusan rapat tetap nomor satu." kata Raihan

Tawa kecil kembali terdengar, tapi Raihan langsung melanjutkan dengan nada serius.

"Sesuai hasil seleksi dan kesepakatan inti, partner yang bakal bantuin gue buat ngurus segala administrasi OSIS ke depannya, terutama buat proyek besar pensi nanti adalah... Tari Selamat bergabung di jajaran inti OSIS untuk... Mentari Ramadhanty dari kelas XI IPA 1. Silahkan Ndan di lanjutkan lagi acaranya " Kata Raihan

Seketika, suasana ruang rapat seperti kehilangan oksigen. Ramdan hanya mengangguk kecil dengan raut wajah bangga yang tersamar, seolah menegaskan bahwa kapasitas Tari memang tak perlu diragukan.

Ramdan mengetuk meja pelan dengan pulpennya, mengembalikan atensi semua orang ke agenda utama.

Ramdan: "Oke, kita lanjutkan lagi ya. Terima kasih ya, Han, atas pengumumannya. Berarti fix mulai hari ini Tari resmi menjabat sebagai sekretaris OSIS."

Ramdan melirik Tari sekilas, memberikan kode dukungan sebelum kembali menatap dokumen di depannya.

" untuk sementara waktu, Tari tetap duduk di posisinya sekarang ya, bareng Alvin. Karena Tari masih ada satu tugas lagi." Kata Ramdan

Ada sedikit jeda, Ramdan berdehem pelan seolah sedang menyiapkan mental untuk agenda berikutnya yang nggak kalah penting.

Agenda berikutnya adalah laporan dari panitia pendaftaran pentas seni. Tim pendaftaran, silakan kalian berikan laporannya kepada kami. Kira-kira siapa yang akan menyampaikan? Apakah sang ketua, Tari, atau wakilnya, Alvin? Ayo, siapa saja, kami tunggu laporannya."Kata Ramdan

Tari berdiri di depan dengan map di tangan, suaranya terdengar jernih dan percaya diri ,ciri khas sekretaris baru yang membanggakan.

Tari: "Oke semuanya, ini adalah data sementara perwakilan tiap kelas untuk Pensi nanti. Mohon dikoreksi kalau ada yang terlewat."

Tari mulai membacakan daftar dari kelas X, XI, hingga XII dengan teliti. Namun, suasana ruang OSIS mendadak berubah saat Tari sampai pada bagian kelasnya sendiri, XI IPA 1

Tari: "Untuk XI IPA 1, kategori Dance ada Karin dan Tiara. Tapi tadi Kak Arga selaku Ketua OSIS menginfokan kalau ada tambahan satu lagi, yaitu Wulan."

Ramdan sempat melirik Arga dengan alis bertaut mendengar nama Wulan, tapi Tari tetap melanjutkan tanpa terganggu. Ramdan berpikir waduh Wulan ngedance sama Tiara.

Tari: "Lalu untuk Puisi, ada saya sendiri dan Alvin. Dan untuk kategori Nyanyi..." Tari sempat terjeda sejenak, menarik napas pelan. "...ada Ramdan, Afan, dan saya sendiri."

Bisik-bisik langsung terdengar di ruangan. Alvin di pojokan cuma bisa mesem-mesem sambil ngasih jempol ke arah Ramdan. Tapi ketegangan belum berakhir, karena daftar terakhir adalah yang paling ditunggu.

Tari: "Terakhir, perwakilan kelas XII. Kategori Dance ada Kak Bela dan Kak Elza. Dan untuk Nyanyi, ada Kak Anisa bersama... Kak Arga."

Itu laporan dari kami panitia pendaftaran pentas seni apabila ada masukan atau pertanyaan silahkan kami tunggu. Tiba-tiba dari barisan para guru Bu Melly angkat tangan

" Untuk pembacaan puisi atau pun nyanyi apakah itu duet atau solo? terutama untuk kelas XI IPA 1 ibu ingin tahu konsepnya" Tanya Bu Melly

"Oh iya Bu untuk nyanyi maupun puisi itu konsepnya solo jadi tidak ada duet puisi maupun duet nyanyi khusus untuk kelas XI IPA 1 kami akan memainkan alat musik masing-masing yang kami kuasai Jadi Ramdan akan menyanyi dengan keyboard, Afan bernyanyi menggunakan gitar, dan saya sendiri juga bernyanyi menggunakan gitar." Kata Tari sambil tersenyum manis

"oh begitu ya bagus dong" kata Bu Melly

"Iya Bu. Nah untuk puisi kami juga kan solo tapi kami minta kakak - kakak OSIS untuk mengiringi kami dengan instrumen musik gitar "Apakah Kakak-kakak OSIS siap?" tanya Tari dengan nada menantang namun penuh harap.

Seisi aula mendadak hening, menunggu jawaban dari meja depan. Ramdan melirik ke arah Arga, lalu kembali menatap Tari dengan binar mata yang sulit dijelaskan.

Alvin: "Waduuhhh! Tari minta diiringi gitar nih? Kode keras banget biar Waketos kita yang turun tangan! Tenang aja Tar, kalau cuma gitar mah kecil. Jangankan gitar, orkes dangdut sekalian juga kita siapin kalau itu perintah dari Sekretaris kesayangan kita!" 😂

Ramdan: (Tersenyum tipis sambil menatap Tari lekat-lekat) "Puisi dengan iringan gitar? Permintaan yang menarik, Ri. Untuk memastikan Pensi ini perfect dan berkesan bagi kalian, jawabannya cuma satu: OSIS selalu siap. Kamu tenang saja, petikan gitarnya akan seindah kata-kata yang kamu tulis nanti."

Tari terdiam sejenak, membalas tatapan Ramdan tanpa menghiraukan godaan Alvin yang masih berisik di latar belakang. Dia menarik napas panjang, lalu berucap dengan nada yang tenang namun penuh penekanan.

Tari: "Oke, aku pegang janji Kakak ya. Karena sebuah puisi nggak akan pernah sampai maknanya kalau melodinya tiba-tiba hilang di tengah jalan. Jadi, aku harap Kakak nggak cuma siap di awal, tapi siap buat tetap ada sampai bait terakhir puisinya selesai aku bacakan nanti.

Begitu Tari selesai ngomong, sedetik kemudian aula yang tadinya khidmat langsung berubah jadi konser dadakan.

Alvin: (Berdiri di atas kursi sambil muter-muter baju seragamnya) "ASIIIIKKK! Tar, itu puisi apa sumpah setia? 'Sampai bait terakhir' katanya! Guys, tolong pesenin ambulance sekarang, Waketos kita kayaknya butuh oksigen karena serangan baper mendadak!" 🤣

Geng Receh: "Eaaaaaaa! Kawal terus sampe pelaminan! Eh, maksudnya sampe panggung Pensi!" sorak mereka kompak sambil mukul-mukul meja kayak lagi nonton bola.

Nggak mau kalah, barisan depan yang diisi para guru pun ikut panas.

Bu Melly: (Sambil kipas-kipas pake buku absen) "Aduh, Tari... Ibu yang denger aja kok jadi ikut merinding ya? Ramdan, kamu denger itu kan? Jangan berani-berani 'hilang melodinya' kalau nggak mau urusan sama Ibu!"

Pak Satria: (Ketawa kenceng sambil nepuk bahu Pak Kepsek) "Pak, kayaknya kita nggak usah sewa guest star mahal-mahal deh. Liat drama mereka berdua aja satu sekolah udah dapet hiburan gratis yang bener-bener berbobot!"

Pak Kepsek cuma bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum penuh arti. Senyum yang sebentar lagi bakal berubah jadi rasa nggak tega karena dia tahu surat tugas ke Kalimantan itu sudah ada di kantongnya.

Tari pun jadi malu dibuatnya, perasaan itu jawaban biasa saja tapi kenapa bikin semua orang menggodanya.

"Boleh tidak kami para guru mengetahui sedikit bocoran tentang lagunya?" Kata Pak Ardi kepala sekolah

" Untuk kelas X Dela ( gambaran hati), Putri ( orang yang salah), kelas XI IPA 2 Hanin ( Yank) dengan gitarisnya Pajar, kelas XII Kak Anisa ( muhasabah cinta) , Kak Arga ( cinta dalam hati) , untuk kelas XI IPA 1 Afan ( Bukti), Tari ( Betapa aku mencintaimu, kehadiranmu) dan untuk Ramdan kami belum tahu karena Ramdan sendiri masih merahasiakannya " Jelas Tari

"wow keren banget lagu - lagunya " Kata Bu Melly

"ada lagi yang mau bertanya?" Kata Ramdan

"Oh iya Kak Arga sebagai ketua OSIS bagaimana nih untuk pengganti kak Bela, apakah sudah ada penggantinya?" Tanya Tari

Arga memperbaiki posisi duduknya, wajahnya kembali serius, menunjukkan wibawa seorang pemimpin di depan para guru dan anggotanya.

Arga: "Pertanyaan bagus, Tari. Jujur, cari pengganti Bela di posisi itu nggak gampang, apalagi kita lagi kejar tayang buat Pensi. Tapi kalian tenang saja, saya dan Ramdan sudah mengantongi satu nama yang menurut kami punya vibe yang sama dan sanggup kerja rodi bareng kita.

Arga menjeda kalimatnya, membuat seisi aula penasaran.

Arga: "Orangnya ada di antara kalian. Tapi untuk menjaga kondusivitas, namanya akan saya umumkan secara resmi di ruang OSIS nanti setelah Dzuhur. Jadi, Tari... pastikan kamu nggak telat ya, karena ini krusial buat tim acara."

"Gimana masih ada pertanyaan lagi? Kalau tidak ada kita lanjut ke agenda yang terakhir . Tapi sebelumnya saya mau ngucapin terima kasih atas laporannya dan kinerja yang bagus dan penuh tanggung jawab sekali lagi terimakasih tim panitia pendaftaran pentas seni, agenda berikutnya adalah pengumuman panitia pentas seni. Tapi sebelum di umumin saya minta Tari untuk pindah duduknya bersama Raihan, jadi maaf ya Alvin kamu sendiri duduknya " Kata Ramdan

Tari pun langsung pindah duduknya bersama Raihan

"untuk pengumuman panitia pentas seni itu akan di sampaikan oleh ketua OSIS kita yang penuh tanggung jawab'Arga' . Ayo silahkan Arga" kata Ramdan

 "Oke, ini adalah struktur panitia pelaksana Pensi SMA Kusuma Bangsa tahun ini. Tolong diperhatikan tugas masing-masing."kata Arga

Arga mulai membacakan daftar itu satu per satu dengan penuh percaya diri:

Tim Acara: Tari (Sendirian)

Tim Logistik: Alvin, Fadil, Keyza

Tim Humas: Bara, Alex

Tim Keamanan: Ramdan, Boby, Pajar, Roby, Ferdy

Tim Konsumsi: Arga, Nisa, Kania, Fara

Tim Dokumentasi: Wulan, William, Kenzo

 "Silakan, kalau ada yang mau bertanya atau ada masukan, kami tunggu." Kata Arga

 "Kak Arga, kok aku sendirian di tim acara? Udah gitu kan aku juga merangkap sebagai sekretaris OSIS. Aku takut nanti nggak semuanya bisa ke-handle."Kata Tari

"Kamu gak sendirian Ri,ada anak-anak OSIS yang selalu siap membantu jadi kamu jangan sungkan-sungkan untuk meminta pertolongan kepada kami dan juga yang paling penting minta pertolongan kepada Allah SWT " Kata Ramdan

"Oh terimakasih banyak. Terus untuk tim keamanan boleh tidak nambah lagi personil nya? Secara ketua keamanan kan Ramdan dia juga perwakilan dari kelas XI IPA 1 jadi kemungkinan dia akan berada di dalam akan jarang mungkin juga susah untuk terjun ke lapangan secara maksimal " kata Tari

Arga menyandarkan punggungnya ke kursi, melirik Ramdan yang mendadak salah tingkah di sampingnya, lalu kembali menatap Tari dengan senyum penuh arti.

 "Soal itu, kamu tenang aja, Ri. Penambahan personil memang ada, tapi untuk komando utama tetap di tangan Ramdan. Kenapa? Karena ini sudah jadi kesepakatan kami berdua." Kata Arga

Arga sengaja menjeda kalimatnya sambil berdeham kecil, bikin seisi aula makin pasang kuping lebar-lebar.

 "Saya percaya penuh sama Ramdan. Kalau dia sanggup menjaga gerbang sekolah dengan ketat, saya yakin dia juga sanggup menjaga 'hati seseorang' dengan cara yang sama—nggak akan membiarkan satu pun gangguan masuk. Jadi, meskipun dia sibuk di lapangan, hatinya... eh, maksud saya koordinasinya, tetap akan tertuju ke satu titik yang sama. Kamu paham kan, Ri?" Kata Arga

" Iya aku paham " Kata Tari

"Ada lagi yang mau bertanya soal kepanitiaan tidak?" Tanya Arga

Semua terdiam tidak ada celotehan lagi . "Karena tidak ada lagi yang bertanya maka saya anggap paham. Silahkan Ndan kamu yang nutup" Kata Arga pada Ramdan

Suasana aula mendadak hening saat Ramdan berdiri dari kursinya. Dia nggak lagi senyum, sorot matanya tajam tapi ada gurat kesedihan yang coba dia tutupin rapat-rapat.

 "Oke, sebelum rapat ini benar-benar saya tutup, ada instruksi tambahan yang bersifat wajib buat seluruh pengurus OSIS dan panitia Pensi." Kata Ramdan

Semua orang langsung pasang kuping. Alvin yang tadinya mau becanda pun langsung diem liat muka serius Ramdan.

 "Mulai detik ini, saya minta tolong... notifikasi chat dan nada dering HP kalian tolong dinyalain dan dikencengin. Jangan ada yang mode silent atau vibrate. Saya nggak mau ada alasan 'nggak baca chat' atau 'HP lagi di-cas' kalau ada koordinasi mendadak. Kita harus fast response 24 jam." Kata Ramdan

"Dan satu lagi... saya minta maaf sebelumnya. Untuk malam Minggudepan, kita semua resmi lembur di sekolah untuk persiapan final. Jadi, buat kalian yang sudah punya janji atau agenda pribadi, saya mohon banget buat di-reschedule ulang. Kita butuh fokus total di sini." Lanjut Ramdan

Aula langsung riuh , ada yang mengeluh pelan tapi kebanyakan mengangguk paham. Tari menatap Ramdan, teringat janjinya sendiri, tapi dia hanya bisa menghela napas. Dia nggak tahu kalau 'lembur' itu sebenarnya adalah alasan agar Ramdan bisa menyelesaikan semua tanggung jawabnya sebelum benar-benar 'hilang' dari sekolah ini.

"Sekian dari saya. Silakan istirahat dan persiapan sholat Dzuhur. Rapat saya tutup, wassalamualaikum." Kata Ramdan

Ramdan meletakkan kembali mikrofonnya ke stand, tapi sesaat kemudian dia mengambilnya lagi. Matanya mencari sosok Tari di tengah kerumunan siswa yang mulai bubar.

 "Oh, satu lagi. Tari... khusus buat kamu, setelah sholat Dzuhur tolong jangan ke mana-mana dulu ya."Kata Ramdan

Langkah Tari terhenti. Dia berbalik, menatap Ramdan dengan raut bingung.

 "Kamu ditunggu sama Ketua dan Wakil Ketua di ruang OSIS. Ada hal krusial yang harus kita bahas bertiga sebelum yang lain tahu. Tolong... jangan telat ya, Ri." Kata Ramdan

Suara Ramdan yang biasanya hangat, kali ini terdengar sangat datar dan formal, bikin Tari mendadak ngerasa ada yang nggak beres. Alvin yang lewat di samping Tari cuma bisa bisik-bisik, "Waduh, Tar... disidang petinggi nih? Kayaknya soal 'bait terakhir' tadi mau langsung diurus administrasinya ya?" 😂

Tari cuma bisa mengangguk pelan, meskipun hatinya mulai dipenuhi tanda tanya besar. "Ada apa lagi? Bukannya tadi di rapat semua udah beres?" batinnya sambil meremas ujung hijabnya.

Gema salam terakhir di masjid sekolah menandakan berakhirnya sholat Dzuhur berjamaah. Suasana yang tadinya riuh di aula, kini berganti menjadi ketenangan yang menyejukkan. Suara gemericik air wudhu yang masih tersisa dan aroma mukena yang baru dilipat memenuhi udara koridor masjid.

Para siswa mulai berhamburan keluar, ada yang sibuk mencari sepatu di tangga masjid, ada juga yang asyik mengobrol santai sambil berjalan menuju kantin. Namun, suasana berbeda justru dirasakan Tari. Baginya, udara siang ini mendadak terasa lebih berat.

Tari melangkah menyusuri selasar sekolah menuju gedung utama. Matahari siang yang terik seolah tak mampu menyentuh kulitnya yang masih terasa dingin setelah terkena air wudhu. Langkah kakinya terasa lambat, seirama dengan degup jantungnya yang mulai nggak karuan.

Koridor menuju ruang OSIS tampak lebih sepi dari biasanya. Hanya ada suara langkah sepatunya yang beradu dengan lantai keramik putih. Angin sepoi-sepoi yang masuk dari celah jendela lantai dua membawa aroma melati yang entah dari mana, menambah kesan mistis sekaligus mencekam bagi Tari.

Tepat di depan pintu jati yang tertutup rapat, Tari berhenti. Tak ada lagi suara Alvin yang melucu, tak ada lagi tawa Bu Melly. Yang ada hanyalah kesunyian yang mengintimidasi. Tari tahu, begitu dia memutar knop pintu itu, semua "kehangatan" di aula tadi pagi akan berubah menjadi kenyataan pahit yang harus dia telan bulat-bulat.

Tari menghela napas, menguatkan hati, lalu mengangkat tangannya.

Tok... tok... tok...

Suara ketukan itu menggema di koridor yang mulai sepi. Tari memutar knop pintu jati itu perlahan. Di dalam, ia melihat Ramdan dan Arga sedang berdiri menghadap jendela, membelakanginya. Atmosfer di ruangan itu terasa sangat berbeda dari biasanya—dingin, formal, dan penuh rahasia.

"Assalamualaikum," sapa Tari pelan.

Ramdan dan Arga berbalik bersamaan. Tatapan Ramdan yang biasanya teduh, kini tampak begitu tajam namun menyembunyikan sesuatu yang berat.

"Waalaikumsalam. Masuk, Ri. Tutup pintunya," suara Ramdan terdengar berat dan datar. "Ada hal krusial yang nggak bisa didengar orang lain selain kita bertiga."

Tari melangkah masuk, dan tepat saat pintu tertutup rapat dengan bunyi klik, ia merasa seolah-olah sebuah babak baru yang penuh beban baru saja dimulai. Ia tidak tahu, bahwa di balik pintu ini, sebuah kenyataan tentang keberangkatan Ramdan ke Kalimantan sudah menantinya.

1
yanzzzdck
semangat yaa
Tati Hartati: makasih kak
total 1 replies
yanzzzdck
semangat
yanzzzdck: iya aman aja
total 2 replies
kalea rizuky
lanjut
Tati Hartati: siap kak...
total 1 replies
kalea rizuky
q ksih bunga deh biar makin bagus ceritanya
Tati Hartati: makasih banget ya kakak
total 2 replies
kalea rizuky
moga bagus ampe end dan gk bertele tele ya thor
Tati Hartati: makasih kak dukungannya
total 1 replies
yanzzzdck
semangat💪
Tati Hartati: Terimakasih banyak atas supportnya... semangat juga ya kakak..
total 1 replies
yanzzzdck
semangat aku bantu like semua, kalo bisa like balik ya, kalo gbisa gpp🙏
Tati Hartati: sama sama... insyaallah nanti aku kalau udah santai pasti mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!