Deskripsi
Bagi Keylara Putri—atau Lara—hidup seharusnya sederhana. Lulus SMA, dan kuliah di Jakarta . Namun semua berubah saat orang tuanya memutuskan pindah ke luar negeri demi ekspansi bisnis besar. Lara keras kepala menolak ikut. Pilihannya hanya satu: tinggal bersama Arka Pratama—pamannya yang dingin, tegas, dan terakhir ia temui saat masih SD. Pertemuan kembali itu membuat Lara dan Arka terlibat sebuah konflik yang melibatkan perasaan satu sama lain,apa yang akan terjadi jika mereka harus tinggal diatap yang sama???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nostalgia
Jam 8 biasanya Lara sudah keluar kamar, entah dengan rambut masih setengah basah atau wajah ngantuk sambil menguap kecil. Tapi pagi ini berbeda.
Arka masih duduk di meja makan, koran terbuka di tangannya, namun satu halaman pun tak benar-benar ia baca. Pikirannya gelisah. Tatapannya berulang kali melirik ke arah lorong kamar.
Tidak ada langkah kaki. Tidak ada suara pintu dibuka.
Akhirnya Arka mendesah pelan. Ia melipat koran, berdiri, lalu melangkah menuju kamar Lara.
Ketukan pertama tak mendapat jawaban. Ketukan kedua juga sama.
“Lara?” panggilnya, sedikit lebih keras.
Tak ada sahutan, hanya terdengar suara air samar dari balik pintu kamar mandi. Arka menghela napas lega. Mandi rupanya.
Ia membuka pintu kamar sedikit, berniat menutupnya kembali, ketika tiba-tiba—
“Ah!”
Jeritan itu menggema.
Arka tersentak. Tanpa sempat berpikir panjang, tubuhnya langsung bergerak. Ia berlari masuk dan menerobos kamar mandi.
Langkahnya terhenti seketika.
Lara terduduk di lantai, tepat di bawah pancuran air. Wajahnya meringis, tangan mencengkeram betisnya sendiri. Rambutnya basah, napasnya terengah menahan sakit.
Arka berdiri kaku di ambang pintu.
Ia sempat salah tingkah—bukan karena pemandangan di depannya, tapi karena situasinya terlalu mendadak. Namun begitu melihat raut kesakitan Lara, semua pikiran lain langsung tersingkir.
“Apa yang terjadi?” suaranya refleks melembut.
“Kakiku Kram…” suara Lara bergetar. “Sakit banget…”
Tanpa berkata apa-apa lagi, Arka melangkah mendekat. Ia mematikan shower, lalu dengan hati-hati mengangkat tubuh Lara dan mendudukkannya di atas dudukan toilet. Air masih menetes dari rambut dan pakaiannya, begitu juga dari kemeja Arka yang kini ikut basah—tapi ia sama sekali tidak peduli.
Ia berlutut, kedua tangannya menopang betis Lara.
“Di sini?” tanyanya pelan.
Lara mengangguk.
Arka mulai memijat perlahan, tekanannya terukur, sabar, seolah ia benar-benar tahu apa yang harus dilakukan. Lara meringis di awal, lalu napasnya perlahan mulai teratur.
Sakitnya berangsur mereda. Yang tersisa justru perasaan aneh di dada Lara.
Dekat. Terlalu dekat.
Jantungnya berdegup tidak karuan. Ada rasa gugup, canggung, tapi juga hangat—sesuatu yang belum pernah ia rasakan sejak tinggal di sini. Untuk pertama kalinya, perhatian Arka terasa… nyata.
Bukan sebagai paman yang dingin.
Tapi sebagai seseorang yang benar-benar peduli.
Arka sendiri tidak jauh berbeda.
Ia berusaha fokus pada kram itu, pada tugas sederhana memijat dan memastikan Lara baik-baik saja. Namun jarak yang terlalu dekat membuatnya menahan napas. Ia menyadari betul betapa rapuhnya momen ini—dan betapa mudahnya perasaan melenceng ke arah yang seharusnya tidak boleh.
Beberapa menit kemudian, Lara menghela napas panjang.
“Udah… mendingan.”
Arka berhenti. Ia berdiri, mengambilkan handuk dan piyama mandi, lalu meletakkannya di dekat Lara tanpa menatap terlalu lama.
“Jangan lama-lama mandinya. Nanti kamu masuk angin,” katanya singkat, kembali dengan nada datar yang familiar—seolah barusan tidak terjadi apa-apa.
Ia berbalik dan keluar kamar dengan langkah cepat.
Di balik pintu yang tertutup, Lara menatap kosong ke depan.
Kakinya memang sudah tidak sakit.
Tapi dadanya terasa penuh oleh sesuatu yang jauh lebih membingungkan.
Setelah insiden pagi itu, suasana meja makan terasa berbeda.
Bukan canggung, tapi… hening yang sarat makna.
Arka duduk di seberang Lara, kemeja kerjanya sudah berganti—lebih santai, tanpa dasi. Sementara Lara mengenakan pakaian rumah sederhana, kakinya kini diselonjorkan sedikit ke kursi kosong di sampingnya, masih terasa pegal meski sudah dipijat.
Arka memecah keheningan lebih dulu.
“Kaki kamu masih sakit?” tanyanya datar, tapi matanya sesekali melirik pergelangan kaki Lara.
“Sedikit,” jawab Lara jujur. “Tapi nggak parah.”
Arka mengangguk, lalu menyodorkan segelas susu hangat ke arah Lara.
Tanpa komentar. Tanpa penjelasan. Lara menerimanya sambil menatap wajah Arka sekilas.
Ia ingin bertanya banyak hal. Tentang semalam. Tentang nada suara Arka yang dingin tapi penuh khawatir. Tentang perasaannya sendiri yang terasa… berantakan.
Namun ia memilih diam.
Arka kemudian berkata, seolah sudah memikirkannya sejak tadi,
“Hari ini kamu jangan ke kampus dulu.”
Lara langsung mengangkat wajahnya.
“Tenang, Paman. Memang nggak ada jadwal hari ini.”
Jawaban itu sedikit melegakan Arka, meski ia tak menunjukkannya.
Ia menyesap kopinya, lalu berdiri sambil meraih kunci mobil.
“Hari ini aku ada rapat pagi.”
Lara mengangguk. “Iya, aku di rumah aja.”
Arka melangkah dua langkah… lalu berhenti.
Entah kenapa bayangan Lara tergelincir di kamar mandi, suara jeritannya, wajahnya yang meringis—semuanya kembali terngiang. Dadanya terasa mengencang.
Ia berbalik.
“Kamu ikut aku ke kantor.”
Lara hampir tersedak susunya.
“Hah?”
“Aku khawatir kamu sendirian di rumah,” lanjut Arka, nada suaranya tegas seperti keputusan rapat direksi. “Kamu bisa beristirahat disana. Dan aku juga bisa mengawasimu”
Lara menggeleng cepat. “Aku nggak apa-apa. Lagian aku bisa—”
“Kita berangkat sepuluh menit lagi.”
Itu bukan permintaan,tapi sebuah perintah yang keputusannya sudah final.
Lara membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia tahu nada itu. Nada yang sama sejak kecil—saat Arka tidak memberi ruang untuk bantahan.
Akhirnya ia mendesah pasrah.
“…Iya.”
Mobil Arka melaju membelah jalanan kota.
Lara duduk di kursi penumpang, memandang keluar jendela. Ada rasa aneh di dadanya—campuran gugup, nostalgia, dan sesuatu yang belum ia pahami.
Gedung perusahaan itu akhirnya terlihat.
Megah. Tinggi. Berwibawa.
Lara menelan ludah.
Tempat ini… terasa familiar sekaligus asing.
Ia ingat samar-samar: tangan kecilnya dulu digenggam ayahnya, langkahnya pendek-pendek mengikuti, aroma khas kantor, dan suara tawa ayah yang hangat.
Terakhir kali ia menginjakkan kaki di sini…ia bahkan lupa berapa usianya saat itu.
Mobil berhenti di area parkir khusus.
Arka turun lebih dulu, lalu membuka pintu Lara dengan refleks—sebuah kebiasaan kecil yang tidak ia sadari.
“Pelan-pelan saja” katanya singkat.
Lara mengangguk dan turun, sedikit bertumpu pada kakinya yang masih sensitif.
Begitu mereka melangkah masuk, beberapa staf menoleh.
Bisik-bisik kecil terdengar.
“Siapa itu?”
“Bersama Pak Direktur?”
“Cantik…ya”
Lara menegakkan punggung tanpa sadar.
Bukan karena sombong—tapi karena ia merasa ini rumahnya juga, meski sudah lama ia tinggalkan.
Arka berjalan di sampingnya, langkahnya stabil, bahunya sedikit condong ke arah Lara—posisi protektif yang halus, nyaris tak terlihat. Dan Lara menyadarinya.
Tanpa berkata apa-apa, tanpa sentuhan berlebihan, Arka sedang menjaganya.
Langkah mereka yang berdampingan langsung menjadi magnet perhatian.
Bukan tanpa alasan.
Lara terlihat terlalu muda untuk berjalan sejajar dengan seorang direktur besar. Wajahnya cantik alami, ekspresinya polos, pakaiannya santai—sangat kontras dengan aura profesional gedung itu. Sementara di sampingnya, Arka melangkah dengan wibawa yang sudah menjadi ciri khasnya: dingin, rapi, dan tak tersentuh.
Kombinasi yang… tidak masuk akal.
Bisik-bisik mulai berembus, makin keras saat mereka melewati lobi utama.
“Siapa dia?”
“Pacarnya?”
“Nggak mungkin, kan Direktur Arka—”
“Yang katanya nggak pernah dekat sama perempuan itu?”
Bahkan gosip lama kembali hidup,kalau direktur tampan mereka tidak normal, terlalu dingin untuk urusan perasaan.
Namun kini…
ia berjalan berdampingan dengan seorang gadis muda.
Di antara wajah-wajah terkejut itu, Sintia membeku di balik mejanya.
Map di tangannya hampir terjatuh.
Matanya tak berkedip menatap sosok Lara yang berjalan di sisi Arka—tanpa jarak, tanpa rasa sungkan, seolah tempat itu memang miliknya.
Siapa dia…?
Sintia mengenal Arka lebih dari siapa pun di kantor ini. Ia tahu betul bagaimana Arka menjaga jarak.
Bagaimana tak ada satu pun wanita yang bisa bertahan lama di sekelilingnya.
Dan sekarang… gadis itu ada di sana. Dengan mudahnya.
Tanpa izin. Tanpa perjuangan.
Rasa penasaran Sintia berubah menjadi sesuatu yang lebih pahit—campuran cemburu dan tidak terima.
Namun Arka sama sekali tidak peduli.
Ia bahkan tidak melirik satu wajah pun di sekelilingnya. Fokusnya hanya satu.
“Kamu duduk dulu di ruanganku,” ucapnya pada Lara dengan suara rendah.
"Kalau capek, istirahatlah di sofa.”
Lara mengangguk pelan, sedikit kikuk dengan tatapan yang mengikuti mereka.
“Iya, Paman.”
Satu kata itu—paman—tidak terdengar jelas bagi siapa pun kecuali Arka. Namun cukup membuat dadanya terasa… aneh.
Arka membuka pintu ruangannya, membiarkan Lara masuk lebih dulu.
Dan begitu pintu itu tertutup, dunia luar yang riuh seakan terputus.
Di dalam ruang kerja besar itu, hanya ada mereka berdua.
Sunyi dan Tenang. Dan entah kenapa… terasa aman.
Setelah memastikan Lara duduk dengan nyaman di sofa empuk di sudut ruangannya, Arka berdiri sejenak, seolah masih ragu meninggalkannya.
“Kaki kamu masih sakit?” tanyanya singkat.
“Udah mendingan,” jawab Lara cepat, hampir refleks. “Aku nggak apa-apa, kok.”
Arka mengangguk pelan, lalu mengambil jasnya.
“Aku ada rapat. Jangan ke mana-mana.”
Nada suaranya terdengar seperti perintah…tapi entah kenapa bagi Lara itu terasa seperti perlindungan.
“Iya, Paman,” jawab Lara ringan.
Arka berhenti sesaat di depan pintu, seakan ingin mengatakan sesuatu—apa pun itu—namun akhirnya hanya membuka pintu dan melangkah pergi.
Pintu tertutup.
Lara mengembuskan napas panjang dan bersandar di sofa. Matanya berkeliling, menyapu setiap sudut ruangan itu.
Ruang kerja Arka.
Serius. Rapi. Maskulin.
Meja besar dengan laptop terbuka, rak buku penuh laporan dan dokumen tebal, satu foto kecil di sudut meja—foto lama yang membuat Lara bangkit dan mendekat.
Ia tersenyum kecil.
“Ah… ini…”
Foto itu diambil bertahun-tahun lalu.
Lara kecil dengan rambut diikat dua, berdiri kaku di samping Arka remaja yang wajahnya masih kaku dan dingin—tapi tangannya melingkar di bahu Lara.
Dia masih menyimpannya…
Lara duduk di kursi Arka, tentu saja dengan hati-hati.
Tangannya menyentuh permukaan meja, jemarinya menyusuri bekas goresan halus yang mungkin tidak pernah diperhatikan Arka.
Aroma parfum Arka masih tertinggal di udara. Maskulin.dan hangat.
Tanpa sadar Lara menarik napas lebih dalam.
“Kenapa rasanya…” gumamnya pelan, lalu menggeleng cepat.
“Nggak, nggak boleh.”
Ia tertawa kecil sendiri, lalu kembali bersandar di sofa.
Kenangan lama berkelebat—
Arka yang jarang bicara.
Arka yang selalu menepati janji.
Arka yang pergi… tanpa kabar.
Dan kini Arka yang duduk di seberang meja makan setiap pagi.
Lara menatap langit-langit, merasa ada sesuatu di dadanya yang tidak bisa ia beri nama.
Bukan cinta.
Bukan juga sekadar rindu.
Hanya perasaan… pulang.