Di sebuah mansion megah di perbukitan Bel-Air, nama Leonor Kaia hanyalah sebuah bisikan yang memudar, sebuah kesalahan statistik dalam silsilah keluarga Gonzales yang terobsesi dengan Anak Laki-laki.
"Kau lihat dia, Leonor?" suara dingin itu menghentikan langkah Leonor di bordes tangga.
Sang Ayah, David Gonzales berdiri di sana, menyesap wiskinya. Pria itu adalah pengusaha terkaya nomor empat di Los Angeles, namun di mata Leonor, dia hanyalah pria tua yang jiwanya telah membusuk oleh patriarki.
"Ethan adalah masa depan perusahaan. Dia adalah apa yang seharusnya kau jadikan cermin."
David Gonzales tidak pernah memanggilnya putriku. Baginya, Leonor adalah pengingat akan kegagalan kedua. Setelah istri pertamanya hanya memberikan seorang anak perempuan, David mengira menikahi "gadis miskin yang dia pungut" begitu istilah kejam keluarga besarnya, akan memberinya keberuntungan berbeda. Namun, Leonor lahir. Seorang bayi perempuan dengan mata yang terlalu mirip ibunya, lembut, namun tajam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#12
Pagi itu, langit Los Angeles yang cerah terasa mencekam bagi Leonor Kaia. Ia baru saja turun dari bus dan hendak menyeberang jalan menuju gerbang samping kampus. Namun, deru mesin yang sangat ia kenali, suara raungan mesin V12 yang angkuh, tiba-tiba membelah keheningan.
Ciiitttt!
Suara gesekan ban dengan aspal berdecit tajam, memekakkan telinga. Debu beterbangan. Ujung bemper depan Lamborghini hitam milik Edgar Martinez berhenti hanya beberapa milimeter dari lutut Leonor.
Jantung Leonor seolah berhenti berdetak. Seluruh tubuhnya mematung, darahnya terasa dingin merayap ke seluruh ujung jari. Ia bisa merasakan hawa panas yang menguar dari mesin mobil mewah itu.
Edgar menurunkan kaca mobilnya, wajahnya tampak tenang, bahkan ada kilasan senyum tipis yang meremehkan. Di kursi penumpang, Ethan tertawa, sementara di mobil lain di belakang mereka, Clark dan Jackson menyembul keluar sambil bersiul.
"Hampir saja, Kaia! Kau harus lebih cepat jika ingin menghindari predator," seru Edgar dengan nada santai, seolah ia baru saja melakukan trik sulap yang menghibur.
Leonor tidak bergerak. Ia tidak berteriak marah seperti biasanya. Ia hanya berdiri di sana dengan bahu yang gemetar hebat. Tas sketsanya jatuh ke aspal, isinya berhamburan, namun ia tidak peduli.
"Apa nyawaku kau anggap mainan, Edgar?" suara Leonor keluar, sangat kecil dan serak, namun mengandung getaran yang membuat tawa Ethan terhenti.
Edgar mengerutkan dahi, ia membuka pintu mobil dan keluar, bersandar pada pintu yang terbuka. "Oh ayolah, aku tahu persis kapan harus menginjak rem. Aku hanya ingin memberimu sedikit kejutan pagi agar kau tidak mengantuk di kelas."
"Kejutan?" Leonor mendongak. Matanya yang biasanya tajam kini tampak kosong dan hancur. "Kau baru saja hampir membunuhku."
Clark, yang berjalan mendekat bersama rombongan elit itu, tertawa keras. "Jangan berlebihan, Leonor. Lagipula, kalaupun kau tertabrak dan meninggal hari ini, bukankah kau harus bangga? Tidak semua orang punya kesempatan mati ditabrak mobil seharga lima juta dolar. Itu adalah kematian yang mewah untuk gadis sepertimu."
Tawa pecah di antara kelompok pria-pria pewaris itu. Mereka menganggap itu adalah lelucon tingkat tinggi. Sebuah humor gelap di antara mereka yang merasa memiliki dunia.
Edgar awalnya ikut tersenyum mendengar candaan Clark. Ia ingin melihat Leonor membalas dengan kata-kata pedas atau menyebutnya "Alay" lagi. Ia menunggu perlawanan itu. Namun, ia justru melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Air mata jatuh di pipi Leonor. Bukan air mata kemarahan, tapi air mata keputusasaan yang murni.
"Kau benar, Clark," bisik Leonor. Ia menatap Clark, lalu beralih pada Edgar yang tiba-tiba merasa dadanya sesak melihat tetesan air itu.
"Edgar," panggil Leonor dengan suara yang menyayat hati. "Mungkin kau merasa sangat beruntung dilahirkan di keluarga yang luar biasa. Kau punya ayah yang memujamu, ibu yang menyayangimu, dan dunia yang selalu menyediakan karpet merah ke mana pun kau melangkah."
Edgar terdiam. Senyum miringnya perlahan luntur.
"Sedangkan aku? Aku bahkan tidak diharapkan untuk lahir," lanjut Leonor, suaranya mulai tersedu. "Aku adalah kesalahan di rumahku sendiri. Aku adalah noda yang ingin dihapus oleh ayahku. Aku berjuang setiap detik, setiap hari, hanya untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa aku layak untuk tetap hidup di dunia yang membenciku."
Leonor melangkah maju satu tindak, tepat di depan Edgar, menatap langsung ke dalam mata pria itu.
"Tapi dengan mudahnya... kau bermain-main dengan nyawa seseorang yang berjuang keras menjalani hari-hari yang buruk hanya demi sebuah hiburan konyol? Nyawaku mungkin tidak ada harganya di bursa sahammu. Aku tidak punya marga, tidak punya harta."
Suasana di depan gerbang kampus itu tiba-tiba menjadi hening mencekam. Mahasiswa lain yang lewat berhenti menonton, namun kali ini tidak ada yang berani berbisik. Kata-kata Leonor seperti sembilu yang membelah keangkuhan tempat itu.
"Jika memang melihatku ketakutan membuatmu puas, baik," Leonor menyeka air matanya dengan kasar, namun matanya tetap basah.
"Anggaplah mobil mewahmu tadi benar-benar menabrak nyawaku yang tak berharga itu. Matikan saja aku sekarang, Edgar. Karena hidup di bawah bayang-bayang orang-orang seperti kalian jauh lebih menyakitkan daripada ditabrak mobil mahalmu."
Leonor membungkuk, mengambil tasnya dengan tangan yang masih gemetar, lalu berjalan melewati Edgar tanpa menoleh lagi. Punggungnya yang kecil tampak begitu rapuh saat ia berjalan menjauh menuju gedung desain.
Edgar berdiri mematung di samping mobilnya. Perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya menghantamnya dengan keras: rasa bersalah yang menghimpit. Ucapan Clark yang tadi terasa lucu sekarang terdengar sangat menjijikkan di telinganya.
"Ed, kau oke? Dia hanya drama queen," ucap Ethan mencoba mencairkan suasana.
"Diam kau, Ethan," desis Edgar, suaranya rendah dan penuh kemarahan, kemarahan pada dirinya sendiri.
Edgar menatap mobilnya. Kendaraan yang selalu menjadi simbol kekuasaan dan kebanggaannya itu kini tampak seperti benda logam yang dingin dan tak berarti. Ia teringat tatapan mata Leonor, tatapan seorang pejuang yang sudah terlalu lelah untuk berperang.
Ia baru menyadari bahwa selama ini ia tidak sedang bermain-main dengan seorang gadis biasa. Ia sedang mengusik seseorang yang jiwanya sudah penuh luka, dan ia baru saja menambah satu luka yang sangat dalam.
"Aku keterlaluan," gumam Edgar dalam hati.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Edgar Martinez merasa tidak lebih dari seorang pengecut yang bersembunyi di balik kekayaan. Ia ingin mengejar Leonor, ingin mengatakan sesuatu, namun lidahnya terasa kelu. Sumpah Leonor semalam, bahwa dia akan membuat Edgar jatuh cinta dan kemudian mencampakkannya, kini terasa seperti nubuatan yang mulai menjadi kenyataan dengan cara yang paling menyakitkan.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍