di bawah umur di larang membaca.
Rina adalah definisi dari "anak muda zaman now"—ekspresif, jahil, dan sedikit re-og. Baginya, dunia sosial adalah tempat bermain untuk menggoda siapa saja, termasuk seorang pria misterius di aplikasi HelloTalk yang ia panggil dengan sebutan "Mas Arab". Rina mengira ia sedang memegang kendali, sampai akhirnya takdir membawanya bertemu langsung dengan sosok tersebut.
Ternyata, "Mas Arab" adalah Rohman, seorang Ustadz muda yang kaku, alim, namun memiliki tingkat kesabaran setebal kamus bahasa Arab. Pertemuan pertama mereka langsung meledak dengan kekonyolan Rina yang mencoba mengetes iman sang Ustadz.
Namun, Rina salah besar. Di balik sikap tenangnya, Rohman adalah tipe pria "sat-set" yang tidak suka membuang waktu. Saat Rina terus-menerus menguji batasan kesabarannya, Rohman justru membalas dengan sebuah langkah skakmat: Mempercepat akad nikah sore itu juga!
Kini, Rina terjebak dalam status sebagai istri sah. Niat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
"Ya sudah, sini duduk. Kita bahas soal rencana kapan akadnya," ujar Ayah sambil menepuk kursi kayu jati di sebelahnya, mengisyaratkan Rohman untuk duduk kembali dengan tenang.
Suasana berubah menjadi sedikit lebih serius, namun hangat. Ayah dan Bunda mulai berdiskusi soal tanggal baik dan prosedur adat yang harus dilalui. Di tengah hiruk-pikuk suara orang tua yang sibuk menentukan jumlah undangan dan katering, dua orang di sana malah tampak sibuk dengan dunianya sendiri.
Rina duduk di kursi tunggal, sedikit menjauh dari barisan sofa utama. Tangannya bergerak lincah di layar ponsel, mencoba menetralkan degup jantungnya yang masih tidak keruan. Sementara itu, Rohman yang duduk di hadapan Ayah, terlihat memegang ponselnya dengan tenang, sesekali mengangguk sopan merespons ucapan Ayah, namun jempolnya tak berhenti mengetik.
Ting! Ponsel Rina bergetar. Sebuah pesan dari akun Arab muncul di layar.
Arab:"Gimana Sayang?? Sudah saya tepati janji saya kepadamu, kan?"
Rina melirik ke arah Rohman. Pria itu masih menatap layar ponselnya dengan wajah datar tanpa dosa, seolah-olah bukan dia yang baru saja mengirim pesan menggoda itu.
Rina:"Nyenye, terserah! Nggak usah panggil Sayang-Sayang, di sini banyak orang!"
Arab:"Masih marah? Soal saya menghilang sebulan kemarin, atau soal saya yang ternyata 'orang aneh' di masjid?"
Rina menggigit bibir bawahnya, menahan senyum yang hampir pecah. Ia melirik Rohman lagi, dan kali ini pria itu balas menatapnya. Rohman mengangkat sebelah alisnya, seolah menantang Rina untuk menjawab jujur.
Rina: "Aku marah? No. Tapi jujur, aku tadi benci banget sama kamu! Kamu nyebelin, sok ganteng, dan bikin aku malu setengah mati di depan umum... Tapi aku mencintaimu 😖"
Setelah mengirim pesan itu, Rina langsung melempar ponselnya ke pangkuan dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia tidak berani melihat reaksi Rohman.
Di seberang meja, Rohman tampak terdiam sejenak melihat layar ponselnya. Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk senyum yang lebih lebar dari sebelumnya—senyum kemenangan. Ia berdehem kecil, mencoba kembali ke pembicaraan dengan Ayah.
"Jadi bagaimana, Nak Rohman? Bulan depan sudah siap?" tanya Ayah tiba-tiba, memecah fokus Rohman.
"Insya Allah, Pak RT. Lebih cepat lebih baik, supaya saya bisa segera memberikan stok es krim setiap hari untuk Dek Rina tanpa perlu sembunyi-sembunyi lagi," jawab Rohman mantap.
"Eh! Apa-apaan es krim?!" sela Rina, mencoba mengalihkan perhatian dari rasa malunya. "Pokoknya aku nggak mau akadnya buru-buru kalau syarat-syarat aku belum dipenuhi!"
"Syarat yang mana, Dek?" tanya Bunda heran. "Dua miliar itu?"
"Bukan Bunda... itu mah gampang buat dia," gumam Rina pelan, yang membuat seisi ruangan tertawa.
"Semua syarat sedang dalam proses, Paman, Bibi," sahut Rohman tenang. "Termasuk syarat 'tidak gila wanita'. Karena bagi saya, mengurusi satu wanita yang galaknya seperti Rina saja sudah menghabiskan seluruh energi dan cinta saya. Tidak akan sisa untuk yang lain."
Rina tertegun. Kalimat itu bukan dikirim lewat teks, melainkan diucapkan langsung di depan orang tuanya dengan nada yang sangat tulus. Kali ini, Rina tidak membalas dengan omelan. Ia hanya bisa menunduk, memainkan ujung gamis birunya, sambil menyadari bahwa "orang aneh" ini memang benar-benar jawaban dari doa-doa absurdnya di aplikasi HelloTalk.
...*****...