NovelToon NovelToon
Mawar Berduri: Tahta Untuk Ratu

Mawar Berduri: Tahta Untuk Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:16.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anonymous MC

"Mereka mengira aku boneka porselen yang siap pecah. Mereka pikir aku buta, bodoh, dan lemah. Biar aku tunjukkan, dari balik duri-duri ini, ada mahkota yang menungguku."

Alana Wijaya adalah putri tunggal konglomerat yang jatuh miskin. Setelah ayahnya wafat, ia menikah dengan pria yang diam-diam berselingkuh dengan sahabatnya sendiri—tepat di bawah atapnya, selama tiga tahun. Alana memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena sedang menyusun takhta.

Di balik gaun mahal dan senyum palsunya, ia diam-diam membangun kembali kerajaan ayahnya. Ia masuk ke klub eksklusif dengan pakaian usang, diremehkan, dicemooh—sampai suatu hari, para investor paling disegani di negeri ini berlutut menawarkan kerja sama.

Saat sang suami dan sahabatnya mulai menyadari bahwa mereka bukan lagi predator, melainkan mangsa... Alana baru benar-benar tersenyum.

"Kau pikir kau yang memainkanku? Sayang sekali. Permainan baru saja dimulai—dan akulah pembuat aturannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Surat dari Masa Lalu

🌹 Puisi: Mawar dan Manusia

Di balik duri yang kutumbuhkan

Ada luka yang tak pernah kering

Di balik tahta yang kudirikan

Ada hati yang hampir mati

Kau ajari aku berdiri, Ayah

Tapi lupa kau bilang

Bahwa tertinggi puncak kemenangan

Adalah saat aku masih bisa menangis

Sekarang mahkota itu di kepalaku

Berdarah oleh duri-duriku sendiri

Dan suratmu datang

Menjangkarku kembali ke bumi

— Alana Wijaya, 03:17 dini hari

---

Langit Jakarta sedang tidak bersahabat malam itu. Alana duduk di lantai kamar masa kecilnya—kamar yang tiga tahun terakhir ia kunci rapat-rapat setelah ayahnya pergi. Di luar, hujan mengguyur tanpa ampun, seolah langit ikut menangisi sesuatu yang bahkan Alana sendiri lupa kapan terakhir ia rasakan.

Sebuah kotak kayu jati tua terbuka di pangkuannya. Kotak itu ia temukan secara tidak sengaja saat membersihkan loteng rumah dua jam lalu—rumah yang kini sah kembali menjadi miliknya, meski masih terasa asing karena terlalu banyak kenangan yang ingin ia lupakan.

Isinya: buku-buku bisnis tua, kacamata baca ayah yang retak, sebuah dasi motif kotak-kotak yang selalu dipakai ayah saat menghadiri rapat penting, dan di bagian paling bawah—sebuah amplop coklat sederhana tanpa tulisan apa pun.

Tangannya gemetar saat membukanya.

Untuk Alana, di hari ketika kau merasa sendirian di puncak.

Tulisan tangan ayah. Miring khas orang tua yang terbiasa menandatangani dokumen miliaran rupiah, tapi tetap hangat seperti saat ia membacakan dongeng untuk Alana kecil.

---

"Nak,

Jika kau membaca ini, berarti aku sudah tiada. Dan jika kau membaca ini di kamar ini, bukan di ruang kerjaku, berarti kau sedang dalam fase paling berat dari hidupmu: fase di mana kau harus memilih antara menjadi manusia atau menjadi mesin.

Ayah tahu. Ayah tahu kau akan marah saat membaca ini. Kau akan bertanya, kenapa Ayah tidak bicara langsung dulu? Kenapa harus lewat surat?

Karena, Alana, ada pelajaran yang hanya bisa kau mengerti saat kau sudah mencapai titik tertinggi—atau titik terendah—dalam hidupmu. Dan Ayah percaya, kau akan sampai di sana.

Ayah selalu bangga padamu. Bukan karena kau pintar, bukan karena kau cantik, bukan karena kau bisa meneruskan bisnis Ayah. Tapi karena kau punya hati yang terlalu besar untuk dunia yang kejam ini.

Dan itu kelemahanmu. Juga kekuatanmu.

Dunia akan mencoba mengeraskan hatimu, Alana. Mereka akan mengkhianatimu, melukaimu, membuatmu percaya bahwa satu-satunya cara bertahan adalah menjadi lebih kejam dari mereka. Dan mungkin—mungkin saja—kau akan berhasil.

Tapi Ayah titip satu pesan:

Saat kau sudah berdiri di atas semua orang yang pernah meremehkanmu. Saat kau sudah mengambil kembali semua yang pernah dirampas. Saat kau sudah menjadi ratu di kerajaan yang kau bangun sendiri—

Jangan lupa jadi manusia.

Karena mawar yang paling indah sekalipun, jika tak pernah disiram air mata, akan layu sebelum mekar.

Ayah mencintaimu lebih dari kata-kata yang bisa Ayah tulis di kertas ini. Maafkan Ayah yang harus pergi sebelum melihatmu jadi ratu. Tapi Ayah akan selalu ada—setiap kali kau ragu, setiap kali kau lelah, setiap kali kau ingin menyerah.

Di setiap hembus angin yang membelai rambutmu. Di setiap rintik hujan yang menemani malam-malammu. Di setiap bunga mawar yang mekar di tamammu.

Ayah di sana. Menjagamu. Menyayangimu.

Raih mimpimu, Nak. Tapi jangan sampai kehilangan dirimu di tengah jalan.

Dengan seluruh cinta yang tak pernah bisa mati,

Ayah.

P.S. Dasi kotak-kotak ini khusus untuk kau pakai saat kau menandatangani kesepakatan terbesar dalam hidupmu. Kau akan tahu saatnya tiba."

---

Hujan makin deras. Tapi Alana tidak mendengarnya.

Yang ia dengar adalah suara ayahnya, persis seperti sepuluh tahun lalu saat ia gagal ujian masuk universitas impiannya. "Gagal itu biasa, Nak. Yang tidak biasa adalah berhenti mencoba."

Yang ia rasakan adalah tangan besar ayah yang mengusap rambutnya setiap kali ia demam. "Istirahat, Nak. Besok kita lawan lagi."

Yang ia lihat adalah senyum ayah saat ia menerima penghargaan murid teladan. "Ayah tahu kau bisa."

Air mata.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Alana membiarkan dirinya menangis.

Bukan tangis histeris seperti saat ia membaca berita kematian ayah di ponsel Richard—yang saat itu sedang asyik bercengkrama dengan Viola di sofa ruang tamu. Bukan tangis pilu seperti saat ia sendirian di IGD, menandatangani surat kematian tanpa ada keluarga yang menemani. Bukan tangis kering seperti saat ia berjanji pada diri sendiri: Aku akan balas dendam.

Ini tangis yang berbeda.

Tangis seorang anak yang baru benar-benar kehilangan ayahnya.

Karena selama tiga tahun ini, ia terlalu sibuk menjadi algojo, menjadi hakim, menjadi eksekutor—hingga lupa bahwa di balik semua itu, ia hanya seorang anak perempuan yang merindukan pelukan terakhir.

"Ayah..." suaranya serak, hampir tidak terdengar. "Aku sudah ambil semuanya kembali. Perusahaan, rumah, harga diri. Tapi kenapa... kenapa aku masih merasa kosong?"

Tak ada jawaban. Hanya hujan yang terus mengguyur, seolah ikut menangis bersamanya.

---

Pintu kamar terbuka perlahan.

Nathan berdiri di ambang pintu, jas hujannya masih meneteskan air. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang tidak bisa ia sembunyikan.

"Alana? Aku sudah telepon dua puluh kali. Kamu tidak—"

Ia berhenti saat melihat Alana di lantai. Wajah basah oleh air mata. Surat di tangan. Kotak kayu di pangkuan.

Nathan tahu. Ia langsung tahu.

Dengan cepat ia berlutut di depan Alana, meraih tangannya yang dingin. "Aku di sini," bisiknya. "Aku di sini."

Alana tidak bilang apa-apa. Tapi tangannya menggenggam erat jari Nathan, seolah takut tenggelam jika melepaskan.

Untuk beberapa saat mereka hanya diam. Hujan di luar. Isak tangis pelan di dalam. Dua manusia yang saling menggenggam di tengah badai.

---

"Ayah tahu," akhirnya Alana bicara, suaranya pecah. "Ayah tahu semua yang akan terjadi. Sebelum dia pergi... dia sudah tahu."

Nathan membaca surat itu dalam diam. Tangannya yang lain mengusap punggung Alana perlahan.

"Ayahmu luar biasa," katanya pelan. "Dia tahu kamu cukup kuat untuk jatuh dan bangkit lagi. Tapi dia juga tahu... kekuatan terbesarmu bukan di kemampuanmu membalas, Alana. Tapi di kemampuanmu merasakan."

Alana menggeleng lemah. "Tapi aku sudah mati rasa, Nathan. Tiga tahun ini aku hanya mesin. Aku lupa rasanya jadi manusia."

"Kamu tidak lupa," Nathan membalikkan wajah Alana dengan lembut, menatap matanya yang sembab. "Buktinya kamu menangis sekarang. Mesin tidak menangis. Manusia yang menangis."

Alana ingin menjawab, tapi tiba-tiba ponselnya bergetar.

Pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

"Selamat malam, Nyonya Hartanto. Atau lebih tepatnya, Alana Wijaya lagi, ya? Hebat, kau berhasil. Tapi jangan cepat puas. Ada satu hal yang belum kau tahu tentang kematian ayahmu. Sesuatu yang tidak akan pernah kau maafkan—pada dirimu sendiri. Tertarik? Balas 'YA' dalam satu jam, atau rahasia ini akan kubawa mati."

Darah Alana berdesir dingin.

Nathan membaca pesan itu dari balik bahunya. Wajahnya mengeras. "Siapa ini?"

Alana tidak menjawab. Matanya terpaku pada satu kalimat:

"Sesuatu yang tidak akan pernah kau maafkan—pada dirimu sendiri."

Ayahnya.

Ada sesuatu tentang kematian ayahnya.

Sesuatu yang selama ini ia tidak tahu.

Sesuatu yang mungkin akan menghancurkannya.

Jarinya mengetuk layar. Satu huruf.

Y.

A.

Dan pesan itu terkirim.

---

Hujan masih deras di luar. Tapi di dalam kamar itu, keheningan yang jauh lebih mencekam menyelimuti mereka berdua.

Nathan menggenggam tangan Alana lebih erat. "Apa pun itu, kita hadapi bersama."

Alana menatap surat ayahnya sekali lagi.

"Jangan lupa jadi manusia."

Untuk pertama kalinya, ia bertanya-tanya: mungkin menjadi manusia justru berarti menghadapi kebenaran yang paling menyakitkan sekalipun?

Ponselnya bergetar lagi.

Balasan masuk.

"Sabtu malam. Pukul 20.00. Makam ayahmu. Datang sendiri. Kau akan tahu semuanya. Tapi aku peringatkan, Alana—setelah ini, kau mungkin akan menyesal pernah membuka kotak pandora ini."

Nathan meraih ponsel itu. "Alana, ini jebakan. Biar aku yang—"

"Tidak." Suara Alana tiba-tiba tenang. Terlalu tenang. "Ini tentang ayahku. Aku harus tahu."

"Tapi—"

"Aku harus tahu, Nathan." Ia menatap Nathan dengan mata yang—untuk pertama kalinya malam itu—tidak lagi kosong. Ada api di sana. Api yang berbeda dari api dendam selama ini.

Api pencarian kebenaran.

Nathan menghela napas panjang. Ia tahu tidak bisa menghentikan Alana. Tidak ada yang bisa.

"Kalau begitu," katanya pelan, "setidaknya biar aku yang antar ke sana. Aku tunggu di luar gerbang. Kau tidak sendiri, Alana. Ingat itu."

Alana tidak menjawab. Tapi untuk pertama kalinya, ia mengangguk.

Dan di luar, hujan mulai reda.

---

Namun di balik jendela, di kegelapan malam yang mulai cerah, sebuah bayangan hitam berdiri mematung.

Seseorang yang sejak tadi memperhatikan kamar itu.

Seseorang yang tersenyum tipis saat melihat Alana membuka surat itu.

Seseorang yang berbisik pada dirinya sendiri:

"Akhirnya. Setelah tiga tahun menunggu... kau buka juga, Alana. Kotak yang seharusnya tidak pernah kau buka. Selamat datang di kebenaran. Semoga kau kuat menerimanya."

Bayangan itu berbalik. Melangkah pergi. Dan meninggalkan satu benda di ambang pintu rumah Alana.

Sebuah amplop coklat lain.

Tanpa nama pengirim.

Dengan satu tulisan di depan:

"UNTUK PUTRI YANG TIDAK PERNAH TAHU."

---

🌪️ CLIFFHANGER:

Sabtu malam. Pukul 19.55. Alana berdiri di depan makam ayahnya.

Angin malam berhembus dingin, membawa bau tanah basah setelah hujan. Satu lampu makam menerangi nisan granit hitam dengan tulisan emas:

HENDRA WIJAYA

1960–2023

Pendiri, Pemimpi, Ayah.

Alana menggenggam setangkai mawar merah—tanpa duri. Seperti yang ayahnya suka.

Ia menunggu.

Pukul 20.00 tepat.

Tidak ada siapa pun.

Hingga—

Langkah kaki dari belakang.

Alana berbalik.

Dan ia membeku.

Karena orang yang berdiri di depannya sekarang adalah orang yang paling tidak pernah ia duga.

Seseorang yang sudah ia anggap mati.

Seseorang yang senyumnya persis seperti di foto yang selalu ia simpan di dompet.

"Halo, Nak."

Alana menjatuhkan mawar itu.

Dunia terasa berhenti.

Karena di depannya sekarang—

Ibunya.

Yang meninggal saat ia berusia lima tahun.

Yang makamnya ia ziarahi setiap tahun.

Yang tangisnya masih ia ingat sampai sekarang.

Hidup.

Tersenyum.

Dan berkata:

"Maaf, Ayahmu bukan satu-satunya yang menyimpan rahasia."

BERSAMBUNG... (⁠*⁠❛⁠‿⁠❛⁠)⁠→

1
Nurmalasari
Luar biasa
falea sezi
novel kebanyakan teka teki hadeh
Amelia
Ceritanya buat ku Esmosi tapi Alana bs jadi panutan,membalas manusia mokondo dan g tau malu tu jangan pakai esmosi pake otak cara elegant. suka karkater alana nya. jangan lama sesoan 2 ya thor🥹🥹🥹🥹🥹
Amelia
Huaaaaa.....kok dah T.A.M.A.T aja,masi ngegantung loch thor. ceoat update seson 2 yah. nti ku kasoh mawar berduri juga 🤭
Qonita
Yah TAMAT kapan Up lagi thor. jangan lama lama updatenya ya. kaykanya seson 2 makin banyak musuh alana yang keluar ni😅
Qonita
Lanjutkan.....
Qonita
Alana ni kayak Dracin anak orkay taruhan memikat mangsanya sampai jadi penjilat tetap senyum di maki dan dipermalukan padahal menyakitkan banget tapi senyum nya g lepas👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻membalas dengan tidak terjadi apa" tapi planing menghancurkan lawan pasti lebih keren ni
Qonita
Alana alana terlalu sabar baik kayak jadinya Pe'a lah duh duh ...
Qonita
Ceritanya Bagus. semangat Thor. Biarlah ANJING Menggonggong merasa ceritabta di jiplak tapi ku liat ceritanya kok yg baca dikit ya wakakakaka .....🤣🤣🤣
Qonita
Ceritanya bagus dapat emosinal nya konflik buat ku palak sama alana terlalu baik😂
lili Permatasari
/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
falea sezi
lanjuttt
falea sezi
karma jalang
Ria Gazali Dapson
Yaa Allah ,sakit bnget viola, itu sptu kecil banget ya, uk 36
falea sezi
novel apaan ini. mumet
falea sezi
suami. mokondo g modal. modal. kon doank
Osie
alana kalau kamu ikuti apa yg dibilang Richard bah bidoh bgt lah kamu...jgn lemah n jgn goyah hy krn sesuatu yg blm tentu bnr adanya...kalau pun bnr jgn gegabh..apalagi itu janin ada dlm perut viola
Osie
nathan? lucas? or ada sosok yg lain
fril bunny🌼
karakter Alana kyk Shinobu,walau mrah tpi msih bisa senyum.
Arix Zhufa
aku ikut author aja 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!