NovelToon NovelToon
KUBALAS PERBUATAN SUAMI & KELUARGANYA

KUBALAS PERBUATAN SUAMI & KELUARGANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Pelakor
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Selama empat tahun pernikahan, Laras menjadi mesin ATM bagi keluarga suaminya. Sebagai wanita karier dengan posisi mapan dan gaji besar, ia tidak hanya menafkahi rumah tangganya sendiri, tetapi juga menanggung gaya hidup mewah ibu mertua dan adik iparnya, sementara suaminya, Arga, lepas tangan dengan alasan gajinya yang kecil.
Puncak kesabaran Laras habis ketika ia menyadari bahwa kebaikannya tidak pernah dihargai dan justru dianggap sebagai kewajiban mutlak. Laras memutuskan untuk melakukan "pemogokan finansial". Ia memotong uang bulanan secara drastis, berhenti membayar cicilan mobil sang adik ipar, dan mulai menikmati hasil jerih payahnya untuk dirinya sendiri.
Keputusan Laras memicu "perang" dalam keluarga besar. Arga yang manipulatif, serta ibu mertua dan adik ipar yang parasit, mulai melakukan berbagai cara untuk menekan Laras, mulai dari intimidasi, adu domba dengan keluarga besar, hingga ancaman perceraian. Namun, Laras yang kini lebih berdaya tidak lagi bisa ditindas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Orang Tua Laras

"Laras kangen sekali sama Bapak dan Ibu. Sudah hampir lima bulan kalian tidak kelihatan di kota." ucap Laras sembari memeluk kedua orang tuanya bergantian.

Laras kini berada di kediaman orang tuanya yang terletak di pusat kota. Sebenarnya, Laras berasal dari keluarga yang sangat berada. Ayahnya adalah juragan besar pemilik perkebunan cengkeh dan kakao yang sangat luas. Namun, baik Laras maupun orang tuanya bukanlah tipe orang yang suka memamerkan kekayaan. Laras dan adiknya sepakat untuk tetap rendah hati, mereka tidak ingin orang-orang mendekat atau menghargai mereka hanya karena silau akan harta, bukan tulus dari hati.

Mutia, adik Laras bahkan lebih memilih tinggal di asrama kampus daripada di rumah mewah ini. Baginya, asrama memberinya kemandirian dan lingkungan pertemanan yang lebih luas. Secara kebetulan, Mutia satu kampus dengan Tiara, adik bungsu Arga. Namun, keduanya tidak saling mengenal. Saat pernikahan Laras dan Arga dulu, Tiara tidak bisa hadir ke rumah keluarga Laras yang ada di pelosok desa.

Karena akad nikah mereka memang digelar secara sederhana di kampung, keluarga Arga terlanjur memiliki stigma bahwa Laras hanyalah gadis desa miskin yang orang tuanya hanya buruh kebun biasa.

"Kenapa kamu tidak mengajak Arga ke sini? Bapak dan Ibu sudah lama sekali tidak bertemu menantu. Selama dia jadi suamimu, rasanya baru dua kali kita bertemu muka. Itu pun karena kami yang sengaja mampir ke rumah kalian." ujar Pak Harun, ayah Laras, memulai pembicaraan.

"Mas Arga sedang mengantar Ibu ke rumah sakit, Pak." jawab Laras cepat, berusaha menutupi rasa enggan di hatinya.

"Ibu mertuamu sakit apa, Ras?" tanya Bu Sulis, sang ibu, dengan nada khawatir yang tulus.

"Tidak sakit, Bu. Hanya sedang menjenguk temannya yang dirawat. Nanti kapan-kapan Laras ajak Mas Arga ke sini. Lagipula, sampai sekarang Mas Arga belum tahu kalau Bapak punya rumah di kota. Dia tahunya cuma rumah kayu kita yang di kampung. Laras rasa belum saatnya memberitahu dia." ucap Laras dengan nada datar.

Laras sengaja menyembunyikan kenyataan ini. Ia tidak ingin suaminya dan keluarga mertuanya semakin bertindak melampaui batas. Selama ini, mereka sudah cukup kenyang menghina Laras sebagai orang miskin. Baginya, lebih baik diam dan menyimpan rahasia ini rapat-rapat daripada melihat mereka berubah menjadi penjilat jika tahu kekayaan keluarganya.

"Ya sudah, kalau itu maumu, Bapak tidak akan ikut campur." sahut Pak Harun bijak.

"Laras, kapan kalian berencana memulai program hamil? Pernikahan kalian sudah berjalan empat tahun. Apa kamu dan Arga belum ingin menimang anak?" tanya Bu Sulis dengan lembut, menyentuh sisi sensitif Laras.

Laras menghela napas panjang. Sejujurnya, ia tidak pernah menunda kehamilan. Hanya saja, garis dua di alat tes itu belum juga muncul. Namun di sisi lain, ada setitik rasa syukur di hati kecilnya. Arga belum bisa memberikan nafkah secara penuh dan stabil. Laras khawatir jika ia hamil dan terpaksa berhenti kerja kantoran, kebutuhan anak mereka tidak akan tercukupi. Terlebih lagi, Arga sendiri sering mengisyaratkan belum siap menjadi ayah.

"Laras tidak menunda kok, Bu. Kami berdua juga sehat. Mungkin memang Tuhan belum menitipkan kepercayaan itu sekarang. Doakan saja ya, Bu, semoga secepatnya." ucap Laras sambil menyandarkan kepala di bahu ibunya.

"Aamiin. Doa Bapak dan Ibu selalu menyertaimu, Nak." balas Bu Sulis hangat.

Obrolan pun berlanjut ke berbagai hal, mulai dari perkuliahan Mutia hingga hasil panen raya cengkeh dan kakao tahun ini yang menembus angka ratusan juta rupiah.

"Alhamdulillah, panen tahun ini melimpah ya, Pak. Eh, kalau begitu... boleh tidak Mutia minta sesuatu?" tanya Mutia dengan senyum penuh arti.

"Mau minta apa kamu? Asal jangan minta nikah muda saja. Mbak tidak izinkan ya. Boleh pacaran, tapi tahu batasan." potong Laras tegas.

"Apaan sih, Mbak? Siapa juga yang mau nikah? Pacar saja tidak punya. Aku baru semester empat, Mbak, masih pusing sama tugas kuliah, belum minat mikirin cinta-cintaan. Aku cuma mau minta dibelikan motor." protes Mutia panjang lebar.

"Motor? Untuk apa? Di garasi ada dua mobil yang menganggur. Bapak dan Ibu lebih banyak di kampung, asramamu juga dekat sekali dengan kampus, kan?" tanya Pak Harun heran.

"Iya, tapi kalau tinggal di sini sepi, Pak. Bapak dan Ibu kan paling cuma sebulan sekali ke kota. Lagian, rumah sebesar ini kalau tidak ditempati sayang juga, kan?"

"Mau bagaimana lagi, kebun kita ada di kampung. Meskipun sudah ada yang mengurus, Bapak tidak tenang kalau hanya duduk diam di kota. Lagi pula di sini ada Bu Sitti dan Pak Komar yang menjaga rumah. Anak mereka, Angel, juga tinggal di sini, di paviliun belakang. Kamu bisa ajak dia mengobrol kalau merasa kesepian." jelas Pak Harun.

Laras dan Mutia saling berpandangan. Mereka baru tahu kalau Pak Komar memiliki seorang putri bernama Angel. Selama ini mereka hanya mengenal Pak Komar dan istrinya sebagai penjaga rumah yang setia.

"Kalau Mbak Laras mau tinggal di sini, aku juga mau pindah dari asrama." pancing Mutia sambil melirik kakaknya.

"Mbakmu ini sudah punya suami, Mutia. Dia harus ikut suaminya. Nanti kalau kamu sudah menikah, kamu juga akan begitu." nasihat Bu Sulis.

"Aku tidak mungkin membawa Mas Arga ke sini. Bisa-bisa dia semakin malas-malasan dan keluarganya akan berubah jadi penjilat jika tahu siapa aku sebenarnya." batin Laras getir.

"Iya juga sih, Bu. Jadi, bagaimana soal motor tadi?" Mutia kembali menagih janji.

"Boleh. Besok kita beli. Tumben sekali kamu minta motor, biasanya ditawari apa pun selalu menolak."  ujar Pak Harun setuju.

"Ingin saja, Pak. Teman-teman di asrama banyak yang bawa mobil, tapi aku tidak mau terlihat mencolok. Motor saja cukup, buat ke pasar atau cari makan kalau bosan menu asrama."  jawab Mutia rendah hati.

**

Sementara itu, jauh dari kediaman orang tua Laras, Arga dan Angel justru tengah menikmati waktu berdua di sebuah penginapan tepi pantai di Lombok. Angel sangat menyukai suasana laut, dan Arga dengan senang hati mewujudkan keinginan selingkuhannya itu.

"Mas Arga, kalau nanti aku sampai hamil, kamu harus tanggung jawab ya." bisik Angel sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang Arga.

"Tentu, Angel sayang. Aku pasti akan menikahimu. Aku mencintaimu, mana mungkin aku meninggalkanmu." jawab Arga dengan nada manis yang membuai.

"Tapi aku tidak mau jadi istri kedua. Aku mau jadi satu-satunya. Itu artinya kamu harus menceraikan istrimu dulu. Orang tuaku pasti tidak akan mengizinkan aku menikah jika hanya menjadi simpanan." desak Angel, memberikan syarat yang bagi Arga terdengar masuk akal.

"Aku akan menceraikannya, percayalah. Oh ya, kapan aku bisa berkenalan dengan orang tuamu?" tanya Arga, sangat penasaran dengan latar belakang keluarga Angel yang katanya kaya raya.

Angel terdiam sejenak, otaknya berputar mencari alasan. Ia belum berani mempertemukan Arga dengan orang tuanya, apalagi status Arga masih suami orang.

"Nanti aku bicarakan dulu dengan Papa dan Mama ya, Mas. Papa itu pengusaha sibuk, jadwalnya tidak menentu. Mama juga sering ikut Papa ke luar kota. Sabar ya, pasti nanti ada waktunya." jawab Angel lihai.

"Baiklah kalau begitu. Aku benar-benar tidak sabar. Dulu waktu zaman sekolah, aku hanya tahu Papamu sering menyumbang ke sekolah kita, tapi belum pernah bertemu langsung."

"Iya, Papaku memang orang hebat." puji Angel singkat.

Arga semakin mengeratkan pelukannya. Pikirannya melayang jauh. Ia bertekad membuat Angel hamil agar gadis itu tidak bisa lepas darinya. Dengan begitu, jalannya menuju kekayaan keluarga Angel akan terbuka lebar. Masalah Laras? Ia sudah tidak peduli. Jika Laras tidak mau dimadu, cerai adalah pilihan mudah baginya. Baginya, menikahi anak pengusaha kaya seperti Angel jauh lebih menjanjikan daripada bertahan dengan Laras yang "miskin".

Di bawah langit sore yang kian menjingga, keduanya kembali larut dalam kemesraan yang salah, tanpa rasa takut akan dosa yang tengah mereka tumpuk.

1
Ariany Sudjana
heh Bu Ajeng, kan pelacur murahan itu kesayangan kamu, kenapa kamu ga minta sama dia, untuk beli beras dll? kan orang kaya katanya 😂😂🤣🤣 sekalian suruh jalang peliharaan Arga itu untuk beres-beres rumah, jangan hanya tahunya numpang makan enak di rumah orang, tapi ga tanggung jawab untuk beresin rumah
Ariany Sudjana
haha laki-laki mokondo, mana sanggup kamu ganti perlengkapan mandi Laras? kan kamu dan keluarga kamu itu parasit Arga 🤭🤭😂😂
Ariany Sudjana
bagus Laras, kamu harus tegas dan kuat, tunjukkan kamu itu perempuan mandiri dan angel itu hanya batu kerikil, dan juga Arga itu laki-laki mokondo 😂😂🤭🤭
Hardini Hardini
Biasa
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu angel, kamu pikir barang punya Laras yang kamu ambil itu uang dari Arga ? owh bodoh sekali kamu, sudah jadi pelacur murahan, dapat laki-laki mokondo 😂😂🤭🤭
Ariany Sudjana
dari sekian orang di keluarga Arga, hanya Rangga yang wise, yang lain serakah semua. dasar Arga, kamu pikir kamu sudah menang, dengan angel hamil sekarang? yang ada kamu akan semakin terpuruk
Martina Loe
sedih dgn keluarga parasit
Ariany Sudjana
benar klop, laki-laki mokondo yang ga tahu diri dan pelacur murahan 🤣🤣 heh angel kamu mimpi mau jadi nyonya besar? mimpi kamu ketinggian, Laras itu perempuan baik-baik dan juga konglomerat, sedangkan kamu hanya batu kerikil dan juga jalang peliharaan 😂😂🤭🤭
Yati Syahira
elit pingin bergaya wkwkk ekonomi sulit pingin bergaya borju
Yati Syahira
mertua tsk ada aqlaq
Yati Syahira
benalu tapi arogan laras bodoh lama
Ariany Sudjana
Arga kamu bodoh, melepaskan berlian demi batu kerikil 🤣🤣😂😂
Ariany Sudjana
hahaha pasangan yang cocok, yabg satu pelacur murahan, yang satu laki-laki mokondo 😄😄🤣🤣
tanpa nama
keluarga kere gaya hedon🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!