Takdir memang gemar memainkan jalannya sendiri, mempertemukan hal-hal yang tampak mustahil dalam satu waktu yang sama. Di masa ini, takdir mempertemukan dua arus waktu yang saling berlawanan. Seseorang dari masa depan yang kembali ke masa lalunya, dan seseorang yang bangkit dari masa lalunya untuk menapaki kembali jalan yang pernah ia lalui.
Apa yang akan terjadi pada takdir keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pantas Tidak Ada yang Kembali dari Hutan Ini
Boqin Changing dan Sha Nuo bangkit hampir bersamaan. Perhatian keduanya kini sepenuhnya tertuju pada arah datangnya auman. Tanah masih bergetar samar, seakan hutan itu sendiri mengingatkan bahwa sesuatu yang besar sedang menunggu di kedalaman pepohonan.
Mereka berjalan tanpa tergesa, namun langkah mereka mantap. Daun-daun kering berderak pelan di bawah kaki, dan udara di sekitar terasa semakin berat setiap meter mereka mendekat.
Di tengah perjalanan, keduanya saling menatap sesaat. Tidak ada kata yang terucap, namun pemahaman yang sama terpancar dari mata mereka. Aura itu. Bukan hanya satu.
Boqin Changing memperlambat langkahnya sedikit, napasnya teratur, kesadarannya melebar ke segala arah. Ia bisa merasakan gelombang energi yang tidak wajar berkumpul di satu titik. Aura binatang suci yang kuat bercampur dengan ribuan aura siluman yang lebih kecil, berdesakan seperti arus sungai yang mengalir menuju pusat yang sama. Jaraknya tidak jauh lagi, mungkin hanya beberapa ratus meter dari tempat mereka berjalan sekarang.
Hutan di depan mereka terlihat lebih gelap, pepohonan tumbuh lebih rapat, dan suara kehidupan hutan yang biasa terdengar justru menghilang. Tidak ada burung, tidak ada serangga. Hanya tekanan energi yang membuat dada terasa berat.
Sha Nuo memecah keheningan dengan suara pelan namun pasti.
“Sepertinya… mereka terganggu dengan kehadiran kita.”
Boqin Changing tidak langsung menjawab. Ia merasakan hal yang sama. Selama seminggu mereka bergerak di dalam hutan ini dengan hampir tanpa gangguan. Para siluman memilih menjauh, bahkan tidak berani menunjukkan diri. Aura kematian Sha Nuo menjadi peringatan yang cukup jelas bagi makhluk-makhluk tingkat rendah itu.
Tidak ada perlawanan. Tidak ada penyergapan. Sekarang semuanya terasa masuk akal. Siluman-siluman itu tidak menyerah. Mereka hanya mundur dan mengadu.
Boqin Changing memandang lurus ke depan, matanya menyipit sedikit.
“Pemimpin hutan ini,” gumamnya pelan. “Binatang suci.”
Sha Nuo tersenyum tipis, namun tatapannya tetap dingin. Aura kematiannya perlahan meningkat, kabut hitam tipis mulai berputar di sekitar tubuhnya seperti bayangan yang hidup.
“Bagus,” katanya pelan. “Aku mulai bosan hanya berjalan tanpa pertarungan.”
Langkah mereka berlanjut, semakin dekat menuju pusat aura yang berkumpul. Kini suara gerakan mulai terdengar kembali. Bukan suara sembunyi-sembunyi seperti sebelumnya, melainkan suara makhluk dalam jumlah besar yang berkumpul tanpa mencoba menyembunyikan diri.
Cabang pohon bergetar pelan. Tanah bergetar lebih jelas. Kemudian, di antara pepohonan besar yang terbuka seperti sebuah arena alami, Boqin Changing dapat melihat bayangan-bayangan siluman berkumpul mengelilingi satu titik pusat.
Ribuan mata memandang ke arah mereka. Namun tidak ada yang menyerang. Semua siluman itu seperti menunggu.
Di tengah lingkaran itu, aura besar dan berat berdenyut seperti jantung hutan itu sendiri. Setiap denyutnya membuat udara bergetar, dan tekanan kekuatan itu jelas berasal dari makhluk yang belum sepenuhnya terlihat.
Boqin Changing berhenti melangkah. Sha Nuo berdiri di sampingnya. Untuk pertama kalinya sejak memasuki hutan barat Dataran Goutian, kedua pendekar itu benar-benar menemukan sesuatu yang tidak bersembunyi dari mereka. Sang penguasa hutan telah muncul.
Boqin Changing dan Sha Nuo menatap ribuan siluman yang kini memenuhi ruang terbuka di depan mereka. Makhluk-makhluk itu berdiri rapat, membentuk dinding hidup yang berlapis-lapis, dari siluman tingkat rendah hingga yang berumur ratusan tahun. Mata-mata buas memantulkan cahaya dingin di bawah bayangan pepohonan tua.
Sha Nuo justru terlihat senang. Ia merasa sudah lama sekali ia tidak merasakan medan pertempuran yang sesungguhnya. Selama perjalanan mereka, hampir tidak ada siluman yang berani mendekat. Aura kematiannya membuat makhluk-makhluk itu memilih bersembunyi daripada mati sia-sia. Kebosanan perlahan menumpuk di dalam dirinya, dan sekarang, ribuan siluman di depan mereka terasa seperti hiburan yang sudah lama ia tunggu.
Aura hitam tipis mulai berputar di sekeliling tubuhnya. Baginya, menghancurkan makhluk-makhluk ini mungkin akan terasa menyenangkan.
Namun tiba-tiba tanah bergetar. Getarannya jauh lebih kuat daripada sebelumnya. Akar-akar pohon berderak, dedaunan berjatuhan, dan kawanan siluman di depan mereka perlahan membuka jalan seperti ombak yang terbelah.
Kemudian sesuatu muncul dari belakang kerumunan itu dan mulai terbang. Seekor naga. Tidak, bukan hanya satu. Dua sosok raksasa perlahan menampakkan diri dari bayangan hutan.
Naga pertama berwarna hijau tua, tubuhnya panjang dan besar. Sisiknya memantulkan cahaya redup kehijauan, dan setiap tarikan napasnya menghembuskan kabut tebal yang membuat udara terasa berat. Tanduknya panjang dan melengkung, tanda usia yang sudah sangat tua.
Di sampingnya muncul naga kedua, berwarna merah muda pucat. Tubuhnya sedikit lebih kecil, namun tetap saja ukurannya sangat besar di mata manusia. Sisiknya berkilau lembut seperti batu giok yang memantulkan cahaya senja, dan matanya bersinar tajam penuh kesadaran.
Sha Nuo mengangkat alisnya sedikit.
“Akhir-akhir ini kita sering sekali bertemu naga,” katanya pelan.
Boqin Changing tidak menjawab. Matanya menyapu medan di depan mereka dengan cepat, menganalisis setiap detail.
Binatang suci naga adalah makhluk yang paling rumit untuk dihadapi. Mereka bukan hanya kuat secara fisik, tetapi juga memiliki kecerdasan tinggi dan kemampuan alami yang sulit diprediksi. Bahkan pendekar kuat pun tidak berani meremehkan naga.
Pandangan Boqin Changing berhenti pada naga hijau raksasa itu. Dari ukuran tubuh, kepadatan aura, dan tekanan energi yang dipancarkannya, ia bisa memperkirakan usia naga itu sudah sangat tua. Kekuatan makhluk itu kemungkinan sudah mendekati ranah pendekar bumi puncak.
Naga merah muda di sampingnya sedikit lebih lemah, namun tetap berada pada tingkat yang menakutkan bagi manusia biasa.
Tatapan Boqin Changing lalu bergeser ke kerumunan siluman. Di antara ribuan makhluk itu, ia menemukan empat aura yang berbeda. Empat raja siluman.
Raja siluman badak berdiri dengan kulit tebal keabu-abuan. Raja siluman harimau menatap dengan mata emas yang dipenuhi niat membunuh. Raja siluman kera menggenggam tongkat batu besar, tubuhnya penuh otot dan bekas luka. Lalu raja siluman kalajengking bersembunyi setengah tubuhnya di dalam tanah, ekornya melengkung tinggi dengan sengat hitam mengkilap.
Keempat raja siluman itu juga memiliki badan yang besar walaupun jelas tidak sebesar binatang suci. Hal itu wajar karena binatang suci adalah evolusi lanjutan dari raja siluman.
Ada jugq siluman seribu tahun dan siluman seratus tahun yang jumlahnya puluhan. Aura mereka saling bertumpuk, membuat tekanan di udara terasa seperti beban nyata yang menekan dada.
Boqin Changing menarik napas pelan. Hutan ini benar-benar penuh dengan makhluk kuat. Pantas saja tidak ada seorang pun pendekar yang bisa kembali hidup-hidup setelah memasuki hutan bagian barat Dataran Goutian. Tempat ini bukan sekadar hutan liar ini adalah wilayah kekuasaan binatang suci dan para raja siluman.
Di tengah keheningan yang menegangkan itu, naga hijau perlahan mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Matanya yang besar dan dalam menatap langsung ke arah Boqin Changing dan Sha Nuo.
Naga hijau itu tidak langsung menyerang. Kepalanya sedikit menoleh ke samping, memberi ruang pada salah satu raja siluman untuk maju.
Raja siluman badak melangkah ke depan. Setiap pijakannya membuat tanah bergetar pelan. Tubuh besarnya seperti batu hidup, kulit abu-abu tebalnya dipenuhi retakan alami seperti permukaan karang tua. Ia berhenti beberapa ratus langkah dari Boqin Changing dan Sha Nuo, lalu menundukkan kepala sedikit ke arah kedua naga di belakangnya.
Kemudian ia mengeluarkan suara rendah dan berat. Bukan bahasa manusia.
Suara itu terdengar seperti campuran dengusan, getaran dada, dan bunyi kasar yang tidak memiliki bentuk kata yang jelas. Nada suaranya dalam dan berirama, seolah setiap bunyi membawa makna tertentu. Naga hijau membalas dengan geraman panjang, sementara naga merah muda mengeluarkan suara lembut yang hampir seperti desisan angin. Ribuan siluman di sekitar mereka tetap diam, seakan percakapan itu adalah sesuatu yang wajar.
Sha Nuo sedikit memiringkan kepalanya, lalu berbisik pelan tanpa mengalihkan pandangan dari raja siluman badak.
“Apa yang mereka bicarakan?”
Ia menoleh sebentar ke arah Boqin Changing, lalu mendesah kecil.
“Eh… untuk apa aku bertanya itu? Kau pasti juga tidak paham.”
Namun beberapa detik kemudian, suara tenang Boqin Changing terdengar.
“Raja siluman badak itu berkata bahwa kita berdua adalah dua orang yang selama seminggu ini masuk tanpa izin ke kawasan hutan mereka.”
Sha Nuo langsung menoleh cepat. Wajahnya yang biasanya datar kini menunjukkan keterkejutan yang jelas.
“Kau bisa bahasa siluman?”
Boqin Changing tetap menatap ke depan, ekspresinya tenang seperti biasa.
“Aku tahu sedikit.”
Boqin Changing memang menguasai sedikit bahasa siluman. Ia memperoleh pengetahuan itu dari salah satu pengikutnya yang ia panggil dari bola pemanggil di kehidupan pertamanya.
Sha Nuo menggelengkan kepalanya perlahan, napasnya terdengar seperti tawa kecil yang tertahan.
“Apa sebenarnya yang tidak kau bisa?”
Di depan mereka, raja siluman badak kembali bersuara. Kali ini nadanya lebih berat. Tanah di bawah kakinya retak tipis saat ia mengangkat kepala tinggi-tinggi.
Boqin Changing menyipitkan mata sedikit, mendengarkan dengan saksama.
“Naga itu tidak berniat langsung membunuh kita,” katanya pelan.
Sha Nuo mengangkat alis.
“Lalu?”
“Ia ingin memberi kita satu kesempatan untuk pergi dari hutan ini… sekarang juga,” jawab Boqin Changing datar.
Sha Nuo tertawa kecil.
“Mungkin ia ragu melawan kita.”
Boqin Changing melirik sebentar ke arah Sha Nuo.
“Mungkin.”
Udara di sekitar mereka terasa semakin tegang. Ribuan siluman masih diam, tetapi niat membunuh yang samar mulai menyebar seperti kabut tipis.
Naga hijau menghembuskan napas panjang. Kabut kehijauan keluar dari hidungnya dan menyapu tanah seperti awan rendah.
Boqin Changing tetap berdiri tegak. Sha Nuo justru tersenyum.
Aura kematian di sekeliling tubuhnya perlahan menguat. Kabut hitam mulai berputar lebih jelas, membuat siluman-siluman tingkat rendah di barisan depan mundur tanpa sadar.
udh lulus mesin scanning NT g thor ??
rate novel mu udh Top 3 besar di fiksi pria...
tpi mencapai ranah pendekar langit di usia semuda itu...!!
itu WAAAAH pakai BANGET.,...