Bagi Freya Aurelia, mahasiswi seni yang hidupnya penuh warna dan kebebasan, Istana Welas adalah labirin kuno yang membosankan. Namun, sebuah insiden "salah masuk kamar" menyeretnya ke dalam pusaran protokol kerajaan yang kaku.
Di sana ada Kaisar Welas, sang putra mahkota yang perfeksionis, dingin, dan kaku layaknya robot. Dua dunia yang bertolak belakang ini dipaksa bersatu saat titah Buyut menjodohkan mereka demi sebuah stabilitas tradisi.
Satu bulan. Itulah waktu yang mereka miliki untuk membuktikan bahwa perjodohan ini adalah sebuah kesalahan besar. Namun, di antara perang urat syaraf, noda saus sambal di kemeja mewah, dan pelarian ke warung mie ayam, garis-garis benci itu mulai memudar.
Dapatkah Freya mewarnai hidup Kaisar yang hitam-putih? Atau justru Freya yang akan terbelenggu dalam kaku-nya adab istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Pagi hari, Istana Welas sudah berdenyut dengan persiapan yang intens. Hari ini adalah perjamuan kenegaraan besar yang dihadiri oleh para kepala negara dan delegasi penting. Sebuah acara di mana setiap detail harus sempurna, tanpa cela.
Freya, yang entah bagaimana caranya kini selalu menemukan dirinya terjebak dalam pusaran istana, hari ini diberi mandat langsung oleh Permaisuri Ratna untuk membantu menata ruang perjamuan utama. Awalnya, ia hanya disuruh "memberi masukan", tapi dalam hitungan menit, Freya sudah berlagak seperti komandan lapangan.
"Duhh, itu jangan ditata di situ! Bikin polusi mata, tahu nggak?!" teriak Freya pada seorang pelayan yang sedang meletakkan vas bunga kristal dengan formasi simetris. "Ini acara kenegaraan, bukan lomba matematika. Harus ada flow-nya! Geser sedikit ke kiri, biar cahayanya dapet!"
Para pelayan yang terbiasa dengan arahan kaku dari kepala protokol istana hanya bisa saling pandang. Mereka belum pernah melihat seseorang dari luar lingkaran kerajaan berani memerintah seperti itu, apalagi dengan gaya bahasa 'lo-gue'.
"Eh, eh! Itu taplak meja miring sedikit!" Freya berlari ke arah meja panjang, menunjuk dengan telunjuknya. "Aduh, lama-lama gue yang turun tangan deh!"
Dengan sigap, Freya mulai menyusun ulang vas bunga dengan sentuhan asimetris yang elegan, menggeser kursi agar tidak terlalu berjejer kaku, bahkan membetulkan letak serbet makan agar tidak terlalu "sempurna". Ia menambahkan beberapa sentuhan daun tropis di antara bunga-bunga mawar, menciptakan kontras yang menarik.
Saat Freya sedang sibuk mengarahkan beberapa pelayan untuk mengganti pencahayaan agar lebih warm, suara tawa renyah terdengar dari ambang pintu.
"Kaya siapa, Kak Freya? Kedengarannya seru," suara itu milik Pangeran Ethan. Ia masuk ke ruangan dengan santai, di tangannya ada sekaleng minuman dingin. Di belakangnya, Kaisar muncul dengan setelan jas hitam yang sudah sempurna, namun wajahnya tampak sedikit... kelelahan.
Freya menoleh, senyumnya langsung mengembang. "Eh, ada Pangeran Ethan! Lo tepat waktu banget. Ini nih, gue lagi berusaha bikin ruangan ini nggak kaku-kaku amat kayak..." Freya melirik ke arah Kaisar, lalu kembali ke Ethan, "Kayak kanebo kering, hehe."
Ethan tertawa terbahak-bahak. Kaisar hanya menghela napas, namun kali ini ia tidak memprotes. Ia justru mengamati ruangan yang telah "disulap" oleh Freya. Susunan bunga yang lebih dinamis, pencahayaan yang lebih lembut, dan tata letak yang terasa lebih modern namun tetap mewah.
"Ruangan ini... terlihat berbeda," Kaisar mengakui, suaranya datar namun ada nada pengakuan.
"Iya dong! Ini sentuhan artistik gue. Biar para tamu penting lo nggak mati gaya di tengah-tengah jamuan," jawab Freya bangga. Ia kemudian berjalan mendekati Kaisar, matanya menelisik penampilan pria itu. "Duh, Kai, lo hari ini rapi banget. Tapi kemeja lo kurang breathy. Coba deh, kancing paling atas lo buka satu. Biar nggak sesak napas."
Kaisar hanya menatapnya, tidak memprotes. Namun, tanpa sepengetahuan Freya, tangannya sedikit bergerak, seolah ingin melonggarkan dasinya.
Di sudut ruangan, Pangeran Kholid berdiri mengamati interaksi mereka dengan senyum sinis yang tak pernah pudar. "Menarik. Sepertinya calon tunangan Kaisar kita sudah merasa sangat nyaman dengan posisinya. Sampai berani mengoreksi penampilan Putra Mahkota."
Freya menoleh ke Kholid. "Daripada lo cuma nyinyir, mending lo bantu angkat kursi. Daripada otot bisep lo cuma buat angkat gelas anggur."
Kholid mendengus, merasa terhina. Ethan menyikut Freya sambil menahan tawa. "Lo berani banget, Frey."
"Ya emang kenapa? Hidup cuma sekali, jangan dibikin kaku," balas Freya.
Saat jamuan akan dimulai, Kaisar dan Freya diposisikan di meja utama, di samping Buyut dan Raja Welas. Freya mengenakan kebaya modern yang sama seperti saat ia pertama kali muncul di istana, namun kali ini ia merias wajahnya sendiri dengan gaya soft glam andalannya.
Ruangan perjamuan kini dipenuhi oleh orang-orang penting dari berbagai negara. Suasana khidmat terasa di setiap sudut. Freya, dengan segala keberanian dan kegugupannya, duduk di samping Kaisar.
Ia bisa merasakan tatapan mata penasaran yang tertuju padanya. Ia tahu, semua orang bertanya-tanya siapa gadis "berbeda" yang duduk di samping calon Raja itu. Kaisar di sampingnya tampak sangat tenang, berbincang dengan seorang duta besar dari Jepang dengan bahasa yang fasih.
"Gila, Kai, lo pinter juga ya ngomong bahasa Jepang," bisik Freya kagum saat Kaisar selesai bicara.
Kaisar hanya meliriknya sekilas. "Ini salah satu tuntutan pekerjaanku, Freya."
Tiba-tiba, seorang delegasi wanita dari Eropa menghampiri meja mereka. Ia tersenyum ramah pada Kaisar, lalu menoleh ke Freya.
"Anda Nona Freya, kan? Saya mendengar banyak tentang Anda. Riasan Anda yang unik saat jamuan tempo hari sangat menarik perhatian. Dan ruangan ini... terlihat sangat hidup berkat sentuhan Anda," puji wanita itu dengan aksen yang kental.
Freya tersenyum malu-malu. "Ah, terima kasih, Yang Mulia. Saya hanya mencoba sedikit improvisasi."
Kaisar yang mendengarnya, merasa ada kebanggaan aneh yang muncul di dadanya. Perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia melirik Freya, yang kini tampak percaya diri berbincang dengan delegasi itu.
"Ini baru permulaan, Kai," bisik Freya saat wanita itu pergi. "Dunia lo butuh banyak warna."
Saat acara utama, Raja Welas sedang berpidato di podium. Semua mata tertuju padanya. Tiba-tiba, lampu utama ruangan berkedip-kedip, lalu padam sama sekali. Aula Agung seketika menjadi gelap gulita, hanya disinari oleh cahaya lilin-lilin yang remang.
Suara-suara panik mulai terdengar. Para pengawal segera bergerak cepat.
"Tenang! Tetap di tempat!" perintah Kaisar dengan suara tegas, namun Freya bisa merasakan tangannya yang menggenggam erat lengan kursi.
Di tengah kegelapan dan kepanikan itu, Freya melihat Pangeran Kholid tersenyum tipis di sudut ruangan. Ini bukan kebetulan. Ini pasti ulahnya.
Tanpa berpikir panjang, Freya menarik tangan Kaisar. "Kai, ayo!"
"Mau ke mana?" tanya Kaisar bingung.
"Ke dapur! Lampu darurat pasti ada di sana. Atau minimal kita bisa pakai lilin darurat. Lo kan pangeran robot, harusnya punya rencana B!"
Kaisar tertegun. Di tengah kekacauan, justru Freya yang bertindak paling rasional. Ia mengangguk, dan membiarkan Freya menariknya menembus kerumunan orang.
Mereka berlari menembus koridor gelap, menuju area dapur. Dalam kegelapan itu, Freya tidak merasa takut. Justru ada adrenalin yang memompa dalam dirinya.
"Di mana saklar utama?" tanya Freya begitu mereka tiba di dapur yang remang-remang.
Kaisar, dengan pengetahuan detailnya tentang setiap sudut istana, langsung menuju sebuah panel listrik di dinding. "Di sini!"
Freya membantunya mencari tombol yang tepat, sentuhan tangan mereka beradu dalam gelap. Saat tombol itu ditekan, lampu-lampu di dapur dan sebagian aula perjamuan kembali menyala. Meski belum sepenuhnya normal, setidaknya kepanikan mereda.
"Hebat! Kita berhasil!" seru Freya bangga.
Kaisar menatap Freya yang wajahnya belepotan debu dari panel listrik. Ada tatapan baru di matanya. Tatapan yang bukan lagi dingin, bukan lagi mengagumi seni, tapi sesuatu yang lebih dalam.