Bagas adalah remaja yang baru saja meletakkan toganya. Ia membawa beban berat di pundak: impian untuk mengangkat derajat orang tuanya yang hidup pas-pasan. Namun, dunia kerja tidak semanis janji-janji di brosur sekolah. Bagas harus berhadapan dengan HRD yang minta pengalaman kerja "minimal 5 tahun" untuk posisi pemula, hingga kenyataan pahit bahwa "surat sakti" dari orang dalam lebih kuat dari nilai raport-nya.
Perjalanannya adalah roller coaster emosi. Dari tempat kerja pertama yang toxic abis hingga gajinya habis cuma buat bayar parkir dan makan siang, sampai pekerjaan dengan lingkungan malaikat tapi gaji "sedekah". Puncaknya, ia harus bertahan di bawah tekanan bos yang emosinya lebih labil daripada harga cabai di pasar. Ini adalah cerita tentang jatuh, bangun, lari, dan akhirnya menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warisan Yang Hilang Di cherboug
Bagas harus kembali ke Perancis secara rahasia untuk melindungi warisan ayahnya yang paling berharga. Ia akan diburu oleh agen-agen industri energi yang ingin memiliki teknologi tersebut dengan segala cara. Ini bukan lagi soal logistik, tapi soal keselamatan nyawa!.
Dari bursa saham yang dingin di London, kita beralih ke pengejaran fisik dan teka-teki intelektual di pedesaan Perancis.
Telegram rahasia itu menghantui pikiran Bagas sepanjang penerbangannya menuju Paris. Jika paten pertama Bapak adalah soal mesin turbin kargo, apa paten kedua ini? Mengapa Jean Pierre tidak menyebutkannya saat pertemuan di bawah Menara Eiffel dulu? Bagas tidak langsung pulang ke Jakarta; ia menyewa sebuah mobil kecil dan berkendara sendirian menuju Cherbourg, kota pelabuhan di utara Perancis tempat Bapak dulu pernah menghabiskan waktu risetnya.
Sesampainya di sana, Bagas menemui Jean-Pierre di sebuah rumah tua yang dipenuhi model kapal kayu Wajah Jean-Pierre tampak cemas.
"Suryo tidak pernah ingin paten ini ditemukan, Bagas," bisik Jean-Pierre sambil mengunci pintu. "Ini adalah desain Cor les Electromagnetic Generator. Sebuah sistem pembangkit listrik tanpa gesekan yang bisa menghasilkan energi bersih hampir tanpa biaya. Ayahmu menyembunyikannya karena dia tahu, jika teknologi ini jatuh ke tangan korporasi minyak dunia, mereka akan memusnahkannya atau menyalahgunakannya." Bagas tertegun. Bapaknya bukan hanya seorang insinyur; dia adalah seorang visioner yang mendahului zamannya. Namun, rahasia ini sekarang terendus oleh "The Nexus Group", sebuah konsorsium energi global yang dikenal tidak segan-segan menyingkirkan siapa pun demi mempertahankan dominasi pasar mereka.
"Di mana desain itu sekarang, Jean?" tanya Bagas.
"Suryo menyimpannya di tempat yang hanya bisa dibuka oleh orang yang memiliki 'ingatan mekanik' yang sama dengannya. Dia meninggalkannya di sebuah loker tua di galangan kapal terbengkalai, terlindungi oleh kunci kombinasi mekanis yang dia buat sendiri," jelas Jean-Pierre.
Bagas segera menuju lokasi galangan kapal tua di pinggiran Cherbourg. Tempat itu gelap, lembap, dan dipenuhi besi-besi berkarat. Dengan senter di tangan, ia mencari loker bernomor 1994 tahun kelahiran Bagas. Begitu menemukannya, ia melihat sebuah kotak besi kecil dengan mekanisme kunci yang sangat rumit. Tidak ada angka, hanya serangkaian roda gigi yang harus diputar dengan urutan tertentu .Bagas memejamkan mata. Ia membayangkan tangan Bapak saat mengajarinya menyetel mesin motor di teras rumah. Ia mengingat pola gerakan tangan Bapak: tiga putaran ke kiri, satu sentakan kecil, dua putaran penuh ke kanan. Itu bukan sekadar teknik, itu adalah "bahasa rahasia" antara ayah dan anak.
Klik.
Kotak itu terbuka. Di dalamnya terdapat sebuah mikrofilm dan secarik kertas usang dengan tulisan tangan Bapak: "Untuk Bagas. Energi tidak boleh dikuasai oleh satu orang. Energi adalah milik rakyat kecil yang kegelapan karena tidak sanggup membayar lampu."
Tepat saat Bagas hendak menyimpan mikrofilm itu, suara kokangan senjata terdengar dari balik bayangan. Dua pria berpakaian serba hitam muncul. Mereka adalah agen bayaran dari Nexus Group yang sudah membuntuti Bagas sejak dari London.
"Berikan kotaknya, Mr. Pratama. Anda sudah cukup jauh bermain-main dengan masa lalu," ujar salah satu dari mereka dengan aksen Amerika yang tajam.
Bagas merasa adrenalinnya memuncak. Ia bukan petarung, tapi ia adalah anak SMK yang tahu setiap jengkal ruang mesin. Ia melempar senternya ke arah lain untuk mengecoh mereka, lalu merayap di antara tumpukan kontainer tua. Ia menggunakan keahlian logistiknya mengetahui titik buta dan celah sempit untuk menghindari kejaran.
Bagas berhasil mencapai mobilnya dan memacu kendaraan itu dengan kencang menuju Kedutaan Besar Republik Indonesia di Paris. Ia tahu, satu-satunya tempat aman untuk menyerahkan warisan ini adalah kepada negara, agar teknologi ini menjadi milik publik, bukan milik korporat.
Pengejaran terjadi di jalanan pesisir Perancis yang berkelok-kelok. Mobil hitam di belakangnya terus mencoba memojokkan Bagas. Dalam momen kritis, Bagas teringat pelajaran Bapak tentang "tekanan balik". Ia menginjak rem mendadak di tikungan tajam, membuat mobil pengejarnya hilang kendali dan menabrak pembatas jalan.
Bagas sampai di Kedutaan dengan napas terengah-engah. Ia disambut oleh staf diplomatik. ini menjadi milik publik, bukan milik korporat. Di sana, ia meminta sambungan telepon satelit langsung ke Jakarta.
"Bapak... Bagas sudah menemukan 'lampu' itu," ujar Bagas saat tersambung dengan Bapak.
Di seberang sana, Bapak terdiam cukup lama. "Gas, kamu dalam bahaya?"
"Sekarang tidak lagi, Pak. Bagas akan menyerahkan ini agar semua desa di Indonesia bisa punya listrik murah. Bagas nggak mau uang dari sini. Bagas mau janji Bapak ditepati: energi untuk rakyat kecil." Bapak menangis di telepon. "Kamu lebih berani dari Bapak, Gas. Bapak dulu lari karena takut. Kamu justru lari untuk menghadapi mereka. Bapak bangga."
Bagas menyerahkan mikrofilm itu kepada pihak berwenang di Kedutaan untuk dikirimkan melalui jalur diplomatik resmi kepada Presiden Indonesia. Dengan melakukan ini, Bagas telah menghancurkan rencana Nexus Group. Teknologi itu kini tidak bisa lagi dipatenkan oleh satu perusahaan; ia telah menjadi aset publik.
Malam itu, Bagas duduk di bandara, menunggu penerbangan pulang. Ia merasa tubuhnya sangat lelah, namun jiwanya terasa sangat ringan. Ia telah membersihkan nama Bapaknya, tidak hanya dari dosa masa lalu di Perancis, tapi juga memberikan warisan yang akan mengubah masa depan jutaan orang.
Namun, saat ia hendak menaiki pesawat, ia melihat di layar televisi bandara sebuah berita yang mengejutkan: "Stok bahan bakar dunia mendadak langka, harga minyak melambung tinggi dalam semalam." Tampaknya Nexus Group mulai melakukan sabotase global sebagai balasan atas apa yang dilakukan Bagas.