Ia berlutut pelan di depan ibunya.
“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.
Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.
Butuh dua detik untuk menyadari.
“Ara?”
Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.
“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”
Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.
“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak
Ara langsung panik setengah jengkal
“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Pagi datang lebih cepat dari yang mereka kira.
Langit masih pucat ketika rumah Ara sudah mulai hidup. Di dapur, beberapa ibu-ibu sibuk menyiapkan sarapan. Suara piring dan sendok beradu pelan, bercampur dengan bisik-bisik dan sesekali tawa kecil.
Di halaman depan, para pekerja dekorasi sudah kembali memeriksa tenda. Bunga-bunga segar dipasang ulang agar terlihat lebih rapi. Kursi-kursi yang kemarin sudah disusun kini dilap lagi satu per satu.
Hari itu bukan lagi sekadar persiapan.
Hari itu adalah hari akad.
Di kamar Ara, suasana berbeda. Lebih tenang dibanding bagian rumah lainnya.
Ara duduk di depan meja rias. Ia mengenakan kebaya putih adat Jawa yang anggun, dipadukan dengan kain batik yang dililit rapi di pinggangnya. Kebaya itu sederhana namun elegan, dengan bordir halus di bagian lengan dan dada.
Di kepalanya, hijab putih dipasang rapi mengikuti gaya pengantin Jawa modern, menutup rambutnya dengan anggun. Hijab itu dihiasi untaian bunga melati yang menjuntai di sisi kanan, memberikan sentuhan adat Jawa tanpa meninggalkan kesan syar’i.
Wajah Ara dirias lembut. Tidak berlebihan, tapi cukup membuatnya tampak sangat bersinar pagi itu.
Perias memiringkan wajah Ara sedikit untuk melihat hasil akhirnya.
“Cantik sekali, Mbak Ara.”
Ara tersenyum kecil.
Di belakangnya, Raina berdiri sejak tadi sambil memperhatikan.
“Cantik dari dulu juga,” katanya santai.
Ara menatapnya lewat cermin.
“Kak…”
“Iya?”
“Kalau nanti aku nangis gimana?”
Raina mengangkat bahu.
“Ya nangis saja. Namanya juga nikah.”
Ara tertawa kecil.
“Tapi jangan sebelum akad selesai,” tambah Raina sambil bercanda.
Perias ikut tersenyum mendengar itu.
Tak lama kemudian, ibunya masuk ke kamar.
Beliau berhenti sejenak di dekat pintu, memandangi Ara yang sudah hampir siap sepenuhnya.
Hijab putihnya jatuh lembut di bahu. Untaian melati yang terpasang di samping kepala mengeluarkan aroma wangi yang lembut.
Ibunya menatapnya lama.
Ada kebanggaan yang tak bisa disembunyikan.
“Bu…” panggil Ara pelan.
Ibunya mendekat, berdiri di samping kursi.
“Kamu cantik sekali hari ini.”
Ara menunduk sedikit.
“Bu… nanti waktu akad aku nggak boleh keluar ya?”
“Iya. Kamu tunggu di kamar sampai selesai.”
Ara mengangguk pelan.
Di luar kamar, suara orang mulai terdengar semakin ramai.
Tamu pertama mulai datang.
Sementara itu di rumah Danu, suasana juga sudah sibuk sejak pagi.
Danu berdiri di depan cermin sambil mengenakan beskap putih adat Jawa, lengkap dengan kain batik dan blangkon di kepalanya.
Seorang asisten dari tim perias sedang membantu merapikan bagian beskapnya.
Ibunya Danu yang berdiri di dekat pintu memperhatikan.
“Bukannya kamu kemarin bilang mau pakai jas?”
Danu tersenyum kecil.
Asisten itu menjawab lebih dulu dengan sopan.
“Untuk akad biasanya memakai beskap dulu, Bu. Nanti setelah acara selesai bisa ganti jas untuk sesi berikutnya.”
Ibunya mengangguk pelan.
“Oh begitu.”
Fikri yang berdiri di dekat jendela ikut menimpali sambil tertawa kecil.
“Berarti nanti Mas Danu ganti gaya dua kali.”
Danu menoleh sedikit.
“Kenapa, iri?”
“Bukan iri. Tapi nanti Ara lihat dua versi sekaligus.”
Asisten itu merapikan kerah beskap Danu sekali lagi.
“Sudah, Mas.”
Danu menatap dirinya di cermin.
Beskap putih itu membuatnya terlihat lebih tenang dan berwibawa.
Ayahnya masuk ke kamar dan memperhatikan sebentar.
“Sudah siap?”
“Siap, Yah.”
Ayahnya menepuk bahunya pelan.
“Bismillah.”
Ibunya kemudian memeluknya sebentar.
Di halaman rumah, beberapa anggota keluarga sudah sibuk sejak tadi.
Kotak-kotak seserahan disusun dengan hati-hati. Ada yang berisi kain, perlengkapan ibadah, buah-buahan, dan beberapa hadiah lain yang sudah ditata rapi dengan hiasan.
Sementara mas kawin juga sudah disiapkan dan dimasukkan ke dalam kotak khusus.
Fikri berdiri di dekat mobil sambil mengatur barang-barang.
“Hati-hati itu, jangan miring!” katanya pada sepupunya yang sedang mengangkat salah satu baki.
Beberapa barang seserahan yang ringan dimasukkan ke dalam mobil keluarga.
Namun ada juga beberapa barang yang cukup besar dan berat, sehingga tidak memungkinkan jika dimasukkan ke mobil biasa.
Karena itu, Danu menyiapkan mobil bak kecil untuk membawa barang-barang tersebut.
Kotak-kotak besar dan beberapa perlengkapan tambahan diletakkan rapi di bagian belakang mobil bak itu, lalu ditutup kain agar tetap terlihat sopan saat sampai di rumah Ara.
Ibunya keluar dari rumah sambil melihat ke arah halaman.
“Sudah semua?”
Fikri mengangguk.
“Sudah, Bu. Seserahan aman, mas kawin juga sudah dimasukkan.”
Ayah Danu ikut memeriksa sebentar.
“Baik, kalau begitu kita berangkat.”
Tak lama kemudian, Danu keluar dari rumah.
Dengan beskap putih dan blangkon, ia berjalan ke halaman. Beberapa keluarga langsung menoleh.
“Wah, pengantinnya keluar,” celetuk salah satu sepupunya.
Danu hanya tersenyum kecil.
Ia melihat ke arah mobil bak yang berisi seserahan.
“Sudah rapi?”
“Sudah, Mas,” jawab Fikri.
Danu mengangguk puas.
Akhirnya rombongan keluarga Danu benar-benar siap berangkat.
Beberapa mobil keluarga mulai dinyalakan.
Mobil yang membawa seserahan ikut berjalan di belakang.
Sementara Danu ikut dalam rombongan itu, menatap ke depan dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Hari itu bukan lagi sekadar hari biasa.
Hari itu adalah hari ia datang bukan hanya sebagai tamu.
Melainkan sebagai laki-laki yang akan menjemput seseorang… untuk menjadi istrinya.
“Bismillah.”
Perjalanan menuju rumah Ara tidak terlalu jauh, tapi pagi itu terasa berbeda.
Mobil-mobil rombongan berjalan perlahan meninggalkan halaman rumah Danu. Di depan, beberapa mobil keluarga memimpin jalan, sementara mobil bak yang membawa seserahan mengikuti dari belakang.
Di dalam mobil, suasana tidak sepenuhnya sunyi.
Fikri yang duduk di kursi depan sesekali menoleh ke belakang.
“Mas, hafal kan kalimatnya?” godanya.
Danu menatapnya sekilas.
“Kenapa semua orang nanya itu?”
Fikri tertawa kecil.
“Biar yakin saja.”
Ayah Danu yang duduk di sampingnya ikut tersenyum tipis.
“Dia hafal.”
Danu hanya mengangguk pelan.
Di luar jendela, pagi sudah mulai ramai. Beberapa warung baru saja membuka, anak-anak kecil terlihat berjalan menuju sekolah, dan udara masih terasa segar.
Danu memandang keluar sebentar.
Pikirannya kembali pada satu orang.
Ara.
Beberapa menit kemudian, mobil mulai memasuki gang menuju rumah Ara.
Di depan rumah itu, tenda putih sudah terlihat berdiri rapi. Kursi-kursi tersusun, dan beberapa tamu mulai berdatangan.
Salah satu keluarga Ara yang berdiri di dekat gerbang langsung berseru,
“Rombongan sudah datang!”
Suasana yang tadinya tenang langsung sedikit lebih ramai.
Mobil pertama berhenti.
Beberapa anggota keluarga Danu turun lebih dulu.
Setelah itu, pintu mobil tempat Danu duduk dibuka.
Danu keluar dengan tenang.
Dengan beskap putih, kain batik, dan blangkon, penampilannya terlihat sederhana tapi berwibawa.
Ayah Ara sudah berdiri di depan untuk menyambut.