Sahara adalah anak kandung yang terusir bersama dengan ibunya karena Fit-nahan yang di buat oleh wanita lain di hati ayahnya.
Mampukah Sahara memperjuangkan dan membersihkan nama ibunya dari fit-nah keji wanita yang tak lain adalah sahabat ibunya itu?
Akankah ayahnya percaya? baca terus kisah Perjuangan Sahara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahara 25
"Sahara. Masuk kedalam ruanganku." Ucap Brian yang baru saja selesai meeting dan tiba di lantai ruangannya.
"Baik Pak." Jawab Sahara. Mengikuti langkah panjang Brian dari belakang.
Brian duduk di kursi kebesarannya. Sedangkan Sahara berdiri di depan Brian. Brian masih diam dan malah menatap Sahara dengan penuh kesal. Membuatnya tak nyaman di buatnya.
"Maaf Pak. Apa ada yang harus saya kerjakan sampai anda memanggil saya."tanya Sahara pada akhirnya. Karena sedari tadi Brian malah hanya diam saja.
"Kerjakan laporan ini." Brian memberikan map kepada Sahara.
"Maaf Pak. Perkerjaan saya disini sebagai OG. Jika saya di minta untuk mengerjakan tugas seperti itu. Maka saya meminta gaji yang sesuai dengan pekerjaannya. Mengerjakan tugas seperti ini adalah tugas sebagai sekretaris,."jawab Sahara santai.
Brian menaikkan sebelah sudut bibirnya dan menatap tajam ke arah Sahara. Berani sekali wanita di depannya itu ternyata menolak permintaan dia untuk mengerjakan laporan dan bahkan malah meminta gaji tambahan. Dia fikir bisa mengerjakannya.
"Memang kamu yakin bisa mengerjakannya?"tanya Brian
"Kita buat perjanjian dulu. Kalau saya bisa maka anda harus membayar saya sesuai dengan pekerjaan saya ini."jawab Sahara membuat Brian menaikkan sebelah alisnya.
"Baiklah kau menantangku rupanya."ucap Brian sambil tersenyum miring.
"Raka, masuk ke ruanganku."Brian memanggil Raka melalui sambungan telepon. Tak lama Raka datang dan menatap bingung ke arah Sahara dan Brian. Ada huru hara apa lagi antara dua orang ini.
"Ada apa Pak Brian?"tanya Raka bingung.
"Buat perjanjian dengan OG itu. Jika dia bisa mengerjakan laporan ini maka aku akan memberi dia gaji tiga kali lipat. Jika tidak bisa maka dia harus menjadi jongosku selama satu bulan. Cepat buat perjanjiannya dan berikan dia laptop untuk mengerjakan laporan ini."jelas Brian membuat Raka geleng kepala mendengarnya.
Ada-ada saja ide Brian untuk mengerjai pekerjanya. Tapi baru kali ini OG atau OB dia usili sampai sejauh ini. karena memang Sahara yang bisa santai menghadapi sikap Brian yang ada-ada gajah. Emang Sahara adalah orang yang tak ambil pusing dengan kelakuan Brian
"Baik tunggu sepuluh menit."pamit Raka dan pergi dari sana.
Sahara masih berdiri di depan Brian yang sedang sibuk dengan dokumennya. Kakinya sudah mulai pegal apalagi dari tadi tidak di minta untuk duduk oleh atasannya itu.
"Eheemm" Sahara berdehem membuat Brian tersenyum miring.
"Kenapa? Apa kamu takut dan bilang mau menyerah?"tanya Brian sambil menyandarkan bahunya di kursi dan melipatkan kedua tangannya di dada. Menatap Sahara dengan tatapan remehnya.
"Bukan Pak Brian. Tapi bolehkah saya duduk? Saya merasa seperti sedang cosplay jadi patung kalau hanya berdiri disini dan melihat anda yang sedang bekerja,"jawab Sahara membuat Brian mendengus kesal dan menatap tajam ke arah Sahara.
"Tidak. Berdiri saja. Patung bahkan jauh lebih baik darimu. Lebih enak di pandang di banding dengan kamu."kesal Brian dan kembali sibuk dengan dokumen di depannya.
Dia kira Sahara akan mengatakan menyerah sebelum berperang. Sedangkan Sahara hanya bisa mencebikkan bibirnya kesal dengan Bos modelan Brian seperti itu. Tak lama Raka datang membawa laptop dan berkas yang akan di tandatangani oleh Brian dan juga Sahara.
"Silahkan anda berdua bisa tandatangani terlebih dahulu."ucap Raka menyimpan kertas yang dia bawa di atas meja Brian.
Brian mengambil dan menandatanganinya. Kemudian Sahara mendekat dan membaca terlebih dahulu dokumen yang akan dia tandatangani itu. Dia memang harus hati-hati sebelum menandatangani apapun. Karena banyak orang-orang pintar yang memanfaatkan mereka yang tidak faham dan cenderung terlalu bernaf-su.
"Ck, tak usah di baca tandatangani saja."kesal Brian saat melihat Sahara.
"Maaf saya hanya takut kalian membodohi saya. Jadi saya harus faham dan ingat point-point penting dalam kontrak ini."jawab Sahara membuat Raka yang ada di sebelahnya tersenyum.
"Baru kali ini ada OG atau OB yang berani menjawab dan membuat Pak Beian diam tak bisa menjawab lagi. Sepertinya kali ini Pak Brian mendapat lawan yang lumayan."batin Raka sambil menatap ke arah Sahara yang sedang serius membaca dokumen. Dan hal itu bisa di lihat oleh Brian. Membuat Brian berdehem dan Raka memalingkan wajahnya dari Sahara salah tingkah.
"Sudah?" Tanya Brian saat melihat Sahara menandatangani kontraknya.
"Sudah. Mana laptopnya Pak Raka." Sahara bangkit dari duduknya dan meminta laptop kepada Raka.
"Lalu saya mengerjakan laporan ini dimana? Apa di pantry?"tanya Sahara setelah memegang Laptop dan juga berkasnya.
"Disana. Biar aku bisa melihat kalau kamu tidak curang dan bekerja dengan jujur."Brian menunjuk sofa yang ada di depannya.
"Baiklah. Permisi saya harus segera kerjakan laporan ini agar bisa segera pulang."jawab Sahara setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya menunjukkan pukul dua siang. Brian dan Raka saling pandang dan Raka menaikkan kedua bahunya tanda jika dia tak tau.
Brian melihat dari meja kerjanya jika Sahara sedang mengerjakan dengan serius berkas yang ada di tangannya. Brian tersenyum miring saat melihat Sahara terlihat kesulitan mengerjakannya.
"Kau fikir itu berkas yang mudah. Kena kau dalam jebakanku." Batin Brian sambil memainkan bolpoin di tangannya menatap Sahara yang tengah kesulitan.
"Sial*n. Dia ngerjain gue. Berkas buntu."batin Sahhara. Kemudian dia bangkit dari duduknya.
"Mau kemana kamu? Mau menyerah?"tanya Brian sambil tersenyum miring saat Sahara menjauh dari sofa.
"Tentu tidak. Perang baru di mulai. Aku tak menyangka anda picik. Baiklah kita lihat saja Pak Picik. Saya permisi mau ke ruangan Pak Raka." Pamit Sahara dan berlalu meninggalkan Brian yang sedang tertawa terbahak.
"Ternyata dia sadar kalau aku mengerjainya. Pintar juga dia."kekeh Brian.
Dan kembali sibuk dengan berkas dan juga ponselnya. Dia sedang mencoba menghubungi seseorang. Entah siapa dia. Mungkin wanita yang begitu dia cintai seperti yang di katakan oleh Raka tempo hari.
Tak lama Sahara datang dengan membawa banyak berkas di tangannya. Membuat Brian gelang kepala di buatnya.
"Ternyata dia serius. Baiklah kita lihat saja apa dia bisa menyelesaikannya atau tidak." Batin Brian. Sejenak dia melupakan ponselnya dan sibuk dengan berkas juga memperhatikan Sahara yang sedang bekerja di depannya.
"Jika mau menyerah katakan saja. Dan persiapkan diri menjadi jongosku." Ucap Brian membuat Sahara mendelik dan mencebikkan bibirnya.
"Sorry ye..."jawab Sahara menjulurkan lidahnya kesal kepada Brian dan kembali fokus dengan tumpukan berkas di depannya.
Waktu terus berlalu dan Sahara masih berkutat dengan pekerjaan barunya. Brian sudah merasa menang saat melihat Sahara masih sibuk.
"Akhirnya wanita menyebalkan dan pembangkang itu enyah juga dari sini. Aku benci dengan wanita yang so jual mahal ujung-ujungnya malah akan mencoba menjeratku."batin Brian saat melihat waktu sudah jam empat lewat.
salam sehat selalu outhor syantik ku 🫶🫶🫶🫶