"Di balik presisi pisau bedah, ada rahasia yang tidak boleh terucap."
Sheril tidak pernah menyangka bahwa kariernya sebagai ahli forensik akan membawanya ke dalam lingkaran berbahaya antara cinta dan kebenaran. ia mempercayai sekaligus mencurigai kekasihnya Jungkook.
Beberapa rahasia memang lebih baik tetap membisu. Tapi, apakah detak jantung bisa berbohong di bawah tajamnya skalpel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Pertengkaran Hebat
Malam di Seoul biasanya membawa ketenangan, namun di dalam apartemen mewah milik Kim Seokjin, udara terasa sepadat beton. Suara pecahan kaca kristal yang menghantam lantai marmer menggema ke seluruh sudut ruangan, menyisakan keheningan yang menyakitkan sebelum badai emosi kembali meledak.
Jin berdiri dengan rahang mengeras, wajahnya merah padam. Di bawah kakinya, sisa-sisa gelas wine yang pecah berkilau seperti berlian tajam—sangat mirip dengan situasi yang mereka hadapi sekarang. Di depannya, Sheril berdiri mematung, napasnya memburu, dan matanya menyala dengan kombinasi antara amarah dan luka.
"Kamu melampaui batas, Oppa!" suara Sheril bergetar, tangannya mengepal di sisi tubuh.
"Aku melampaui batas?" Jin tertawa hambar, suara yang penuh kepahitan. Ia melemparkan sebuah map cokelat ke atas meja kopi. "Suga menemukan catatan logistik yang tidak sinkron. Truk bahan makanan restoran itu sering terlihat di area pembuangan sampah industri pada jam-jam yang tidak masuk akal. Dan setiap kali itu terjadi, sebuah mayat muncul di mejamu esok paginya! Apa itu belum cukup bagimu?"
"Itu hanya spekulasi!" balas Sheril dengan suara serak. "Jungkook adalah koki terbaik di kota ini. Dia mencari bahan-bahan segar dari pelabuhan pada jam-jam aneh. Itu bukan bukti sah, itu hanya kecurigaan yang di paksakan karena oppa tidak menyukainya!"
Jin melangkah maju, mencengkeram bahu adiknya dengan kuat, mencoba mengguncang logika yang ia rasa telah mati di dalam diri Sheril. "Buka matamu, Sheril! Kita bicara tentang pria yang memiliki akses ke pisau bedah nomor sebelas yang hilang dari labmu. Kita bicara tentang pria yang selalu tahu kapan kau merasa sedih bahkan sebelum kamu mengatakannya. Apakah kamu tidak merasa dia terlalu sempurna? Terlalu... terobsesi padamu?"
"Oppa, kaku hanya melihatnya sebagai tersangka karena dan oppa tidak bisa menerima ada pria yang lebih memahami aku daripada kakaknya sendiri!" Sheril menepis tangan Jin dengan kasar. "Kamu tidak tahu apa yang dia lalui, Oppa. Dia yatim piatu, dia berjuang dari nol, dia hanya ingin hidup tenang denganku!"
"Dia monster, Sheril! Sadarlah sebelum Kamu menjadi bagian dari koleksi mayatnya!" bentak Jin, suaranya menggelegar hingga membuat lampu gantung di atas mereka berdenting.
Kalimat itu seperti tamparan fisik bagi Sheril. Ia mundur selangkah, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya yang pucat. Namun, bukan ketakutan yang terpancar dari wajahnya, melainkan sebuah loyalitas yang buta dan menyakitkan.
"Jika dia memang seorang pembunuh..." Sheril menjeda, suaranya mendadak rendah dan dingin, memberikan efek yang lebih mengerikan daripada teriakan Jin tadi. "...maka aku adalah alasannya. Dia melakukan semua itu untuk menjagaku. Jika dia monster, akulah yang menciptakan monster itu dengan rasa cintaku."
Jin terpaku. Lidahnya kelu. Ia menatap adiknya seolah-olah ia sedang melihat orang asing. Keheningan yang mengikuti begitu mencekam, hanya diiringi suara detak jam dinding yang terdengar seperti hitungan mundur menuju sebuah tragedi.
"Sheril, jangan pergi—"
Namun terlambat. Sheril menyambar tasnya, berbalik, dan berlari menuju pintu. Suara pintu yang dibanting dengan keras seolah membelah apartemen itu menjadi dua bagian yang tak lagi bisa disatukan.
Jin jatuh terduduk di sofa, menutupi wajahnya dengan tangan yang gemetar. Di atas meja, map cokelat itu masih terbuka, menampilkan foto kabur dari kamera pengawas yang menunjukkan sesosok pria bertubuh tegap di balik kemudi truk. Wajahnya tidak terlihat jelas, tertutup bayangan topi, meninggalkan sebuah misteri yang menggantung.
Jungkook belum bisa dikatakan tersangka secara hukum. Bukti-buktinya terlalu tipis, terlalu bersih, seolah-olah sang pelaku adalah seorang seniman yang tahu persis bagaimana cara menghapus jejak. Namun bagi insting seorang detektif seperti Jin, ketidakadaan bukti itu justru adalah bukti yang paling nyata.
Di luar, di bawah guyuran hujan yang mulai turun, Sheril berdiri di pinggir jalan, memanggil taksi dengan tangan gemetar. Ia merogoh ponselnya, melihat sebuah pesan masuk dari Jungkook.
"Aku sudah menyiapkan cokelat panas dan musik klasik untukmu di rumah. Pulanglah dengan hati-hati, Sayang. Aku menunggumu."
Sheril memeluk ponselnya ke dada, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa kehangatan Jungkook bukanlah sebuah topeng. Namun, di sudut hatinya yang paling dalam, sebuah pertanyaan kecil mulai tumbuh: Kenapa Jungkook selalu tahu kapan ia baru saja menangis?