"Aku bukan sekadar asistennya, aku adalah pelarian dari melodi sunyi yang ia ciptakan sendiri."
Ghava Dirgantara adalah produser musik jenius yang memiliki segalanya: kekayaan, bakat, dan visual menawan. Namun, di balik kesuksesannya, ia adalah pria yang "mati rasa". Pengkhianatan sang mantan kekasih di panggung penghargaan tiga tahun lalu membuatnya berubah menjadi sosok dingin yang dijuluki "Kulkas Antartika". Baginya, cinta hanyalah sampah yang merusak frekuensi musiknya.
Hingga muncul Nadine, asisten baru yang ceroboh namun memiliki telinga musik yang tajam. Nadine datang bukan dengan cinta, melainkan dengan luka yang sama dalamnya—ditinggalkan oleh tunangannya tepat sehari sebelum pernikahan.
Awalnya, hubungan mereka hanya sebatas bos galak dan asisten yang tertindas. Mulai dari hukuman membersihkan studio hingga insiden "sambal maut" yang membuat Nadine harus dilarikan ke rumah sakit. Namun, suasana berubah saat masa lalu mereka kembali mengetuk pintu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SIAPA YANG BERHARGA DIMASA SEKARANG
Dalam keheningan studio yang hanya diisi oleh suara halus putaran kipas pendingin mesin, Ghava memberanikan diri untuk menatap wajah Nadine dari jarak yang sangat dekat. Tanpa gangguan kacamata atau sorot mata tajam yang biasa ia gunakan untuk mengintimidasi, Nadine tampak begitu rapuh, begitu murni.
Cahaya biru dari monitor memantul di wajah gadis itu, memperlihatkan bulu matanya yang lentik dan gurat kelelahan yang mulai memudar berganti ketenangan. Ghava merasakan dadanya sesak, bukan oleh amarah atau dendam masa lalu, melainkan oleh sebuah perasaan yang sudah lama ia kubur dalam-dalam di bawah tumpukan partitur lagu.
"Andai kamu tahu kalau kamu itu obat, Nadine..." ucap Ghava di dalam hatinya, suaranya bergema dalam sunyi pikirannya sendiri. "Aku belum berani cerita soal hidupku, walau aku tahu perlahan kamu akan tahu semuanya dari orang lain."
Ia teringat betapa hancurnya ia saat Selya meninggalkannya. Saat itu, musik yang ia cintai berubah menjadi kebisingan yang menyiksa. Namun sejak Nadine datang—dengan segala kecerobohannya, balapan kursinya, bahkan sakit lambungnya—musik itu perlahan kembali terdengar seperti melodi. Nadine bukan sekadar asisten; bagi Ghava, gadis ini adalah detoks bagi racun masa lalu yang selama ini mengendap di nadinya.
Ghava menarik napas panjang, menghirup aroma sampo stroberi dari rambut Nadine yang bersentuhan dengan pipinya. Ia tahu, dunia luar mungkin akan segera memberitahu Nadine tentang betapa memalukannya masa lalu sang produser hebat ini. Ia tahu rahasianya mungkin akan terbongkar lewat artikel gosip atau mulut-mulut tajam seperti Bram.
Tapi biarlah, pikirnya. Untuk saat ini, biarkan aku egois sebentar lagi.
Ghava perlahan mengulurkan tangannya, ragu-ragu sejenak, sebelum akhirnya dengan sangat lembut merapikan anak rambut yang menutupi kening Nadine. Sentuhannya seringan bulu, seolah takut jika ia menekan sedikit saja, keajaiban ini akan sirna dan mereka akan kembali menjadi atasan dan bawahan yang saling melempar argumen dingin.
"Tidurlah yang nyenyak, Na," bisiknya sangat pelan, hampir tak terdengar oleh telinga manusia. "Biarkan aku yang jaga pintunya, biar nggak ada satu pun masa lalu yang bisa masuk dan nyakitin kamu lagi."
Ketenangan yang menyelimuti studio seketika pecah berkeping-keping. Pintu studio yang berat itu terbuka dengan sekali hentakan kuat, disusul suara cempreng Reka yang bergema ke seluruh sudut ruangan.
"MAS GHAVA! NADINE! LIHAT DEH, KLIEN YANG TADI TERNYATA KIRIM MAKANAN BANYAK BANGET SEBAGAI PERMINTAAN MAAF KARENA TERLALU CERE—"
Reka langsung mematung. Kalimatnya terputus saat melihat pemandangan di depannya.
Tapi terlambat. Efek kejutan itu bekerja seperti efek domino. Nana yang sedang bermimpi indah di bahu Ghava tersentak hebat karena teriakan Reka. Refleks tubuhnya yang kaget membuat keseimbangannya hilang total. Karena kursi kerja mereka tidak memiliki sandaran tangan yang tinggi, tubuh Nana merosot dari bahu Ghava dan meluncur jatuh dari kursi roda kerjanya.
"AAKH!" pekik Nana.
Bruk!
Nana mendarat dengan tidak estetik di lantai studio yang dingin.
Ghava, yang jantungnya hampir copot karena kaget dan panik, refleks berdiri dari kursinya. Ia menatap Reka dengan mata yang menyala, seolah-olah ingin mengubah Reka menjadi abu dalam sekejap.
"REKA! KAMU...!!" bentak Ghava dengan suara yang bergetar karena emosi.
"Aduh... duh... punggungku," rintih Nana sambil memegangi pinggangnya, wajahnya masih merah padam karena nyawanya belum terkumpul sepenuhnya.
Ghava segera berjongkok di samping Nana, mengabaikan Reka yang sudah pucat pasi di ambang pintu. "Na? Kamu nggak apa-apa? Ada yang sakit?" tanya Ghava dengan nada suara yang drastis berubah menjadi sangat khawatir. Tangannya memegang lengan Nana, mencoba membantunya berdiri.
Nana menatap Ghava, lalu melirik Reka, lalu kembali ke Ghava. Kesadarannya mulai pulih, dan ia baru menyadari bahwa tadi ia tidur di bahu bosnya yang "kulkas" itu.
"E-eh, nggak apa-apa, Mas. Cuma kaget doang, suer!" jawab Nana sambil berusaha berdiri dengan kikuk, mencoba menyembunyikan rasa malunya yang luar biasa.
Reka, yang menyadari ia baru saja melakukan dosa besar dalam sejarah percintaan bosnya, perlahan mundur selangkah demi selangkah. "Anu... Mas... Na... gue... gue taruh makanannya di depan aja ya? Gue lupa kalau studio ini harusnya tenang... dadah!"
Reka langsung kabur secepat kilat, bahkan hampir menabrak Mbak Yane di lorong.
Kini tinggal Ghava dan Nana yang berdiri berdekatan di tengah studio yang kembali sunyi. Suasana mendadak jadi sangat canggung. Ghava berdehem, merapikan kemejanya yang sedikit kusut di bagian bahu bekas kepala Nana tadi.
"Tadi itu..." Ghava memulai, tapi ia bingung harus bicara apa. "...kursinya memang nggak stabil. Besok saya ganti yang lebih aman."
Nana hanya menunduk sambil merapikan rambutnya yang berantakan, mencoba menahan senyum karena melihat telinga Ghava yang ternyata berubah menjadi merah.
Nana berlari kecil keluar ruangan dengan langkah yang sedikit sempoyongan karena nyawanya belum terkumpul seratus persen. Ia mengabaikan rasa perih di pinggangnya akibat jatuh tadi, karena bagi Nana, godaan makanan gratis jauh lebih kuat daripada rasa malu ataupun rasa sakit.
"Ngomong-ngomong makanannya di mana?" tanya Nana polos sambil celingukan di depan pintu studio, matanya berbinar mencari keberadaan kotak makanan yang disebut Reka tadi.
Ghava yang masih berdiri di posisi semula hanya bisa melongo. Ia baru saja menyiapkan mental untuk momen romantis atau permintaan maaf yang mendalam, tapi asistennya ini malah sudah memikirkan urusan perut.
"Nadine! Bahkan muka kamu aja masih kayak bantal dan baru jatuh, malah mikirin makanan!" seru Ghava sambil geleng-geleng kepala melihat Nana yang sudah ngacir ke arah ruang tengah.
Ghava mendengus pelan, tapi sudut bibirnya tidak bisa berhenti terangkat. Ia menyusul langkah Nana dengan santai, kedua tangannya masuk ke dalam saku celana. Saat sampai di ruang tengah, ia melihat Nana sudah duduk manis di depan meja besar bersama Reka dan Mbak Yane yang sedang membuka kotak-kotak sushi mewah dan ayam goreng.
"Mas Ghava, sini! Ini ada salmon mentai kesukaan Mas, mumpung masih anget!" panggil Nana sambil melambaikan tangan, pipinya sudah menggembung karena suapan pertama.
Ghava berjalan mendekat, lalu duduk di kursi tepat di sebelah Nana. Ia mengambil selembar tisu dan tanpa berkata-kata, ia meraih wajah Nana lalu mengusap sudut bibir gadis itu yang terkena sedikit saus.
"Pelan-pelan makannya. Nggak akan ada yang minta. Lagipula, kalau lambung kamu kumat lagi, saya yang repot harus jadi 'calon suami' gadungan di RS lagi," sindir Ghava telak.
Nana tersedak pelan, wajahnya langsung memerah sampai ke telinga. Reka dan Mbak Yane yang mendengar itu langsung saling lirik dengan tatapan "tuh kan, beneran ada apa-apa".
"Uhuk! Mas, jangan bahas itu di depan mereka!" protes Nana sambil menenggak air mineral.
"Kenapa? Memang benar, kan?" sahut Ghava santai, ia mengambil satu potong sushi dan memakannya dengan elegan, seolah-olah ia tidak baru saja meledakkan bom di depan karyawan lainnya.
Mbak Yane berdehem keras. "Ehem! Jadi... kapan undangan 'calon suami' ini berubah jadi undangan beneran, Ghav? Biar gue bisa pesen seragam dari sekarang."
Suasana ceria di meja makan itu mendadak senyap, seolah-olah seseorang baru saja mematikan musik di tengah pesta. Kalimat Nana barusan tidak terdengar seperti candaan, melainkan sebuah pernyataan jujur yang menusuk tepat ke jantung masalah.
"Nggak bisa Mbak Yane, Mas Ghava masih terjebak masa lalu," ucap Nana tenang, namun matanya tetap fokus pada sushi di piringnya, tidak berani menatap Ghava.
Reka, dengan mulut yang masih penuh ayam goreng, langsung menyambar tanpa berpikir panjang. "Betul itu!"
Deg.
Seketika Ghava memberikan tatapan mematikan yang sanggup membekukan aliran darah siapapun. Reka yang menyadari nyawanya terancam langsung berhenti mengunyah, menutup mulutnya rapat-rapat, dan menunduk dalam-dalam seolah-olah nasi di depannya adalah hal paling menarik di dunia.
Ghava meletakkan sumpitnya dengan bunyi tak yang cukup keras di atas meja. Ia tidak marah pada Reka, tapi kata-kata Nana tadi membuatnya merasa seperti sedang ditelanjangi di depan karyawannya sendiri.
"Terjebak masa lalu?" ulang Ghava dengan suara rendah yang berbahaya. Ia memutar kursinya menghadap Nana sepenuhnya. "Nadin, kamu pikir kamu sudah tahu segalanya tentang saya cuma karena baca beberapa artikel sampah di internet?"
Mbak Yane yang merasa situasi mulai tidak kondusif mencoba menengahi. "Ghav, Na, maksudnya bukan gitu..."
"Bukan gitu gimana, Mbak?" potong Nana, kali ini ia memberanikan diri menatap Ghava. "Mas Bos pura-pura dingin, pura-pura nggak butuh siapa-siapa, padahal Mas cuma takut terluka lagi kan? Mas bilang mau jadi calon suami aku di depan Bram cuma karena Mas ngerasa senasib sama aku. Kita berdua itu cuma dua orang patah hati yang kebetulan kerja bareng. Mas belum siap buat siapa pun, termasuk buat aku."
Ruangan itu benar-benar hening. Reka bahkan takut untuk sekadar bernapas dengan normal.
Ghava terdiam. Ia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa Nana salah besar, tapi lidahnya terasa kelu. Karena jauh di dalam lubuk hatinya, apa yang dikatakan Nana adalah kebenaran yang selama ini ia tutup-tutupi dengan topeng "Kulkas Antartika".
"Kalau saya memang masih terjebak masa lalu," ucap Ghava akhirnya, suaranya kini terdengar sangat lelah, "Saya nggak akan biarkan asisten saya tidur di bahu saya selama dua jam sampai punggung saya kaku. Saya nggak akan batalin meeting penting cuma buat jemput orang yang 'bukan siapa-siapa'."
Ghava berdiri dari kursinya, nafsu makannya hilang seketika. "Selesaikan makan kalian. Reka, setelah ini pindahkan semua file ke hardisk eksternal. Nadin... kalau kamu pikir saya masih terjebak masa lalu, mungkin kamu benar. Tapi setidaknya, masa lalu itu nggak bikin saya buta buat tahu siapa yang berharga di masa sekarang."
Ghava melangkah pergi meninggalkan ruang makan, masuk kembali ke ruang kontrol dan membanting pintunya pelan, namun getarannya terasa sampai ke hati Nana.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰