Di pesta 1 tahun pernikahan, dia dikhianati oleh suami dan sahabatnya. Terlibat dalam kecelakaan mobil yang membuatnya meregang nyawa,
Namun tuhan memberi Reta kesempatan untuk menjalani kehidupan kedua.
Kali ini, dia berjanji akan mengambil kembali semua yang pernah menjadi miliknya. Berencana menghubungi satu-satunya keluarga,
"Mulai sekarang kamu adalah wanitaku." tegas Max menatap tajam gadis yang telah ia lucuti,
Secuil tragedi mengantar mereka ke hubungan yang salah.
Bisakah Reta membalas dendam sembari mengatur takdir yang membelenggu tubuh keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemakaman
Kediaman luas yang tak terlalu megah, perabotan lengkap yang tertata rapi tanpa bantuan pelayan.
Teringat jika mereka terpaksa memecat dua pelayan demi menyanggupi biaya pengobatan Arana,
"Biar Leo aja yang mengantar Ana," imbuh Leo menawarkan bantuan.
"Ya sudah, kamu ke atas sama kakak. Mama mau nyiapin makan malam buat kita semua," mengusap cepat ujung kepala gadis yang tengah tersenyum sebagai tanda persetujuan,
Sigap gadis itu beralih melangkah di samping pria yang mulai hari ini akan menjadi kakaknya. Mereka berjalan menaiki tangga hingga berhenti di depan pintu kamar yang telah terbuka,
Terlihat sebuah ruangan berhias nude yang begitu memanjakan mata. Meski tidak seluas kamar Reta, namun ini adalah ruangan yang begitu nyaman.
Setidaknya semua itu ditata dengan tulus tanpa adanya kepalsuan.
Sekilas memandang ke segala arah. Kamar kosong yang sebelumnya dipenuhi berbagai peralatan aneh demi menopang hidup Arana,
Tapi sekarang seluruh sudut ruang berubah seperti kamar gadis remaja pada umumnya.
"Gimana, suka kan?"
"Dari dulu kamu selalu minta kamar yang gak bau obat,"
Leo berdiri menunggu reaksi, menatap gadis yang membelakanginya.
"Iya, suka!"
Arana mengangguk pasti, berlari ke dalam ruang, kakinya melangkah ke setiap sudut ruang karena penasaran.
Leo yang berdiri di belakang hanya tertegun. Seakan terharu, pertama kali melihat adiknya mampu berlarian,
"Ya sudah. Kamu langsung istirahat aja,"
"Nanti kakak panggil, kalo udah waktunya makan malam..."
"Atau mau makan di kamar aja? Biar gak capek turun ke bawah," gumam Leo menatap gadis yang duduk riang di tepi ranjang.
"Mm, gapapa kok! Aku mau makan di bawah aja,"
"Oke, nanti kakak jemput ya..." pamit Leo,
Kakinya mendekat, mengacak pelan rambut Arana sebelum pergi meninggalkan kamar.
Tap..
Tap..
Tap..
Langkah kakinya menjauh, Arana sedikit menyerongkan tubuh, melirik ke luar guna memastikan tidak ada siapapun disana.
Perlahan dia berjinjit menutup rapat pintu kamarnya,
Secepat kilat beralih ke depan cermin besar yang ada di sudut ruang.
Menatap lekat setiap inci tubuh yang masih asing. Kulit putih, rambut lurus bagai malam yang terurai panjang, lesung menghias kedua pipi, bibir merah muda serta manik hitam yang begitu memikat.
"Aaa...tidak kusangka aku akan punya wajah secantik ini,"
"Sungguh anugerah terbaik," seru Ana terpesona dengan keindahan wajahnya.
"Ng...?" Gadis itu terdiam sejenak,
Tak sengaja menunduk, memandangi bagian tubuh yang terlihat rata. Hanya gundukan kecil, berbeda dari miliknya dulu.
"Ck, sayang sekali. Aku terlalu kurus...setelah ini aku harus menambah berat badan, demi menumbuhkannya."
Arana menekuk bibir, tangannya mengulur ke bawah dada, menopang dan menggoyang singkat dua gumpalan yang tak terlalu tebal,
"Ringan sekali..."
"Tapi, tenang! Kita masih di fase pertumbuhan, jadi ini masih bisa berubah."
Dia mengangguk percaya diri, mulai beralih ke depan lemari yang tak terlalu besar.
Arana diam mengamati setiap setelan miliknya, cukup banyak hanya saja memiliki model serupa. Meraba singkat kain serta merk yang terbilang murah,
"Sepertinya yang pertama, aku harus bisa meningkatkan ekonomi keluarga ini."
"Ng, aku haus..." gumamnya menelan saliva,
Terlalu sibuk berceloteh sendiri, sampai membuat tenggorokan kering. Tanpa pikir panjang, Ana keluar kamar bertingkah santai seperti di rumah sendiri,
Tak sengaja berpapasan dengan Leo yang terlah berganti pakaian, mengenakan kemeja hitam rapi.
"Kakak mau kemana?" ujar Ana mengangkat alis.
"Mau ke pemakamannya Reta,"
"Ikut!" celetuk Ana antusias,
Berlari cepat dan pergi menghadang langkah kaki Leo. Tangannya terentang, "Boleh, ya? Plis..."
Leo mengernyit, mendekatkan wajah, matanya tampak teliti menatap Ana. Merasakan perubahan dalam sikap adiknya yang terbiasa kalem dan pendiam,
"Kamu yakin mau ikut?"
"Yakin." Ana mengangguk pasti,
"Ya sudah, ayo."
"Tunggu! Ana mau ganti baju dulu." sontaknya berlari masuk ke dalam kamar.
30 menit kemudian.
"Hei!" panggil Lia,
Dari kejauhan melambaikan tangan pada dua orang yang baru saja turun dari mobil.
"Lia..." Ana bergumam dalam hati,
Memandangi temannya yang sudah berdiri di depan pintu pemakaman. Ana diam megenggam erat tangan Leo yang menggandengnya menyebrangi jalan,
Menghampiri gadis yang tampak mengurus, memakai kacamata hitam untuk menutupi mata sembabnya.
"Maaf, telat. Tadi jalanan macet," dusta Leo tak mungkin jujur kalau Arana lah yang mengundur waktunya.
"Gapapa. Ini, masih banyak bunganya..." jawab Lia menyodorkan keranjang penuh kelopak bunga,
Lia melirik singkat, menatap gadis pucat di dapannya. "Dia siapa?"
"Arana, adikku."
"Lho? Bukannya dia---"
"Iya, tapi dokter bilang Arana sudah sembuh." imbuh Leo tersenyum menjelaskan,
DUK! Satu pukulan mendarat,
Lia menggunakan kepalan tangannya untuk mengetuk ujung kepala Leo. "Dasar bego!"
"Adikmu masih pucat begini, udah kamu ajak keluar. Mana ngajak ke kuburan lagi...tolol ya, emang!"
"Pft!!" Ana terkekeh,
Melihat Leo yang hanya diam tak berdaya mendengar ocehan Lia. Mengingatkan bagaimana kedekatan mereka bertiga saat di bangku SMA,
"Hahaha..."
Tawa di wajah Arana mengundang perhatian. Keduanya menoleh mengagumi keceriaan yang merekah,
"Ehem. Ya sudah, cepat masuk...aku tadi sudah duluan kesana," tegas Lia kembali bersikap tenang,
"Biarkan adikmu menunggu di sini."
"Eh?" Ana dibuat kikuk,
Tubuhnya mematung mendapat rangkulan dari Lia.
"Ya sudah. Ana kamu disini dulu ya...jangan banyak gerak, biar ga kena pukul." cicit Leo tertawa singkat,
Lalu berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.
"..." Keheningan mencekam,
Ana diam tak tahu harus bercakap apa. Sesekali melirik wanita yang tampak melamun dalam kesedihan,
Padahal Lia adalah sosok ceria yang selalu mengoceh.
"Apa yang harus aku lakukan?" batin Ana merasa resah,
Memikirkan topik perbincangan untuk memperbaiki suasana mereka.
"Anu...Kak Lia pasti sedih kan?"
"Ha?" Lia menoleh, tak mengira gadis muda itu akan mengajaknya bicara duluan.
"Nggak kok. Aku justru senang, sudah gak ada saingan cinta lagi..."
"Lho? Apa maksudnya!" Ana terguncang,
Seketika tubuhnya merinding mebayangkan hal buruk. Jangan bilang Lia juga bersekongkol dengan mereka, lalu semua kepedulian itu apakah hanya pura-pura?
"Aku dan kakakmu adalah teman Reta sejak SMP. Kami selalu bersama, aku dan Leo juga pernah pacaran..." ucapnya terus bercerita,
"Entah kamu tahu atau tidak kalau kami pernah pacaran." tersenyum sepat,
Mereka memang sempat pacaran, setelah Lia menyatakan cinta namun hubungan itu tak bertahan lama.
"Aku lah yang minta putus...karena tahu, kalau sebenarnya Reta lah wanita yang dicintai kakakmu."
"Hah? Leo mencintaiku?" batin Ana tak menyangka,
"Sejak saat itu, aku berusaha membantunya untuk mendapatkan Reta. Tapi Reta tidak peka dan malah menikahi pria lain,"
"Meski begitu perasaan kakakmu tetap ga berubah, dia tetap mencintainya."
"Tapi sekarang, sudah tidak ada lagi Reta. Bukankah itu artinya, aku bisa kembali pacaran dengan kakakmu?"
TES...
Linang air mata baru saja jatuh membasahi tangan Ana. Dia menoleh, mendapati pipi Lia telah memerah,
"Kenapa kakak menangis?"
"Entahlah. Kenapa aku menangis ya? Padahal...padahal aku senang, karena---"
"...!" kalimat Lia terhenti,
Mendapat pelukan dari Ana. Rangkulan itu disambut hangat, memecah suara tangis Lia yang menyesakkan dada.
"HUA! HIKS...HIKS..."
Ana sadar, Lia sengaja mengarang pasal kebahagiannya melihat kematian Reta.
Semua itu hanyalah kebohongan yang sengaja diciptakan demi menutupi luka di hatinya. Bagi Lia, Reta jauh lebih berharga dari pada Leo,