Enam tahun pengabdian dan cinta jarak jauh (LDR) berakhir sia-sia bagi Aurora. Ia didepak begitu saja lewat pesan singkat, diblokir dari seluruh aspek kehidupan sang mantan, dan digantikan oleh sosok "penjual kesedihan" yang ahli memanipulasi simpati. Luka itu dibawa pulang ke Medan, terkubur di balik kesuksesan yang ia bangun dalam diam.
Tiga tahun berlalu, ego sang mantan akhirnya runtuh. Di bawah tekanan kebutuhan penelitian S3 ibunya di pedalaman Bukit Lawang yang keras dan rawan, ia terpaksa menelan ludah sendiri (mengubungi kembali nomor yg dulu ia blokir). Ia mengharapkan bantuan, mungkin sedikit rasa iba.
Namun, yg ia temukan bukanlah mantan kekasih yg meratapi nasib.
Aurora menerima permintaan itu dengan senyum paling tenang. Bukan dengan amarah, ia menyambut mereka dengan kemewahan yg tak pernah mereka bayangkan. Sebuah Hiace VVIP dengan kursi pijat elektrik menanti di bandara, dikawal oleh sahabat2 loyal dan seorang fotografer yg siap mengabadikan penyesalan sang mantan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasar Buah
Pasar Buah Berastagi menyambut mereka dengan keriuhan yang khas. Aroma tanah basah, wangi buah yang ranum, dan suara tawar-menawar menjadi musik latar yang seru.
Bram langsung memasang badan di depan Nenek.
"Nenek, tenang saja. Urusan negosiasi biar Bram yang maju. Nenek tinggal tunjuk saja mau yang mana," ujarnya penuh percaya diri.
Mereka berhenti di salah satu kios jeruk yang gunungannya paling tinggi. Bram berdehem, menatap sang pedagang dengan tatapan selidik.
"Bah, Eda, bagus-bagus kali jerukmu ini. Tapi harganya jangan harga turis ya, kita ini satu marga. Saya Bram Sitepu," ucap Bram mulai mengeluarkan "kartu as" marganya.
Si pedagang tertawa lebar,
"Oalah, Lae Sitepu rupanya! Ya sudah, buat Lae dan Nenek cantik ini, saya kasih harga saudara. Pilihlah!"
Nenek tertawa senang sambil mencicipi satu ulas jeruk.
"Wah, manis sekali, Bram! Ambil lima kilo ya, jangan lupa mangga udangnya juga dicari."
Sementara itu, Ibu Adrian berhenti di depan sebuah tumpukan buah berbentuk lonjong dengan semburat ungu yang unik.
"Rian, ini buah apa ya? Kok lucu sekali bentuknya, baru kali ini Tante lihat di pasar," tanya beliau penasaran.
"Itu buah Pepino, Tante. Rasanya segar seperti perpaduan melon dan timun. Bagus untuk kesehatan juga," jelas Rian.
"Wah, saya harus coba! Di Jakarta jarang sekali ada yang sebagus ini. Mas, ayo beli beberapa untuk kita makan di mobil nanti," ajak Ibu Adrian kepada suaminya yang langsung sigap mengeluarkan dompet.
Di sisi lain, Sherly tampak sibuk memilah stroberi yang warnanya merah menyala.
"Siska, lihat! Stroberinya besar-besar banget. Aku beli ini sama markisa ya, buat oleh-oleh juga," ujar Sherly yang kini tampak sangat menikmati suasana.
Berbeda dengan yang lain yang berburu buah, Aurora justru melipir ke deretan pedagang sayur mayur yang tampak hijau dan segar.
"Satu ikat selada keriting, satu ikat romaine, oh sama wortel kecilnya ya Kak," ucap Aurora telaten memilih.
Saat Aurora sedang mencari-cari selada favoritnya, tiba-tiba Adrian muncul dari balik kerumunan sambil menjinjing sebuah kantong plastik besar yang penuh berisi.
"Cari ini ya, Ra?" goda Adrian sambil mengangkat kantongnya tinggi-tinggi.
Aurora menoleh dan matanya berbinar.
"Lho, itu kan Lettuce Iceberg? Kok kamu sudah dapat duluan?"
Adrian tersenyum lebar, melirik Firan yang berdiri tepat di samping Aurora.
"Tadi pas kalian asyik lihat Pepino, aku langsung lari ke sudut sana. Aku tahu stok sayur buat BBQ nanti malam nggak akan lengkap tanpa selada airbag ini. Jadi, ini sudah aman di tanganku!"
Firan tertawa lembut, diikuti oleh tawa kecil Aurora.
"Wah, gerak cepat ya, Dri. Terima kasih banyak ya, kamu sangat membantu meringankan daftar belanjaan Aurora," ucap Firan dengan nada yang sangat tulus, tanpa ada lagi kesan persaingan.
"Sama-sama, Fir. Untuk urusan perut rombongan, kita harus kerja sama, kan?" balas Adrian ramah.
"Terima kasih ya, Dri. Kamu masih ingat saja detail kecil begitu," tambah Aurora dengan senyum manisnya yang membuat Adrian merasa perjuangannya membelah kerumunan pasar tadi terbayar lunas.
Ayah Adrian, yang biasanya paling tenang di antara rombongan, tiba-tiba berhenti di sebuah lapak kecil yang tersempit di pojokan.
Matanya yang jeli menangkap tumpukan sayuran hijau panjang yang terlihat sangat segar dan kaku—tanda bahwa sayur itu baru saja dipetik dari ladang.
"Tunggu sebentar, Mas," ujar Ayah Adrian kepada penjualnya tanpa banyak tanya lagi.
"Bungkuskan saya tiga ikat besar selada siomak itu. Pilihkan yang paling muda dan paling garing ya."
Adrian yang melihat ayahnya tertinggal langsung menghampiri.
"Lho, Pa? Kok beli sayur lagi? Kan tadi Adrian sudah beli selada iceberg, Aurora juga sudah beli sayuran lain."
Ayah Adrian hanya tersenyum sambil menerima bungkusan plastik besar itu.
"Kamu ini gimana, Dri. Masa lupa? Aurora itu paling suka selada siomak kalau sudah ketemu daging bakar. Rasanya manis dan ada sensasi crunchy yang beda. Papa tahu betul seleranya sejak dulu."
Begitu sampai di mobil, Ayah Adrian langsung menyodorkan bungkusan itu kepada Aurora yang sedang merapikan belanjaan di bagasi Hiace.
"Ra, ini ada titipan dari ayah. Tadi ayah lihat ada yang segar sekali, Papa tahu kamu pasti butuh ini buat teman BBQ nanti malam," ucap Ayah Adrian hangat.
Mata Aurora membulat, wajahnya tampak sangat tersentuh.
"Ya ampun, ayah... Ini kan selada siomak! Kok ayah masih ingat kalau Aurora suka banget ini? Padahal tadi Aurora cari-cari tapi nggak ketemu yang sebagus ini."
Firan yang berdiri di dekat mereka ikut tersenyum melihat perhatian ayah Adrian.
"Wah, sepertinya stok sayuran kita benar-benar melimpah ya. Terima kasih banyak, Om. Pasti BBQ nanti malam jadi lebih meriah."
"Sama-sama, Firan. Pokoknya perjalanan ini harus buat Aurora senang, biar dia nggak kapok bawa kita jalan-jalan lagi," canda Ayah Adrian yang memicu gelak tawa dari yang lain.
"Wah, kalau begini sih Aurora bakal makin sayang sama ayah dan ibu," celetuk Siska dari dalam mobil.
"Bukan cuma Aurora, perut kita juga makin sayang sama Om!" timpal Rico sambil tertawa, membuat suasana di depan pintu mobil semakin hangat sebelum mereka benar-benar melanjutkan perjalanan.
Sherly berdiri mematung di dekat pintu geser Hiace, tangannya masih memegang erat plastik berisi stroberi.
Matanya tidak lepas dari interaksi antara Ayah Adrian dan Aurora. Ada rasa perih yang tiba-tiba menusuk ulu hatinya.
Gila ya, batin Sherly pedih. Sampai sayur kesukaan saja ayahnya Adrian hafal.
Selama aku jadi pacar Adrian, rasanya Om nggak pernah se-perhatian itu sama hal-hal kecil tentangku.
Namun, Sherly segera menarik napas dalam-dalam.
Ia ingat misinya kali ini: tampil sempurna, tenang, dan "suci". Ia tak boleh merusak citra yang sudah ia bangun sejak tadi.
"Wah, Om hebat banget deh!" suara Sherly tiba-tiba memecah keheningan, suaranya dibuat seceria mungkin.
"Perhatian banget sama Aurora. Aku aja baru tahu ada selada yang namanya siomak. Benar-benar ya, Aurora emang kesayangan semua orang di sini."
Aurora menoleh ke arah Sherly, tersenyum tulus tanpa menaruh curiga.
"Iya Sher, ayah emang dari dulu teliti banget kalau soal makanan. Makasih ya yah, ini pasti enak banget dicocol sambal nanti malam."
Adrian melirik Sherly sebentar, memastikan tidak ada ledakan amarah, namun ia justru heran melihat Sherly yang tampak begitu "adem". Tumben dia nggak nyinyir, pikir Adrian curiga.
Bram yang berdiri di samping Firan menyenggol lengannya.
"Fir, lihat tuh. Sherly sekarang auranya sudah kayak malaikat ya? Nggak ada tanduknya lagi," bisik Bram geli.
Firan hanya terkekeh pelan di balik telapak tangannya.
"Ssst, jangan mancing-mancing. Biarkan saja, yang penting perjalanan kita damai."
"Ayo semuanya masuk lagi!" seru Rico yang sudah nangkring di kursinya paling belakang.
"Juna sudah siap tancap gas. Sayur-sayurannya sudah aman di bagasi kan? Jangan sampai ketinggalan, nanti kambingnya nangis kalau nggak ada teman sayurnya pas di-BBQ!"
"Rico! Mulutmu itu ya," sahut Siska sambil tertawa dan menarik Rico agar duduk tenang.
Satu per satu mereka kembali masuk ke dalam kabin Hiace yang sejuk. Saat melewati Aurora, Sherly sempat menyentuh lengan Aurora pelan.
"Nanti kalau di villa ajarin aku cara olah seladanya ya, Ra. Aku pengen belajar masak sayur yang enak kayak kamu."
"Tentu, Sher. Nanti kita masak bareng ya," jawab Aurora ramah.
Adrian yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala dalam hati.
Ia merasa suasana kali ini benar-benar aneh namun menyenangkan.
Tidak ada perang terbuka, hanya ada kehangatan yang dipaksakan oleh sebagian orang, dan kehangatan tulus dari yang lainnya.
"Oke, Juna, Rian, kita lanjut!" perintah Aurora setelah memastikan semua orang sudah duduk nyaman.
"Tujuan selanjutnya: Air Terjun Sipiso-piso. Siapkan kamera kalian, pemandangannya bakal luar biasa!"
aurora ni kepribadian ganda ato gimana sih kadang dingin kadang welcome😭
nyesel banget deh tu si adrian lebih milih ulet bulu kaya sherly
semoga endingnya aurora gak usah balikan sama adrian deh...