Sepuluh tahun lalu, hujan merenggut segalanya dari seorang gadis lima belas tahun. Tanah longsor menelan kedua orang tuanya tanpa jejak, memaksanya tumbuh sebelum waktunya. Sejak hari itu, Nala belajar satu hal: hidup bukan tentang memilih, tapi tentang bertahan.
Bersama adiknya, Niskala, ia pindah ke ibu kota dengan harapan masa depan yang lebih baik. Namun kenyataan jauh lebih kejam. Pendidikan dirampas, masa kecil dipaksa hilang, dan mereka harus berdiri di lampu merah menjual tisu demi bertahan hidup. Hingga suatu malam, dengan uang receh yang dikumpulkan diam-diam selama bertahun-tahun, Nala memilih kabur—membawa satu-satunya hal yang tak boleh hancur: mimpi adiknya.
Di kota yang tak pernah benar-benar peduli, Nala bekerja tanpa henti. Pagi sebagai kasir, siang di minimarket, malam menjadi barista, bahkan memasak mi di warnet sempit yang pengap. Tubuhnya lelah, perutnya sering kosong, tapi satu hal tak pernah goyah: Niskala harus tetap sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saqila nur sasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyemangat hidup
“Apakah semuanya akan berjalan sesuai dengan yang aku inginkan? Aku mohon dikehidupan ini tolong takdir bekerja sama dengan baik”
***
Setelah semua profesi yang ia lakukan Nala kecil yang ada pada dirinya muncul seorang anak perempuan yang masih merindukan kehadiran orang tuanya, ia ingin sekali berteriak pada semesta jika hidupnya ini sama sekali tidak adil. Saat semua orang menyelesaikan pendidikannya, berkumpul dengan keluarga setelah seharian bekerja dan meluapkan semua kegiatan hari ini pada kedua orang tuanya seperti saat ia masih kecil.
Nala terus berjalan perlahan menatapi langit yang penuh dengan bintang, air mata bahkan tak sanggup ia keluarkan bisa dibilang Nala tak bisa lagi menangisi keadaanya saat ini. Ia terus menatap langit berharap dikehidupannya kali ini takdir akan berpihak baik setelah kerja keras yang telah ia lakukan.
Di pojokan menuju ke arah kontrakan ia melihat segerombolan anak laki-laki yang sedang berkumpul minum-minuman, salah satu di antaranya berlari entah siapa itu. Nala tidak memperhatikannya dan ia juga tidak peduli asalakan tidak ada adiknya disana.
Tak butuh waktu lama Nala sampai didepan kontrakannya, ia membuka pintu kemudian melihat ke arah kamar sang adik yang saat itu tengah tidur pulas. Nala mendekat pada sang adik kemudian senyum di bibir Nala mengebang karena melihat penyemangat hidupnya yang hidup dengan baik.
Nala Kembali menutup Kembali pintu kamar sang adik, kontrakan yang saat ini ia tempati memiliki dua kamar dengan ruang makan dan dapur sepetak yang Bersatu jadi satu. Nala duduk di meja makan membuka aplikasi m-banking di ponselnya. Nala mengetikan password dan melihat saldo yang ia miliki. Tidak banyak memang, tapi cukup untuk membayar uang kuliah semesteran sang adik dan juga kebutuhan sehari-hari hingga waktu gajihannya tiba.
Setelah itu Nala mandi dan membersihkan badannya untuk segera tidur. Pagi nanti ia akan Kembali menjalankan rutinitasnya. Nala membaringkan tubuhnya di kasur sederhana miliknya, perlahan dia menutup mata dan tak butuh waktu lama dia terlelap tidur.
Pagi hari pukul 9 Nala baru bangun, tubuhnya tidak bisa membohongi diri jika sangat kelelahan. Tidak perlu ditanya seberapa panik ia. Puluhan panggilan telepon tak terjawab terpampang jelas dilayar ponsel, dari sang pemilik toko minimarket. Nala saat ini sudah siap, mandi secepat kilat dengan pakaian yang ia lihat di depan mata tanpa memikirkan penampilan, make up tidak perlu ditanya ia tak memakainya bahkan menyisir rambut pun dengan sangat tergesah. Nala duduk di dekat pintu untuk memakai sepatu, namun saat bergegas memakai sepatu ia melihat selembar kertas karena rasa penasaran muncul seraya langsung membuka kerta tersebut dan membacanya.
Mata Nala terbelalak dengan sangat lebar melihat selembar kertas tersebut seperti petir yang menyambar di siang hari tanpa adanya hujan. Selembar kertas itu berisi surat peringatan untuk sang adik dari kampus. Nala marah besar setelah melihat surat peringatan tersebut, seraya Nala langsung mecari Kala untuk meminta penjelasan dari sang adik. Tetapi Kala sudah tidak ada di kamar, bersamaan dengan itu sang pemilik toko terus menelpon Nala agar segera datang ke toko.
Akhirnya Nala bergegas untuk berangkat dengan hati dan pikiran tertuju pada sang adik, semua kekesalan dan juga pertanyaan yang ia bawa menuju tempat pekerjaanya. Menempuh waktu 20 menit ia sampai di toko minimarket dengan wajah sang pemilik toko ditekuk marah.
“lu kemana aja Nala? Kalo gak niat kerja gak usah datang” ucap sang pemilik toko dengan mimik wajah yang sangat marah, kemudian Nala bergegas menuju kasir dan juga menyusun beberapa makanan di rak. Sedangkan sang pemilik toko terus memarahi Nala tanpa henti, namun pikiran Nala masih pada sang adik.
Flasback on
Hari-hari di kota tidak pernah benar-benar memberi jeda. Lampu merah, klakson, asap knalpot, dan terik matahari menjadi rutinitas yang menggerus perlahan. Nala belajar tersenyum tanpa hati, melangkah cepat saat lampu hampir hijau, dan menarik Kala ke belakang trotoar sebelum suara klakson berubah menjadi amarah.
Sesekali, Nala mencoba melawan.
“Uangnya jangan diambil semua, Tante. Ini buat makan kami,” katanya suatu malam dengan suara bergetar.
Sari menatap dingin. “Kamu mau ngatur? Tanpa Tante, kalian makan apa?”
Kata-kata itu menancap. Nala terdiam. Ia tahu, setiap perlawanan selalu berakhir sama diam, kalah, dan rasa bersalah karena Kala ikut menerima dampaknya.
Pergi bukan pilihan yang mudah.
Setiap kali pikiran itu muncul, pertanyaan yang sama menghantam kepalanya: pergi ke mana? Kota ini luas, tapi bagi dua anak tanpa siapa-siapa, dunia terasa sempit. Tidak ada alamat tujuan, tidak ada orang yang menunggu.
Maka Nala memilih diam.
Ia mulai menyimpan uang receh diam-diam. Diselipkan di balik kaus, dimasukkan ke kaleng bekas biskuit yang disembunyikan di bawah kasur tipis. Kala tahu. Dia tidak pernah bertanya ia hanya ikut menyisihkan, mengangguk pelan setiap kali Nala memberi isyarat.
Satu tahun berlalu.
Kala tumbuh lebih tinggi, tapi tubuhnya tetap kurus. Nala belajar membaca peta kota dari obrolan orang-orang di terminal. Ia mulai mencatat harga kontrakan murah di sudut-sudut kota yang jauh dari rumah Tante Sari. Setiap informasi disimpan rapat-rapat seperti rahasia hidup.
Dua tahun berlalu.
Kaleng biskuit itu kini berat. Tidak cukup untuk hidup lama, tapi cukup untuk satu kesempatan.
Malam itu, Nala menatap Raka yang sudah terlelap. “Kita pergi,” bisiknya pelan, lebih seperti janji pada diri sendiri.
Mereka keluar sebelum subuh. Tidak membawa banyak barang hanya pakaian seperlunya, ijazah yang dibungkus plastik, dan kaleng uang receh yang kini menjadi harapan.
Kontrakan itu kecil, dindingnya lembap, atapnya bocor di satu sisi. Tapi jaraknya jauh. Terlalu jauh untuk Sari menemukan mereka.
Hari pertama terasa seperti berdiri di tepi jurang. Takut, tapi bebas.
Nala bekerja apa saja. Mencuci piring di warung, membersihkan toko, membantu angkat barang di pasar. Tangan dan punggungnya sering nyeri, tapi ia tidak pernah mengeluh.
“Sekolah lagi, ya,” katanya pada Kala suatu pagi, menyerahkan seragam bekas yang baru saja ia beli. “Tugas kamu cuma belajar.”
Kala menatapnya lama, lalu memeluknya erat. “Aku janji, mbak.”
Saat Kala kembali mengenakan seragam dan melangkah ke sekolah, Nala berdiri di depan kontrakan sempit itu. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, dadanya terasa lapang meski perut sering kosong.
Ia tahu hidup belum baik. Tapi mereka tidak lagi dijual oleh keadaan. Dan di kota yang dulu menelan mereka, Nala akhirnya berdiri Lelah, sendirian, tapi bebas.
Pagi bagi Nala selalu dimulai sebelum matahari benar-benar muncul. Ia bangun dalam gelap, menanak nasi dengan beras yang dihemat sebutir demi sebutir, lalu menyiapkan air hangat untuk Kala mandi sebelum sekolah. Tangannya kasar, punggungnya sering terasa seperti ditarik, tapi setiap kali melihat seragam itu tergantung rapi, ada rasa hangat yang menahan lelahnya. Ia tidak ingin Kala tahu betapa beratnya dunia di luar sana.
Setelah Kala berangkat sekolah, Nala bekerja tanpa jeda. Pagi di warung makan, siang membantu di toko sembako, malam kadang menerima cucian tambahan dari tetangga kontrakan. Tubuhnya seperti mesin yang tak boleh rusak. Karena jika ia berhenti, maka sekolah Kala ikut berhenti. Nilai Kala bagus. Bahkan sangat bagus.
Suatu sore, Kala pulang dengan wajah berbinar.
“mbak, aku ranking dua.” Nala tersenyum lebar, mungkin terlalu lebar untuk seseorang yang baru saja berdiri sepuluh jam tanpa duduk.
“Kenapa bukan satu?” godanya pelan. Kala tertawa kecil.
Sejak itu, Nala mulai mencari informasi tentang les tambahan. Matematika, Bahasa Inggris, bahkan kursus komputer kecil di ruko dekat pasar. Biayanya tidak murah untuk ukuran mereka. Tapi Nala tidak pernah menghitung pengorbanannya, ia hanya menghitung masa depan. Ia mengurangi makannya sendiri agar uang cukup. Kadang ia bilang sudah makan di warung, padahal yang ia minum hanya air putih.
“Mbak, kamu capek nggak?” tanya Kala suatu malam ketika melihat Nala tertidur sambil masih memegang setrika. Nala membuka mata pelan.
“Capek itu nanti kalau kamu berhenti sekolah.” Kalimat itu tidak pernah ia ucapkan lagi. Tapi Kala mengingatnya.
Tahun demi tahun berlalu. Kala masuk SMP, lalu SMA favorit di kota itu dengan beasiswa sebagian karena prestasinya. Tapi beasiswa tidak menutup semuanya. Masih ada buku, seragam, transportasi, biaya les tambahan untuk persiapan ujian masuk perguruan tinggi. Nala semakin kurus. Tulang pipinya menonjol, lingkar matanya menggelap. Namun setiap kali Kala berbicara tentang cita-citanya ingin menjadi Arsitek, ingin membangun rumah tahan longsor agar tak ada anak lain kehilangan orang tuanya, mata Nala selalu berbinar.
Ia tahu, mimpinya sendiri mungkin sudah lama terkubur. Ia tidak melanjutkan sekolah. Ia tidak punya waktu memikirkan masa depannya. Ia hanya punya satu tujuan: memastikan Kala tidak mengulang hidupnya.
Di malam-malam sunyi, saat kontrakan kecil itu dipenuhi suara kipas angin tua, Nala sering duduk sendirian. Ia membuka map plastik biru berisi ijazah SMP-nya. Jemarinya menyentuh kertas itu pelan, lalu ia menutupnya kembali.
“Tidak apa-apa,” bisiknya pada diri sendiri.
“Mimpiku ada di dia.” Dan di kota yang dulu hampir mematahkan mereka, Nala memilih satu hal untuk dipertahankan mati matian: pendidikan adiknya. Karena baginya, jika Kala bisa berdiri lebih tinggi, maka semua lelahnya akan terbayar, meski namanya sendiri tak pernah disebut dalam keberhasilan itu.
Waktu akhirnya menunjukkan sisi yang lebih lembut.
Kontrakan lama yang lembap dan sempit perlahan menjadi kenangan. Tabungan Nala memang tidak pernah banyak, tapi cukup untuk membawa mereka pindah ke tempat yang sedikit lebih layak. Bukan rumah besar, bukan juga apartemen mewah hanya kontrakan sederhana dengan dua kamar kecil, dapur dan ruang makan yang menyatu, serta jendela yang benar-benar bisa dibuka untuk membiarkan cahaya masuk.
Hari pertama mereka pindah, Kala berdiri di tengah ruangan kosong sambil tersenyum lebar
“mbak… ini gede banget” Nala tertawa pelan. Padahal luasnya tak seberapa. Tapi dibanding tempat lama, ini seperti naik satu tangga kehidupan.
Kala lulus SMA dengan nilai baik. Ia mengenakan seragam putih abu-abu terakhirnya dengan bangga. Nala hadir di acara kelulusan, berdiri di belakang, tidak banyak bicara, hanya menatap adiknya yang kini hampir setinggi dirinya.
Namun kebahagiaan itu tidak sepenuhnya utuh. Beasiswa yang Kala ajukan ke universitas negeri impiannya ditolak. Ia gagal di ujian tahap akhir hanya selisih beberapa poin. Kala mengurung diri di kamar semalaman.
“Aku coba lagi tahun depan,” katanya keesokan paginya dengan suara datar. “Aku kerja dulu aja, Mbak. Biar nggak nambah beban.”
Alya yang sedang memotong sayur berhenti. Pisau di tangannya terdiam.
“Kamu kuliah tahun ini,” ucapnya tegas
Kala menggeleng. “Biayanya mahal. Aku nggak mau kamu kerja lebih keras lagi”.
Nala menatapnya lurus. Tatapan yang jarang ia tunjukkan keras, hampir keras kepala.
“aku bisa”
“Mbak---”
“Aku bisa!” suaranya meninggi untuk pertama kalinya sejak lama. “Dari dulu aku bilang apa? Tugas kamu cuma sekolah. Itu belum berubah”.
Kala terdiam. Ia tahu nada itu. Nada yang tidak memberi ruang untuk dibantah.
Nala memang sudah menyiapkan sesuatu.
Ia mengambil pekerjaan tambahan di gudang distribusi pada malam hari. Upahnya lebih besar, meski jam kerjanya membuat tubuhnya hampir tak punya waktu istirahat. Ia juga mulai menerima pesanan masakan rumahan dari beberapa karyawan kantor dekat pasar.
Setiap lembar uang ia lipat rapi. Setiap rasa lelah ia telan sendiri.
“Ini bukan cuma tentang kamu,” katanya suatu malam dengan suara lebih lembut. “Ini tentang kita. Tentang semua yang sudah kita lewati”.
Kala menunduk, matanya memerah. “Aku janji nggak akan sia-siain.” Dan untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan kaki gunung, masa depan terasa sedikit lebih jelas. Di kontrakan dua kamar itu, Nala tidur dengan tubuh lelah tapi hati yang lebih tenang. Ada dapur kecil tempat ia memasak tanpa takut atap bocor. Ada meja makan sederhana tempat mereka berbagi cerita. Ada kamar untuk Kala belajar sampai larut malam tanpa suara tetesan air mengganggu. Rumah itu bukan istana. Tapi itu adalah bukti, Bahwa dua anak yang dulu berdiri di lampu merah dengan plastik tisu kini berdiri di ruang makan kecil dengan mimpi yang masih utuh. Dan Nala, meski dunia tak pernah tahu namanya, ia tahu satu hal pasti Ia tidak akan membiarkan garis nasib berhenti di dirinya.
Flasback off
Hingga saat ini ia memilih untuk bekerja dengan penghasilan tetap bekerja sebagai kasir, barista dan sesekali bekerja di warnet untuk menambah penghasilan. Ketika Nala menyusun barang di rak tiba-tiba air matanya jatuh, hatinya sangat sakit. Sedangkan sang pemilik toko kebingungan dengan sikap Nala.
“lu kenapa Nala?” Tanya sang pemilik toko, bukannya tangisan Nala mereda tetapi malah semakin deras, dengan bergegas Nala berlari ke arah Gudang untuk mneyembunyikan kesedihan itu,dan sang pemilik toko membiarkan Nala meluapkan segalanya. Tak pernah ada seorang pun tahu bagaimana tangisan Nala hanya dia yang tahu dan semesta, Tapi untuk kali ini dihadapan sang pemilik toko Nala terlihat sedikit rapuh.
Nala menangis dengan lepas di dalam Gudang. Gudang toko tersebut menjadi saksi betapa rapuhnya Nala dengan semua beban yang ditanggung olehnya selama ini, bahkan masalah itu bukan berasal dari diriya sendiri.