Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Sinar Matahari di Balik Jendela Kaca
Pagi di Sanatorium datang tidak dengan kebisingan, melainkan dengan kelembutan yang menyakitkan bagi seseorang yang telah lama hidup dalam pelarian. Sinar matahari menerobos masuk melalui celah-celah pohon pinus yang menjulang tinggi, menciptakan garis-garis emas yang menari di atas lantai marmer kamar Sari. Udara di dalam ruangan itu terasa murni, disaring oleh teknologi mutakhir namun tetap menyisakan aroma embun pegunungan yang masuk melalui ventilasi kecil di sudut atas.
Aruna terbangun dengan perasaan yang aneh—perasaan tenang yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia menyadari dirinya tertidur di kursi santai berbahan beludru di samping tempat tidur ibunya. Sebuah selimut kasmir hitam yang berat dan hangat menyelimuti tubuhnya hingga ke dagu. Aruna menghirup aromanya; itu adalah aroma Dante. Campuran antara kayu cendana, tembakau mahal, dan sesuatu yang dingin namun protektif. Selimut itu bukan hanya penghangat, tapi sebuah pernyataan bahwa pria itu telah menjaganya sepanjang malam.
Aruna menoleh ke arah ranjang. Sari masih tertidur, namun pagi ini, ada semburat merah muda yang sehat di pipinya. Aruna tersenyum kecil, ia berdiri dan merapikan kardigan rajutnya. Langkah kakinya yang tanpa alas kaki terasa dingin saat ia berjalan menuju balkon.
Di bawah sana, di halaman rumput yang dikelilingi pagar kawat sensor yang tersembunyi, Aruna melihat pemandangan yang membuat dunianya seakan berhenti berputar sejenak.
Dante Valerius ada di sana. Sang predator yang biasanya dibungkus setelan jas custom-made seharga ratusan juta rupiah, kini tampak jauh lebih manusiawi. Ia mengenakan kaus hitam polos yang melekat ketat pada dada dan bahu lebarnya, menampakkan otot-otot yang terbentuk dari latihan keras dan pertempuran nyata. Ia sedang berdiri di belakang Leonardo, membimbing tangan kecil putranya untuk memegang sebuah busur panah kayu.
"Jangan hanya menahan napas, Leo. Rasakan detak jantungmu sendiri. Lepaskan anak panahnya di antara dua detakan itu," suara Dante berat dan tenang, terbawa angin pagi yang sejuk.
Leonardo menarik busur itu dengan kesungguhan yang luar biasa. Di samping mereka, Nadia—adik kandung Aruna yang masih kecil—duduk di atas rumput. Ia sibuk merangkai bunga-bunga liar menjadi mahkota, sesekali tertawa saat melihat Leonardo gagal mengenai sasaran. Pemandangan itu begitu normal, begitu domestik, hingga Aruna hampir lupa bahwa pria di bawah sana adalah sosok yang ditakuti oleh seluruh dunia bawah tanah Jakarta.
Aruna turun ke halaman melalui tangga spiral luar. Begitu kakinya menyentuh rumput yang masih basah, Dante langsung menoleh. Insting seorang mafia memang tidak pernah tidur, namun kali ini, tatapannya tidak tajam. Mata abu-abunya melembut saat melihat Aruna dengan rambut yang sedikit berantakan dan wajah tanpa riasan.
"Kau bangun lebih awal, Aruna," ujar Dante. Ia menyerahkan busur itu pada Marco yang berdiri tak jauh di sana, lalu melangkah mendekat.
Dante berhenti tepat di depan Aruna. Tanpa kata, ia mengulurkan tangan, merapikan anak rambut yang menutupi mata Aruna, lalu mengecup keningnya. Kecupan itu singkat, namun hangatnya bertahan lama di kulit Aruna. Ada getaran hebat yang merambat dari kening menuju dadanya. Aruna merasa seluruh kebencian yang ia simpan sejak malam di RS Medika mulai menguap, digantikan oleh rasa ketergantungan yang manis.
"Udara di sini terlalu indah untuk dilewatkan dengan tidur," bisik Aruna. Ia menatap Leonardo yang kini berhasil mengenai papan sasaran. "Kau selalu mengajarinya cara bertarung, Dante. Apakah dia tidak bisa menjadi anak biasa saja?"
Dante terkekeh rendah, suara yang biasanya terdengar mengancam itu kini terdengar seperti musik bagi Aruna. Ia merangkul pinggang Aruna, menariknya lebih dekat hingga pinggul mereka bersentuhan. "Di dunia kita, Aruna, menjadi 'biasa' adalah hukuman mati. Aku mengajarinya agar dia bisa melindungimu saat aku tidak ada nanti."
"Mama! Lihat! Aku kena!" teriak Leonardo kegirangan, berlari menuju Aruna dan memeluk pinggangnya.
Aruna mengusap keringat di dahi Leonardo. Meskipun bukan anak kandungnya, ikatan mereka telah terpatri sejak Aruna menyusui bayi merah itu .Leonardo adalah putranya dalam segala hal yang berarti, kecuali darah. "Hebat, Sayang. Tapi ingat, jangan pernah gunakan itu untuk menyakiti orang yang lemah, oke?"
"Iya, Ma!" jawab Leonardo tegas, persis seperti ayahnya.
Nadia mendekat, memberikan mahkota bunga yang baru saja ia buat kepada Dante. "Tuan Dante, ini untuk Tuan agar tidak galak lagi."
Aruna menahan tawa saat melihat Dante, sang bos mafia besar, dipaksa membungkuk agar Nadia bisa memakaikan mahkota bunga liar itu di kepalanya. Dante menatap Aruna dengan wajah pasrah, sementara Aruna tertawa lepas—sebuah tawa yang jujur dan jernih yang belum pernah Dante dengar selama tujuh tahun terakhir.
Mereka pindah ke teras luar yang menghadap ke lembah untuk sarapan. Marco telah menyiapkan hidangan yang jauh dari kesan formal; ada roti gandum panggang, selai buah buatan tangan, dan kopi hitam yang aromanya memenuhi udara.
Dante mengoleskan mentega pada roti dengan telaten, lalu meletakkannya di piring Aruna. "Aku sudah meninjau laporan akademismu dari tujuh tahun lalu, Aruna."
Aruna terhenti saat hendak meminum jusnya. "Kenapa?"
"Kau adalah mahasiswi bioteknologi yang cemerlang sebelum kecelakaan ibumu terjadi. Nilai-nilaimu sempurna," Dante menyesap kopinya, matanya tetap terkunci pada Aruna. "Aku sudah mengatur agar kau bisa melanjutkan studimu. Universitas swasta di pusat kota akan menerima transfer kreditmu. Kau bisa mulai belajar secara daring dari sini, atau jika kau merasa siap, kau bisa pergi ke kampus dengan pengawalan Marco."
Aruna meletakkan gelasnya dengan tangan gemetar. Selama ini ia pikir Dante hanya menganggapnya sebagai "alat" atau "ibu asuh" bagi anaknya. Ia tidak pernah menyangka Dante memikirkan masa depan dan impiannya yang sempat terkubur.
"Kenapa kau melakukan ini, Dante? Kontrak kita sudah terpenuhi. Leonardo sehat, dan aku... aku sudah menjadi milikmu."
Dante menggenggam tangan Aruna di atas meja. Jemarinya yang kasar mengusap punggung tangan Aruna dengan lembut. "Dulu, aku membelimu karena aku butuh kau. Sekarang, aku mendukungmu karena aku menginginkanmu. Aku ingin wanita yang berdiri di sampingku adalah wanita yang bangga dengan dirinya sendiri, bukan wanita yang merasa hidupnya telah berakhir di tangan seorang Valerius."
Aruna merasakan getaran cinta yang luar biasa. Ia menyadari bahwa Dante tidak lagi ingin menjadi pemiliknya, melainkan pasangannya. Perasaan benci yang dulu ia gunakan sebagai perisai kini telah hancur sepenuhnya.
Tiba-tiba, suara interkom dari dalam kamar Sari berbunyi nyaring. Dokter pengawas memberikan sinyal darurat. Serentak, Dante dan Aruna berdiri, diikuti oleh Leonardo dan Nadia yang tampak cemas.
Di dalam kamar, Sari tampak sedang berjuang. Kelopak matanya bergerak-gerak liar, dan napasnya mulai terengah-engah. Monitor di dinding menunjukkan aktivitas gelombang otak yang sangat tinggi.
"Ibu! Ibu, ini Aruna!" Aruna segera duduk di sisi tempat tidur, menggenggam tangan ibunya erat-ibu.
Dante berdiri di belakang Aruna, meletakkan tangannya di bahu Aruna untuk memberikan dukungan fisik dan mental. Kehadirannya yang kokoh seolah menjadi jangkar bagi Aruna di tengah badai emosi.
Perlahan, mata Sari terbuka. Ia berkedip beberapa kali sebelum fokus pada wajah Aruna. Bibirnya yang pucat bergerak lemah, mengeluarkan suara yang sudah terkunci selama tujuh tahun penderitaan.
"A...ru...na..."
"Iya, Bu. Aku di sini. Aku tidak pernah pergi," Aruna terisak bahagia, menciumi tangan ibunya.
Sari mengalihkan pandangannya pada Dante yang berdiri di belakang Aruna. Ia melihat bagaimana tangan besar Dante memegang bahu anaknya dengan begitu protektif. Ia juga melihat Leonardo dan Nadia yang berdiri di ujung tempat tidur.
Sari menatap Dante lama, seolah sedang membaca jiwa pria itu. Kemudian, dengan sisa kekuatannya, ia berbisik pada Dante, "Terima kasih... telah membawanya... pulang."
Dante menundukkan kepalanya sedikit, tanda hormat yang jarang ia berikan pada siapa pun. "Dia adalah hidupku, Nyonya Sari. Dan selama saya masih bernapas, tidak akan ada yang bisa menyakitinya lagi."
Pagi itu, di bawah perlindungan Menara Kaca, Aruna menyadari satu hal. Masa lalunya yang kelam di RS Medika memang tidak bisa dihapus, tapi masa depannya bersama Dante baru saja dimulai. Mereka bukan lagi sekadar kontrak satu miliar rupiah. Mereka adalah keluarga yang ditempa oleh api, dan kini mereka siap berjalan bersama menuju cahaya.
Aruna menatap Dante, dan untuk pertama kalinya, ia tidak melihat sosok monster. Ia melihat rumah.