NovelToon NovelToon
Takhta Sang Ratu Mineral

Takhta Sang Ratu Mineral

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

"Lima tahun lalu, aku hanyalah gadis desa yang dihargai murah dalam sebuah kontrak rahim. Zhang Liang membeliku untuk pewarisnya, lalu membuangku saat misinya selesai."
Alya menghilang membawa rahasia besar: sepasang anak kembar yang memiliki darah empat pria paling berpengaruh di Jakarta.
Kini, ia kembali bukan sebagai Alya yang lemah, melainkan Alana Wiratama—sang Ratu Mineral yang memegang kendali atas harta yang paling diinginkan dunia. Saat empat naga yang dulu menindasnya kini berlutut memohon pengampunan, Alana hanya punya satu aturan:
"Aku tidak butuh pelindung. Aku datang untuk mengambil kembali takhtaku."
Akankah cinta sang miliarder mampu melunakkan hati wanita yang sudah ia hancurkan? Ataukah ini akhir dari kekuasaan para Naga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RATU DI ANTARA PARA SERIGALA

Lampu-lampu gantung kristal di aula utama Grand Ballroom Hotel Mulia berpijar seperti ribuan mata yang menatap tajam. Malam ini bukan sekadar gala bisnis biasa; malam ini adalah peluncuran Wiratama Mineral Foundation, sebuah entitas yang secara mengejutkan memegang kendali atas cadangan mineral langka terbesar di Asia Tenggara—mineral yang selama tiga dekade disembunyikan di balik kebun kopi sederhana di lereng Lawu.

Jakarta sedang berbisik. Bagaimana mungkin seorang wanita yang dulu dianggap sebagai "istri kontrak" yang hilang, kini kembali dengan kekuatan yang sanggup mengguncang bursa saham sektor pertambangan?

Alya berdiri di depan cermin besar di ruang ganti VIP. Ia mengenakan gaun sutra berwarna hitam pekat dengan potongan bahu tegas, memberikan kesan otoritas yang tak tergoyahkan. Di lehernya melingkar kalung safir pemberian mendiang nenek Zhang—simbol bahwa ia telah mengambil alih kehormatan keluarga itu dengan caranya sendiri.

"Ibu cantik sekali," suara kecil Cahaya memecah keheningan. Anak perempuan itu mengenakan gaun senada, sementara Bintang berdiri di sampingnya dengan setelan tuksedo kecil yang membuatnya tampak seperti versi mini dari Zhang Liang yang lebih hangat.

"Terima kasih, Sayang," Alya berlutut, merapikan dasi kupu-kupu Bintang. "Ingat pesan Ibu? Tetap di dekat Tante Saraswati dan jangan bicara dengan orang asing kecuali Ibu ada di sana."

"Siap, Kapten!" Bintang memberi hormat dengan tegas.

Saat pintu ballroom terbuka, denting gelas sampanye seketika berhenti. Alya melangkah masuk, membelah kerumunan pengusaha, politikus, dan spekulan internasional. Di belakangnya, empat Naga Timur berjalan dalam formasi yang belum pernah terlihat sebelumnya: mereka tidak lagi di depan memimpin jalan, melainkan menjadi barikade pelindung di belakang Alya.

Zhang Liang di sisi kiri, tampak waspada. Wei Jun di sisi kanan, terus mengamati setiap tamu melalui lensa kacamata pintarnya. Luo Cheng berdiri di garis belakang dengan tangan yang selalu siap di balik jasnya, sementara Han Zhihao duduk di pojok ruangan dengan perangkat monitor yang memantau setiap denyut komunikasi di gedung tersebut.

Alya naik ke podium. Tanpa catatan, tanpa keraguan.

"Selamat malam, Tuan dan Nyonya," suaranya bergema jernih. "Wiratama Mineral bukan sekadar perusahaan tambang. Kami adalah pemegang hak atas masa depan teknologi baterai dunia. Dan mulai malam ini, saya menyatakan bahwa tidak ada satu pun perusahaan, termasuk empat raksasa di ruangan ini, yang akan mendapatkan akses eksklusif tanpa komitmen terhadap kelestarian lingkungan dan kesejahteraan rakyat Lawu."

Sebuah pernyataan perang yang halus. Para kartel internasional di barisan depan mulai saling bertukar pandang penuh kegelisahan.

Di tengah pesta, seorang pria asing dengan aksen Eropa yang kental mendekati Alya. Namanya Viktor Volkov, perwakilan dari Global Core Resources, sebuah kartel mineral yang dikenal memiliki jejak darah di Afrika dan Amerika Latin.

"Nyonya Wiratama, sebuah pidato yang sangat berani," ucap Viktor sambil menyesap minumannya. "Namun, dunia ini tidak dikendalikan oleh idealisme. Dunia ini dikendalikan oleh kebutuhan. Dan kami sangat butuh mineral Anda. Kami menawarkan harga tiga kali lipat dari harga pasar, asalkan Anda memutus kontrak sosial Anda dengan pemerintah setempat."

Alya menatap mata Viktor tanpa berkedip. "Penawaran Anda ditolak, Tuan Volkov. Saya tidak menjual tanah ayah saya untuk menghancurkan tanah orang lain."

Viktor tersenyum, namun matanya tetap dingin. "Sayang sekali. Naga-naga di belakang Anda mungkin kuat di Jakarta, tapi mereka hanya cacing di panggung global. Anda baru saja membuat kesalahan yang sangat mahal."

Saat Viktor berlalu, Han Zhihao mendekati Alya, berbisik melalui earpiece. "Alana, jangan bergerak. Sensor termalku mendeteksi tiga orang asing masuk melalui lift servis. Mereka tidak ada dalam daftar undangan. Volkov tidak datang untuk bernegosiasi, dia datang untuk menekan."

Tiba-tiba, lampu seluruh gedung padam. Suara kepanikan mulai pecah di dalam ballroom.

"BINTANG! CAHAYA!" teriak Alya.

Dalam kegelapan total, sebuah tangan kuat menarik bahu Alya. Ia hampir berteriak sebelum mencium aroma parfum cendana yang sangat dikenalnya.

"Ini aku, Alya. Tetap di belakangku," suara Zhang Liang terdengar tenang namun penuh otoritas.

"Zhi! Hidupkan sistem cadangan!" teriak Liang ke arah kegelapan.

"Sedang kucoba! Mereka meretas mainframe gedung! Ini bukan serangan amatir!" balas Zhihao dari posisinya.

Terdengar suara dentuman keras dari arah pintu darurat. Tiga sosok bayaran mencoba merangsek masuk ke arah Alya berada. Namun, sebelum mereka bisa mendekat, Luo Cheng sudah berada di sana. Dalam kegelapan, ia bergerak seperti hantu yang ganas. Suara pukulan dan rintihan kesakitan terdengar bersahutan.

"Mau coba-coba menculik keponakanku?!" raung Luo Cheng.

Di sisi lain, Wei Jun menarik Alya dan anak-anak menuju lorong rahasia di balik podium. "Alya, ikut aku. Mobil evakuasi sudah menunggu di basement 2. Liang, kau tahan mereka di sini!"

Liang mengangguk. Untuk pertama kalinya, ia memberikan kepercayaan penuh pada Wei Jun untuk membawa keluarganya pergi, sementara ia sendiri berdiri sebagai tameng terakhir di pintu keluar.

Wei Jun memacu mobil sedan lapis bajunya keluar dari hotel, diikuti oleh dua mobil pengawal. Namun, sebuah truk besar tiba-tiba muncul dari arah persimpangan Slipi, mencoba menghantam sisi mobil mereka.

"Pegang erat, Cahaya! Bintang, merunduk!" perintah Wei Jun sambil memutar kemudi dengan lihai.

Alya memeluk kedua anaknya dengan erat. Ia melihat ke belakang melalui kaca antipeluru. Mobil-mobil pengejar terus menembaki mereka.

"Zhihao! Di mana bantuan?!" teriak Wei Jun melalui sambungan telepon.

"Dua menit lagi! Luo Cheng sedang mengejar dengan motornya dari arah belakang pengejar! Aku sudah meretas lampu lalu lintas untuk menutup jalan mereka!" suara Zhihao terdengar di sela-sela suara tembakan.

Tiba-tiba, sebuah ledakan kecil menghantam ban belakang mobil pengawal di belakang mereka. Mobil itu tergelincir, menutup jalan bagi pengejar, namun juga mengisolasi mobil Wei Jun dan Alya.

Di sebuah lorong buntu dekat area konstruksi MRT, mobil Wei Jun terpaksa berhenti karena jalanan ditutup oleh beton-beton raksasa. Tiga mobil hitam mengepung mereka. Viktor Volkov turun dari salah satu mobil, memegang sebuah dokumen.

"Keluar, Nyonya Wiratama. Cukup tanda tangani ini, dan anak-anak Anda akan pulang dengan selamat malam ini," teriak Viktor dari luar.

Alya menatap Wei Jun. Pria itu tampak terluka di lengannya akibat serpihan kaca, namun ia tetap menggenggam senjatanya.

"Jangan keluar, Alya. Aku masih punya satu peluru untuk setiap dari mereka," bisik Wei Jun.

"Tidak," ucap Alya. Ia melepaskan pelukannya dari anak-anak. "Bintang, Cahaya, tutup mata kalian. Ibu akan segera kembali."

Alya membuka pintu mobil. Ia melangkah keluar dengan kepala tegak, gaun hitamnya berkibar ditiup angin malam. Ia berdiri di hadapan Volkov tanpa rasa takut.

"Kau ingin tanda tanganku, Viktor? Kau lupa satu hal tentang orang Indonesia," ucap Alya dengan nada yang sangat rendah. "Kami lebih suka mati daripada menyerahkan tanah kami kepada penjajah sepertimu."

Tepat saat Viktor hendak memerintahkan anak buahnya untuk maju, suara deru mesin motor yang memekakkan telinga terdengar. Luo Cheng melompat dari motornya yang masih melaju, menabrak dua penjaga Viktor sekaligus. Di saat yang sama, tim taktis dari Zhihao Security turun dari helikopter yang tiba-tiba muncul di atas mereka.

Zhang Liang tiba beberapa detik kemudian dengan mobil yang sudah hancur di bagian depan. Ia keluar dengan wajah penuh kemarahan. Ia berjalan melewati Luo Cheng dan langsung mendaratkan pukulan telak ke wajah Viktor Volkov.

"Berani sekali kau menyentuh istriku!" raung Liang.

"Mantan istri, Mas," koreksi Alya pelan di tengah kekacauan, meski ia tidak bisa menyembunyikan rasa lega di matanya.

Setelah polisi mengamankan Viktor dan anak buahnya, suasana menjadi sunyi kembali. Alya berdiri di antara empat naga yang kini tampak compang-camping namun berdiri tegak menjaganya.

"Terima kasih," ucap Alya. Ia menatap mereka satu per satu. "Kalian menyelamatkan kami hari ini."

"Kami tidak menyelamatkanmu, Alana," ucap Han Zhihao yang baru saja tiba dengan tabletnya. "Kau yang menyelamatkan kami. Jika kau menyerah tadi, kami semua akan kehilangan alasan untuk menjadi kuat."

Liang mendekati Alya, mencoba menyentuh tangannya namun ragu. "Alya... Volkov benar. Ini baru awal. Kartel global akan terus mengincarmu karena mineral itu. Kau tidak bisa sendirian."

Alya menatap langit Jakarta yang gelap. Ia membelai kepala Bintang dan Cahaya yang kini sudah keluar dari mobil dan memeluk kakinya.

"Aku tahu," jawab Alya. "Tapi aku punya empat naga yang paling ditakuti di kota ini sebagai baris pertahananku, bukan? Jika kalian bisa bekerja sama seperti malam ini, maka biarlah mereka datang. Wiratama tidak akan pernah jatuh."

Malam itu, di bawah lampu jalan yang temaram, sebuah aliansi baru resmi terbentuk. Bukan berdasarkan kontrak bisnis, bukan berdasarkan rahim sewaan, tapi berdasarkan sebuah penebusan yang tulus. Alya bukan lagi tawanan para naga; dialah yang memegang kendali atas mereka.

Namun, di dalam bayangan gedung yang jauh, sebuah kamera masih terus merekam. Suara Madam Liu Xian terdengar dari balik ponsel yang dipegang oleh seseorang yang tak terlihat.

"Biarkan mereka merasa menang malam ini. Volkov hanyalah umpan. Rencana yang sesungguhnya akan dimulai saat anak-anak itu merayakan ulang tahun mereka yang keenam."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!