Dio tak menyangka wanita yang ditemuinya dalam hitungan jam berani melamarnya. Bagi dirinya itu adalah sebuah penghinaan meskipun wanita yang ditolongnya cantik dan mampu memberikan seluruh harta. Dio pun menolak keinginannya, tetapi si cantik Laras tetap terus mengejarnya.
Apakah Dio bersedia menerima lamarannya atau tetap pada pendiriannya mencintai kekasihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode Kesepuluh
Maya dan putrinya saling pandang mendengar Dio menanyakan mengenai lamaran. Padahal tadi pagi Dio meminta keluarganya Laras memberikan dirinya tenggang waktu.
"Kamu serius mau melamar Laras secepatnya?" tanya Maya menatap wajah putranya.
Dio mengangguk mengiyakan.
"Bukankah kamu bilang tunggu satu atau dua minggu lagi?" tanya Maya lagi.
"Lebih cepat lebih bagus," jawab Dio.
"Ah, baiklah kalau begitu. Ibu akan bicara kepada ayahmu, jika kamu sudah mantap maka besok malam kita ke rumahnya Laras!" kata Maya tersenyum senang.
Dio bangkit dan masuk ke rumah.
"Bu, ini tidak salah 'kan?" tanya Diana.
"Salah apanya?" Maya balik bertanya.
"Wajah Kak Dio kenapa aneh?" tanya Diana lagi.
"Biasa itu kalau lagi putus, besok-besok dia juga kembali ceria," jawab Maya tersenyum lega.
"Benar juga, sih!" Diana setuju dengan jawaban ibunya.
Sejam kemudian, Diana melangkah ke kamar Dio. Belum sempat mengetuk pintu, Dio muncul sembari membawa sebuah kotak berukuran sedang.
"Mau dibawa ke mana, Kak?" tanya Diana karena melihat beberapa foto Sindy dan beberapa barang di dalamnya.
"Mau dibuang dan dibakar," jawab Dio terus berjalan ke arah belakang rumah.
"Kenapa dibuang dan dibakar?" tanya Diana penasaran seraya mengikuti langkah kaki kakaknya.
Dio tak segera menjawab.
Begitu di halaman rumah, Dio menuangkan isi dalam kotak lalu mengeluarkan korek api dari saku celananya kemudian membakarnya.
"Kenapa dibakar, Kak? Bukankah Kakak cinta dengannya?" cecar Diana mengarahkan pandangannya pada foto-foto itu karena belum mendapatkan jawaban.
"Dia sudah mengkhianati, Di. Selama ini aku dibohonginya," ucap Dio tanpa menatap adiknya, tatapannya hanya fokus ke arah foto-foto Sindy dan dirinya serta topi dan baju pemberian wanita itu.
"Loh, kok, bisa?" tanya Diana heran.
"Aku terlalu bodoh, tak mau mendengar kata-kata ibu," jawab Dio.
"Makanya, Kakak dengarkan semua ucapan ibu. Kakak 'sih tak mau belajar dari Paman Ferry, ibu 'kan sudah pernah bilang kalau istrinya itu bukan wanita yang benar tapi tetap saja dinikahi. Ujungnya Paman Ferry terlilit utang karena istrinya hobi belanja dan jalan-jalan," kata Diana.
"Sekarang Kakak harus bersyukur terselamatkan lebih cepat."
"Mungkin pilihan menikahi Laras adalah terbaik," ucap Dio.
Lima menit berlalu, Dio dan Diana masih berdiri memandangi foto dan barang yang perlahan menjadi abu.
"Kak, apa sudah selesai acara sedih-sedihnya?" tanya Diana.
"Memangnya kamu mau ke mana?" Dio balik bertanya karena dia tahu jika Diana terus nempel dengannya berarti ada yang diinginkan.
"Temani aku ke toko pakaian, yuk!" ajak Diana.
"Buat apa ke sana?" tanya Dio.
"Beli baju dong, Kak!" jawab Diana.
"Kamu beli baju, memangnya kamu mau ke mana? Kita 'kan tidak memiliki acara keluarga dalam minggu ini apalagi besok bukan hari raya?" tanya Dio lagi.
"Besok aku mau ikut kalian ke rumahnya Kak Laras," jawab Diana lagi.
"Memangnya besok ibu dan ayah jadi melamar Laras?" tanya Dio kembali.
"Jadi, dong!" jawab Diana tersenyum. "Ayo temani aku, nanti keburu tutup!" ia lalu menarik tangan Dio.
Keduanya lalu berangkat ke toko pakaian terdekat. Diana sibuk memilih pakaian yang mau digunakannya buat acara besok malam.
"Kakak tidak beli baju?" tanya Diana menoleh ke belakang.
"Masih banyak yang bagus di lemari. Uangnya lebih baik disimpan buat mencicil utang ayah," jawab Dio.
"Kalau Kakak memang jadi menikah dengan Kak Laras, seluruh utang kita dilunasi," kata Diana.
"Itu 'kan janji mereka. Kalau mereka tidak menepatinya tetap saja kita akan membayarnya!"
"Sepertinya mereka tidak ingkar, Kak."
"Lihat saja nanti, jika mereka berani membohongi kita maka aku tidak akan segan meninggalkan anaknya!" ancam Dio.
"Ya ampun, sadis banget, Kak!" celetuk Diana.
"Sudah cepat pilih baju yang mau kamu beli!" desak Dio agar adiknya tak banyak cakap.
"Iya, ya, ini aku juga lagi bingung milihnya!" kata Diana.
"Aku tunggu diluar saja, ya. Nanti kalau sudah selesai temui aku di parkiran!"
"Oke, Kak."
Dio berjalan keluar toko, ia duduk di bangku yang berada di taman kecil parkiran. Ia memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang masuk dan keluar toko.
Matanya menyoroti tajam seorang pria yang baru saja memasuki sebuah mobil bersama wanita muda ditaksir usianya 20 tahun. Dia merasa seperti mengenalnya. "Bukankah itu pria yang bersama Sindy?" gumamnya.
"Dia dengan siapa?" batin Dio bertanya.
Dio ingin sekali menghampiri selingkuhannya Sindy namun diurungkannya karena akan membuat masalah jadi panjang dan salah paham.
"Biarkan saja. Aku sudah tidak peduli lagi dengannya!" batin Dio kesal mengingat pengkhianatan yang dilakukan Sindy.
Diana selesai berbelanja, ia pun segera menemui Dio yang menunggu diparkiran. "Kak Dio lihat saja siapa?" ia mengikuti arah pandangan sang kakak.
"Bukan siapa-siapa. Ayo pulang!"