NovelToon NovelToon
Kiandra Dan Tara

Kiandra Dan Tara

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Teman lama bertemu kembali / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Kiandra tumbuh sebagai anak yang tak pernah diakui ayahnya. Ibunya diusir, hidupnya penuh luka, dan amarah menjadi satu-satunya cara bertahan.

Di sekolah, ia bertemu Tara—perempuan yang selalu berada di sisi yang dipilih dunia. Mereka musuh, saling menjatuhkan, hingga seorang cowok bernama Daffa membuat kebencian itu semakin panas.

Semua berubah ketika Kia tahu: **Tara adalah saudara tirinya.**

Salah paham menghancurkan segalanya. Tuduhan kejam membuat hidup Tara runtuh, dan takdir mempertemukan mereka di bawah satu atap sebagai dua orang yang saling membenci. Hingga waktu memisahkan mereka.

Enam tahun kemudian, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa. Luka lama belum sembuh, cinta lama belum mati, dan kebenaran menunggu untuk diakui.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tara Mulai Melihat Kebenaran

Tara selalu berpikir bahwa kebenaran itu sesuatu yang besar.

Sesuatu yang datang dengan ledakan, dengan teriakan, dengan pengakuan dramatis yang mengubah segalanya dalam satu malam.

Ternyata tidak.

Kebenaran datang pelan.

Lewat hal-hal kecil.

Lewat keheningan yang terlalu lama.

Lewat sikap orang-orang yang selama ini ia bela mati-matian.

Dan lewat rumah kecil itu—rumah Kia.

Sudah hampir tiga minggu Tara tinggal di sana.

Sendiri.

Tanpa mamanya.

Tanpa rumah besar. Tanpa kamar luas. Tanpa supir yang menunggu di depan gerbang.

Awalnya ia menghitung hari. Lalu berhenti.

Karena tidak ada yang pernah bilang kapan ia akan “dijemput”.

Mama Tara hanya menelepon sesekali. Suaranya selalu terdengar sibuk, tergesa, dan… menjauh.

“Kamu baik-baik saja, kan?”

“Iya, Ma.”

“Kamu jangan bikin masalah.”

“Iya, Ma.”

“Dengerin Kia. Jangan melawan.”

“Iya.”

Selalu iya.

Padahal tidak semuanya baik-baik saja.

Di rumah itu, Tara belajar banyak hal yang tidak pernah ia pelajari sebelumnya.

Ia belajar mencuci piring tanpa diminta.

Belajar menyapu lantai meski capek.

Belajar menahan komentar saat makanan tidak sesuai seleranya.

Dan yang paling sulit—

belajar hidup tanpa merasa menjadi pusat dunia.

Ibu Kia tidak pernah bersikap kasar. Tapi juga tidak pernah berlebihan.

Ia memasak untuk semua.

Menegur jika salah.

Memuji jika perlu.

Tidak ada favorit.

Tidak ada perlakuan khusus.

Suatu pagi, Tara membantu melipat pakaian di ruang tengah. Ibu Kia duduk di sebelahnya, menyetrika dengan wajah lelah.

“Kamu bisa sekolah naik angkot?” tanya ibu Kia tiba-tiba.

Tara mengangguk. “Bisa.”

“Kalau capek, bilang. Jangan dipendam.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi Tara terdiam lama.

Karena mamanya jarang berkata seperti itu.

Mamannya lebih sering berkata:

Kamu harus kuat.

Kamu jangan bikin malu.

Kamu harus jaga nama keluarga.

Tidak pernah: kamu capek?

Hari itu, Tara pulang sekolah lebih awal.

Ia mendengar suara di dapur.

Ibu Kia sedang menelepon seseorang. Suaranya pelan, tapi jelas.

“Iya, saya tahu… tapi anaknya nggak salah.”

“…dia cuma korban orang dewasa.”

“Kalau mau marah, marah sama yang bikin keputusan, bukan ke anak-anaknya.”

Tara berhenti melangkah.

Jantungnya berdebar.

Ia tahu sedang membicarakan siapa.

Dan untuk pertama kalinya…

ia tidak merasa diserang.

Ia merasa dibela.

Malamnya, Tara duduk di kamarnya, menatap ponsel.

Pesan dari mamanya belum dibalas sejak siang.

Ia membuka chat lama.

Pesan-pesan yang dulu ia anggap penuh perhatian, kini terasa berbeda.

Mama cuma mau yang terbaik buat kamu.

Kita ini korban perempuan itu.

Dia tahu Papa sudah punya keluarga.

Tara menelan ludah.

Kalimat-kalimat itu dulu terasa masuk akal.

Sekarang… tidak sepenuhnya.

Karena setiap hari ia melihat ibu Kia bangun lebih pagi.

Bekerja tanpa mengeluh.

Tidak pernah menyebut nama Papa Tara dengan kebencian.

Tidak pernah.

Bahkan saat Tara bersikap dingin.

Bahkan saat Kia bersikap kasar.

Suatu malam, Tara demam.

Tidak tinggi, tapi cukup membuat kepalanya berat.

Ia tidak memberi tahu siapa pun.

Ia terbiasa menahan.

Namun Kia tahu.

Entah bagaimana.

“Kepala lo panas,” kata Kia singkat sambil menyentuh dahi Tara.

“Biasa,” jawab Tara lemah.

Kia mendengus. “Gue ambilin obat.”

Tara menatap punggung Kia yang pergi ke dapur.

Tanpa drama.

Tanpa pertanyaan.

Tanpa menyalahkan.

Ia teringat mamanya.

Yang biasanya akan berkata, kamu sakit karena kecapekan sendiri.

Malam itu, Tara menangis pelan.

Bukan karena sakit.

Tapi karena pikirannya mulai berani bertanya:

Bagaimana kalau Mama juga salah?

Beberapa hari kemudian, Tara dipanggil ke sekolah.

Bukan karena masalah.

Tapi karena wali kelas ingin memastikan kondisinya.

“Kamu aman tinggal di sana?” tanya gurunya lembut.

Tara mengangguk. “Aman.”

“Kamu nyaman?”

Tara ragu sejenak.

Lalu menjawab jujur. “Aku… belajar.”

Guru itu tersenyum kecil. “Kadang, rumah bukan soal tempat. Tapi soal siapa yang tidak melukai kita.”

Kalimat itu menancap dalam.

Malam itu, Tara menelepon mamanya.

Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung mengiyakan.

“Ma,” suaranya pelan. “Waktu Mama bilang ibu Kia perebut suami orang… Mama yakin?”

Di seberang, hening.

“Kenapa kamu tanya begitu?”

“Karena… aku tinggal di sini. Dan aku nggak lihat orang jahat.”

Nada suara mamanya mengeras. “Kamu dibutakan keadaan.”

“Atau mungkin aku baru mulai melihat,” balas Tara lirih.

Telepon itu berakhir dingin.

Tara menatap layar lama.

Dadanya sakit.

Tapi juga… terasa lebih ringan.

Di ruang tengah, Kia duduk sambil mengerjakan tugas.

Tara berdiri di ambang pintu.

“Kia,” panggilnya pelan.

Kia menoleh. “Apa?”

Tara menelan ludah. “Kalau… kalau suatu hari kebenaran itu nggak seburuk yang gue bayangkan… lo masih benci gue?”

Kia terdiam.

Lama.

“Gue nggak pernah benci lo,” jawabnya akhirnya. “Gue benci situasinya.”

Air mata Tara jatuh.

Untuk pertama kalinya sejak lama, ia tidak merasa sendirian.

Dan malam itu, di rumah kecil yang tidak pernah benar-benar damai itu—

Tara mulai mengerti.

Bahwa selama ini,

yang paling keras memelintir cerita

bukan Kia,

bukan ibunya Kia—

melainkan ibunya sendiri.

Dan menerima kebenaran itu

adalah luka baru

yang harus ia sembuhkan sendirian.

...****************...

1
sabana
terimakasih
Bela Viona
anak anak tdk salah
yg salah adalah org tua
terutama arman dan keluarga ny.
mash jdi teka teki,knp dgn ank perempuan ?
ank dri istri pertama perempuan,ank dri istri ke 2 perempuan, tpi knp ank dri istri ke 2 tetap di pilih dan di sayang ?
bgtu pun dgn Arman ? dri ke 2 ank ny,knp dia kaku dgn ank² ny ? sprti ad tembok yg kokoh .
Bela Viona
owhhh ank manjaaaa ya..
cucu intan payung oma kek ny..
cihhhhh dsar laki² gak guna, ga bisa tegas,model manut ae..
tunggu aj karma mu
Bela Viona
lumayan sesak di episode awal..
blm bisa komen bnyk..
Bela Viona
serius ini blm ada papan komentar ?
ok salam kenal thor,izin membaca karya nya
sabana: salam kenal jg🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!