Siapa sangka hubungan persahabatan sejak kecil mengantarkan Viona dan Noah ke jenjang yang lebih serius?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seutuhnya
Pagi di Jeju tidak pernah terasa seintimidasi ini. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar kamar hotel seolah menelanjangi ingatan samar Viona tentang kejadian semalam. Kepala Viona berdenyut hebat, namun jantungnya berdegup jauh lebih kencang saat melihat Noah keluar dari kamar mandi dengan sisa-sisa air yang masih mengalir di dada bidangnya.
"N-noah..." ucap Viona gugup. Suaranya serak, matanya membelalak menyadari dirinya masih mengenakan bikini yang kini terasa sangat sempit dan tidak nyaman.
Noah berhenti mengeringkan rambutnya. Ia menatap Viona dengan tatapan gelap yang sulit dibaca. Langkah kakinya yang tenang menuju arah ranjang terasa seperti pemangsa yang sedang mendekati targetnya.
"Vio, lo keterlaluan banget. Berapa kali lo harus uji gue dengan tingkah lo?" kata Noah rendah. Nada suaranya bukan lagi kemarahan, melainkan rasa frustrasi yang sudah mencapai puncaknya.
Refleks, Viona menarik selimut down feather putih itu hingga menutupi dagunya. Ia ingat ciuman panas di dekat pintu semalam. Ia ingat bagaimana Noah berhenti.
Namun, Noah tidak berniat berhenti pagi ini. Ia merangkak naik ke atas ranjang, menghimpit tubuh Viona di bawah kungkungannya. Aroma sabun maskulin dan uap hangat dari tubuh Noah seketika menguasai indra penciuman Viona. Hasrat yang Noah redam semalaman kini kembali dengan kekuatan ganda, dan kali ini, Viona sedang sadar sepenuhnya.
Noah menumpu berat badannya dengan kedua lengan, menatap lekat bibir Viona yang sedikit gemetar. Tangannya perlahan menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah istrinya.
"Boleh?" tanya Noah lembut, sebuah permintaan izin yang terdengar sangat dalam dan penuh penghormatan.
Viona terdiam beberapa saat. Dunianya seolah berhenti berputar. Ia menatap mata Noah dan tidak menemukan jejak candaan di sana, hanya ada ketulusan dan keinginan yang jujur.
Perlahan, Viona memejamkan matanya, sebuah jawaban bisu yang paling dinantikan Noah.
Noah pun mendaratkan bibirnya. Kali ini tidak ada kebuasan yang liar, melainkan ciuman intens yang sangat dalam, seolah ia sedang mengabsen setiap rasa yang ada pada diri Viona. Viona yang awalnya kaku mulai terbawa suasana, tangannya naik memeluk leher Noah, membalas setiap sentuhan yang diberikan pria itu.
Tensi di kamar itu meningkat drastis. Selimut yang tadi menjadi pelindung kini tersingkir ke lantai. Satu per satu bagian dari bikini emerald itu menyusul, jatuh di atas karpet tebal, meninggalkan mereka dalam keadaan yang paling jujur.
Di sela-sela pergulatan rasa itu, Viona mencengkeram bahu Noah erat saat merasakan sensasi baru yang asing sekaligus menyakitkan.
"Noah... sakit," rintih Viona lirih, air mata kecil menggenang di sudut matanya.
Noah langsung menghentikan gerakannya. Ia mengecup kening Viona dengan penuh kasih, mencoba menyalurkan ketenangan. "Shh... it's okay. Tarik napas, Vio. Look at me," bisiknya menenangkan. "Gue bakal pelan-pelan. Gue nggak akan ke mana-mana."
Malam di Jeju memang sudah berakhir, tapi bagi Noah dan Viona, kehidupan pernikahan mereka yang sesungguhnya baru saja dimulai di balik pintu hotel ini.
———
Suasana kamar hotel yang mewah itu kini terasa jauh lebih intim, namun diselimuti kecanggungan yang sangat kental bagi Viona. Ia masih bersembunyi di balik selimut putih tebal, hanya menyisakan matanya yang mengintip malu-malu, sementara Noah tampak sudah jauh lebih tenang meski aura posesifnya masih tertinggal.
Noah yang sedang duduk di tepi ranjang menoleh, menyadari istrinya sedang berusaha menjadi "kura-kura" di bawah kain linen itu. Ia terkekeh rendah, suara tawa yang kini terdengar jauh lebih hangat di telinga Viona.
"Lo canggung amat, kayak sama suami orang. Gue kan suami lo, Vio. Wajar nggak sih begini sama suami sendiri?" ungkap Noah dengan nada menggoda, mencoba memecah keheningan yang kaku.
Viona mendengus pelan dari balik kain, suaranya teredam. "Ya ini kali pertama gue, wajar juga gue nervous! Nggak semua orang se-santai lo, Noah!" jawab Viona jujur.
Melihat respons menggemaskan itu, Noah berbalik posisi menjadi berbaring menyamping, menghadap gundukan selimut di depannya. "Mana, keluarin wajah lo dari selimut. Nggak pengap apa di dalem situ?" katanya dengan suara yang sangat lembut, jenis suara yang jarang sekali ia gunakan di depan umum.
Perlahan, Viona menurunkan selimutnya hingga sebatas hidung. Matanya yang bulat menatap Noah dengan ragu. Noah tersenyum tipis, tangannya terulur untuk menyingkirkan sisa anak rambut yang menempel di dahi Viona akibat keringat. Jemarinya kemudian turun, mengusap lembut pipi Viona yang masih merona merah.
"Maaf kalau sakit ya," kata Noah tulus. Matanya menatap Viona dengan tatapan yang seolah mengatakan bahwa Viona adalah hal paling berharga yang ia miliki sekarang.
Viona hanya bisa mengangguk kecil, lidahnya mendadak kelu untuk membalas ucapan manis itu. Namun, Noah tetaplah Noah. Setelah momen manis, sisi "diktator" yang protektif selalu kembali muncul.
"Dan satu hal lagi," Noah menjepit hidung Viona pelan. "Lo harus kurang-kurangin minum alkohol. Semalam itu terakhir kalinya lo mabuk sampai nggak sadar diri begitu. Gue nggak suka mikirin apa yang bakal terjadi kalau semalam yang nemenin lo bukan gue."
Viona merengut, meski hatinya merasa hangat karena perhatian itu. "Iya, Pak Dosen... galak banget sih."
"Gue nggak galak, Vio. Gue cuma posesif sama milik gue sendiri," pungkas Noah, lalu ia menarik Viona ke dalam pelukannya, membiarkan kepala Viona bersandar di dada bidangnya yang hangat.
Misteri tentang pernikahan mereka mungkin masih menjadi rahasia di mata dunia, tapi di dalam kamar ini, semua rahasia sudah tuntas. Mereka bukan lagi sekadar sahabat yang terjebak dalam surat perjanjian, tapi sepasang manusia yang akhirnya saling memiliki seutuhnya.
"Kita makan yuk ke bawah," ajak Noah sembari bangkit dari ranjang dengan gerakan atletis yang membuat Viona buru-buru memalingkan wajah.
"Ganti baju, gue tunggu," tambah Noah santai.
Viona tidak membuang waktu. Dengan tetap berbalut selimut tebal layaknya kepompong, ia berlari kecil menuju kamar mandi. Suara tawa pelan Noah terdengar mengiringi langkah cerobohnya. Di balik pintu kamar mandi, Viona menyentuh pipinya yang terasa terbakar. Gila, Noah bener-bener beda kalau di kamar, batinnya.
Setelah bersiap dengan pakaian santai namun tetap modis, mereka turun ke restoran hotel. Viona mencoba bersikap senormal mungkin, namun langkahnya masih sedikit kaku.
Sesampainya di restoran, suasana sangat ramai. Aroma kopi dan roti panggang memenuhi udara. Namun, langkah Viona terhenti saat melihat meja besar di tengah ruangan diisi oleh teman-teman mereka dari acara semalam.
"Wah, pasangan Willey! Terlihat capek banget kalian pagi-pagi. Habis olahraga ya?" ucap salah satu teman Noah dengan nada menggoda yang sangat kental.
Viona hampir tersedak ludahnya sendiri. Ia merasa seluruh matanya tertuju pada mereka. Namun, bukannya menghindar, Noah justru menarik kursi untuk Viona dengan tenang sebelum duduk di sampingnya.
"Iya dong, jelas," jawab Noah singkat. Jawaban yang sangat to the point itu membuat teman-temannya bersorak "cie" dengan riuh, sementara Viona ingin rasanya menghilang ditelan bumi.
Noah kemudian condong ke arah Viona, berpura-pura merapikan kerah baju istrinya yang sedikit terbuka. Ia berbisik sangat rendah, hanya untuk indra pendengaran Viona.
"Pantes aja dia ngomong gitu, leher lo merahnya kelihatan," bisik Noah dengan nada kemenangan yang menyebalkan sekaligus seksi.
Viona refleks memegang lehernya, matanya membelalak menatap Noah melalui pantulan sendok di meja. Benar saja, ada jejak kemerahan yang tertinggal di sana, hasil dari "keberingasan" Noah yang katanya ingin memberikan pelajaran semalam.
"Noah! Kenapa nggak bilang dari tadi?!" bisik Viona penuh emosi sambil berusaha menutupi lehernya dengan rambut panjangnya.
Noah hanya mengedikkan bahu tanpa dosa, mulai menyantap sarapannya. "Gue sengaja. Biar semua orang tahu kalau semalam lo sibuk sama gue, bukan sama alkohol lo."
Viona hanya bisa mendengus pasrah. Di satu sisi ia kesal setengah mati karena rasa malunya, tapi di sisi lain, ada debaran aneh yang membuatnya merasa... dilindungi. Memang benar, menjadi istri Noah Sebastian itu artinya harus siap dengan serangan jantung mendadak setiap hari.
kurang promosi nih
atau judulnya kurang bar bar kk, biyar pada penasaran terus mmpir baca