NovelToon NovelToon
Datang Untuk Mengabdi, Pulangnya Trauma.

Datang Untuk Mengabdi, Pulangnya Trauma.

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Rumahhantu / TKP / Komedi
Popularitas:683
Nilai: 5
Nama Author: Rania Venus Aurora

Mereka datang ke desa untuk KKN dengan niat mengabdi.
Yang tak mereka sangka, kepulangan mereka justru membawa trauma.
Setiap suara malam dianggap teror, setiap bayangan jadi horor, padahal tak satu pun hantu benar-benar ada. Semua kekacauan terjadi karena ketakutan, kepanikan, dan imajinasi para mahasiswa itu sendiri.
Sebuah kisah horor komedi tentang KKN yang gagal menakutkan hantu,
karena manusianya sudah panik duluan.
Datang untuk mengabdi, pulangnya trauma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.1

...DATANG UNTUK MENGABDI...

Bus tua berwarna hijau kusam itu meraung pelan, seolah mengeluh setiap kali rodanya menghantam lubang di jalan desa yang semakin lama semakin sempit. Bau solar bercampur debu masuk lewat jendela yang tak bisa ditutup sempurna. Di kanan-kiri, pepohonan berdiri rapat, bahkan terlalu rapat, seakan sengaja membentuk lorong alami yang membuat sinyal ponsel menghilang satu per satu.

Di dalam bus, empat belas mahasiswa KKN, tujuh laki-laki dan tujuh perempuan, duduk dengan perasaan campur aduk. Ada yang semangat. Ada yang cemas. Ada juga yang sudah menyesal ikut dari awal. Dan ada yang masih yakin KKN ini bakal santai. Keyakinan yang sebentar lagi akan diuji dengan cara yang tidak manusiawi. Tak ada yang benar-benar tahu sejak kapan suasana di dalam bus berubah. Awalnya semua berjalan seperti perjalanan KKN pada umumnya, riuh, penuh tawa, dan suara notifikasi ponsel yang tak henti-henti. Ada yang sibuk mengedit vlog “perjalanan menuju pengabdian”, ada yang merekam story dengan caption terlalu optimistis, ada pula yang tertidur dengan posisi leher patah ke samping seolah nyawanya sudah menyerah lebih dulu.

Namun perlahan, satu per satu layar ponsel menampilkan tulisan yang sama:

Tidak ada layanan.

Awalnya dianggap biasa. Desa terpencil, sinyal susah, hal klasik yang bahkan sudah jadi bahan candaan sejak briefing kampus. Tapi ketika ponsel terakhir akhirnya menyerah dan hanya menyisakan jam digital yang tak bergerak, barulah muncul keheningan canggung yang sulit dijelaskan. Suara mesin bus menjadi lebih dominan. Suara dedaunan bergesek tertiup angin terdengar terlalu dekat. Dan entah kenapa, udara di dalam bus terasa lebih dingin, meski matahari siang masih menggantung malu-malu di balik rimbunnya pepohonan.

Sopir bus, seorang pria setengah baya dengan topi lusuh yang warnanya sulit ditebak antara hitam atau hijau tua, tidak banyak bicara sejak awal perjalanan. Tangannya mantap di setir, matanya lurus ke depan, seolah jalan sempit dan berlubang itu sudah dihafalnya di luar kepala. Padahal tidak ada satu pun penumpang yang ingat pernah melihat desa ini di peta dengan jelas.

“Mas… masih jauh?”

Seseorang akhirnya bertanya, suaranya terdengar sedikit ragu. Sopir itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menghela napas panjang, lalu berkata singkat tanpa menoleh,

“Kalau jauhnya dihitung pakai jarak,..enggak. Kalau dihitung pakai nasib… ya, tergantung.”

Jawaban itu jelas tidak membantu. Tapi anehnya, tidak ada yang menimpali. Mungkin karena terlalu lelah. Mungkin karena suara sopir terdengar terlalu datar. Atau mungkin karena ada sesuatu dalam nadanya yang membuat orang enggan bertanya lebih lanjut. Bus terus melaju, masuk lebih dalam ke jalan yang kini bahkan tidak pantas disebut jalan. Aspal menghilang, berganti tanah merah bercampur batu. Setiap guncangan membuat tas di bagasi atas berderit, seolah protes karena ikut terseret ke tempat yang bahkan Google Maps pun enggan kenal.

Di luar, pepohonan semakin rapat. Batang-batang besar berdiri seperti pagar hidup, menutup pandangan ke arah dalam hutan. Tidak ada rumah. Tidak ada sawah. Tidak ada tanda kehidupan selain suara serangga yang terlalu ramai untuk ukuran siang hari. Lucunya, di tengah suasana yang semakin tidak nyaman, masih ada yang tertawa.

“Eh, kalau kita nyasar terus jadi legend kampus gimana?”

“Judulnya: 14 Mahasiswa Hilang Saat KKN, Diduga Diserap Alam.”

Tawa pecah, sedikit dipaksakan, tapi cukup untuk memecah ketegangan. Humor selalu jadi mekanisme bertahan hidup paling murah. Sayangnya, alam tidak pernah peduli pada lelucon manusia. Bus mendadak melambat. Bukan karena ada tanjakan, bukan pula karena jalan rusak, melainkan karena di depan, tepat di tengah jalan, berdiri sesuatu.

Bukan manusia, Bukan juga hewan. Hanya sebuah gapura kayu tua, melintang rendah, dengan papan kusam bertuliskan nama desa yang catnya sudah mengelupas. Beberapa huruf bahkan hilang, membuat namanya mustahil dibaca dengan utuh. Dan aneh, Tidak ada yang melihat gapura itu di peta lokasi KKN yang dibagikan kampus. Bus berhenti tepat di bawahnya. Mesin dibiarkan menyala. Sopir turun perlahan, mengitari bus, lalu berdiri sejenak menatap gapura itu seperti orang lama bertemu kenalan yang tidak diharapkan. Setelah itu, ia naik kembali tanpa sepatah kata pun.

“Kita sudah sampai?”

Ada suara yang bertanya, kali ini lebih pelan.

“Belum,” jawab sopir singkat.

“Tapi kalau sudah lewat sini, enggak bisa balik.”

Kalimat itu membuat beberapa orang saling pandang.

“Loh, maksudnya?”

“Ya maksudnya begitu.”

Bus kembali bergerak, melewati gapura yang kayunya mengeluarkan bunyi krek pelan, seolah mengeluh karena disentuh benda hidup setelah sekian lama.

Begitu melewatinya, suasana berubah drastis. Cahaya matahari yang tadinya masih menyelinap di sela daun mendadak meredup. Udara terasa lebih lembap. Dan entah bagaimana, suara dari luar seperti teredam, seakan bus itu baru saja masuk ke ruang lain yang memiliki aturan sendiri. Beberapa menit berlalu dalam diam yang aneh. Tidak ada yang bercanda lagi. Tidak ada yang merekam. Bahkan yang tadinya tertidur pun kini membuka mata, mungkin karena firasat tubuhnya lebih jujur daripada pikirannya.

Akhirnya, setelah perjalanan yang terasa jauh lebih lama daripada sebelumnya, bus berhenti. Kali ini, di depan mereka terbentang sebuah lapangan kecil dengan tanah yang tidak rata. Di sekelilingnya berdiri rumah-rumah kayu tua, berjajar rapi namun sunyi. Tidak ada anak-anak berlarian. Tidak ada orang tua duduk di teras. Tidak ada suara radio atau televisi.

Desa itu…

terlalu tenang.

Sopir berdiri, menoleh ke arah penumpang untuk pertama kalinya sejak perjalanan dimulai.

“Sampai,” katanya singkat.

Empat belas mahasiswa itu turun satu per satu, menginjak tanah desa yang entah kenapa terasa lebih dingin dari yang seharusnya. Begitu kaki terakhir menjejak, sopir langsung kembali ke kursinya.

“Mas, busnya nunggu di sini kan?”

Ada yang bertanya cepat.Sopir tersenyum tipis.

“Saya nunggu di batas.”

Sebelum sempat bertanya apa maksudnya, mesin bus meraung keras. Kendaraan tua itu berbalik dengan susah payah, lalu perlahan menghilang kembali ke arah jalan sempit tadi.

Tidak ada yang mengejar. Tidak ada yang melambaikan tangan. Debu meredadan Sunyi kembali turun. Empat belas mahasiswa itu kini berdiri di tengah desa asing, tanpa sinyal, tanpa kendaraan, dan tanpa satu pun warga yang menyambut.

Di kejauhan, lonceng kecil berbunyi sekali, entah dari mana. Dan untuk pertama kalinya sejak mendaftar KKN, muncul satu kesadaran yang sama di kepala mereka semua:

Mereka tidak hanya datang untuk mengabdi. Mereka datang….untuk diuji.

...🍃🍃🍃...

BERSAMBUNG....

1
Bunga Matahari
Nama-namanya keren, tapi panggilannya cocok banget untuk horor komedi 😄
Bunga Matahari
baru juga baca, udah kebawa aura 😄😄🤣🤣
Putri Nabila
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!