Mentari sore di Pantai Santa Monica, California, mulai turun ke peraduan. Langit yang semula biru cerah kini berubah menjadi gradasi oranye dan ungu yang cantik. Di antara kerumunan turis dan peselancar, dua pria muda berjalan beriringan dengan langkah tenang. Salah satunya adalah Muhammad Hannan, atau yang akrab disapa Hannan, seorang ustadz muda yang sedang menempuh studi lanjut di Amerika.
"Hannan, lihatlah. Kadang aku berpikir, bumi Allah itu begitu luas. Di sini senjanya sama indahnya dengan di pesantren dulu, ya?" celetuk Gus Malik sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
Hannan tersenyum tipis. "Benar, Gus. Keindahan ini pengingat bahwa di mana pun kita berpijak, kita tetap berada di bawah langit yang sama."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Bayang-Bayang di Balik Tembok Pesantren
Amara sedang berdiri di ambang pintu belakang ndalem, menatap ke arah rimbunnya pohon-pohon sawo yang membatasi area keluarga dengan asrama santriwati. Di tangannya, ia meremas selembar kertas kecil yang ia temukan terselip di bawah pot bunga saat ia sedang menjemur pakaian Zahra tadi.
“Temui aku di belakang gudang asrama timur setelah ashar. Jika tidak, foto-foto ini akan tersebar di mading pesantren.”
Jantung Amara berdegup kencang. Ketakutan yang selama ini ia kubur dalam-dalam kini bangkit kembali seperti hantu. Ia merasa kotor lagi. Ia merasa tidak pantas berada di sini. Dengan langkah ragu dan nafas yang tertahan, ia memakai cadarnya dan berniat melangkah keluar, menyelinap di antara bayang-bayang pohon sebelum waktu ashar berakhir.
Namun, baru saja satu langkah kakinya melewati batas teras, sebuah suara berat dan berwibawa menghentikan jantungnya.
"Mau ke mana, Amara?"
Amara tersentak hebat hingga hampir menjatuhkan kertas di tangannya. Ia berbalik dan mendapati Gus Hannan datang tiba-tiba dari arah samping, masih mengenakan sorban yang tersampir di bahunya setelah mengajar di aula.
Tatap mata Hannan tidak seperti biasanya yang lembut. Ada kilatan kecemasan sekaligus ketegasan di sana. Hannan melangkah mendekat, memperkecil jarak di antara mereka hingga Amara bisa mencium aroma kayu cendana yang menenangkan dari tubuh suaminya.
"Mas... aku... aku cuma mau cari udara segar," jawab Amara terbata-bata di balik cadarnya.
Hannan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru meraih tangan Amara, lalu perlahan namun pasti, ia mengambil paksa kertas kecil yang disembunyikan Amara di balik lipatan gamisnya.
"Mas, jangan!" rintih Amara.
Hannan membaca pesan singkat itu. Wajahnya seketika mengeras, rahangnya mengatup rapat hingga urat-urat di lehernya terlihat. Ia meremas kertas itu hingga tak berbentuk.
"Sudah Mas katakan, Amara... jangan pernah menghadapi apa pun sendirian lagi," ucap Hannan dengan nada rendah yang sarat akan kemarahan yang tertahan. "Kamu pikir Mas tidak tahu tentang surat-surat kaleng itu?"
Amara terbelalak. "Mas... Mas sudah tahu?"
"Mas sudah memegang amplop cokelat yang diletakkan di bawah pintu tempo hari. Mas sengaja diam karena tidak ingin kamu stres dan mempengaruhi ASI untuk Zahra. Tapi ternyata, pengecut ini berani menyentuhmu langsung."
Hannan menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya agar tidak menakuti istrinya. Ia memegang kedua bahu Amara dengan lembut namun posesif.
"Masuklah ke dalam. Jaga Zahra. Biar Mas yang menemui 'tamu' kita ini di belakang gudang."
"Tapi Mas, bagaimana kalau dia membawa orang banyak? Bagaimana kalau dia benar-benar menyebarkan foto itu?" tangis Amara mulai pecah.
Hannan tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung keberanian luar biasa. "Di pesantren ini, tidak ada satu lembar kertas pun yang bisa tertempel tanpa seizin Mas atau Abah. Kamu aman, Amara. Mas adalah suamimu, pelindungmu, dan juga pemimpin keamanan di sini. Percayalah pada Mas."
Hannan mengecup kening Amara di balik kain cadar itu, lalu ia berbalik dan melangkah dengan langkah lebar menuju gudang asrama timur. Di balik langkahnya yang tenang, Hannan sudah menyiapkan rencana. Ia telah memberi kode pada beberapa santri keamanan senior untuk mengepung area tersebut secara diam-diam.
Saat Hannan sampai di belakang gudang yang sepi, ia melihat seorang santri laki-laki tingkat akhir yang tampak gelisah, memegang sebuah map plastik. Santri itu adalah Fikri, salah satu orang kepercayaan di bagian tata usaha pesantren.
"Mencari istri saya, Fikri?" suara Hannan menggelegar di area yang sunyi itu.
Fikri terjingkat, wajahnya seketika pucat pasi melihat Gus Hannan-lah yang datang, bukan Amara yang ia harapkan bisa ia peras.