NovelToon NovelToon
DIINJAK UNTUK BERSINAR

DIINJAK UNTUK BERSINAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:647
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Di balik megahnya SMA elit, Satria Bumi Aksara adalah anomali yang dipaksa bertahan dalam kepungan hinaan. Sebagai anak buruh lumpuh yang masuk lewat jalur prestasi, ia menjadi sasaran empuk perundungan; tasnya compang-camping, seragamnya memudar, dan kakinya lecet berjalan kiloan meter. Namun, luka fisiknya tak sebanding dengan remuknya hati saat melihat sang ayah terbaring tanpa daya dan ibunya mencuci puluhan kilo pakaian hingga tangannya pecah-pecah.
​Dunia Satria runtuh saat tahu beasiswa impiannya dikorupsi oleh orang-orang serakah. Di titik nadir itulah, ia menemukan "sinar" pada empat sahabat yang sama-sama terluka. Bersama Vanya, Arjuna, Nareswari, dan Adrian, Satria mempertaruhkan nyawa membongkar busuknya institusi, meski ia harus berlari tanpa alas kaki membawa ibunya yang sekarat ke puskesmas.
​Keteguhan Satria adalah bukti bahwa kemiskinan hanyalah tempaan bagi jiwa yang hebat. Setelah satu dekade penuh air mata, peluh, dan waktu tidur yang terenggut, Satria kembali sebag

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: OPERASI MALAM BERBAHAYA

#

Lima hari berlalu cepat.

Terlalu cepat.

Sekarang tanggal lima Februari. Hari H.

Jam menunjukkan pukul delapan malam.

Kami berlima berkumpul di gang gelap dekat sekolah. Gang yang jarang dilalui orang. Sepi. Sunyi.

Aku, Vanya, Adrian, Nareswari, Arjuna.

Semua pakai baju gelap. Hitam semua. Biar gak kelihatan kalau ada orang.

Jantungku berdetak cepat banget. Tangan dingin. Keringat di dahi meskipun malam ini dingin.

Arjuna keluarin kunci dari saku celananya. Kunci ruang OSIS. "Aku punya kunci ini. Ruang OSIS deket sama ruang yayasan. Kita masuk dari sana."

Nareswari buka tas ranselnya. Di dalamnya ada kamera digital jadul. Pinjeman dari tetangganya yang fotografer. "Aku akan foto semua dokumen. Resolusi tinggi. Biar jelas."

Adrian keluarin walkie talkie mainan. Dua buah. "Ini buat komunikasi. Gue sama Vanya di luar. Kalian bertiga di dalam. Kalau ada bahaya, gue kasih kode."

Vanya pegang tangan aku. Tangannya dingin. Gemetar. "Sat... lu yakin kita bisa?"

Aku pegang tangan Vanya balik. "Kita harus bisa. Gak ada pilihan lain."

Kami berlima saling pandang.

Ini bukan latihan. Ini nyata. Ini berbahaya.

Kalau ketahuan, kami bisa dikeluarin dari sekolah. Bisa dipukulin preman. Bisa... bisa lebih parah lagi.

Tapi kami udah terlalu jauh buat mundur.

"Ayo. Kita mulai."

***

Kami jalan pelan ke gerbang belakang sekolah.

Gerbang ini jarang dipake. Biasanya cuma buat kendaraan sampah. Tapi malam minggu kayak gini, gerbang ini gak dikunci.

Arjuna dorong gerbang pelan. Kreeek. Suara besi berkarat.

Kami masuk satu per satu.

Halaman sekolah gelap. Lampu-lampu mati semua. Cuma cahaya bulan yang samar-samar.

Gedung sekolah yang megah di siang hari sekarang kelihatan menyeramkan. Gelap. Sunyi. Kayak gedung hantu.

"Satpam biasanya ronda jam berapa?" bisik aku ke Arjuna.

"Jam sembilan. Dia keliling dari gedung A sampe gedung D. Setiap gedung lima belas menit. Jadi kita punya waktu sekitar satu jam sebelum dia sampe gedung B. Ruang yayasan di gedung B lantai dua."

Kami jalan cepat tapi hati-hati. Lewatin lapangan basket. Lewatin taman. Sampai di gedung B.

Pintu utama terkunci. Tapi Arjuna punya kunci. Dia buka pelan.

Klik.

Pintu terbuka.

Kami masuk.

Di dalam gelap banget. Gak ada cahaya sama sekali.

Arjuna nyalain senter hapenya. Cahaya kecil. Tapi cukup buat liat jalan.

Kami naik tangga ke lantai dua. Pelan. Gak boleh berisik.

Sampai di lantai dua, koridor panjang. Gelap. Sunyi.

Ruang OSIS di ujung kiri. Ruang yayasan di ujung kanan.

"Vanya, Adrian, kalian tunggu di sini. Jaga pintu masuk. Kalau ada yang dateng, kasih kode lewat walkie talkie."

Vanya sama Adrian ngangguk. Mereka berdiri di dekat tangga. Siap jaga.

Aku, Nareswari, sama Arjuna jalan ke ruang yayasan.

Pintu ruang yayasan terkunci pake kunci gede. Arjuna coba bukanya pake kunci yang dia punya.

Gak bisa.

"Sial. Kunci ini gak cocok."

Nareswari liat pintu. "Kita paksa?"

Aku geleng. "Gak bisa. Nanti ketahuan ada yang masuk."

Arjuna mikir. "Tunggu. Ada jendela. Di samping ruangan. Aku pernah liat jendela itu gak dikunci."

Kami lari ke samping gedung. Ada jendela kecil. Tingginya sekitar dua meter dari tanah.

"Gue angkat lu, Sat. Lu masuk. Terus buka pintu dari dalam."

Aku ngangguk.

Arjuna berdiri di bawah jendela. Dia buat tangga pake tangannya. Aku pijak tangan Arjuna. Aku angkat badan. Aku buka jendela.

Untung gak dikunci.

Aku masuk lewat jendela. Jatuh ke lantai ruangan dengan suara gedebuk pelan.

Gelap. Aku nyalain senter hape.

Ruangan ini gede. Ada meja-meja kerja. Kursi. Lemari arsip. Dan di pojok... ada brankas besi besar.

Aku jalan ke pintu. Aku buka dari dalam. Klik.

Arjuna sama Nareswari masuk.

"Oke. Kita punya waktu terbatas. Aku buka brankas. Nares, lu siapin kamera. Sat, lu bantuin aku."

Kami jalan ke brankas. Brankas besi setinggi satu setengah meter. Ada kombinasi angka di depannya.

Arjuna putar kombinasi. Pelan. Hati-hati.

Nol. Tiga. Nol. Enam. Dua. Nol. Satu. Lima.

Klik.

Brankas terbuka.

Di dalamnya penuh dokumen. Map-map tebal. Ada juga uang cash. Banyak banget. Ratusan juta kayaknya.

"Astaga... ini... ini uang suap semua..." bisik Nareswari.

Arjuna ambil map pertama. Dia buka. "Ini dokumen keuangan beasiswa. Ada nama-nama yang bayar. Jumlahnya. Tanggal transfer. Semuanya."

Nareswari langsung foto. Flash kameranya nyala. Tapi gak berisik.

Klik. Klik. Klik.

Dia foto setiap halaman. Satu per satu.

Aku bantuin Arjuna buka map-map lain. Ada dokumen rekening koran. Ada surat perjanjian. Ada bukti transfer.

Semuanya bukti jelas korupsi.

"Nares, foto semuanya. Jangan ada yang ketinggalan."

"Oke."

Kami kerja cepat. Tapi hati-hati. Jangan sampe ada dokumen yang rusak atau ketahuan dipindahin.

Lima belas menit berlalu.

"Udah selesai semua?" tanya Arjuna.

Nareswari cek kameranya. "Udah. Semua dokumen udah kefoto. Total tiga ratus dua puluh tiga halaman."

"Bagus. Sekarang kita beresin. Kembaliin semua dokumen ke brankas. Pastiin posisinya sama kayak tadi."

Kami kembaliin semua dokumen. Rapi. Sama persis kayak posisi awal.

Arjuna tutup brankas. Dia putar kombinasi balik ke nol. Supaya gak ketahuan ada yang buka.

"Oke. Kita keluar."

Kami jalan ke pintu. Arjuna buka pintunya.

Tiba-tiba walkie talkie bunyi.

KRIIIIK.

Suara Adrian. Panik. "Sat! Satpam! Satpam dateng! Dia lagi di tangga! Cepet sembunyi!"

Jantungku berhenti.

"Sial! Dia dateng lebih cepat!"

Arjuna tutup pintu cepat. Dia kunci dari dalam.

Kami bertiga bingung. Mau keluar lewat mana? Jendela? Tapi satpam pasti denger suara kami loncat.

"Sembunyi dulu. Di bawah meja."

Kami langsung sembunyi di bawah meja kerja yang gede. Kami bertiga berdesakan. Napas ditahan.

Suara langkah kaki di koridor. Makin deket.

Cahaya senter satpam nyorot lewat celah pintu.

Langkah kaki berhenti di depan pintu ruang yayasan.

Kami diem. Gak gerak sama sekali.

Detik-detik terasa kayak jam.

Terus langkah kaki jalan lagi. Menjauh.

Kami tunggu sampe suara langkah kaki hilang sama sekali.

"Aman. Dia udah pergi."

Kami keluar dari bawah meja. Napas lega.

"Tapi dia masih di gedung ini. Kita harus cepet keluar sebelum dia balik lagi."

Kami keluar dari ruang yayasan. Kami kunci pintunya balik.

Kami lari ke tangga. Vanya sama Adrian udah nunggu di sana. Muka mereka pucat.

"Kalian gak ketahuan kan?" bisik Vanya.

"Gak. Ayo cepet. Kita keluar sekarang."

Kami turun tangga. Cepat tapi gak berisik.

Sampai di lantai satu, kami dengerin dulu. Gak ada suara.

Kami jalan ke pintu keluar.

Tapi tiba-tiba...

NGIIIING! NGIIIING! NGIIIING!

Alarm kebakaran bunyi!

Keras banget! Memekakkan telinga!

"Apa?! Siapa yang nyalain alarm?!"

Adrian senyum lebar. "Gue! Gue nyalain dari gedung C tadi! Buat ngalih perhatian satpam!"

Kami denger suara satpam teriak. "Ada apa?! Kebakaran?!"

Langkah kaki satpam lari ke gedung C.

"Sekarang! Kita lari sekarang!"

Kami berlima lari sekencang-kencangnya. Keluar dari gedung B. Lewatin lapangan. Lewatin taman. Keluar lewat gerbang belakang.

Kami lari sampe jauh dari sekolah. Sampe ke gang gelap tempat kami kumpul tadi.

Kami berhenti. Napas ngos-ngosan semua.

Terus...

Kami saling liat.

Dan...

Kami ketawa!

Ketawa lega! Ketawa seneng! Ketawa gak percaya!

"KITA BERHASIL!" teriak Adrian sambil lompat-lompat.

Vanya peluk Nareswari sambil nangis. "Kita... kita beneran berhasil..."

Arjuna peluk aku. "Sat... kita lakuin itu... kita beneran lakuin itu..."

Aku peluk mereka semua. Kami berlima pelukan rame-rame. Nangis bareng. Tapi nangis seneng.

"Kita berhasil... kita dapetin buktinya..."

Nareswari angkat kameranya tinggi-tinggi. "Semua ada di sini! Semua bukti! Kita... kita bisa bongkar mereka sekarang!"

Kami ketawa lagi. Lega. Seneng. Gak percaya.

***

Tapi yang kami gak tau...

Keesokan harinya, Senin pagi.

Pak Julian masuk ke ruang yayasan buat ambil dokumen.

Dia buka brankas.

Dia ambil map. Dia buka.

Mukanya berubah.

Dari datar jadi... jadi curiga.

Dia liat dokumen-dokumen itu lebih teliti. Dia perhatiin posisinya.

"Ada yang aneh... posisi dokumen ini... gak sama kayak kemarin..."

Dia tutup brankas. Dia keluar ruangan.

Dia langsung ke ruang Pak Bambang.

"Pak Bambang. Kita ada masalah."

Pak Bambang liat Pak Julian. "Masalah apa?"

"Brankas kita... kayaknya ada yang buka. Dokumen-dokumennya... posisinya berubah."

Pak Bambang berdiri. Mukanya merah. "APA?! Siapa?! Siapa yang berani?!"

Pak Julian geleng. "Saya gak tau. Tapi... tapi sepertinya ada yang nyelidiki kita."

Pak Bambang gebrak meja. "SIAL! Pasti anak-anak itu! Satria dan kawan-kawannya!"

Dia ambil hape. Dia telpon seseorang.

"Indra. Datang ke sekolah sekarang. Kita ada masalah. Iya. Bawa anak buahmu. Semua."

Dia tutup telpon.

Dia liat Pak Julian dengan mata penuh kebencian.

"Cari siapa yang berani mencuri dokumen saya. Dan kalau ketemu... hajar sampai babak belur. Sampai mereka gak bisa jalan lagi."

***

*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!