Xu Qinqin adalah fotografer abad ke-21 yang terkenal dengan foto-fotonya yang fantastis. Ia dikenal karena citranya yang nakal namun terampil, terkadang membuat modelnya merasa kesal sekaligus terkesan dengan tingkah lakunya.
Tak disangka, setelah tanpa sengaja memotret pria aneh yang mengenakan jubah kuno, Ia justru terlempar ke tubuh istri dari Jenderal Perang tertinggi di Kekaisaran.
Istri yang tidak disentuh suami nya , disakiti oleh ibu sang jenderal , dan dinggap sampah.
"Ck , gini doang ga becus banget! Pelayan macam apa kau!" Sungut Xu Qinqin dengan berkacak pinggang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29 : Rencana Mertua
Langit Barat mulai meredup, menyisakan gurat kemerahan yang perlahan ditelan kegelapan. Di Paviliun Utama, Wu Lian berdiri di depan cermin besar. Ia menanggalkan zirah besarnya yang berat, menggantinya dengan jubah sutra sederhana berwarna biru gelap tanpa motif berlebihan. Ia merasa aneh, seolah ada bagian dari dirinya yang telanjang tanpa pedang panjang di pinggang.
"Hanya sekali ini," gumamnya pada diri sendiri, mencoba meredam denyut aneh di dadanya.
Sementara itu, di Paviliun Anggrek, Qinqin sudah siap dengan hanfu berwarna kuning kunyit yang cerah, membuat kulitnya tampak bersinar di bawah cahaya lampion. Ia tidak memakai banyak tusuk konde emas, hanya sebatang kayu cendana simpel untuk menyanggul rambut emasnya yang unik.
"Mr. Jenderal! Kau sudah siap?" seru Qinqin saat melihat Wu Lian berjalan mendekat ke paviliunnya.
Wu Lian terpaku sejenak. Tanpa riasan berat, Qinqin terlihat jauh lebih muda dan berbahaya bagi kesehatan jantungnya. "Berhenti berteriak. Aku tidak tuli," sahut Wu Lian ketus, walau matanya tak bisa beralih.
"Dih, galak terus. Ayo berangkat!" Qinqin tanpa ragu menggandeng lengan Wu Lian, menyeret sang Jenderal keluar dari gerbang kediaman yang biasanya kaku dan sunyi.
***
Hiruk-pikuk pasar malam kota Barat. Qinqin tertawa lepas, matanya berbinar melihat deretan kedai yang menjual berbagai barang unik. Ia menarik Wu Lian menuju sebuah kedai yang menjual manisan buah.
"Buka mulutmu, Mr. Jenderal! Ini namanya manisan kebahagiaan," ujar Qinqin sambil menyodorkan buah beri merah bersalut gula ke depan bibir Wu Lian.
Wu Lian melihat sekeliling, merasa sangat tidak nyaman menjadi pusat perhatian beberapa gadis desa yang berbisik melihat ketampanannya. "Aku tidak suka manis."
"Satu gigit saja! Kalau tidak, aku akan teriak di sini kalau Jenderal Agung kita takut pada buah kecil," ancam Qinqin dengan wajah tengil andalannya.
Wu Lian mendengus, namun akhirnya membuka mulutnya dan menggigit buah itu. Rasa manis yang tajam meledak di lidahnya, diikuti rasa asam yang segar. "Cukup. Jangan memaksa lagi."
"Enak, kan? Akui saja!" Qinqin menyenggol lengan Wu Lian dengan bahunya. Mereka berjalan berdampingan, sangat dekat hingga sesekali jubah mereka bersentuhan.
Tiba-tiba, Qinqin berhenti di depan sebuah kedai yang menjual perhiasan perak sederhana. Matanya tertuju pada sebuah gelang kaki dengan lonceng kecil. Ia teringat masa kecilnya saat ibunya masih ada.
Wu Lian memperhatikan perubahan raut wajah Qinqin. Ia meraih gelang itu dan menyerahkan beberapa keping perak pada pedagangnya sebelum Qinqin sempat menawar.
"Eh? Kau membelikannya untukku?" Qinqin terbelalak.
"Anggap saja ini kompensasi atas semua kaos kaki yang kau keluhkan tadi siang," sahut Wu Lian sambil membuang muka, mencoba menyembunyikan rona merah yang merayap ke telinganya.
Qinqin tersenyum sangat tulus, senyum yang membuat Wu Lian terpaku lebih lama dari biasanya. "Terima kasih, My Husband."
Wu Lian berdehem keras untuk menutupi kegugupannya. "Sudah malam. Ayo kembali sebelum kau mulai meminta hal-hal yang lebih aneh lagi."
Qinqin mengangguk setuju. Entah kenapa dia juga merasakan firasat buruk. Tapi ia tidak takut dengan itu, lagipula, Qinqin mempunyai rencana yang lebih maju.
***
Di sisi lain kediaman Wu, suasana sangat kontras. Di dalam Paviliun Belakang yang remang, bau obat-obatan herbal yang pahit menyeruak. Nyonya Besar Wu duduk bersandar di kursi malasnya, wajahnya terlihat jauh lebih tua dan kuyu setelah keributan tadi siang.
"Dayang Liu, kemarilah," panggil Nyonya Wu dengan suara parau.
Dayang Liu, orang kepercayaannya, mendekat dengan kepala tertunduk. "Hamba di sini, Nyonya."
"Wanita dari Timur itu, dia sudah merusak putraku. Lian'er tidak pernah membangkang padaku sebelumnya. Jika dia terus di sini, posisiku akan hancur," Nyonya Wu meremas pegangan kursi kayunya hingga jemarinya memutih.
"Apa rencana Anda, Nyonya?"
Nyonya Wu menatap lurus ke arah lilin yang bergoyang ditiup angin. "Seorang istri yang tidak bisa memberikan keturunan adalah sampah. Cari tabib gelap dari pasar bawah tanah. Aku ingin racun yang halus, yang bisa dicampurkan ke dalam tehnya setiap hari. Racun yang akan mengeringkan rahimnya tanpa ia sadari."
Bibir Nyonya Wu menyunggingkan senyum getir. "Setelah dia mandul, aku akan punya alasan kuat untuk mendesak Wu Lian mengambil selir. Aku sudah menyiapkan keponakanku, Yan Er, untuk menggantikannya. Dia penurut, tidak seperti setan berambut emas itu."
"Baik, Nyonya. Hamba akan segera mengaturnya," bisik Dayang Liu sebelum menghilang ke dalam kegelapan malam.
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih❤️
semoga tuh rencana mertua gagal total.....
😡
aku menunggu kelanjutan nya thor😍😍
semangat up trus thor😍
bar bar gak ya ne MC nya.. suka kali klo dia bisa war😂😂😂😂