Lanjutan dari Novel Pendekar Naga Bintang
Gao Rui hanyalah murid lemah di Sekte Bukit Bintang, bocah yatim berusia tiga belas tahun tanpa latar belakang, tanpa pelindung, dan tanpa bakat mencolok. Setelah gurunya, Tetua Ciang Mu, gugur dalam sebuah misi, hidup Gao Rui berubah menjadi rangkaian hinaan dan penyingkiran. Hingga suatu hari, ia hampir mati dikhianati oleh kakak seperguruannya sendiri. Dari ambang kematian, Gao Rui diselamatkan oleh Boqin Changing, pendekar misterius yang melihat potensi tersembunyi dalam dirinya.
Di bawah tempaan kejam Boqin Changing di dunia khusus tempat waktu mengalir berbeda, Gao Rui ditempa bukan untuk cepat menjadi kuat, melainkan untuk tidak runtuh. Ketika kembali, ia mengejutkan sekte dengan menjuarai kompetisi bela diri dan mendapat julukan Pendekar Naga Bintang. Namun perpisahan dengan gurunya kembali memaksanya berjalan sendiri. Kali ini, Gao Rui siap menghadapi dunia persilatan yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Lan Suya
Gao Rui melangkah mendekat. Ia jelas mengetahui siapa yang datang berkunjung. Orang yang datang itu adalah Lan Suya.
Ia seorang perempuan dewasa dengan aura tenang dan berwibawa. Pakaian sederhananya rapi, tanpa perhiasan mencolok, namun setiap gerakannya memancarkan kepercayaan diri seseorang yang terbiasa mengatur banyak orang. Rambutnya disanggul sederhana, dan tatapannya hangat namun tajam. Tatapan seseorang yang telah lama bergelut dengan dunia luar.
Lan Suya dikenal luas. Ia memiliki usaha di berbagai bidang dari rumah makan yang besar, tambang yang menghasilkan hasil melimpah, serta sebuah kelompok dagang yang belum lama dibukanya. Namanya tidak asing di kalangan pedagang besar maupun beberapa kalangan sekte.
Beberapa waktu lalu, gurunya Gao Rui, Boqin Changing telah menanamkan modal yang tidak sedikit ke dalam usaha perempuan itu. Sebagai gantinya, struktur kepemilikan pun disepakati dengan jelas. Boqin Changing menggenggam dua puluh lima persen saham. Gao Rui juga memegang dua puluh lima persen. Sementara Lan Suya sendiri tetap menjadi pemilik mayoritas dengan lima puluh persen saham di tangannya.
Hubungan mereka bukan sekadar bisnis. Ada kepercayaan yang terbangun, dan Gao Rui tahu betul, perhatian Lan Suya padanya tidak lepas dari sosok gurunya.
“Bibi Ya,” ucap Gao Rui cepat, menangkupkan tangan dengan sopan.
Lan Suya tersenyum, senyuman yang jauh dari kesan formal seorang pedagang besar. Ia melangkah masuk, lalu meletakkan keranjang anyaman itu di atas meja kayu.
“Maafkan aku, Rui’er,” katanya lembut sambil sedikit menundukkan kepala. “Kemarin aku benar-benar tidak sempat datang. Seharusnya aku yang mengantarkan makanan, tapi urusan bisnis benar-benar menumpuk.”
Gao Rui langsung menggeleng, terlihat sedikit gugup.
“Tidak apa-apa, Bibi Ya,” katanya buru-buru. “Bibi tidak perlu repot-repot seperti ini. Aku bisa memasak sendiri.”
Lan Suya tertawa kecil. Tawanya ringan, tidak dibuat-buat.
“Repot?” katanya sambil menggeleng. “Tentu tidak. Lagipula yang memasak bukan aku.”
Ia menunjuk keranjang itu dengan santai.
“Pekerjaku yang menyiapkannya. Aku hanya mengantarkannya saja.”
Gao Rui terdiam sesaat. Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi, seolah ingin mengatakan sesuatu namun menahannya.
Lan Suya memperhatikan ekspresinya, lalu melanjutkan dengan nada yang tetap lembut.
“Kalau suatu hari aku terlalu sibuk,” katanya, “mungkin nanti pekerjaku yang akan langsung mengantarkan makanan ke sini.”
Gao Rui menatapnya sejenak, lalu mengangguk pelan. Ia tidak menolak. Ia tahu, menolak pun tidak ada gunanya.
Lan Suya melakukan semua ini bukan semata-mata karena dirinya. Semua ini pasti karena gurunya. Karena pesan, perhatian, dan kepercayaan yang dititipkan gurunya kepada orang-orang di sekitarnya.
Dalam hati, Gao Rui merasakan sesuatu yang hangat mengalir pelan. Rasa syukur yang dalam.
Ia benar-benar bersyukur. Bersyukur karena, tanpa ia sadari, kini ada begitu banyak orang hebat yang memperhatikannya. Orang-orang yang tidak memandangnya sebagai murid lemah seperti dahulu, melainkan sebagai seseorang yang layak dijaga dan dibimbing.
Kesunyian yang tadi menyelimutinya perlahan memudar. Di rumah kecil itu, dengan aroma masakan hangat dan kehadiran seorang perempuan yang datang membawa perhatian tulus, Gao Rui kembali merasakan satu hal yang nyaris ia lupakan. Ia tidak sendirian.
Gao Rui menatap keranjang anyaman di atas meja beberapa saat, lalu menghela napas pelan seolah mengambil keputusan.
“Bibi Ya,” katanya kemudian, nadanya lebih tenang, “kalau Bibi belum makan… bagaimana kalau kita makan bersama?”
Lan Suya sedikit terkejut. Alisnya terangkat tipis, dan untuk sesaat ia terdiam.
“Makan… bersama?” ulangnya perlahan.
Gao Rui mengangguk. Ia tersenyum tipis, senyum yang masih menyimpan kesedihan, namun jauh lebih tulus dibanding beberapa hari lalu.
“Makanannya banyak. Kalau aku makan sendiri, pasti tidak habis.”
Lan Suya tertawa kecil, tapi kali ini tawanya terdengar agak kaku. Ia menoleh sebentar ke arah pintu, seakan hendak mencari alasan untuk menolak. Namun akhirnya ia kembali menatap Gao Rui dan mengangguk pelan.
“Baiklah,” katanya lembut. “Kalau begitu, aku temani.”
Mereka pun duduk berhadapan di meja kayu sederhana itu. Gao Rui membuka keranjang anyaman, dan aroma masakan hangat segera memenuhi ruangan kecil tersebut. Lauk-lauk tersusun rapi, jelas dibuat dengan perhatian khusus.
Awalnya suasana agak canggung. Suara sendok yang menyentuh mangkuk terdengar lebih jelas dari biasanya. Lan Suya makan dengan gerakan anggun, sementara Gao Rui makan dengan tenang, sesekali melirik ke arah perempuan di depannya.
Beberapa saat kemudian, Lan Suya memecah keheningan.
“Rui’er,” katanya pelan, “bagaimana perasaanmu sekarang… setelah gurumu pergi?”
Tangan Gao Rui berhenti sesaat. Ia menunduk, menatap mangkuknya. Namun kali ini, tidak ada gemetar berlebihan di bahunya. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab.
“Masih sedih,” katanya jujur. “Tapi… tidak seperti sebelumnya.” Ia mengangkat kepala dan menatap Lan Suya. “Perasaan itu mulai berkurang sedikit demi sedikit. Tidak hilang, tapi sudah tidak lagi menyesakkan.”
Lan Suya mendengarkan dengan saksama, matanya lembut namun penuh perhatian.
“Aku mencoba memfokuskan diri pada latihan,” lanjut Gao Rui. “Dua bulan lagi akan ada kompetisi beladiri antar murid sekte. Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu.”
Lan Suya mengangguk pelan, lalu tersenyum tipis. Namun senyum itu mendadak memudar ketika Gao Rui menambahkan kalimat berikutnya.
“Sekarang aku juga berlatih bersama Tetua Bei.”
Sendok di tangan Lan Suya berhenti di udara.
“Apa?” Ia menatap Gao Rui dengan mata sedikit melebar. “Tetua Bei?”
Gao Rui mengangguk santai, seolah itu hal biasa.
“Iya.”
Lan Suya meletakkan sendoknya perlahan. Ekspresi terkejutnya sulit disembunyikan. Tetua Bei bukanlah sosok sembarangan di sekte. Ia dikenal keras, disiplin, dan sudah lama tidak pernah mengambil murid secara langsung.
“Bagaimana bisa…?” gumamnya tanpa sadar.
“Itu permintaan Guru,” jawab Gao Rui cepat. “Sebelum ia… pergi, ia sudah menitipkan aku pada Tetua Bei. Katanya, Tetua Bei yang paling cocok untuk mengawasi latihanku.”
Lan Suya terdiam cukup lama. Ia menunduk, seolah memahami sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kata-kata itu. Ada persiapan. Ada kepercayaan. Ada kekhawatiran yang ditinggalkan oleh seseorang yang tahu dirinya mungkin tidak akan selalu ada.
Gao Rui melihat ekspresi itu, lalu tersenyum kecil.
“Kadang aku berpikir,” katanya sambil setengah bercanda, “sepertinya guru takut aku jadi malas kalau tidak ada yang mengawasi.”
Lan Suya terkekeh pelan. Tawa itu akhirnya terdengar lebih alami.
“Dia mengenalmu dengan sangat baik,” katanya. “Dan jelas… dia sangat memikirkan masa depanmu.”
Gao Rui mengangguk. Di dadanya, rasa hangat itu kembali muncul.
Mereka pun melanjutkan makan bersama, kali ini tanpa kecanggungan. Di rumah kecil itu, di antara obrolan ringan dan kenangan tentang seseorang yang telah pergi, Gao Rui perlahan menyadari satu hal, ia tidak hanya mewarisi kesedihan, tetapi juga harapan.
Gao Rui menyuapkan nasi ke mulutnya, lalu tiba-tiba teringat sesuatu. Ia mengangkat pandangan dan menatap Lan Suya dengan ekspresi tulus.
“Bibi Ya,” tanyanya pelan, “bagaimana keadaan Bibi sekarang?”
Lan Suya terdiam sesaat, lalu tertawa kecil sambil menggeleng. Tawa itu terdengar ringan, namun di baliknya terselip kelelahan yang sulit disembunyikan.
“Pusing,” jawabnya jujur sambil masih tertawa. “Mengelola banyak usaha itu ternyata lebih melelahkan daripada bertarung dengan pendekar. Rumah makan, tambang, kelompok dagang… semuanya seakan minta diperhatikan bersamaan.”
Gao Rui ikut tersenyum mendengarnya. Ia bisa membayangkan betapa sibuknya perempuan di hadapannya itu.
“Bibi hebat,” katanya tulus. “Tidak semua orang bisa bertahan mengurus semua itu sekaligus.”
Lan Suya melambaikan tangan, seolah ingin merendah.
“Ah, aku hanya berusaha,” balasnya. “Kalau bukan karena dorongan dan kepercayaan gurumu… mungkin aku sudah menyerah di tengah jalan.”
Gao Rui terdiam sejenak. Ia menunduk, lalu mengangkat kepalanya kembali dengan sorot mata yang lebih yakin.
“Bibi Ya,” ucapnya pelan namun mantap, “sebenarnya… guru pernah berkata sesuatu padaku.”
Lan Suya menatapnya, alisnya terangkat tipis.
“Apa itu?”
Gao Rui menarik napas dalam-dalam, lalu tersenyum kecil.
“Guru berkata… suatu hari nanti, perempuan bernama Lan Suya akan berdiri di puncak.”
Lan Suya sedikit terkejut. Tangannya yang memegang sumpit berhenti bergerak.
“Di puncak?” ulangnya.
Gao Rui mengangguk.
“Bukan sebagai pendekar terhebat,” lanjutnya, mengingat jelas kata-kata gurunya, “melainkan sebagai pemegang kekuatan ekonomi yang luar biasa. Seseorang yang pengaruhnya bisa mengguncang banyak pihak, bahkan tanpa mengangkat senjata.”
Lan Suya tersentak. Matanya melebar, napasnya tertahan sejenak. Ia menatap Gao Rui seolah ingin memastikan apa yang baru saja didengarnya.
“Benarkah, Rui’er?” tanyanya lirih.
Gao Rui menatap balik tanpa ragu sedikit pun.
“Tentu saja,” jawabnya mantap. “Aku tidak mungkin berbohong atas nama guru.”
Ruangan kecil itu kembali hening. Namun kali ini, keheningan itu terasa berbeda. Di mata Lan Suya, ada kilatan emosi yang sulit dijelaskan, terkejut, terharu, dan entah kenapa… keyakinan.
Ia menunduk perlahan, lalu tersenyum. Senyum yang tidak lagi sekadar senyum seorang pedagang, melainkan senyum seseorang yang baru saja diteguhkan jalannya.
“Dia memang selalu melihat lebih jauh dari orang lain,” katanya pelan. “Bahkan terhadap diriku sendiri.”
Gao Rui tersenyum kecil. Di hadapannya, ia melihat Lan Suya bukan hanya sebagai seorang perempuan hebat yang membawa makanan, tetapi sebagai sosok yang juga sedang berjalan menuju takdir besarnya sendiri.