NovelToon NovelToon
Aku Menjadi Yang Terkuat Di Dunia Lain

Aku Menjadi Yang Terkuat Di Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Anime / Harem / Action / Romantis / Fantasi
Popularitas:544
Nilai: 5
Nama Author: Wakasa Kasa

Hanemo wasakasa adalah seorang pria yang berumur 27 tahun ia mencari uang dengan menjadi musisi jalanan namun pada suatu hari ada kejadian yang membuatnya meninggal dan hidup kembali dia dunia yang mana dunia itu di punuhi sihir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8

 Pelaku itu tersentak hebat.

Belum sempat ia menarik napas, Wakasa sudah berdiri tepat di belakangnya—terlalu dekat, terlalu sunyi. Sebilah katana dingin menempel di lehernya, cukup untuk membuat bulu kuduk siapa pun berdiri.

“Ke-kenapa dia bisa berada di belakangku…?” ucap pelaku dalam hati dengan panik.

Wakasa tidak berkata apa-apa. Ia hanya tersenyum tipis sambil menatap wajah pelaku dari samping. Perlahan, tekanan katana itu bertambah, membuat kulit leher pelaku mulai terasa perih.

“Geh—!”

“Kalau kau bergerak sedikit saja,” ucap Wakasa dengan suara rendah dan datar, “urat lehermu yang akan bergerak lebih dulu.”

Pelaku gemetar hebat. Keringat dingin mengalir deras dari pelipisnya. Kakinya terasa lemas, dan akhirnya ia menyerah sepenuhnya.

“A-aku menyerah! Tolong, jangan bunuh aku!”

Wakasa sedikit mengendurkan tekanan katana nya.

“Nama.”

“J-Jarot… Namaku Jarot.”

Wakasa mengangguk pelan. “Sekarang jelaskan semuanya.”

Dengan suara bergetar, Jarot pun mengaku. Ia adalah mantan kepala Desa Viloran yang lengser akibat pajak kerajaan yang sangat besar. Setelah dicopot dari jabatannya, kebencian dan dendam memenuhi hatinya.

“Aku hanya ingin mereka merasakan penderitaanku,” ucap Jarot lirih.

“Karena itu kau menjinakkan monster?” tanya Wakasa.

Jarot mengangguk. “Tapi aku hanya bisa menjinakkan monster peringkat rendah…”

Wakasa menghela napas pelan.

“Alasan yang bodoh.”

Ia kembali menekan katana itu ke leher Jarot.

“Putuskan kontrak penjinakan mu. Sekarang.”

“A-aku mengerti!”

Jarot segera merapal kan mantra. Dari kejauhan, raungan monster terdengar, lalu satu per satu menghilang hingga hutan kembali sunyi.

Setelah kontrak diputuskan, Wakasa mengikat tangan dan kaki Jarot, lalu membawanya kembali ke desa.

“Bagaimana kita bisa sampai secepat ini…?” gumam Jarot ketakutan.

“Jarak dari sini ke desa sangat jauh, bahkan jika berjalan kaki butuh sekitar tujuh jam—”

Belum sempat kalimatnya selesai, mereka sudah berdiri di tengah desa.

Jarot terdiam membeku.

“Dia kembali ke desa bahkan sebelum aku menyelesaikan kalimatku… Dia berbahaya. Bahkan aku tak pernah menyadari keberadaannya,” batinnya ngeri.

Wakasa mengumpulkan warga desa dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Warga desa pun marah setelah mengetahui kebenaran, namun Wakasa segera menenangkan mereka.

“Serahkan dia ke pihak keamanan kerajaan. Jangan mengotori tangan kalian.”

Akhirnya warga desa pun menuruti saran Wakasa.

Masalah selesai.

Keesokan harinya, Wakasa berpamitan.

“Wakasa-san!”

“Wakasa-kun!”

“Wakasa onii-san!”

“terima kasih banyak!”

“Heeem,” jawab Wakasa sambil melambaikan tangan. “Sampai ketemu lagi.”

Setelah berjalan agak jauh dari desa, Wakasa langsung menggunakan sihir teleportasinya menuju pinggir hutan dekat ibu kota agar tidak menarik perhatian.

“STATUS OPEN.”

Kecepatan 100/100

Pukulan 100/100

Kekuatan Sihir 100/100

Kemampuan Bertarung 100/100

Pertahanan 100/100

Teknik Berpedang 100/100

Mysteri -/-

Penghilang Keberadaan 90/100

Kebal Racun 60/100

Pemulihan Tubuh 90/100

Deteksi Sihir 50/100

Penjinak Hewan 80/100 (NEW)

“Penjinak hewan, ya… ini akan sangat berguna,” gumam Wakasa.

“Skill penghilang keberadaan juga bertambah. Yosh, hampir sempurna.”

Ia pun berjalan menuju ibu kota.

“Padahal baru pergi satu hari, tapi aku sudah rindu tempat ini,” ucapnya sambil tersenyum.

Wakasa langsung menuju kantor petualang.

“Selamat siang, Sakura-san.”

“Oh, Wakasa-kun. Cepat sekali kau menyelesaikan misinya.”

“Itu bukan fenomena alam,” jawab Wakasa. “Melainkan perbuatan seseorang.”

“Heeeh?” Sakura menutup mulutnya terkejut.

Setelah Wakasa menjelaskan semuanya, Sakura menghela napas.

“Jahat sekali…”

“Tenang saja. Orang itu akan diserahkan ke kerajaan.”

Setelah mengambil hadiah misi, Wakasa pergi ke alun-alun dan membeli banyak makanan.

“Yang ini, yang itu, sama ini juga,” ucapnya ceria.

“Heeeh, Wakasa-kun?”

Wakasa menoleh. “Ah, Fannisa-san.”

Wakasa berjalan santai di alun-alun sambil membawa beberapa makanan di tangannya.

“Hmm… yang ini enak, yang ini juga,” gumamnya puas.

“Heeeh, Wakasa-kun?”

Wakasa menoleh. “Eh?”

“Oh… Fannisa-san.”

Fannisa berdiri di depannya sambil membawa beberapa peralatan sihir. Ia mengenakan seragam kerajaan yang biasa, dengan lambang di dadanya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Fannisa.

“Beli makanan,” jawab Wakasa jujur. “Aku baru selesai misi.”

“Seperti biasa ya,” ucap Fannisa sambil tersenyum kecil.

Wakasa melirik seragam yang dikenakan Fannisa sejak tadi. Ia terlihat ragu, lalu menggaruk pipinya.

“Ngomong-ngomong, Fannisa-san…”

“Hmm?”

“Aku sebenarnya sudah lama penasaran,” lanjut Wakasa. “Tentang seragam itu.”

Seringai kecil muncul di wajah Fannisa. “Seragam ini?”

“Iya,” Wakasa mengangguk. “Aku pernah melihat seragam yang mirip, tapi warnanya putih dengan aksen emas, waktu pengawalan raja.”

“Oh,” Fannisa menepuk tangannya pelan. “Yang itu.”

“Seragam apa itu?” tanya Wakasa penasaran. “Kelihatannya berbeda dan… lebih berwibawa.”

Fannisa menoleh sejenak, lalu kembali menatap Wakasa.

“Itu seragam khusus,” jelasnya. “Hanya digunakan oleh pemimpin pasukan, baik ahli pedang maupun penyihir tingkat tinggi.”

“Pemimpin…” Wakasa mengangguk pelan. “Pantas saja auranya berbeda.”

“Sedangkan seragam yang kupakai ini,” lanjut Fannisa sambil menunjuk lambang di dadanya, “menandakan bahwa aku adalah penyihir peringkat S.”

“Eeh?!” Wakasa terkejut. “Jadi Fannisa-san itu… hebat?”

“H-hebat itu berlebihan!” Fannisa langsung memalingkan wajahnya. “Aku masih belum selevel mereka.”

“Tapi kau ingin menjadi pemimpin, kan?” tanya Wakasa.

Fannisa terdiam sejenak, lalu mengepalkan tangannya dengan ekspresi serius.

“Iya,” jawabnya tegas. “Aku ingin menjadi pemimpin pasukan kerajaan suatu hari nanti.”

Wakasa menatapnya sebentar, lalu tersenyum hangat.

“Kalau begitu… semangat ya.”

“H-heeh…” pipi Fannisa sedikit memerah. “Terima kasih, Wakasa-kun.”

“Oh iya,” Wakasa menambahkan santai, “kalau aku masuk akademi kerajaan, apa aku juga bisa dapat seragam itu?”

Fannisa terkekeh kecil. “Kalau kau? Aku yakin seragam itu malah akan terasa biasa.”

“Oi,” Wakasa tertawa kecil. “Itu pujian atau ejekan?”

“Rahasia,” jawab Fannisa sambil tersenyum nakal.

“Aku harus pergi,” lanjutnya. “Besok aku ada misi.”

“Begitu ya. Hati-hati.”

“Heeem!” Fannisa berlari kecil sambil melambaikan tangan. “Sampai nanti, Wakasa-kun!”

Wakasa menatap punggungnya yang menjauh.

“…Akademi kerajaan, ya,” gumamnya.

“Sepertinya itu akan menarik.”

Wakasa berdiri santai di depan meja misi sambil melipat tangannya.

“Ada misi peringkat B atau A?” tanyanya dengan nada ringan, seolah sedang menanyakan menu makan siang.

Sakura yang sedang menyusun beberapa dokumen langsung menoleh.

“Eh?” Ia berkedip beberapa kali. “Langsung B atau A?”

“Iya,” jawab Wakasa singkat. “Aku lagi butuh uang.”

Sakura menghela napas kecil sambil tersenyum kaku.

“Wakasa-kun, kau ini baru beberapa waktu terdaftar, tahu?”

“Tapi aku selalu menyelesaikan misi tepat waktu,” balas Wakasa santai.

“Memang…” Sakura membuka laci dan mengeluarkan beberapa lembar papan misi.

“Kalau begitu dengarkan baik-baik.”

Ia menunjuk satu papan dengan tanda emas kecil.

“Misi peringkat A hanya bisa diambil oleh party minimal tiga orang. Itu aturan serikat.”

“Party, ya…” Wakasa menggaruk pipinya. “Agak merepotkan.”

“Bukan ‘agak’, tapi memang berbahaya,” sahut Sakura.

“Bahkan petualang senior pun sering gagal kalau meremehkannya.”

“Begitu ya,” Wakasa mengangguk pelan. “Kalau ranking B?”

Sakura tersenyum, lalu menarik satu dokumen lain.

“Kau beruntung. Ada misi peringkat B yang baru masuk pagi ini.”

“Oh?” mata Wakasa sedikit berbinar. “Isinya apa?”

“Membasmi Wolfdenki,” jawab Sakura.

“Target resminya lima belas ekor.”

“Serigala petir…” Wakasa tersenyum kecil. “Kedengarannya menyenangkan.”

“Jangan bilang begitu dengan wajah santai,” Sakura menatapnya tajam.

“Mereka berburu berkelompok dan bergerak sangat cepat.”

“Tenang saja,” jawab Wakasa ringan. “Aku akan berhati-hati.”

Sakura menatapnya sejenak, lalu menghela napas pasrah.

“Baiklah… aku serahkan misi peringkat B ini padamu.”

Ia menyerahkan papan misi sambil menambahkan,

“Jangan memaksakan diri, Wakasa-kun. Pulang dengan selamat itu juga bagian dari misi.”

Wakasa menerima papan itu dan tersenyum.

“Terima kasih, Sakura-san.”

Ia berbalik pergi, melambaikan tangan.

“Aku berangkat.”

Sakura menatap punggungnya sambil bergumam pelan,

“Entah kenapa… setiap kali dia pergi, rasanya aku justru yang khawatir.”

Namun di hutan, Wakasa menemukan 30 ekor.

“Berlebihan,” gumamnya santai. “Sekalian saja.”

“ONE HUNDRED FIRE ARROWS!”

Panah api menghujani kawanan Wolfdenki. Raungan menggema, lalu satu per satu roboh.

“Dengan ini misi selesai—”

Dum!

Tanah bergetar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!