NovelToon NovelToon
Ditempat Dimana Salju Berhenti

Ditempat Dimana Salju Berhenti

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Yuh! No!

Sinopsis


Norden adalah kota mati bagi Noah, sampai Alice datang. Gadis misterius dari ibu kota itu menyewa jasa Noah untuk memperbaiki villa tua yang terasingkan di atas bukit.


Pada awalnya hanya hubungan kerja biasa, namun kesepian menyatukan mereka. Di tengah dinginnya angin utara, kedekatan itu terasa begitu nyata bagi Noah.


Namun, tepat ketika Noah merasa hidupnya mulai berubah, Alice menghilang dalam semalam.


Tanpa jejak, tanpa pesan. Hanya ada sebuah amplop tebal berisi uang yang tertinggal di meja bengkel Noah. Apakah kedekatan mereka selama ini nyata? Atau bagi Alice, Noah hanyalah sekadar "hiburan" yang kini sudah dibayar lunas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuh! No!, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Hari yang Tidak Terlihat Istimewa

(POV: Noah)

Pagi itu tidak berbeda dari pagi-pagi lain di Norden.

Kabut masih menggantung rendah di atas laut, bengkel berbau oli dan besi basah, dan suara camar terdengar malas—seolah mereka juga belum siap memulai hari. Jika seseorang melihatku dari luar, ia tidak akan tahu bahwa hari ini aku akan menentukan arah hidupku.

Aku menyalakan mesin tua di bengkel, lalu mematikannya lagi.

Tanganku berhenti bergerak.

Ponselku bergetar di saku.

Satu email masuk.

Aku tidak langsung membukanya.

Ada masa dalam hidup ketika keputusan terasa seperti lompatan. Ada juga masa ketika keputusan terasa seperti mengakui sesuatu yang sudah lama kita ketahui. Email itu termasuk yang kedua.

Aku duduk di bangku kayu, menghela napas, lalu membuka pesan itu.

Singkat. Profesional. Menawarkan opsi kerja jarak jauh selama enam bulan. Setelah itu, evaluasi ulang.

Tidak ada janji jangka panjang. Tidak ada ikatan permanen.

Tapi ada ruang.

Aku membaca ulang kalimat terakhir, lalu menutup ponsel.

Aku tidak merasa lega.

Aku merasa bertanggung jawab.

(POV: Alice)

Aku bangun lebih awal dari biasanya.

Bukan karena gelisah—justru karena terlalu tenang. Seolah tubuhku sudah memutuskan sesuatu sebelum pikiranku sempat mengganggu.

Aku membersihkan dapur, menyapu lantai, lalu berhenti di tengah ruangan. Vila itu terasa… hidup.

Tidak hangat, belum sepenuhnya, tapi tidak lagi kosong.

Aku membuat dua cangkir kopi.

Yang satu kuminum sendiri.

Yang satu kubiarkan di meja.

Jika Noah datang, ia akan minum.

Jika tidak, kopi itu akan dingin, dan aku akan menuangnya ke wastafel tanpa marah.

Aku sudah berjanji pada diriku sendiri: apa pun yang terjadi hari ini, aku tidak akan memohon.

(POV: Noah)

Aku naik ke bukit menjelang siang.

Langkah kakiku mantap, tapi pikiranku berisik.

Bukan soal pekerjaan. Bukan soal kota. Melainkan satu pertanyaan sederhana yang terus berputar:

Jika aku tinggal, apa yang harus kulepaskan?

Saat Alice membuka pintu, ia tidak tersenyum berlebihan. Tidak juga tampak tegang.

Ia hanya menatapku.

“Kopi di meja,” katanya.

Aku duduk dan meminumnya. Hangat. Pas.

“Kau terlihat seperti seseorang yang sudah membuat keputusan,” katanya.

Aku mengangguk. “Aku mendapat balasan.”

Ia tidak bertanya apa isinya.

Itu membuatku berbicara lebih jujur.

“Mereka memberi opsi enam bulan. Kerja jarak jauh.”

Ia menyilangkan tangan, bersandar ke meja.

“Dan?”

“Aku menerimanya.”

Ia mengangguk pelan.

Tidak ada senyum. Tidak ada pelukan.

Hanya napas panjang yang ia hembuskan perlahan.

“Enam bulan,” katanya. “Cukup lama untuk membangun sesuatu. Atau menyadari bahwa sesuatu tidak bisa dibangun.”

Aku tersenyum kecil. “Kau selalu realistis.”

“Aku belajar,” jawabnya.

(POV: Alice)

Aku tidak bertanya apakah ia tinggal untukku.

Aku tidak ingin tahu jawabannya—karena apa pun jawabannya, itu akan menyederhanakan sesuatu yang sebenarnya kompleks.

Ia tinggal karena memilih tinggal.

Itu cukup.

“Kau akan memberi tahu orang tuamu?” tanyaku.

“Sudah,” katanya. “Ayahku tidak senang. Tapi ia juga tidak melarang.”

Aku mengangguk. “Di kota kecil, diam sering kali berarti menerima.”

Kami duduk di ruang tamu. Tidak saling berhadapan. Tidak saling menjauh.

“Aku ingin kita sepakat satu hal,” kataku.

Ia menoleh.

“Enam bulan ini bukan masa percobaan untuk hubungan,” kataku pelan. “Tapi masa kejujuran.”

Ia berpikir sejenak, lalu mengangguk. “Tidak ada pura-pura.”

“Tidak ada janji yang kita ucapkan hanya karena takut kehilangan,” tambahku.

Ia menatapku lama. “Aku setuju.”

(POV: Noah)

Sore itu, aku kembali ke bengkel, tapi bukan untuk bekerja.

Aku membersihkan. Mengatur ulang rak.

Membuang barang-barang yang tidak lagi kupakai.

Aku menyadari: aku selalu hidup seolah suatu hari aku akan pergi. Bahkan ketika aku tinggal.

Hari ini, untuk pertama kalinya, aku menyusun hidupku seolah aku akan tetap di sini—setidaknya sementara.

Malamnya, aku naik ke vila lagi.

Alice sedang duduk di teras, mengenakan jaket tipis, memandangi langit yang mulai gelap.

“Kau tidak perlu datang,” katanya tanpa menoleh.

“Aku tahu,” jawabku. “Aku ingin.”

Ia bergeser sedikit, memberiku ruang. Aku duduk di sampingnya.

Kami tidak berbicara lama.

Angin berhembus dingin, tapi tidak menusuk.

“Aku tidak menjanjikan apa pun,” kataku akhirnya.

Ia tersenyum tipis. “Aku juga tidak memintanya.”

“Tapi aku berusaha hadir,” lanjutku.

“Itu lebih dari cukup,” katanya.

Tanganku bergerak—perlahan, ragu—lalu berhenti di antara kami.

Ia menoleh, menatapnya.

Aku tidak menariknya kembali.

Beberapa detik kemudian, ia meletakkan tangannya di atas tanganku.

Tidak menggenggam. Tidak menekan.

Hanya diam.

Dan dunia tidak runtuh.

(POV: Alice)

Sentuhan itu sederhana.

Tapi aku merasakannya sampai ke dada.

Bukan karena romantis. Melainkan karena jujur.

Kami duduk begitu lama, hingga lampu-lampu kota kecil mulai menyala di kejauhan.

“Apa yang paling kau takuti?” tanyaku pelan.

Ia berpikir. “Menjadi seseorang yang selalu setengah hadir.”

Aku mengangguk. “Aku takut membangun rumah di tempat yang hanya sementara.”

Kami saling menatap.

“Enam bulan,” katanya.

“Enam bulan,” jawabku.

Bukan sebagai batas.

Melainkan sebagai ruang bernapas.

(POV: Noah)

Saat aku turun dari bukit malam itu, aku menyadari sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.

Aku tidak pulang untuk melarikan diri dari hari.

Aku pulang karena hari sudah cukup.

Keputusan sudah dibuat. Tidak besar. Tidak dramatis.

Tapi nyata.

Dan untuk pertama kalinya, aku merasa berada di tempat yang tepat—bukan karena aku tidak punya pilihan lain, tetapi karena aku memilihnya.

(POV: Alice)

Aku mematikan lampu vila satu per satu sebelum tidur.

Di kamar, aku berdiri sebentar di depan cermin.

Aku terlihat sama.

Tapi aku tahu—sesuatu telah bergeser.

Aku tidak lagi sendiri di tempat ini.

Dan yang lebih penting: aku tidak lagi takut jika suatu hari aku harus sendiri lagi.

Karena hari ini, aku memilih tinggal.

Dan hari ini, seseorang memilih tinggal bersamaku—tanpa janji, tanpa kepastian, tanpa kebohongan.

Itu cukup.

(POV: Noah)

Minggu pertama setelah keputusanku berlalu tanpa peristiwa besar.

Dan justru itu yang membuatnya terasa berbeda.

Aku mulai bangun dengan tujuan yang tidak bergantung pada jadwal bengkel saja. Ada pagi-pagi tertentu ketika aku naik ke bukit lebih dulu, membantu Alice mengganti papan lantai yang lapuk, lalu turun ke kota menjelang siang.

Ada juga hari ketika aku tidak ke vila sama sekali—dan aku memberitahunya sebelumnya.

Hal kecil.

Tapi terencana.

Di bengkel, orang-orang mulai memperhatikan.

“Kau kelihatan lebih rapi,” kata Erik suatu siang.

“Atau mungkin lebih sering mandi.”

Aku mengabaikannya.

Namun saat ia menambahkan, “Kau sering ke vila itu, ya?” aku tahu ini bukan lagi lelucon.

“Aku bekerja di sana,” jawabku singkat.

Ia mengangguk, senyum tipis di sudut bibirnya.

Tidak mengejek. Tidak bertanya lebih jauh.

Di Norden, itu berarti: kami tahu, tapi kami menunggu.

Aku pulang sore itu dengan perasaan aneh—bukan terancam, melainkan terlihat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!