Siang itu Berlian berniat pulang kerja lebih awal, dengan tujuan untuk memberi kejutan pada sang suami. Hari ini adalah anniversary pernikahan mereka yang ke tujuh.
Tapi kenyataan kadang tak sesuai ekspektasi. Niat awal ingin memberi surprise, malah dirinya sendiri yang terkejut.
Berlian mendapati sang suami asyik berbagi peluh dengan adik di ranjang miliknya.
Kedua kakinya tak mampu lagi menopang badan, hatinya luruh lantak melihat kenyataan di depan mata.
"Sayang, ini tak seperti yang kamu lihat," alibi laki-laki yang menjadi suami Berlian.
Akankah Berlian tegar menghadapi atau malah hancur meratapi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengusiran
Berlian melipat kedua lengannya sambil bersandar di pintu yang terbuka menunggu respon sang adik yang tiduran membelakangi.
Intan menghubungi seseorang.
Berlian mendengar dan menangkap inti pembicaraan itu.
Intan terkejut saat membalik badan dan mendapati kakaknya sedang menyandarkan badan di pintu.
"Kakak?" suaranya agak gugup.
"Kerasan sekali nyonya Arya tinggal di rumah orang," sindir Berlian.
"Maksud kakak apa? Ini rumahnya mas Arya. Aku berhak tinggal di sini. Apa kakak lupa, aku istrinya mas Arya sekarang dan kakak hanyalah MANTAN," Intan menegaskan kata mantan dengan sengaja.
"Atas dasar apa? Kepemilikan atas namaku semua," terang Berlian.
"Ho... Ho... Ho... Tak semudah itu kakak ku sayang. Suamiku masih pengajuan banding, jadi kita masih punya hak tinggal di sini," balas Intan.
'Hanya orang dengan mental pengemis yang tak tahu malu. Menempati yang bukan haknya," ucap Berlian ketus. Sementara Intan cemberut, tak terima ucapan Berlian.
"Mana suami kamu? Aku ingin bicara baik-baik," terus Berlian.
"Kenapa kak? Kangen sama mas Arya? Tak akan kubiarkan mas Arya kembali pada kakak," balas Intan.
"Idih, ogah. Aku ikhlas kok kasih sisa buatmu," sindiran Berlian sangatlah pedas, hanya orang dengan otak bebal saja yang tak sakit hati.
"Mas Arya bukan barang. Jangan bilang kalau dia sisa kamu," sanggah Intan tak terima.
'Itu kenyataannya. Dan kamu lah pemungut nya," Berlian tertawa sinis.
"Bilang sama suami kamu, kalau sampai siang ini kalian tak keluar dari rumah ini. Maka barang kalian ku lempar keluar," ancam Berlian.
"Awas saja kalau kakak berani," balas Intan.
"Aku serius. Lihat aja nanti!" Berlian melenggang.
"Kak, apa kamu nggak kasihan pada bumil ini?" seru Intan.
Berlian tak menggubris. Malas dengan sikap Intan yang manipulatif.
"Ah, tentu saja kakak nggak ngerti perasaan wanita hamil. Kakak kan mandul," teriak Intan karena Berlian sudah sampai ruang tengah.
Maura gantian menghadang laju Intan yang hendak menyusul Berlian.
"Kemana lo?" hardik Maura.
"Ngapain kak Maura di sini? Oh, jadi pembela kak Berlian kah?" kata Intan sinis.
"Mau aku remas bibirmu itu?" seru Maura kesal.
"Oh, jadi kalian ke sini mau ngeroyok wanita hamil ini? Awas saja, kulaporkan atas pasal penganiayaan," oceh Intan.
"Semakin dibiarkan semakin banyak omong nih orang," Maura bertambah emosi. Maura yang sedari tadi diam, gatal untuk ikutan nimbrung karena olokan Intan yang bilang Berlian mandul.
"Kak Maura tak terima? kak Berlian kubilang mandul? Toh kenyataan emang seperti itu," omongan Intan menjadi.
"Sudahlah, ngapain kita ngeladenin orang gila?" Berlian mengajak pergi.
"Apa? Kakak ngatain aku gila?" Intan terpancing emosi.
"Maura, kita pergi. Kelamaan di sini ntar kita ikutan sinting," bilang Berlian dengan senyum mengejek.
"Ingat, kosongkan rumah ini segera. Kalau tak ingin ku usir paksa," pesan ulang Berlian sambil jalan meninggalkan Intan yang masih hendak membalas omongannya.
.
"Beneran, kau usir paksa mereka?" bilang Maura kala mobil melaju membelah jalanan utama.
"Tentu saja," jawab Berlian pasti.
"Wah, seru kali melihat mereka pindahan. Pasti adikmu kecewa banget. Kalah lagi sama kakaknya yang cantik ini," puji Maura jujur.
"Kalau sampai batas waktu yang aku tentuin mereka belum keluar, aku sudah nyuruh orang buat ngusir mereka," bilang Berlian membuat Maura puas.
"Nah ini baru sahabat gue," Maura ikutan senang.
Tak lama ponsel Berlian berdering.
"Si buaya nelpon," bilang Berlian terkekeh.
Maura ikutan melihat layar ponsel Berlian yang berada di atas dashboard.
Maura mengernyitkan alis.
"Arya pasti dapat aduan dari istri barunya," Berlian tertawa
"Nggak kamu angkat?"
"Tentu saja. Aku menduga, Arya sekarang kaya cacing kepanasan," Berlian tertawa lepas.
"Mana mungkin Arya mau melepas rumah itu," kata Berlian.
"Modelan laki pelit nan kikir tuh si Arya. Heran aja, dulu kamu kok betah banget sama dia," olok Maura. Dan keduanya pun tertawa lepas bersama.
"Halo," ucap Berlian kala tersambung dengan Arya.
"Apa yang kamu lakukan pada adikmu tadi?'" kata Arya.
"Dia sekarang mengalami nyeri perut," lanjut Arya.
"Ngapain laporan ke aku?" tukas Berlian.
"Ini gara-gara kamu. Pasti karena kamu intimidasi. Kalau sampai terjadi apa-apa pada calon anakku. Tak kan kubiarkan hidupmu tenang Berlian," ancam Arya.
"Hhhmmm, akan kuladenin," Berlian yakin tak bersalah karena tak ada kontak fisik dengan Intan saat berada di rumah.
"Oh ya Arya, kosongkan rumah ku siang ini. Jangan jadikan Intan sebagai dalih," Berlian menutup panggilan Arya sepihak.
"Cin, tolong kamu bukain akses cctv di rumahku. Simpan rekaman hari ini, sebelum barang bukti dihapus oleh mereka," Berlian menyodorkan ponsel ke Maura.
"Siap bosku," Maura sigap menerimanya.
Maura mengotak atik ponsel Berlian.
"Oke, beres," tandas Maura.
"Pasti siang ini, Arya akan nelpon lagi," ujar Berlian pasti.
"Kok bisa?" tanya heran Maura.
"Karena orang yang aku suruh akan datang siang ini buat ngusir mereka," Berlian tersenyum membayangkan wajah Intan dan Arya yang mengangkut koper-kopernya.
"Sadis kamu," olok Maura.
"Aku hanya membalas perbuatan mereka, tak lebih," terang Berlian.
"Menyimpan dendam tak baik loh," Maura mengingatkan.
"Baiklah tuanku," mereka berdua kompak tertawa.
Berlian menurunkan Maura di depan apartemen, dan langsung pulang ke kediamannya.
Mereka musti bersiap dalam rangka pindah tugas esok hari.
.
Berlian rebahan di atas ranjang saat panggilan ponsel miliknya berdering.
Berlian tak kaget, apa yang dibilang ke Maura tadi menjadi nyata.
Arya menelponnya kembali.
"Berlian Putri Wiranata, berani sekali kamu mengusirku. Aku tak terima, akan ku balas lebih dari ini," ancam Arya.
"Bukannya dari tadi sudah aku jawab? Silahkan saja tuan Arya," tukas Berlian tanpa emosi.
"Percaya diri sekali kamu? Apa karena ada tuan Dominic di belakangmu?" kata Arya.
"Jangan bawa-bawa tuan Dom, dia tak ada sangkut pautnya sama kita,"
"Ha...ha... segitunya kamu membela dia. Itu membuktikan kalau kamu ada apa-apa dengan bos mu. Apa dia salah satu alasan kamu ajukan gugatan cerai?" ucapan Arya membuat Berlian mengepalkan tangannya erat.
Tak habis-habisnya Arya mengganggu ketenangan Berlian.
"Nggak usah banyak omong. Sekarang kosongkan rumah itu!" tegas Berlian.
"Oke, saat ini aku mengalah sementara. Tapi lihat ntar," belum sempat Arya selesai bicara, panggilan diputus sepihak oleh Berlian.
Layar ponsel kembali berkedip, Berlian hanya melirik tanpa mau mengangkat.
Lima kali panggilan dibiarkan oleh Berlian.
Panggilan ke enam, Berlian melihat meski bibirnya menggerutu tiada henti.
"Eh, bos," gumam Berlian dengan tangan reflek menggeser ikon hijau.
"Halo," sapa manis Berlian.
.
.
Sudah emosi belum guyssss? 🤣