Almira Abimanyu, di hari ia mengetahui kehamilannya, Gilang, suaminya justru membawa Lila, istri kedua yang juga tengah hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Umpan Pertama
.
Senja datang, ditemani hujan yang mengguyur kota dengan derasnya, bahkan tak berhenti hingga malam, menciptakan suasana yang dingin dan melankolis. Rini, yang seharusnya sudah pulang ke kontrakan untuk menjenguk adiknya, terpaksa menunda keberangkatannya.
Sebenarnya, Almira sudah menawarkan agar adiknya Rini ikut tinggal di rumah mewah itu. Ada satu kamar kosong di bagian belakang yang bisa ditempati. Namun, Rini menolak tawaran itu.
Rizal, adiknya, lebih memilih untuk tetap tinggal sendiri di kontrakan sederhana mereka, karena terkadang adiknya harus belajar kelompok bersama dengan teman-temannya yang datang ke rumah kontrakan.
Lagi pula kata Rini, adiknya sudah sangat mandiri sejak dulu. Jadi, Rini hanya perlu menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh adiknya. Dan juga uang saku dan ongkos transport selama satu minggu. Dengan uang yang telah diberikan oleh Almira itu bukan hal sulit sulit.
Hujan yang tak kunjung reda menjadi kesempatan emas bagi Almira untuk memulai rencananya. Dengan wajah penuh iba, ia menghampiri Gilang yang sedang sibuk dengan ponselnya di kursi yang tak jauh darinya.
"Mas," panggil Almira dengan nada lembut yang sudah lama tidak Gilang dengar.
Gilang menoleh, terkejut dengan panggilan Almira yang tiba-tiba. "Iya?" Seketika wajahnya berbinar. Almira sudah tidak marah, dan mulai menerima pernikahannya dengan Lila. Itu yang ada dalam pikirannya.
"Kasihan Mbak Rini," ucap Almira sambil menunjuk ke arah Rini yang sedang berdiri termenung di ambang pintu, menatap hujan yang semakin deras.
"Dia kan mau pulang ke kontrakan buat jenguk adiknya. Tapi hujannya deras banget. Kalau dia naik motor, walaupun pake jas hujan, pasti tetap kebasahan."
Gilang terdiam, tidak mengerti maksud istrinya. "Terus gimana, Sayang?"
Panggilan yang sejatinya membuat Almira ingin muntah.
"Gimana kalau kamu anterin Mbak Rini pulang?" usul Almira dengan wajah prihatin.
“Kok Mas Gilang sih, Mbak?!" Lila berteriak tidak setuju.
"Kalau bukan Mas Gilang, lalu siapa?” tanya Almira. “Kamu?"
"Ya tapi jangan Mas Gilang juga!” Lila tetap tidak terima. Ada sesuatu yang mulai mengganggu hatinya.
"Saya, gak papa, kok, Bu.” Rini yang mendengar perdebatan mereka menyela dengan suaranya yang lemah. Matanya yang menoleh terlihat berkaca-kaca. Bertatapan sekilas dengan Gilang, tapi kemudian mengalihkan pandangan.
“Palingan juga adik saya cuma sedikit kecewa, atau khawatir. Semoga sebelum tengah malam hujannya sudah reda," lanjutnya.
"Dasar manusia tidak punya hati. Tidak ada rasa kasihan pada sesama." Almira bergumam seorang diri tapi terdengar cukup keras di suasana yang hening.
Lila mengepalkan tangannya merasa dirinya disindir. Matanya memicing menatap ke arah kakak madu, merasa ada sesuatu yang direncanakan oleh wanita itu.
"Sayang,” panggil Gilang sambil memegang tangan Lila. “Aku antar Mbak Rini pulang sebentar," ucapnya mengambil keputusan.
Mumpung Almira memberikan kepercayaan padanya, Gilang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Selama beberapa hari Almira merajuk, ia kesulitan mengerjakan tugas-tugas perusahaan. Jika ia bisa kembali mengambil hati Almira seperti dulu, pasti semuanya akan lebih mudah dan ia bisa kembali mendapatkan promosi.
Almira tersenyum lebar. “Hati-hati di jalan ya, Mas," ucapnya lembut, membuat hati Gilang benar-benar berbunga.
"Aku akan segera pulang," ucap Gilang dengan nada gembira. "Mbak Rini, ayo aku anterin sekarang." Laki-laki yang dengan semangat empat lima beranjak dari duduknya lalu berlari kamar mengambil kunci mobil.
Almira tersenyum licik dalam hati, rencananya berjalan dengan lancar. Sebelumnya, Almira sudah membisikkan rencananya pada Rini. Ia meminta Rini untuk memanfaatkan kesempatan itu sebaik mungkin.
Rini menoleh ke arah Almira. Terlihat wanita itu mengangguk pelan.
"Ayo, Mbak,” ajak Gilang yang sudah kembali dengan jaket tebal.
"Terima kasih banyak, Pak. Maaf, saya jadi merepotkan Bapak," ucap Rini seolah tak enak hati. Bersikap malu-malu yang tentu saja palsu. "
"Gak apa-apa, Mbak," balas Gilang dengan senyum manis. "Ayo, keburu malam."
Gilang merasa lega karena istrinya mulai mau bicara manis lagi padanya. Ia merasa ada harapan untuk memperbaiki hubungan mereka.
Rini menyambar tas yang sudah ia siapkan dan mengikuti Gilang keluar rumah setelah mengangguk kecil pada Almira.
Almira mengamati mereka dari jendela, senyum menghiasi wajahnya. Sebentar lagi, Gilang akan jatuh sepenuhnya ke dalam perangkapnya. Dan saat itu tiba, ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Kebebasan dan kebahagiaan.
"Apa yang Mbak Mira rencanakan?!" tuding Lila.
"Apa sih?"
*
*
*
Di dalam mobil, hujan masih mengguyur dengan deras, menciptakan suara gemericik yang menenangkan sekaligus menegangkan. Gilang fokus menyetir, sesekali melirik Rini yang duduk di sampingnya. Gadis itu tampak menggigil kedinginan.
"Mbak Rini gak apa-apa?" tanya Gilang dengan nada khawatir.
Rini menoleh, tersenyum tipis. "Gak apa-apa, Pak. Cuma sedikit dingin aja," jawabnya dengan suara pelan.
Gilang terdiam, merasa iba pada Rini. Menepikan mobil dan tanpa ragu melepas jaket yang dikenakannya. “Pakai ini saja, Mbak," ucapnya.
“Ti tidak usah, Pak. Nanti malah Bapak yang kedinginan." Penolakan yang tentu saja hanya pura-pura. Sebenarnya, ia sedang memancing. Dua tangannya memeluk tubuhnya sendiri. Seolah tubuhnya benar-benar kedinginan.
"Sini, biar saya pakaikan," ucap Gilang karena Rini tidak menerima ulurannya. Ia mendekat, memposisikan jaket di bahu Rini. Jari-jarinya menyentuh kulit leher Rini yang halus dan dingin. Sentuhan itu singkat, namun mampu menyengat keduanya.
Mata mereka bertemu. Ada kejutan, kebingungan, dan sedikit rasa tertarik di sana. Gilang terpana menatap mata Rini yang indah, wajah polos tanpa make up, hanya lip gloss yang menyapu tipis bibirnya yang sedikit terbuka.
"Terima kasih banyak, Pak," ucap Rini dengan suara sedikit bergetar. “Pak Gilang baik banget sama saya." ucap Rini, mengalihkan pandangannya, menunduk dengan wajah gugup. Menggigit bibir bawahnya
"Ini… ini bukan apa-apa," balas Gilang dengan senyum manis, berusaha menyembunyikan kegugupannya.
Keheningan kembali menyelimuti mobil. Hanya suara hujan yang terdengar. Rini menunduk, menyembunyikan wajahnya. Ia mulai menjalankan rencananya.
"Baru kali ini saya bertemu majikan yang baik seperti Bapak,” ucap Rini membuat Gilang spontan menoleh. Niatnya untuk kembali menjalankan mobil tertunda.
"Jika itu orang lain, pasti merasa jijik jika harus mengantar pembantu pulang. Apalagi sampai meminjamkan jaket.”
Gilang merasa tersanjung dengan ucapan Rini. Ia menatap ke arah Rini. Gadis yang menatap ke depan dengan pandangan kosong, menghadirkan rasa iba. “Saya tidak membedakan manusia, Mbak,” dustanya. Tangannya terulur menggenggam tangan Rini.
Rini terkejut dengan tindakan Gilang. Ia mendongak, menatap pria itu dengan raut kagum. “Bapak benar-benar baik,” ucapnya. "Saya senang memiliki majikan seperti Bapak.”
“Saya juga senang. Mbak Rini selalu bekerja dengan baik."
Tatapan keduanya beradu hingga beberapa saat. Perlahan, Gilang mendekatkan wajahnya pada Rini. Entah apa yang merasukinya hingga tiba-tiba ingin mencium wanita itu.
Namun, Rini tiba-tiba mendorong tubuh Gilang menjauh. "Ap apa yang Bapak lakukan?" ucap Rini dengan nada gugup.
Gilang tersentak, merasa bersalah. Ia tidak sadar dengan apa yang ia lakukan. "Maafkan saya, Mbak," ucap Gilang dengan nada menyesal. "Saya gak bermaksud apa-apa. Saya… saya hanya terbawa suasana."
Rini mengangguk pelan. "Gak apa-apa, Pak," jawabnya dengan kepala tertunduk. "Saya mengerti. Tolong jangan ulangi lagi. Saya... Saya hanya takut merusak kepercayaan Bu Mira."
Gilang mengangguk. Keheningan kembali menyelimuti mobil. Namun, kali ini, suasana terasa lebih canggung dan tegang. Gilang menatap wajah gadis itu intens. Terlihat di matanya, gadis itu bukan marah, tapi tersipu malu.
“Dia juga menyukaiku."
semangat thor