NovelToon NovelToon
Langit Yang Retak, Golok Yang Sunyi

Langit Yang Retak, Golok Yang Sunyi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Timur / Balas Dendam / Dendam Kesumat / Ahli Bela Diri Kuno / Dark Romance
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Nnot Senssei

Ini Novel Wuxia!

Di dunia persilatan yang kelam dan penuh intrik, nama Liang Shan adalah luka yang tak pernah sembuh—anak dari keluarga pendekar agung yang dibantai secara keji oleh lima perguruan besar dan puluhan tokoh bayaran.

Sejak malam berdarah itu, Liang Shan menghilang, hanya untuk muncul kembali sebagai sosok asing yang memikul satu tujuan, yaitu membalas dendam!

Namun, dendam hanyalah awal dari kisah yang jauh lebih kelam.

Liang Shan mewarisi Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit, ilmu silat rahasia yang terdiri dari sembilan jurus mematikan—masing-masing mengandung makna kesunyian, penderitaan, dan kehancuran.

Tapi kekuatan itu datang bersama kutukan, ada racun tersembunyi dalam tubuhnya, yang akan bereaksi mematikan setiap kali ia menggunakan jurus kelima ke atas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Dunia persilatan adalah sebuah dunia yang aneh, terikat dalam jalinan kontras yang tak terurai. Di dalamnya, cinta beradu dengan benci, dendam merajut benang dengan pengkhianatan, dan kehormatan seringkali hanya menjadi topeng bagi kejahatan yang lebih busuk.

Namun, lebih sering daripada tidak, yang berkuasa di rimba tak berhukum ini bukanlah kebenaran yang suci, melainkan kepentingan yang berlumur kotoran duniawi.

Pedang bisa terhunus tajam hanya karena sehelai kata yang salah dengar atau dianggap menghina. Golok bisa menebas leher hanya karena segenggam emas yang dijanjikan.

Dalam dunia yang menuhankan kekuatan dan di mana moralitas hanyalah omong kosong bagi yang lemah, tidak ada jaminan bagi sebuah keluarga untuk hidup tenang, betapa pun terhormatnya nama yang mereka sandang.

Di bagian utara daratan, tersebutlah Keluarga Liang.

Mereka bukanlah keluarga kaya raya yang menguasai sawah luas hingga ke kaki langit, juga bukan keluarga pejabat yang kursinya kokoh di pemerintahan. Kekuatannya terletak pada kehormatan yang mereka jaga seperti pusaka tak ternilai.

Nama mereka dikenal karena kebaikan yang tulus, ilmu sastra yang tinggi, dan sebuah peninggalan yang diwariskan turun-temurun: yaitu sebuah golok tua yang bentuknya sederhana, bahkan terkesan usang, namun menyimpan nama besar yang menggema di dunia persilatan.

Golok itu dijuluki "Golok Sunyi Mengoyak Langit"—Golok Sunyi, sebuah nama yang sarat akan makna sunyi, namun juga sangat mematikan.

Bersama dengan golok itu, tersimpan pula sebuah Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit, yang konon memuat jurus-jurus golok paling mematikan di kolong langit.

Pada suatu malam kelam, takdir Keluarga Liang tercabik menjadi kepingan tak berarti. Langit di atas kediaman mereka berawan tebal, seolah sang dewa pun enggan menyaksikan tragedi yang akan terjadi.

Bulan tertutup kabut yang dingin, dan angin bertiup kencang, suaranya menderu seperti ratapan yang tahu bahwa darah akan segera mengalir.

Malam itu, kediaman Keluarga Liang digempur oleh puluhan orang. Mereka datang dalam sunyi dan kegelapan, bergerak secepat serigala yang kelaparan.

Pakaian mereka hitam kelam, beberapa menutupi wajahnya dengan kain, seolah menyembunyikan rasa malu atas perbuatan keji yang akan mereka lakukan.

Namun, bukan jumlah penyerang yang membuat serangan itu begitu mengerikan, melainkan kehadiran di antara mereka.

Di balik kerumunan berbaju hitam, tampaklah beberapa sosok tua, tokoh-tokoh dunia persilatan yang namanya sudah lama terkenal, bahkan memiliki kedudukan penting dalam perguruan besar yang seharusnya menjunjung tinggi keadilan.

Mereka tidak menyembunyikan wajahnya, seakan-akan ingin menegaskan bahwa kehancuran Keluarga Liang bukanlah kecelakaan, melainkan sebuah keputusan yang sudah lama ditetapkan oleh para penguasa dunia persilatan.

Jejak itu sengaja ditinggalkan, menjadi pesan berdarah bagi siapa pun yang berani memiliki pusaka tanpa memiliki kekuatan yang setara.

Liang Qi, kepala keluarga, seorang pria paruh baya yang tenang dan berwibawa, segera menyadari betapa putus asa situasi mereka. Ia adalah seorang sastrawan yang lebih mencintai pena daripada pedang, namun malam ini, ia adalah seorang ayah dan suami yang harus berdiri di depan gerbang kematian.

Ia menghunus Golok Sunyi yang kini memancarkan aura dingin dalam gelapnya malam.

Pertarungan pun dimulai.

Liang Qi bertarung dengan gagah berani, mengandalkan setiap ilmu yang pernah ia pelajari. Setiap ayunan goloknya adalah pertahanan putus asa. Darah musuh mengucur deras di lantai halaman, tetapi jumlah serigala itu terlalu banyak.

Untuk setiap satu penyerang yang tumbang, dua penyerang baru maju menggantikannya. Tubuh Liang Qi yang tegap perlahan dipenuhi luka sayatan.

Di sampingnya, istrinya roboh, darah segar mengalir membasahi lantai kayu yang sebelumnya bersih.

Saudara-saudara Liang Shan—para paman dan bibi anak itu—jatuh satu per satu, menjadi korban keganasan yang tak terperi.

Jerit ketakutan dan tangisan pilu anak-anak kecil bercampur aduk dengan suara senjata beradu dan teriakan bengis para penyerang, menciptakan simfoni kematian yang memekakkan telinga.

Di tengah kekacauan yang mencapai puncaknya, nasib seorang anak kecil ditentukan.

Liang Shan, seorang bocah berusia sepuluh tahun, yang mencoba bersembunyi di balik lemari, ditemukan oleh seorang pendekar tua yang wajahnya dipenuhi kerut kebencian.

Pendekar itu bukan hanya datang untuk membunuh, tetapi untuk melenyapkan semua benih Keluarga Liang.

Namun, entah mengapa ia tidak membunuh anak itu dengan sekali tebas. Alih-alih, ia menorehkan sebuah Tapak Racun Sepuluh Ribu Tulang ke tubuh kecil Liang Shan.

Racun itu tidak membunuh seketika. Liang Shan menjerit kesakitan, tubuhnya gemetar hebat.

Racun mematikan itu meresap perlahan, merusak nadinya, dan menghancurkan jalur energi internal dari akarnya. Sejak saat itu, hidup Liang Shan tidak akan pernah sama lagi.

Ia akan hidup sebagai seorang yang lemah, tidak akan pernah bisa berlatih ilmu persilatan, dan selalu berada di ambang kematian yang mengintai.

Rencana mereka adalah membuat anak itu perlahan mati, tanpa perlu repot-repot menumpahkan darah lagi.

Namun, tepat sebelum nyawa anak itu melayang sepenuhnya, sebuah keajaiban terjadi.

Dari kejauhan, di luar gerbang yang kini runtuh, terdengar suara langkah kaki perlahan. Langkah itu tenang, tanpa tergesa, namun mengandung wibawa yang begitu kuat hingga membuat puluhan serigala yang tadi begitu garang tiba-tiba berhenti bergerak.

Mereka menoleh, dan melihat sosok itu muncul di halaman. Seorang tua berambut putih panjang yang terurai hingga pinggang.

Pakaiannya sangat sederhana, hanya jubah kain abu-abu, namun aura yang memancar darinya membuat puluhan penyerang, bahkan para tokoh besar sekalipun, bergetar ketakutan.

Mereka mengenali kehadiran orang tersebut. Itu adalah kehadiran yang melampaui batas-batas perguruan dan aliansi, sebuah nama yang cukup untuk membuat dunia persilatan terdiam.

"Tua ..., Tuan Agung Jin..." bisik salah satu penyerang tua, suaranya tercekat.

Tak ada yang berani melawan. Misi telah selesai—pusaka hampir mereka dapatkan dan pewarisnya sudah diracuni—tetapi tidak ada hadiah yang sebanding dengan nyawa yang hilang di tangan orang tua itu.

Mereka segera pergi, mundur secepat bayangan, menghilang di balik kabut malam, meninggalkan mayat, darah, dan api yang kini mulai melahap rumah kayu Keluarga Liang.

Tuan Agung Jin adalah sosok legendaris yang jarang menampakkan diri.

Hatinya diliputi duka yang mendalam saat menyadari dirinya datang terlambat. Ia hanya sempat melihat tiga wajah tokoh dunia persilatan yang sangat terkenal, tepat sebelum mereka menghilang.

Dengan tenang, ia memadamkan api yang mulai membesar. Kemudian, tanpa kata-kata, dengan tangan sendiri, ia menguburkan semua mayat Keluarga Liang, satu per satu, dan memberikan penghormatan terakhir yang layak bagi orang-orang baik.

Dari tragedi berdarah itu, hanya Liang Shan kecil yang masih hidup, ia terbaring lemah, wajahnya pucat pasi, napasnya tersengal-sengal karena menahan racun yang merusak nadinya.

Orang tua itu mengangkat tubuh kecil Liang Shan. Ia juga mengambil Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit dan Golok Sunyi yang terselip di sisi tubuh Liang Qi, tepat sebelum menguburkannya.

Malam itu, di bawah sisa-sisa reruntuhan dan bau darah, menjadi malam yang mengubah segalanya.

Dunia persilatan tidak pernah mencatat peristiwa itu secara jelas, karena yang mengetahui hanya segelintir tokoh penting yang bungkam seribu bahasa.

Namun kelak, dari tragedi berdarah itu, akan lahir seorang pendekar muda yang namanya bakal mengguncang langit dan menorehkan kisah panjang penuh darah, air mata, dan pembalasan yang mengerikan.

1
Nanik S
Bagus Lian Shang
Nanik S
Kecapi Sakti
Nanik S
Apakah Kakek itu orang yang dicari
Nanik S
Mereka bertiga benar2 tangguh
Nanik S
Liang Shan... punya berapa Nyawa
Nanik S
God Joon
Nanik S
Liang Shan.... berat amat jalanmu
Nanik S
mereka sepasang Anak sahabat yang mati karena dikhianati
Nanik S
Jendral Zhao ternyata bukan hanya penghianat tapi Inlis yang sesungguhnya
Nanik S
teruskan... menarik sekali Tor
Junn Badranaya: Siap kak ...
total 1 replies
Nanik S
Liang Shan harusnya tinggal dengan Damai
Nanik S
Liang Shan.... apakah akan hancur bersama Goloknya
Nanik S
Ternyata Jendral besar juga terlibat
Nanik S
Mantap.... kenapa Lian Shen tidak mencari penawar racunya
Nanik S
Kecantikan sebagai Alat untuk meruntuhkan Lelaki
Nanik S
Kurangi musuh satu satu
Nanik S
Pesan pertama Golok Sunyi
Nanik S
Mantap Tor
Nanik S
Ling Shang... kehilangan kedua kali amat menyakitkan
Nanik S
Hidup dengan tubuh beracun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!