NovelToon NovelToon
Azalea : Aku Menjadi Karakter Teman Tokoh Utama Perempuan Yang Mati Di Ending Novel

Azalea : Aku Menjadi Karakter Teman Tokoh Utama Perempuan Yang Mati Di Ending Novel

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Mengubah Takdir / Fantasi Isekai / Masuk ke dalam novel / Menjadi NPC / Fantasi Wanita
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Azalea Rhododendron

Aku mengalami kecelakaan saat menyelamatkan anak dari kakak laki-lakiku. Aku yang saat itu melihat Keponakanku nyaris ditabrak oleh mobil yang melaju kencang di jalanan, refleks mendorong dia menjauh sehingga aku yang ditabrak mobil. Secara samar-samar aku melihat kakak laki-lakiku datang dan meneriakkan namaku. Akan tetapi, pandanganku sudah gelap. 'Apakah aku akan bertemu Papa dan Mama sekarang?'

Begitu membuka mata, aku berada di sebuah tempat yang hanya ada satu cahaya terang tepat di atas kepalaku tetapi di sekelilingku gelap. Sebuah suara mengatakan bahwa aku bisa kembali, asalkan aku harus bisa melaksanakan misi kehidupan dari diriku yang dulu.

Ini kan tubuh Azalea Lorienfield, teman pemeran utama perempuan dalam novel favoriteku yang mati di ending novel! Apakah maksud suara misterius itu aku harus menyelamatkan diriku agar tidak mati seperti dalam novel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azalea Rhododendron, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30 : Pergi Menuju Ke Pelabuhan

...Happy Reading^^...

...💮...

Pagi hari telah tiba, langit cerah dengan kicauan burung di pagi hari. Hembusan angin yang menyegarkan serta sengatan matahari yang tidak terlalu panas.

Di kamarnya, Azalea tengah bersiap di depan cermin dibantu para pelayan. Dia sudah sarapan tadi bersama keluarganya. Jadi dia naik ke kamarnya untuk berganti pakaian.

Hari ini adalah hari di mana mereka akan berangkat ke Pelabuhan untuk pemeriksaan.

Ya, mereka bukan Azalea saja.

Count Alder, Countess Daisy, Edelweiss Miravale bahkan Asisten serta Dayang mereka juga akan ikut.

'Yang benar saja!' Azalea menggerutu lewat batinnya.

Azalea teringat percakapannya dengan Count Alder malam tadi.

"Papa sungguh memberikan izin?" tanya Azalea yang takut salah mendengar jawaban Count Alder.

"Iya benar,"  jawab Count Alder dengan senyuman.

"Yeayyy!" seru Azalea bahagia sambil lompat-lompat kecil.

Count Alder tersenyum melihat keceriaan putrinya itu.

"Makasih Papa! Azalea sayang Papa!"

"Papa juga sayang sama Azalea,"

Tapi perkataan Count Alder berikutnya membuat Azalea terdiam. Azalea yang melihat dirinya di cermin tiba-tiba menjadi kesal karena teringat ucapan Count Alder semalam.

"Tapi...ada satu syarat,"

"Syarat apa itu, Papa?"

"Syaratnya adalah kalian tidak boleh pergi berdua, harus ada Papa yang menemani kalian!"

"Apa! Kami bukan anak kecil!"

"Papa akan tetap ikut! Di samping menjaga kalian berdua terutama kamu, Papa juga akan melepas para prajurit yang terpilih untuk berangkat bersama Kapal Dagang Lorienfield. Jadi Papa punya alasan kuat untuk ikut besok!"

Aarggg! Azalea menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal. "Kalau begitu, terima kasih atas izinnya Count Alder!" tapi Azalea juga tetap harus memperhatikan tata kramanya. Dia menundukkan kepalanya pada sang Count.

"Karena urusan kita telah selesai, saya pamit undur diri!" setelah mengatakan itu, Azalea pergi dengan kaki yang dihentakkan.

"Baiklah! Tidur yang nyenyak Putriku!"

Tapi yang membuat Azalea makin sakit kepala adalah suasana meja makan setelah mereka selesai sarapan.

Di mana Count Alder memberikan pengumuman bahwa dia telah mengizinkan Azalea ikut pergi bersama Asher, dengan syarat dia akan ikut bersama kedua anak mereka.

"Aku ikut untuk menjaga keselamatan kedua anak ini, lalu aku juga ingin melepas para prajurit yang terpilih untuk berangkat bersama Kapal Dagang yang akan pergi hari ini."

Tapi tampaknya Countess Daisy ingin ikut juga karena suaminya ikut pergi.

"Anda pergi, saya juga akan pergi! Saya adalah Mama mereka berdua. Jadi tugas menjaga mereka juga bukan hanya tugas anda, Count Alder! Saya juga akan ikut pergi sekaligus melepas para prajurit itu," jelas Mamanya dengan suara tegas. Dari wajahnya dia tidak ingin dibantah siapa pun.

Azalea merasakan kepala pening dengan situasi di meja makan ini. Tampaknya Asher juga merasakan hal yang sama, bahkan kakaknya itu memijit kecil dahinya.

"Sayang, biar aku saja yang ikut dan menjaga mereka. Kamu di rumah saja,"

"Tidak, Tuan Count. Saya ingin ikut!"

Azalea dan Asher saling menatap. Bagaimana dengan misi mereka jika kedua orangtua mereka justru ikut ke Pelabuhan.

Tapi itu belum apa-apa sampai Bibi Edel juga ingin ikut.

"Aku juga ingin ikut, Count Alder. Aku adalah penyembuh pribadi Azalea, jadi aku juga harus ikut pergi ke Pelabuhan untuk mengawasi Azalea di sana. Ditambah aku mendengar dari para pelayan, di sana ada klinik kecil bukan? Aku ingin melihat klinik kecil itu."

Bibi Edel, justru ingin ikut juga!

Azalea memijit keningnya bingung memikirkan Papa, Mama dan Bibinya ingin ikut juga.

"Nona, anda kenapa? Ingin saya ambilkan obat sakit kepala?" Azalea menoleh pada seorang pelayan muda yang menatapnya dengan wajah khawatir.

Azalea tersenyum. "Tidak apa-apa, kalian lanjutkan tugas kalian yang lain. Terima kasih sudah membantuku berganti pakaian."

Setelah mengatakan itu, para pelayannya tersenyum lalu membungkukkan kepala mereka sebelum pergi keluar kamar Azalea.

Azalea melihat dirinya yang berbalut gaun musim panas berwarna merah muda yang agak panjang, lalu tidak lupa dengan topi yang warnanya sama dengan warna gaun yang dia pakai.

...💮...

Azalea keluar rumah dan menuruni tangga Kastil. Dia melihat dua kereta kuda yang telah disiapkan di depan gerbang.

Di sana juga sudah ada Asher, Alder dan Daisy.

Azalea tidak melihat Edelweiss.

"Di mana Bibi Edel?" tanya Azalea sambil berjalan mendekat.

"Dia akan datang sebentar lagi, ada sesuatu yang harus dia siapkan untuk dia bawa." jawaban Mamanya membuat Azalea menganggukkan kepalanya mengerti. Azalea melihat Mamanya memakai gaun musim panas panjang dengan warna putih. Sementara Papanya dan Asher tidak menggunakan jas, tapi mereka menggunakan kemeja yang sama-sama berwarna putih.

Selang beberapa menit, akhirnya Edelweiss Miravale datang dengan gaun musim panas berwarna cokelat cerah. Di belakangnya dua pelayan membawa dua karung.

"Apa itu?" Asher menunjuk dua karung yang diturunkan oleh dua pelayan laki-laki tersebut.

"Itu beberapa obat yang aku akan sumbangkan pada klinik di dekat Pelabuhan,"

Azalea langsung terharu karena Edelweiss sangat peduli pada kesehatan banyak orang.

"Ah, Bibi! Terima kasih banyak,"

"Sama-sama sayangku."

"Baiklah, semuanya! Waktu kita tidak banyak, ayo segera masuk ke kereta kuda masing-masing!"

Kereta kuda pertama dinaiki oleh Alder dan Asher, mereka memilih untuk berada di kereta kuda yang sama agar bisa membahas hal-hal yang berhubungan dengan kapal dagang dan para prajurit. Kereta kuda kedua naiki oleh Daisy, Edelweiss dan Azalea.

Mata Azalea berbinar-binar melihat jalanan dan pepohonan yang mereka lintasi. Mata hijaunya tidak lepas dari pemandangan di luar jendela, yang sengaja dibuka untuk Azalea.

Daisy dan Edelweiss ikut senang melihat mata hijau milik Azalea berbinar-binar.

"Kamu sangat senang keluar Kastil, sayangku?" Azalea menoleh pada Mamanya yang tersenyum padanya.

Sambil tersenyum, dia menganggukan kepalanya lalu kembali menoleh ke luar jendela. "Sudah lama sekali Aza tidak melihat pemandangan seperti ini!" serunya ceria membuat dua wanita dewasa yang bersamanya ikut merasakan kebahagian yang terpancarkan dari gadis berumur tujuh belas tahun itu.

"Soalnya di Kastil aku hanya melihat pemandangan yang sama berkali-kali, kan kadang mata aku ini juga perlu pemandangan yang baru,"

"Kamu benar sekali, sayangku! Terkadang, kita juga harus melihat pemandangan yang baru!" Edelweiss setuju dengan Azalea.

"Oh, ya Bibi! Bagaimana dengan keadaan di Wilayah Utara? Di sana kan banyak salju dan Monster?"

Edelweiss menceritakan keadaan Wilayah Utara dengan sangat dramatis.

"Di sana hanya ada salju, putih dan banyak hewan dari jinak sampai monster! Tidak ada hal baru yang aku jalani. Dari bangun tidur, mandi, berdoa, makan, berdoa, bersih-bersih lalu berdoa lagi. Ya, kadang kami diturunkan di beberapa tempat untuk memberikan sihir penyembuh dan dari situlah kami bisa mendapatkan pemandangan baru di mata kami."

Daisy dan Azalea tertawa melihat tingkah dramatis Edelweiss.

Tapi dalam batin, Azalea sedikit meringis mendengar kehidupan Bibi Edelnya sebagai Biarawati di Wilayah Utara. Dia tanpa sadar menoleh pada Mamanya. Azalea sedikit senang Mamanya tidak mengalami kehidupan seperti itu, ya walau sebagai gantinya sang Mama nyaris tidak memiliki sihir penyembuh yang kuat

...💮...

...Bersambung....

...Thanks For Reading My Story^^...

...Dipublikasikan pada tanggal 6 Febuari 2026....

1
Alishe
masi kaku dia wkwk menanti gebrakannya deh😘
Azalea Rhododendron: oke siap^^
total 1 replies
Alishe
w demen nih kluarga bucin bontot gini🤣🤣🤣
Azalea Rhododendron: iya, nantikan terus keluarga cemara ini ya^^
total 1 replies
Alishe
mampirrr
Azalea Rhododendron: Terima kasih sudah menyempatkan ke cerita ini😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!