Bintang Anastasya tidak pernah menyangka lulus SMA berarti harus menyerahkan kebebasannya. Atas perintah sang Ayah, ia harus kuliah di luar kota dan—yang paling buruk—tinggal di kediaman keluarga Atmaja. Keluarga konglomerat dengan tiga putra yang memiliki reputasi luar biasa.
Bagi Yudhoyono Atmaja, Bintang adalah permata yang sudah dianggap anak sendiri.
Bagi Andreas (26), sang dokter tampan, Bintang adalah adik perempuan manis yang siap ia manjakan.
Bagi Gading (16), si bungsu, Bintang adalah teman seru untuk membuat keributan di rumah.
Dan bagi Lingga (21), sang senior di kampus, Bintang adalah gangguan yang tak terduga. Sifat Bintang yang blak-blakan dan tingkahnya yang usil mengusik ketenangan Lingga. Ia bertekad membuat Bintang jera dan tidak betah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Om Yudho Pergi, Masalah Menanti"
Keesokan Harinya
Sinar matahari pagi menyelinap masuk ke sela-sela gorden, menandai dimulainya hari kedua ospek. Bintang sudah siap dengan kemeja putih dan rok hitam panjangnya yang rapi. Gadis mungil itu turun ke lantai bawah dan mendapati suasana meja makan yang sudah mulai ramai. Di sana sudah ada Om Yudho, Gading, dan Andreas yang tampil karismatik dengan kemeja kerjanya. Seperti biasa, kursi Lingga masih kosong—putra kedua Atmaja itu pasti masih di kamarnya.
"Pagi Om, Ding, Mas Andre!" sapa Bintang ceria sambil menarik kursi.
"Pagi Bintang. Ayo duduk, sarapan dulu," jawab Om Yudho dengan nada kebapakan yang kental.
Sambil menikmati sarapan, Om Yudho menatap anak-anaknya dan Bintang secara bergantian. "Bintang, Om mau kasih tahu. Hari ini Om harus berangkat ke luar negeri menyusul istri Om. Ada pekerjaan penting di sana yang tidak bisa ditinggal. Kamu di sini jaga diri ya? Kalau mereka bertiga ada yang usil sama kamu, langsung bilang Om lewat telepon."
Bintang tersenyum tulus. "Iya Om, siap."
Andreas terkekeh pelan mendengar ucapan ayahnya. "Ya Allah, Pa... Andre nggak akan usil."
"Ya, makanya itu. Karena kamu yang paling dewasa, kamu yang harus bertanggung jawab menjaga mereka semua, termasuk Bintang," pesan Om Yudho tegas.
Tepat saat itu, terdengar langkah kaki dari tangga. Lingga turun dengan wajah datarnya, jaket kulit tersampir di bahu dan kunci motor di tangan. Auranya pagi ini terlihat lebih dingin dari biasanya.
"Lingga, nggak sarapan lagi kamu?" tanya Om Yudho melihat putra keduanya itu langsung menuju pintu.
Lingga hanya menggeleng singkat. "Nanti aja, Pa."
"Ayah mau ke luar negeri hari ini. Jangan sampai kamu merepotkan kakak kamu, apalagi bikin masalah sama Bintang," tegas Pak Yudho.
Lingga menghentikan langkahnya sejenak, melirik Bintang sekilas dengan tatapan yang sulit diartikan—mungkin teringat kejadian "koala" semalam—lalu mendengus pelan. "Lingga bukan anak kecil lagi, Pa. Assalamualaikum," ucapnya singkat sebelum akhirnya menghilang di balik pintu besar mansion.
Bintang hanya bisa menghela napas. Hari pertama tanpa Om Yudho di rumah, dan dia harus menghadapi Lingga di kampus sebagai asisten Dea. Benar-benar tantangan yang berat.
"Ayo Bintang, nanti kita terlambat," ajak Andreas sambil melirik jam tangannya.
Bintang segera menghabiskan susunya dan berdiri. "Assalamualaikum, Om. Bintang pamit dulu ya," pamitnya sambil menyalami tangan Om Yudho dengan takzim.
"Andreas juga pamit, Pa," susul Andreas.
Gading tidak mau kalah, ia menyambar rotinya dan ikut menyalami sang ayah. "Gading juga, Pa! Tapi... jangan lupa tambahin uang jajan Gading dong, kan Papa mau ke luar negeri," ucapnya sambil menyengir lebar tanpa dosa.
Pak Yudho tersenyum melihat tingkah putra bungsunya. "Gading, kamu ini ada-ada saja. Baiklah, nanti Papa transfer. Tapi ingat, kamu harus belajar yang rajin ya!"
"Siap, Pa! Beres!" sahut Gading penuh semangat. Ia segera bergegas ke garasi untuk mengambil kunci mobilnya dan berangkat ke sekolah.
Sementara Gading beraksi, Andreas sudah selesai memanasi mesin mobilnya. "Ayo Bintang, naik," panggil Andreas.
Bintang ragu sejenak. "Eh, saya di belakang saja, Mas," ucap Bintang.
Andreas menatap Bintang dengan senyum tipis. "Kenapa di belakang? Duduk di depan saja, temani saya. Kita bisa ngobrol."
"Tidak apa-apa, Mas. Di belakang saja," balas Bintang.
Andreas terkekeh pelan. "Tidak ada aturan begitu. Ayo, di depan saja."
Bintang akhirnya mengalah dan duduk di kursi depan. Aroma maskulin dari parfum Andreas tercium samar, menciptakan suasana yang berbeda dari biasanya.
"Gimana kamu, Bintang? Nyaman nggak tinggal di sini?" tanya Andreas memecah keheningan sambil memutar kemudi mobilnya dengan tenang menyusuri jalanan pagi.
Bintang menghela napas, lalu menyandarkan punggungnya di jok mobil yang empuk. "Nyaman sih Mas, Om Yudho baik banget, Gading juga seru diajak kerja sama. Tapi..." Bintang menggantung kalimatnya sejenak, wajahnya berubah sedikit cemberut. "Cuma gedek aja sama Kak Lingga. Orangnya galak bener, mana minta ditampol banget sifatnya."
Andreas terkekeh pelan mendengar kejujuran gadis di sampingnya. "Hemm... jangan diambil hati ya. Sebenarnya Lingga itu perhatian, Bintang. Dia cuma nggak pinter nunjukinnya dengan cara yang bener."
Bintang hanya mencibir pelan dalam hati. Perhatian dari mananya? Yang ada malah bikin senam jantung terus, batinnya. Tentu saja Andreas berkata begitu karena dia tidak tahu kejadian "pelukan koala" dan insiden di depan lemari semalam yang hampir membuat Bintang pingsan karena malu.
"Eh, Mas, nanti berhenti di depan kosan Mery ya. Dia nggak tinggal sama orang tuanya di sini," ujar Bintang mengalihkan pembicaraan.
"Oh, Mery ngekos? Oke, kasih tahu saja nanti di mana lokasinya," jawab Andreas ramah.
Tak lama, mobil mewah itu berhenti di depan sebuah bangunan kos-kosan. Mery sudah berdiri di sana dengan tas ranselnya, matanya langsung membelalak melihat mobil yang menjemputnya.
"Woi, Bin! Gila ya, gue dijemput pake mobil ginian!" bisik Mery heboh saat baru masuk dan duduk di jok belakang.
Bintang menyengir tengil. "Kenalin Mer, ini Mas Andre, anaknya Om Yudho yang paling tua."
"Halo Mas Andre, saya Mery. Makasih banyak ya Mas udah mau direpotin," ucap Mery dengan gaya sok sopan, padahal tangannya sudah mencubit pinggang Bintang berkali-kali karena saking kagumnya melihat ketampanan Andreas yang berwibawa.
Andreas tersenyum lewat spion tengah. "Sama-sama, Mery. Tidak repot kok, kebetulan searah. Sudah siap semua? Kita berangkat sekarang ya, jangan sampai kalian telat dan ketemu 'kucing garong' lagi di gerbang."
"Siap, Mas!" sahut keduanya kompak, meskipun Bintang mulai merasa deg-degan membayangkan tugasnya sebagai asisten Dea yang sudah menantinya di kampus