Di balik rak-rak kayu ek yang menjulang tinggi, Genevieve Isolde Clara adalah cahaya yang tak pernah padam. Sebagai pustakawan, ia dikenal karena senyumnya yang merekah bagi siapa saja dan keramahannya yang membuat siapa pun merasa diterima. Namun, keceriaan itu hanyalah tirai tipis yang menutupi luka batin yang sangat dalam. Genevieve adalah ahli dalam berpura-pura—ia membalut rasa sakitnya dengan tawa, memastikan dunia melihatnya sebagai gadis yang paling bahagia, meski hatinya perlahan hancur dalam kesunyian.
Kehidupan Genevieve yang penuh kepura-puraan terusik ketika Valerius Theodore Lucien muncul. Valerius adalah seorang pria dengan aura bangsawan kuno, pucat, dan memiliki tatapan yang seolah bisa menembus waktu—ia adalah seorang vampir yang telah hidup berabad-abad. Sejak pertama kali melihat Genevieve, Valerius merasakan sesuatu yang janggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Sang Pengganggu Berkacamata
Pagi itu, sinar matahari menembus celah loteng, menyentuh wajah Genevieve dan memaksanya terbangun.
Ia mengerjap, hal pertama yang ia lakukan adalah memeriksa sekeliling. Kamar itu kosong. Tidak ada Valerius di kursi, tidak ada aroma dingin yang mencekam. Namun, wangi mawar merah yang samar masih tertinggal di udara, seolah membuktikan bahwa kehadiran pria itu semalam bukanlah sekadar bunga tidur.
"Dia benar-benar gila," gumam Genevieve sambil menyibak selimutnya.
Ia turun ke bawah, membuka pintu perpustakaan dan memulai rutinitas paginya. Baru saja ia membuka tirai jendela besar, lonceng pintu berdentang. Seorang pria muda dengan setelan kemeja rapi dan kacamata berbingkai bulat masuk dengan langkah tergesa-gesa.
"Selamat pagi! Apakah ini Perpustakaan Kota?" tanya pria itu sambil membetulkan letak kacamatanya yang sedikit merosot.
"Benar. Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Genevieve menyapa dengan senyum profesionalnya yang biasa.
"Nama saya Julian, asisten peneliti dari universitas pusat," pria itu mengulurkan tangan dengan ramah.
Wajahnya tampak cerah dan penuh semangat, sangat kontras dengan aura gelap yang menyelimuti Genevieve belakangan ini. "Saya sedang mencari catatan sejarah mengenai keluarga-keluarga bangsawan tua di daerah ini untuk tesis saya. Saya dengar perpustakaan ini memiliki arsip paling lengkap."
Julian tidak menunggu lama untuk mulai mengoceh tentang buku-buku yang ia butuhkan. Ia tampak sangat cerdas, namun sedikit ceroboh karena hampir menyenggol tumpukan buku di meja sirkulasi. Genevieve merasa sedikit terhibur dengan kehadiran Julian. Pria ini terasa... normal. Sangat manusiawi.
"Mari saya tunjukkan raknya, Tuan Julian," ujar Genevieve.
Saat Genevieve berjalan menunjukkan koridor sejarah, Julian terus bercerita tentang betapa indahnya kota ini.
"Pustakawan di sini juga jauh lebih ramah dari yang saya bayangkan," puji Julian sambil tersenyum tulus, membuat pipi Genevieve sedikit merona karena pujian yang tidak terduga.
Namun, di tengah tawa kecil mereka, suhu di ruangan itu mendadak jatuh.
Lampu-lampu minyak yang baru saja dinyalakan Genevieve bergoyang hebat, meski tidak ada angin. Genevieve menghentikan langkahnya, bulu kuduknya berdiri. Ia tahu sensasi ini.
Dari balik rak buku yang gelap di ujung lorong, Valerius muncul. Ia tidak lagi menyamar sebagai "saudara" yang ramah. Ia berdiri mematung dengan tatapan mata yang begitu dingin hingga bisa membekukan darah siapa pun yang melihatnya. Matanya tertuju tajam pada Julian—lebih tepatnya, pada tangan Julian yang hampir menyentuh lengan Genevieve saat mereka berbicara.
Julian yang tidak tahu apa-apa hanya mengerutkan kening. "Wah, mendadak dingin sekali ya di sini? Apa jendela di ujung sana terbuka?"
Genevieve menatap Valerius dengan sorot mata memperingatkan, namun Valerius justru melangkah maju. Setiap langkahnya menimbulkan suara ketukan yang berat di lantai kayu, seolah-olah ia adalah kematian yang sedang menghitung waktu.
"Siapa dia, Genevieve?" suara Valerius terdengar rendah, bergetar dengan nada ancaman yang tidak disembunyikan sama sekali.
Genevieve tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Alih-alih gemetar seperti malam-malam sebelumnya, ia justru menghembuskan napas panjang dan memutar bola matanya dengan sangat sinis.
Pemandangan Valerius yang mengenakan pakaian rapi, lengkap dengan rompi dan kemeja putih bersih—berusaha keras terlihat seperti warga sipil yang terhormat—malah membuatnya merasa muak.
"Oh, lihat siapa yang memutuskan untuk menjadi 'manusia' pagi ini," gumam Genevieve dengan nada meremehkan yang cukup keras hingga membuat Julian, sang asisten peneliti, menoleh bingung.
Julian menatap Valerius dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Oh! Apakah ini rekan kerjamu, Miss Genevieve? Atau mungkin... tamu lain?" tanya Julian dengan polos, sambil membetulkan kacamatanya yang sedikit berembun karena perubahan suhu yang drastis.
Genevieve menyilangkan tangan di dada, sengaja berdiri lebih dekat ke arah Julian untuk memancing emosi pria di depannya. "Bukan siapa-siapa, Julian. Hanya pelanggan yang terlalu sering datang sampai lupa jalan pulang," jawab Genevieve tanpa beban.
Wajah Valerius menegang. Rahangnya mengatup rapat, dan ia menatap Julian seolah-olah sedang menghitung berapa detik yang ia butuhkan untuk merobek tenggorokan pria berkacamata itu jika Genevieve tidak melihat.
"Tuan Julian sedang mencari arsip sejarah, Valerius," lanjut Genevieve, suaranya dingin dan penuh penekanan. "Jadi, jika kau tidak keberatan, bisakah kau tidak menghalangi jalan kami?"
Valerius tidak bergerak. Ia berdiri kokoh seperti pilar marmer, menghalangi akses ke lorong sejarah.
Matanya yang berkilat tajam mengamati Julian—pria manusia yang lemah, yang berbau seperti tinta murah dan keringat gugup. Bagi Valerius, Julian adalah lalat pengganggu yang berani menghirup aroma mawar milik Genevieve.
"Arsip sejarah yang kau cari ada di bagian terdalam perpustakaan ini, anak muda," ucap Valerius akhirnya.
Suaranya sangat rendah, membuat Julian sedikit berjengit. "Sangat gelap dan... mudah sekali membuat orang tersesat jika tidak hati-hati."
Julian menelan ludah, merasa ada sesuatu yang salah dengan pria tampan di depannya. "A-ah, begitu ya? Terima kasih atas peringatannya, Tuan..."
"Valerius," potong Valerius dengan senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya.
Genevieve hanya mendengus kasar. Ia menyentuh pundak Julian—sebuah tindakan yang membuat mata Valerius menggelap seketika—dan menuntunnya melewati Valerius.
"Abaikan saja dia, Julian. Dia memang senang berbicara dengan teka-teki kuno yang membosankan. Mari, sebelah sini."
keren
cerita nya manis