"Duduk di sini." ujarnya sembari menepuk paha kanannya.
Gadis itu tak salah dengar. Pria itu menepuk suatu tempat yakni pahanya sendiri. Dengan ekspresi datar seolah itu tak mengagetkan dan sudah menjadi kebiasaan di sana. Orang-orang di sekelilingnya pun tampak sama. Tak bereaksi, seolah itu hanya salah satu hal biasa dari serangkaian acara. Namun, tidak bagi gadis itu. Bisa-bisanya pria itu bertindak tidak tahu malu seperti ini di hadapan semua orang? Ia benar-benar tak habis pikir!
"Tidak mau."
Reaksi semua orang yang ada di sana sangat terkejut. Semua berbisik, tetapi tidak ada yang berbicara langsung seolah segan dengan sosok yang duduk di kursi paling mewah seperti seorang raja itu.
Pedang mulai mengarah ke leher gadis itu. Bukan dari pria itu, tetapi dari orang-orang yang seperti prajurit ini.
"Beraninya kau." ujar pria itu penuh amarah seolah ini adalah penghinaan terbesar terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kilas Balik: Cinta busuk di balik duka
Bai Ruoxue awalnya hanya hendak melewati lorong itu.
Langkahnya tenang, wajahnya masih pucat oleh suasana duka yang belum genap sehari berlalu. Ia ingin menemui ayah tirinya untuk menanyakan beberapa dokumen milik ibunya—surat tanah, simpanan, dan catatan yang sempat disebut-sebut akan diurus setelah pemakaman selesai. Ia tidak ingin mencurigai apa pun. Ia masih ingin percaya bahwa setidaknya ada sedikit rasa hormat yang tersisa untuk mendiang ibunya.
Namun langkahnya terhenti ketika suara itu terdengar dari balik pintu ruang dalam.
“Sudah kau pindahkan hartanya?”
Kalimat itu rendah. Pelan. Tapi cukup jelas untuk membuat tubuhnya membeku.
Ruoxue berdiri terpaku. Jantungnya mendadak berdetak lebih keras, seolah instingnya sudah lebih dulu memahami sesuatu yang belum sepenuhnya diproses pikirannya.
“Tentu saja.”
Suara kedua membuat napasnya tercekat.
Ia mengenalnya.
Sangat mengenalnya.
Suara itu milik bibinya—adik kandung ayahnya sendiri. Perempuan yang selama ini datang berkunjung dengan wajah lembut, membawa buah tangan, dan berpura-pura peduli pada kondisi ibunya yang kian melemah.
Ruoxue perlahan mendekat, langkahnya begitu hati-hati hingga ujung sepatunya nyaris tak bersuara di atas lantai kayu. Pintu tidak tertutup rapat. Ada celah kecil yang cukup untuk membiarkan suara mengalir keluar tanpa ampun.
“Aku mencintaimu.”
Kalimat itu membuat darah Ruoxue seperti surut dari wajahnya.
Itu suara bibinya.
Bukan nada bercanda. Bukan basa-basi. Itu suara yang lembut, manja, intim.
Lalu terdengar suara kecupan. Pelan. Basah. Disusul desahan tertahan yang tak lagi menyisakan ruang bagi salah tafsir.
Ruoxue menegang. Tangannya yang semula menggenggam ujung lengan bajunya kini mengepal tanpa sadar.
“Dia memang tidak secantik dirimu.”
Suara ayah tirinya terdengar begitu ringan. Begitu santai. Seolah yang sedang dibicarakan bukan istrinya yang baru saja dikuburkan pagi tadi.
“Ah… jangan seperti itu. Dia pernah menjadi kakak iparku.”
Nada bibinya terdengar dibuat-buat, seperti keberatan yang justru meminta dibujuk lebih jauh.
“Dia memang wanita bodoh.”
Ruoxue merasakan sesuatu merobek dadanya.
“Tapi sok berani dengan selalu membela anaknya.”
Setiap kata terasa seperti pisau.
Ah.
Jadi selama ini…
Selama ini ibunya tidak lemah.
Ibunya hanya sendirian.
“Ah…! Sayang…!”
Desahan itu terdengar semakin jelas. Tanpa malu. Tanpa penyesalan. Tanpa sedikit pun rasa bersalah terhadap perempuan yang tubuhnya bahkan belum sepenuhnya dingin di liang lahat.
Ruoxue menutup mulutnya dengan tangan agar tidak mengeluarkan suara.
Jijik.
Itu yang pertama kali memenuhi dirinya.
Jijik pada suara itu. Jijik pada kedekatan yang begitu terang-terangan. Jijik pada fakta bahwa semua duka yang mereka perlihatkan tadi pagi hanyalah sandiwara murahan.
“Tapi, sayang… aku punya ide… ah…!”
Nada bicara bibinya berubah. Bukan lagi sekadar rayuan, melainkan perhitungan.
“Ucapkan, Sayang…”
Ruoxue tak tahu mengapa tubuhnya tetap berdiri di sana. Mengapa kakinya tidak segera berlari. Mungkin karena ada sesuatu dalam suaranya yang membuat ia sadar bahwa apa yang akan didengarnya berikutnya akan menentukan seluruh hidupnya.
“Bagaimana kalau kita menikahkan Bai Ruoxue dengan Gu Wanxiu?”
Deg.
Nama itu menghantam dadanya begitu keras hingga ia hampir terhuyung.
Gu Wanxiu.
Perdana Menteri Keuangan Kekaisaran.
Pria yang usianya hampir setara dengan ayah tirinya.
Pria yang reputasinya terkenal bukan hanya karena kecerdasannya dalam mengelola perbendaharaan negara, tetapi juga karena kegemarannya mengumpulkan selir-selir muda.
Pria yang tatapannya pernah membuat Ruoxue merasa seperti barang yang sedang ditaksir nilainya.
“Dia menteri yang sangat berpengaruh dan kaya, ah…!”
“Pelan-pelan, Sayang…”
Suara itu bercampur tawa kecil dan desahan yang semakin tidak disamarkan.
Ruoxue merasa mual.
“Hm… boleh juga, Sayang.”
Nada ayah tirinya terdengar puas.
“Kita akan semakin kaya nantinya.”
“Iya… ah…!”
Ruoxue tidak lagi mendengar dengan jelas kalimat setelahnya. Suara-suara itu berubah menjadi gema yang menghantam kepalanya. Ia hanya bisa berdiri dengan napas memburu, dada naik turun, sementara pikirannya dipenuhi bayangan yang tak ingin ia lihat.
Gu Wanxiu.
Tangan tua dengan cincin emas besar di jarinya. Senyum tipis penuh makna yang membuatnya merinding. Rumor tentang gadis-gadis muda yang masuk ke kediamannya dan tak pernah benar-benar terlihat lagi di perjamuan resmi.
Bagaimana mereka bisa…?
Bagaimana mereka bisa begitu mudah menjadikannya alat tawar-menawar?
Ibunya ternyata hanya alat.
Alat untuk mendapatkan akses pada harta peninggalan ayah kandungnya. Alat untuk mengamankan posisi sosial.
Dan kini—
Ia.
Ia akan dijadikan alat berikutnya.
Ruoxue mundur perlahan dari pintu itu, langkahnya goyah namun sunyi. Ia tak ingin mereka tahu bahwa ia mendengar. Ia tak ingin memberi mereka kesempatan menyusun kebohongan baru.
Lorong terasa lebih panjang dari biasanya. Dinding-dinding rumah yang dulu terasa hangat kini seperti menatapnya dengan dingin. Rumah ini bukan lagi tempat berlindung.
Rumah ini adalah jebakan.
Sampai di kamarnya, Ruoxue menutup pintu tanpa suara lalu bersandar di baliknya. Napasnya pecah. Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya jatuh juga, namun bukan air mata lemah.
Itu air mata marah.
Air mata penghinaan.
“Gu Wanxiu…” bisiknya pelan.
Ia membayangkan hidupnya diikat pada pria itu. Bangun di kediaman megah namun terasa seperti sangkar emas. Dipaksa tersenyum dalam perjamuan, sementara jiwanya perlahan mati. Menjadi istri ke sekian, atau lebih buruk—sekadar hiasan yang dipamerkan.
Tidak.
Tidak.
Ia tidak akan menyerahkan hidupnya begitu saja.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu.
Sertifikat itu.
Sertifikat guru yang selama ini dianggap remeh oleh ayah tirinya. Dokumen yang ia perjuangkan diam-diam dengan belajar hingga larut malam, dengan menahan hinaan bahwa perempuan tidak perlu terlalu berpendidikan.
Ia berjalan cepat menuju meja kayunya. Tangannya gemetar saat membuka laci dan menarik keluar gulungan kertas itu.
Sederhana.
Tanpa hiasan emas. Tanpa cap kebesaran keluarga. Tapi itu miliknya. Itu adalah hasil jerih payahnya sendiri.
Ruoxue memegangnya erat.
Jika ia tetap di sini, mereka akan mengurungnya. Mungkin bahkan mengawasinya. Pernikahan itu akan diatur dengan cepat sebelum ia sempat melawan.
Ia tidak punya banyak waktu.
Hari ini.
Ia harus menentukan nasibnya hari ini.
Ia berjalan menuju cermin. Wajahnya masih basah oleh air mata, tapi sorot matanya berubah. Tidak lagi kosong seperti pagi tadi di depan peti ibunya.
Kini ada sesuatu yang menyala di sana.
Tekad.
“Mereka pikir aku lemah karena aku diam,” gumamnya pelan.
“Mereka pikir aku tidak tahu apa-apa.”
Kesalahan terbesar mereka adalah mengira bahwa ia akan patuh.
Ruoxue membuka lemari dan mulai memasukkan beberapa pakaian sederhana ke dalam tas kecil. Tidak banyak. Hanya yang perlu. Ia tidak bisa membawa barang mencolok. Ia harus pergi sebelum subuh, sebelum rumah sepenuhnya terjaga.
Ia berhenti sejenak, menatap kamar itu.
Kamar tempat ibunya sering duduk di tepi ranjang, menyisir rambutnya dengan lembut. Kamar tempat ibunya pernah berbisik, “Apa pun yang terjadi, jangan biarkan siapa pun merendahkan dirimu.”
Saat itu ia tidak sepenuhnya memahami maksudnya.
Sekarang ia mengerti.
Ibunya sudah lama tahu. Ibunya hanya tidak cukup kuat untuk melawan sendirian.
Tapi Ruoxue berbeda.
Ia masih muda. Ia masih punya pilihan. Dan ia tidak akan menjadi korban berikutnya.
Dari kejauhan, suara tawa rendah kembali terdengar dari ruang dalam. Tawa yang membuat darahnya mendidih.
Cukup.
Ia menyeka air matanya, mengangkat dagu, dan menggenggam sertifikat itu erat-erat.
Hari ini ia akan bergerak.
Hari ini ia akan keluar dari rumah yang busuk oleh pengkhianatan ini.
Cukup dengan kertas sederhana di tangannya, ia akan mencari pekerjaan. Ia akan berdiri dengan namanya sendiri. Ia mungkin tidak akan kaya. Ia mungkin harus memulai dari bawah.
Tapi itu lebih baik daripada dijual dengan senyum palsu.
Jika mereka ingin menjadikannya alat—
Maka mereka akan kecewa. Karena Bai Ruoxue tidak lagi gadis yang hanya berdiri diam di balik pintu.
Ia adalah perempuan yang baru saja kehilangan segalanya.
Dan perempuan yang tidak lagi memiliki apa pun untuk ditakuti—
Adalah yang paling berbahaya.
sedangkan sang raja menaruh hati,yg tak bisa dia ungkapkan karna rasa gengsi