NovelToon NovelToon
Lahirnya Kultivator Naga Keabadian

Lahirnya Kultivator Naga Keabadian

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Ahli Bela Diri Kuno / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Dijuluki "Sampah Abadi" dan dicampakkan kekasihnya demi si jenius Ma Yingjie tak membuat si gila kekuatan Ji Zhen menyerah. Di puncak dinginnya Gunung Bingfeng, ia mengikat kontrak darah dengan Zulong sang Dewa Naga Keabadian demi menjadi kultivator terkuat.

"Dunia ingin aku merangkak? Maka aku akan menaklukkannya lebih dulu!"

[Like, vote dan komentar sangat bermanfaat bagi kelanjutan cerita. Selamat membaca]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Tatapan Mengintimidasi

Langkah kaki pria misterius itu tidak menghasilkan suara sedikit pun di atas tanah gang sempit yang lembap. Sementara Ji Zhen berjalan beberapa langkah di belakangnya, diikuti Yang Huiqing mengekor dengan napas yang memburu karena cemas. Dinding-dinding batu tinggi di sisi kiri dan kanan seolah menghimpit mereka, menciptakan lorong panjang yang memisahkan hiruk-piruk pasar dengan kesunyian yang mencekam.

“Lari, Ji Zhen! Tinggalkan kota ini sekarang juga!” Suara Zulong berteriak di dalam batin. “Pria ini bukan tandinganmu. Bahkan jika kau meledakkan seluruh sisa energi esmu, kau tidak akan bisa menyentuh ujung jubahnya!”

Apa daya Ji Zhen hanya mampu menggeram dalam hati, rasa kesal mulai membakar kesadarannya. “Diamlah, Ular Sawah! Kau membuatku makin panik! Jika aku lari sekarang, dia akan mematahkan leherku sebelum aku sempat melangkah sepuluh meter. Lihatlah sekeliling, tidak ada jalan keluar!”

Tiba-tiba saja pria itu berhenti, membalikkan tubuhnya dengan gerakan yang sangat lambat. Di bawah naungan caping lebarnya, hidungnya bergerak-gerak. Ia mulai mendekat ke arah Ji Zhen, lalu tanpa permisi, ia mengendus-endus udara di sekitar leher dan dada Ji Zhen.

Ji Zhen mematung merasakan kegilaan di san. Sensasi aneh merambat di kulitnya saat napas pria itu menyentuh pakaiannya. Pria ini seolah sedang melacak aroma energi yang tersembunyi jauh di dalam meridiannya, sesuatu yang seharusnya mustahil dirasakan oleh manusia biasa. Yang Huiqing pun mundur selangkah, wajahnya pucat pasi, tangannya mencengkeram ujung jubahnya sendiri dengan sangat kuat.

“Ada sesuatu yang tidak beres dengan aliran energimu,” ucap pria itu datar. “Dingin, namun memiliki sisik yang tajam. Dan ada bau sesuatu yang seharusnya sudah musnah dari dunia ini.”

Sebelum Ji Zhen sempat memberikan pembelaan, tangan pria itu bergerak secepat kilat. Ji Zhen berusaha menarik tubuhnya ke belakang, namun jarinya seolah terpaku di tempat. Dengan satu gerakan santai, pria itu merogoh saku dalam jubah Ji Zhen dan menarik keluar cincin ruang kusam yang baru saja dibelinya.

“Kembalikan!” Ji Zhen mendesis, tangannya secara insting bergerak maju untuk merebut kembali hartanya. Namun, pria itu hanya menatapnya sekilas, sebuah tatapan yang begitu dingin dan dalam hingga membuat amarah Ji Zhen membeku di tenggorokan. Ji Zhen terpaksa mengunci mulutnya, menelan kembali makian yang hampir keluar.

Pria itu lantas mengangkat cincin tersebut, menerawangnya di bawah celah sinar matahari yang jatuh di antara atap bangunan. “Cincin Ruang tipe delapan yang sudah kehilangan segel luarnya. Bagaimana mungkin seorang pemuda dengan fondasi rusak sepertimu bisa memiliki artefak langka yang harganya setara dengan satu sekte kecil?”

Ji Zhen mencoba memasang wajah bodoh, sebuah taktik yang sering ia gunakan untuk menipu lawan. “Aku tidak tahu apa maksudmu. Aku baru membelinya dari pedagang antik di pasar untuk pengganjal meja… ehm pemberat gorden juga. A-aku pikir itu hanya besi rongsokan.”

Pria itu tidak tersenyum. Ia malah memasukkan cincin itu ke dalam sakunya sendiri.

Langsung saja darah Ji Zhen mendidih. “Hei! Itu milikku! Aku membelinya dengan emas!”

“Berbohong padaku adalah cara tercepat untuk mati,” ujar pria itu. Tatapannya kini menusuk tepat ke pupil mata Ji Zhen. “Katakan yang sebenarnya.”

Melihat tidak ada jalan keluar dan menyadari bahwa pria di depannya bisa melihat menembus segala tipu daya, Ji Zhen akhirnya menundukkan kepala. Ia mengembuskan napas panjang, membuang jauh-jauh aktingnya yang kelewat buruk.

“Aku tahu itu artefak langka,” kata Ji Zhen dengan nada jujur yang pahit. “Aku memanfaatkan kebodohan pedagang itu. Berpura-pura tertarik pada koin sampah agar bisa mendapatkan cincin itu dengan harga murah. Aku butuh tempat penyimpanan karena aku berencana mengambil banyak hal di kota ini.”

Keheningan pun menyelimuti gang itu selama beberapa saat. Lalu, pria itu mengeluarkan suara yang terdengar seperti tawa singkat tanpa humor. Dia melemparkan kembali cincin itu ke arah Ji Zhen, dan Ji Zhen menangkapnya dengan sigap, rasa lega yang luar biasa memenuhi dadanya.

“Cerdik. Dunia ini memang tempat bagi mereka yang tahu cara memanfaatkan kebodohan orang lain,” ucap pria itu sebelum melipat tangan di depan dada. “Tujuan utamamu… kau ingin menjadi yang terkuat, bukan?”

Mata Ji Zhen berbinar seketika. Ambisi yang selama ini ia kobarkan seolah mendapat validasi dari entitas yang luar biasa kuat. “Tentu saja aku ingin berdiri di puncak, di mana tidak ada seorang pun yang bisa memerintahku atau menghancurkan hidupku lagi.”

Yang Huiqing menoleh ke arah Ji Zhen, matanya memancarkan kecemasan yang mendalam karena merasa ambisi Ji Zhen saat ini sedang membawanya ke dalam jurang yang jauh lebih berbahaya daripada sekedar turnamen bela diri.

Sementara pria bercaping itu diam menatap Ji Zhen untuk waktu yang lama, seolah sedang menimbang-nimbang apakah pemuda di depannya layak untuk langkah selanjutnya. “Namaku Han Kong.”

Ji Zhen menarik napas, mencoba mengatur wibawanya kembali. “Namaku Ji Zhen, dan ini—”

“Aku tahu siapa kau. Dan aku tahu siapa pelayanmu itu,” Han Kong menyela. “Ikut aku. Nancheng terlalu sempit untuk kekuatan yang kau sembunyikan. Jika kau benar-benar ingin menjadi yang terkuat, kau harus melewati apa yang aku siapkan.”

Han Kong pun segera berbalik dan mulai berjalan menuju ke arah hutan di pinggiran kota. Tanpa menoleh lagi, ia seolah yakin bahwa Ji Zhen tidak punya pilihan selain mengikutinya.

Di sana Ji Zhen mengepalkan tangannya, merasakan permukaan cincin ruang yang kasar di telapak tangannya. Ketegangan di tubuhnya meningkat berkali-kali lipat karena Ini adalah pintu menuju sesuatu yang jauh lebih besar, sekaligus jauh lebih mematikan.

“Ayo, Huiqing,” bisik Ji Zhen, suaranya mengandung campuran antara rasa takut dan antusiasme yang gila. “Kita lihat sejauh mana pria bernama Han Kong ini bisa membawa kita.”

1
YunArdiYasha
gas poll
MuhFaza
gas lanjutkan
MuhFaza
lanjut bg
Tuan Belalang
😍😍👍👍💪💪
YunArdiYasha
musuh
yuzuuu ✌
bagus ini ceritanya
DanaBrekker: terima kasih /Coffee/
total 1 replies
Tuan Belalang
😍👍👍👍
Tuan Belalang
sehat sehat othor
DanaBrekker: semoga semua pembaca karya othor juga sehat selalu
total 1 replies
Tuan Belalang
👍👍👍😍👍
Tuan Belalang
alamak, gukguk? 🤣
DanaBrekker: /Doge/
total 1 replies
Tuan Belalang
eyuhh najis 😄
Tuan Belalang
astoge udh gak ketolong nih anak 🤣
Tuan Belalang
pffftt mampus 👍👍🤣
DanaBrekker: /Cleaver//Gosh/
total 1 replies
Tuan Belalang
curang gak sih bangg 🤭🤭🤣
Tuan Belalang
mampus aja luu
Tuan Belalang
ji zhen nih tahan banting 💪
Tuan Belalang
mff bawell thorr abs novelmu bagus 😄😍👍🤭
DanaBrekker: terima kasih /Coffee/
total 1 replies
Tuan Belalang
🤭😍👍👍👍
Tuan Belalang
benr tu kt zilong
Tuan Belalang
😍😍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!