NovelToon NovelToon
Sekretaris Pengganti Sang CEO Dingin

Sekretaris Pengganti Sang CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Langit

"Aku tahu kamu bukan dia. Dan sekarang, bayar harga penyamaranmu dengan menjadi istriku."
Demi nyawa ibunya, Alana nekat menyamar menjadi kakaknya untuk bekerja pada Arkananta, CEO kejam yang dijuluki "Monster Es". Namun, Arkan justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak untuk menghadapi ular-ular di keluarganya.
Dari puncak kemewahan hingga titik terendah saat Arkan dikhianati dan terusir dari hartanya, Alana tetap bertahan. Bersama, mereka membangun kembali kekaisaran dari nol untuk membalas dendam pada setiap pengkhianat.
Saat rahasia identitas terbongkar dan dunia membuang mereka, mampukah cinta sang sekretaris pengganti menjadi kekuatan terakhir sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Dinding Posesif

Malam pertama di kediaman baru mereka—sebuah mansion bergaya modern klasik yang terletak di kawasan elit Menteng—terasa begitu sunyi sekaligus menyesakkan. Rumah ini adalah hadiah dari Kakek Arkan, namun bagi Alana, setiap sudutnya terasa seperti cctv yang tak kasat mata. Langit-langit yang tinggi dan lorong-lorong panjang yang sunyi hanya menambah rasa terasing di hatinya.

Alana duduk di tepi ranjang berukuran extra king-size yang dilapisi sprei sutra berwarna abu-abu gelap. Ia masih mengenakan gaun putih pernikahannya, namun kain itu kini terasa seperti beban yang menariknya ke dasar laut. Pikirannya melayang pada Marco. Apa yang sedang dilakukan Arkan pada pria itu? Mengingat sorot mata Arkan di ruang kerja tadi, Alana tahu suaminya tidak sedang bercanda.

Pintu kamar terbuka. Arkan melangkah masuk dengan kemeja hitam yang sudah ditanggalkan dua kancing teratasnya. Wajahnya datar, namun ada aura kepuasan yang dingin terpancar dari sana.

"Kenapa belum ganti baju?" tanya Arkan sambil meletakkan jam tangan Rolex-nya di atas meja rias.

"Arkan... apa yang terjadi dengan Marco?" Alana memberanikan diri untuk bertanya, suaranya hampir tidak terdengar.

Arkan berhenti sejenak, lalu berbalik menatap Alana. "Dia tidak akan mengganggumu lagi. Semua bukti yang dia miliki sudah dimusnahkan. Dia sudah setuju untuk meninggalkan kota ini dan tidak akan pernah kembali."

"Setuju? Bagaimana mungkin pria seperti dia setuju begitu saja?"

Arkan berjalan mendekat, setiap langkahnya membuat Alana menahan napas. Pria itu berdiri di depan Alana, lalu merunduk hingga wajah mereka sejajar. "Setiap orang punya harga, Alana. Dan jika uang tidak bisa membungkam mereka, maka rasa takut akan melakukannya. Kamu tidak perlu tahu detailnya. Yang harus kamu tahu adalah: kamu aman."

Arkan menjangkau punggung Alana, tangannya mencari ritsleting gaun putih itu. Alana tersentak, mencoba menghindar secara naluriah.

"Jangan bergerak," perintah Arkan dengan suara rendah yang menggetarkan. "Aku hanya membantumu. Pelayan di rumah ini akan masuk dalam sepuluh menit untuk membawakan teh malam. Aku ingin mereka melihat bahwa kita adalah pasangan yang harmonis."

Ritsleting itu terbuka dengan satu tarikan halus. Alana mencengkeram bagian depan gaunnya, wajahnya memerah padam. Arkan menatap pundak putih Alana yang kini terekspos, matanya menggelap sejenak sebelum ia menjauh.

"Mandilah. Aku akan menunggumu di sini," ucap Arkan singkat sembari berjalan menuju balkon.

Setelah mandi dan mengganti pakaiannya dengan daster satin panjang yang sopan, Alana keluar dan menemukan Arkan sedang menyesap whisky di balkon. Pria itu menatap kegelapan malam dengan pemikiran yang sulit ditebak.

Alana mendekat, berdiri di ambang pintu balkon. "Arkan... terima kasih karena telah menangani Marco. Aku tahu aku tidak seharusnya merahasiakannya darimu."

Arkan tidak menoleh. "Jangan berterima kasih. Aku melakukannya untuk melindungi namaku. Tapi ada satu hal yang harus kamu pahami mulai sekarang."

Ia berbalik, menatap Alana dengan tatapan yang sangat posesif. "Rumah ini penuh dengan telinga dan mata milik kakekku. Kamu tidak boleh keluar rumah tanpa pengawalan Dimas. Ponselmu akan dipantau. Dan setiap orang yang ingin kamu temui, termasuk ibumu di rumah sakit, harus melalui izin dariku."

"Apa?! Kamu memenjarakanku?" seru Alana tidak percaya.

"Ini bukan penjara, Alana. Ini proteksi," jawab Arkan dingin. "Dunia luar sangat berbahaya bagi wanita yang menyandang nama Arkananta. Terutama wanita yang memiliki rahasia seperti kamu."

Alana merasa sesak. Ia baru saja melepaskan diri dari ancaman Marco, namun kini ia terperangkap dalam obsesi suaminya sendiri.

Keesokan paginya, kehidupan baru Alana sebagai Nyonya Arkananta dimulai. Ia tidak lagi pergi ke kantor sebagai sekretaris. Tugasnya kini adalah mempelajari cara mengelola rumah tangga besar dan menghadiri acara-acara amal sebagai pendamping Arkan.

Namun, kejutan sebenarnya datang di siang hari. Saat Alana sedang berada di taman belakang, ia melihat sebuah mobil van hitam masuk ke area rumah. Dua orang perawat turun, diikuti oleh seorang wanita yang sangat Alana kenal.

"Elena?!" seru Alana.

Wanita itu memang Elena, namun ia tampak sangat berbeda. Wajahnya pucat dan ia terlihat sangat lemah. Arkan, yang ternyata sudah ada di sana, mendekat dan memberi isyarat pada perawat untuk membawa Elena ke paviliun samping.

"Kenapa dia di sini, Arkan?" tanya Alana panik. "Kamu bilang dia dikirim ke fasilitas rehabilitasi?"

"Fasilitas itu milik keluargaku, Alana. Tapi kakekku mulai curiga dan mengirim orang ke sana. Jadi, aku membawanya ke sini. Di bawah atapku sendiri, dia akan lebih aman dari jangkauan mata-mata kakek," jelas Arkan.

Alana menatap suaminya dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, Arkan sangat kejam dan posesif, namun di sisi lain, pria ini mengambil risiko besar dengan membawa Elena masuk ke rumah ini demi melindungi rahasia mereka.

"Tapi bagaimana jika pelayan di sini melihatnya?"

"Paviliun samping adalah area terlarang bagi siapa pun kecuali Dimas dan tim medis kepercayaanku. Kamu boleh menjenguknya sekali sehari, tapi kamu dilarang membawanya keluar dari sana," Arkan menatap Alana dengan tajam. "Ini adalah rahasia terbesar kita sekarang. Jika kakek tahu ada dua wanita dengan wajah yang sama di rumah ini, kita berdua akan tamat."

Malam-malam berikutnya di kediaman Arkananta menjadi rangkaian ketegangan yang melelahkan. Setiap malam, Alana harus berbagi ranjang dengan Arkan. Meskipun Arkan tidak pernah menyentuhnya dengan paksa, kehadiran pria itu di sampingnya selalu membuat Alana terjaga.

Suatu malam, saat hujan deras kembali mengguyur, Alana terbangun karena mimpi buruk tentang kecelakaan masa lalunya. Ia terengah-engah, keringat dingin membasahi keningnya. Arkan, yang ternyata memiliki pendengaran yang sangat tajam, segera terbangun.

"Mimpi buruk lagi?" tanya Arkan pelan.

Alana tidak menjawab, ia hanya memeluk lututnya di bawah selimut. Tiba-tiba, ia merasakan tangan Arkan melingkar di bahunya, menariknya ke dalam pelukan yang hangat.

"Kamu aman di sini, Alana. Tidak akan ada yang berani menyentuhmu selama aku masih ada," bisik Arkan.

Untuk pertama kalinya, Alana merasa bahwa dinding kedinginan Arkan mulai retak. Pria ini bukan hanya sekadar monster yang haus kekuasaan; ia adalah pria yang terobsesi untuk melindungi apa yang ia anggap miliknya.

"Kenapa kamu melakukan semua ini, Arkan? Kenapa kamu begitu keras melindungi kebohongan ini?" tanya Alana di tengah pelukan itu.

Arkan terdiam lama sebelum menjawab. "Karena dalam hidupku, aku tidak pernah memiliki sesuatu yang benar-benar milikku. Semuanya adalah pemberian kakekku, semuanya adalah tentang perusahaan. Tapi kamu... kamu adalah satu-satunya hal yang kupilih sendiri. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk kakekku atau masa lalumu, mengambilmu dariku."

Alana mendongak, menatap mata Arkan dalam temaram lampu tidur. Di sana, ia melihat sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada kebencian: ia melihat obsesi yang tulus.

"Kamu adalah kelemahanku sekarang, Alana. Dan aku akan memastikan kelemahan itu tetap terkunci rapat di sini," ucap Arkan sebelum mencium kening Alana dengan penuh penguasaan.

Alana menyadari bahwa ia telah terjatuh ke dalam lubang yang sangat dalam. Arkan bukan hanya menginginkan status pernikahan; ia menginginkan jiwa Alana. Dan di balik dinding-dinding mewah rumah ini, Alana mulai menyadari bahwa ia mungkin tidak akan pernah ingin pergi, karena di pelukan sang Iblis inilah, untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar diinginkan.

Namun, di luar sana, badai yang lebih besar sedang berkumpul. Kevin, sepupu Arkan, telah menemukan jejak transaksi ilegal Elena yang belum sempat dihancurkan oleh Arkan. Dan ia sedang menunggu waktu yang tepat untuk menjatuhkan bom tersebut di tengah pesta ulang tahun kakek mereka yang akan diadakan minggu depan.

1
Sweet Girl
Nikmati aja dulu kemewahan yang diberikan Arkan, toh kamu sendiri belum punya pacarkan...
Sweet Girl
Nah... ini gak enaknya...
Sweet Girl
Kok seperti nya Arkan sudah mengenal Alana ya Tor...
Sweet Girl
Dirantai kamu Alana...
Sweet Girl
Apa kau terpesona pada pandangan pertama dengan Sekretaris kecil pengganti, Tuan CEO...???
Sweet Girl
Bwahahaha bener tau dia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!