"Aku tidak membelimu untuk dicintai. Aku membelimu untuk menghancurkan ayahmu."
Aria Vane hanyalah tumbal. Dijual oleh ayahnya sendiri untuk melunasi utang darah kepada Dante Moretti, pria paling kejam yang pernah memimpin sindikat Milan.
Dante tidak butuh istri. Dia butuh senjata.
Aria tidak butuh perlindungan. Dia butuh balas dendam.
Di atas ranjang yang sama, mereka saling mengincar nyawa. Namun, saat rahasia masa lalu mulai terkuak, Aria menyadari bahwa sang Iblis yang menikahinya adalah satu-satunya peluru yang ia miliki untuk bertahan hidup.
Satu pernikahan. Dua pengkhianatan. Ribuan peluru yang mengintai.
Di dunia Moretti, hanya ada satu aturan: Jangan jatuh cinta, atau kau akan menjadi orang pertama yang mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coldmaniac, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Arsip Darah dan Pengkhianatan Suci
WAKTU adalah mata uang paling mahal di Roma, dan malam ini, Dante serta Aria sedang berada di ambang kebangkrutan. Jarum jam di dinding Palazzo del Silenzio terus berdetak, bunyinya bergema di aula yang sunyi seperti ketukan palu hakim yang sedang menghitung mundur waktu eksekusi mereka.
Aria berdiri di tengah perpustakaan pribadi klan Moretti yang terletak di lantai bawah tanah palazzo. Ruangan itu tidak memiliki jendela, hanya dinding-dinding yang tertutup rak kayu ek yang menjulang hingga ke langit-langit, penuh dengan ribuan buku tua, dokumen gulungan, dan map kulit yang berdebu. Bau kertas kuno, lilin lebah, dan lembapnya tanah Roma meresap ke dalam indra penciumannya.
"Jika kakekmu menyimpan rahasia tentang Project Phoenix di sini, dia pasti tidak akan meletakkannya di rak yang mudah dijangkau," ucap Aria sambil menyesuaikan letak kacamatanya. Ia telah menghabiskan tiga jam terakhir membedah laporan keuangan klan dari tahun 1970-an, mencari anomali yang disebutkan Kardinal.
Dante berdiri di dekat pintu, tangannya bersedekap di dada. Ia telah melepaskan jasnya, menyisakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga ke siku. Matanya terus mengawasi monitor CCTV kecil yang dibawa oleh Marco. Di luar sana, gerimis Roma telah berubah menjadi hujan badai yang menderu, menutupi suara-suara yang mungkin mencurigakan.
"Kakekku adalah pria yang paranoid," sahut Dante, suaranya berat dan parau. "Dia sering bicara tentang 'harta yang terkubur di bawah bayang-bayang malaikat'. Aku selalu mengira itu hanyalah metafora religius karena dia sangat membenci saudaranya yang menjadi Kardinal."
Aria terhenti. Ia menoleh ke arah sebuah patung malaikat marmer berukuran kecil yang terletak di sudut perpustakaan. Patung itu menggambarkan Malaikat Mikael yang sedang menginjak naga, namun ada yang aneh dengan posisi sayapnya.
"Dante, lihat ini," Aria mendekati patung itu. Ia menyentuh permukaan marmer yang dingin. "Kau bilang 'di bawah bayang-bayang malaikat'. Cahaya lampu di ruangan ini selalu datang dari arah depan, tapi lihat bayangannya di dinding."
Dante mendekat, matanya menyipit. Bayangan patung itu tidak lurus; ia sedikit miring ke arah sebuah panel kayu di balik rak nomor dua belas. Dante mendorong rak itu dengan sekuat tenaga. Rak besar itu bergeser dengan suara gesekan kayu yang berat, memperlihatkan sebuah panel dinding yang memiliki ukiran segel keluarga Moretti: seekor gagak yang mencengkeram kunci perak.
"Segel ini... hanya bisa dibuka dengan cincin pemimpin klan," gumam Dante.
Ia melepas cincin zamrud hitam dari jari manisnya—cincin yang sama yang ia gunakan untuk melamar Aria secara simbolis—dan menekannya ke lubang di tengah ukiran gagak tersebut.
Klik.
Suara mekanisme kuno yang berputar di balik dinding terdengar memuaskan. Panel itu terbuka perlahan, memperlihatkan sebuah brankas baja kecil yang tampak jauh lebih modern daripada bangunan di sekitarnya. Di dalamnya, terdapat sebuah buku catatan kecil bersampul kulit hitam dan sebuah perangkat penyimpanan data kuno berbentuk floppy disk yang telah dimodifikasi.
Aria mengambil buku catatan itu dengan hati-hati. Saat ia membukanya, ia menemukan tulisan tangan yang rapi namun penuh dengan kode-kode rumit. Sebagai seorang pengacara yang terbiasa menangani kasus korupsi korporasi, Aria mulai memahami pola yang ada di sana.
"Ini bukan sekadar daftar bisnis, Dante," bisik Aria, matanya membelalak saat membaca halaman demi halaman. "Project Phoenix... ini adalah daftar 'kebangkitan'. The Circle memiliki daftar setiap hakim, politisi, dan jenderal di seluruh Eropa yang kariernya dibangun menggunakan uang Moretti. Mereka menyebutnya Phoenix karena jika salah satu dari orang-orang ini jatuh, The Circle akan menggunakan dana abadi untuk membangkitkan mereka kembali di posisi yang lebih tinggi."
"Jadi ini adalah daftar suap terbesar dalam sejarah Italia?" tanya Dante.
"Lebih dari itu. Ini adalah bukti bahwa setiap kebijakan besar di negeri ini selama empat puluh tahun terakhir telah dibeli. Jika daftar ini keluar ke publik, Vatikan akan terguncang, pemerintahan akan runtuh, dan The Circle akan diburu oleh Interpol hingga ke lubang semut." Aria menatap Dante dengan ngeri. "Sekarang aku tahu kenapa Kardinal begitu menginginkan ini. Ini adalah tali gantungan bagi mereka semua."
Tiba-tiba, suara ledakan kecil terdengar dari arah lantai atas.
BOOM!
Goncangan itu membuat debu berjatuhan dari langit-langit perpustakaan. Dante segera menarik Aria ke belakang sebuah pilar marmer besar.
"Marco! Laporan!" teriak Dante melalui radio di kerahnya.
"Bos! Scorpion XIII ada di sini! Mereka meledakkan gerbang depan! Mereka menggunakan sensor termal, mereka tahu kalian ada di bawah tanah!" suara Marco terdengar terputus-putus di tengah desingan peluru.
"Sialan," umpat Dante. Ia mengeluarkan pistol Glock-nya dan memeriksa magasin. "Aria, ambil buku itu dan disketnya. Masukkan ke dalam saku mantelmu. Kita harus keluar dari sini sekarang melalui jalur air di bawah."
"Jalur air?"
"Ada terowongan pembuangan kuno yang mengarah langsung ke sungai Tiber. Itu satu-satunya jalan keluar yang tidak mereka jaga."
Dante menarik Aria menuju sebuah lubang palka di sudut lantai perpustakaan. Namun, sebelum mereka sempat membukanya, pintu perpustakaan di atas tangga hancur berantakan. Tiga pria berpakaian taktis hitam dengan senapan mesin ringan melompat turun.
"Tiara!" Dante mendorong Aria ke lantai.
RAT-TAT-TAT-TAT!
Peluru-peluru menghujam rak buku, menghancurkan literatur berusia ratusan tahun menjadi serpihan kertas yang beterbangan seperti salju di tengah neraka. Dante membalas tembakan dengan presisi yang mematikan. Dua penyerang jatuh seketika dengan lubang di dahi mereka.
Namun, penyerang ketiga lebih cerdik. Ia melempar sebuah granat cahaya (flashbang) ke arah mereka.
CRAAAKK!
Cahaya putih yang membutakan dan suara dentuman frekuensi tinggi memenuhi ruangan. Aria merasa dunianya berputar, telinganya berdenging hebat, dan pandangannya menjadi putih total. Ia merangkak di lantai, mencoba mencari pegangan, namun sebuah tangan kasar mencengkeram rambutnya dan menariknya berdiri.
"Lepaskan dia!" suara Dante terdengar samar di tengah denging telinga Aria.
Aria merasakan dinginnya laras senjata menyentuh pelipisnya. Saat penglihatannya mulai kembali, ia melihat seorang pria dengan luka parut di wajahnya berdiri di belakangnya, menggunakan dirinya sebagai tameng manusia. Pria itu memiliki tato kalajengking di lehernya.
"Letakkan senjatamu, Moretti," ucap pria itu dengan aksen Eropa Timur yang kental. "Atau otak istrimu akan menghiasi dinding perpustakaan ini."
Dante berdiri sekitar lima meter di depan mereka. Wajahnya tidak lagi menunjukkan emosi. Ia tampak seperti patung kematian. Tangannya tetap memegang pistol, membidik lurus ke arah pria itu, namun ia tahu risiko peluru yang bisa mengenai Aria.
"Kau menyentuhnya, dan aku pastikan kau akan memohon untuk mati selama sisa hidupmu," ancam Dante, suaranya rendah dan mengandung janji rasa sakit yang tak terbayangkan.
"Berikan catatannya. Sekarang," perintah anggota Scorpion XIII itu.
Aria menatap Dante. Ia bisa melihat kilatan rasa bersalah di mata suaminya—ketakutan yang paling dalam dari seorang Dante Moretti adalah kegagalan melindungi miliknya. Aria tahu ia harus bertindak. Ia bukan lagi pengacara yang lemah. Ia adalah wanita yang telah membunuh di Sisilia.
Aria meraba saku mantelnya. Bukan untuk mengambil buku, melainkan untuk mengambil sebuah pulpen perak berat yang ia ambil dari meja Dante tadi sore. Dengan satu gerakan cepat, Aria menghujamkan ujung pulpen tajam itu ke paha pria di belakangnya.
"ARGH!" pria itu berteriak kesakitan, cengkeramannya pada Aria mengendur sesaat.
Dante tidak menyia-nyiakan satu milidetik pun.
DOOR!
Satu peluru kaliber 9mm melesat dan menghantam tepat di antara mata penyerang itu. Pria itu jatuh ke belakang, melepaskan Aria yang langsung merosot ke lantai.
Dante segera menerjang maju, memeluk Aria dan menyeretnya menuju lubang palka. "Ayo! Lebih banyak dari mereka akan datang!"
Mereka turun ke dalam kegelapan terowongan bawah tanah. Bau air limbah dan udara yang pengap menyambut mereka, namun itu adalah aroma kebebasan. Mereka berlari melintasi air setinggi mata kaki, mengikuti cahaya senter kecil yang dibawa Dante. Di belakang mereka, suara teriakan dan tembakan masih terdengar dari dalam palazzo.
Dua puluh menit kemudian, mereka muncul dari sebuah lubang pembuangan di tepian sungai Tiber yang gelap. Hujan badai masih mengguyur Roma, menyamarkan keberadaan mereka. Sebuah perahu motor kecil dengan mesin yang sudah menyala sudah menunggu di bawah jembatan Ponte Sisto.
Marco ada di sana, lengannya terluka dan diperban secara terburu-buru. "Bos! Mobil sudah menunggu di seberang sungai. Kita harus segera meninggalkan Roma."
"Tidak," jawab Aria tiba-tiba. Ia berdiri tegak di tengah hujan, air membasahi wajah dan gaun mahalnya. "Jika kita lari sekarang, mereka akan memburu kita selamanya. Kita punya daftar itu, Dante. Kita punya bukti yang mereka takuti."
Dante menatap Aria, air hujan mengalir dari rambutnya yang hitam. "Apa rencanamu, Aria?"
"Kardinal mengundang kita ke perayaannya besok malam, bukan? Dia ingin 'pengakuan dosa'. Maka kita akan memberikannya," Aria tersenyum miring, sebuah senyuman yang sangat mirip dengan Dante saat sedang merencanakan kehancuran musuhnya. "Kita akan masuk ke sana, dan di depan semua anggota The Circle, kita akan menunjukkan isi dari Project Phoenix. Kita akan menghancurkan mereka di rumah mereka sendiri."
Dante terdiam, menatap istrinya dengan rasa kagum yang tak terlukiskan. "Itu adalah misi bunuh diri, Aria. Jika kita gagal, tidak ada jalan kembali."
"Kita sudah tidak punya jalan kembali sejak kita bertemu di altar itu, Dante," sahut Aria. Ia memegang tangan Dante, meremasnya dengan kuat. "Pilihannya adalah menjadi budak mereka seumur hidup, atau membakar seluruh kerajaan mereka malam ini. Aku memilih untuk membakar."
Dante tertawa pelan, suara yang penuh dengan tantangan terhadap takdir. Ia menarik Aria ke dalam pelukannya, menciumnya di tengah hujan yang menderu. "Aku tidak pernah menyangka akan menikahi seorang pengacara yang lebih haus darah daripada aku sendiri."
Dante menoleh ke arah Marco. "Bawa kita ke rumah aman di Vatikan. Jika kita ingin menjatuhkan seorang Kardinal, kita harus berada di wilayah yang paling dekat dengan dosanya."
Rumah Aman di Vatikan, Pukul 03.00 Dini Hari
Rumah aman itu adalah sebuah apartemen kecil yang tersembunyi di atas sebuah toko roti di dekat tembok Vatikan. Suasananya jauh dari kemewahan palazzo. Hanya ada satu ruangan dengan tempat tidur kecil dan sebuah meja bundar.
Aria sedang duduk di depan laptop miliknya, mencoba mendigitalisasi data dari disket kuno tersebut sementara Dante sedang membersihkan senjatanya. Keheningan di antara mereka terasa sangat intens, dipenuhi oleh antisipasi akan apa yang akan terjadi besok malam.
"Dante," panggil Aria tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
"Hmm?"
"Jika... jika sesuatu terjadi padaku besok malam. Aku ingin kau mengambil data ini dan melarikan diri. Jangan mencoba menyelamatkanku jika itu berarti daftar ini akan hilang."
Dante menghentikan gerakannya. Ia meletakkan pistolnya di meja dengan denting pelan yang mengancam. Ia berjalan mendekati Aria, memutar kursi wanita itu agar menghadapnya.
"Dengar baik-baik, Aria Moretti," ucap Dante, suaranya rendah dan penuh dengan emosi yang dalam. "Aku sudah kehilangan ibuku karena kelemahan klan ini. Aku sudah kehilangan jiwaku karena ambisi ayahku. Aku tidak akan kehilanganmu. Tidak untuk daftar ini, tidak untuk The Circle, tidak untuk siapa pun."
Dante berlutut di depan Aria, memegang kedua tangan wanita itu. "Kau bukan sekadar sekutu. Kau adalah alasan mengapa aku masih ingin melihat hari esok. Jika kita harus membakar Roma, kita akan melakukannya bersama. Dan jika kita harus mati, maka iblis akan ketakutan melihat kita datang bersama-sama ke neraka."
Aria merasakan air mata menggenang di matanya. Ia membungkuk dan mencium kening Dante. "Aku mencintaimu, Dante. Aku tidak pernah mengatakannya dengan benar, tapi... aku mencintaimu."
Dante terpaku. Itu adalah pertama kalinya Aria mengucapkan kata-kata itu secara eksplisit. Selama ini, hubungan mereka dibangun di atas gairah, bahaya, dan kebutuhan. Tapi cinta? Itu adalah wilayah baru yang jauh lebih menakutkan bagi pria seperti Dante Moretti.
Dante menarik Aria ke dalam pelukannya, memeluknya seolah-olah seluruh dunia di luar sana hanyalah debu yang tidak berarti. "Dan aku milikmu, Aria. Sepenuhnya milikmu."
Malam itu, mereka tidak tidur untuk beristirahat. Mereka tidur untuk mengumpulkan kekuatan bagi perang yang akan meletus besok malam. Di meja, laptop Aria terus menyala, menampilkan ribuan nama yang akan segera menemui nasib akhir mereka.
Di luar, fajar mulai menyingsing di atas kubah Basilika Santo Petrus. Cahaya pertama menyinari kota Roma, namun bagi The Circle, ini adalah awal dari kegelapan yang paling pekat.
Besok malam, di Istana Kardinal, perjamuan terakhir akan segera dimulai. Dan Aria serta Dante adalah tamu utama yang membawa kiamat di dalam saku mereka.