NovelToon NovelToon
The CEO'S Only Cure: Married To The Untouchable

The CEO'S Only Cure: Married To The Untouchable

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / CEO / Anak Yang Berpenyakit / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Bagi Arkanza Malik, sentuhan wanita adalah racun yang mematikan. CEO dingin ini mengidap penyakit aneh yang membuatnya sesak napas dan kulitnya terbakar setiap kali kulitnya bersentuhan dengan lawan jenis. Namun, sebuah insiden di lorong hotel mengubah segalanya.
Aira, gadis miskin yang kabur dari kejaran rentenir setelah menghantam kepala pria yang ingin melecehkannya, tanpa sengaja jatuh ke pelukan Arkanza. Bibir mereka bertemu dalam kegelapan. Arkanza yang seharusnya mati karena alergi, justru merasakan napasnya kembali. Gadis kumal ini adalah satu-satunya penawar racunnya!
"Aku sudah melunasi hutang ayahmu. Sebagai gantinya, kau harus menjadi istriku dan biarkan aku menyentuhmu kapan pun aku membutuhkannya."
Aira terjebak. Menjadi "obat hidup" bagi CEO kejam yang tidak punya hati. Di antara kontrak miliaran rupiah dan intrik perebutan harta, mampukah Aira bertahan tanpa harus menyerahkan hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Rahasia di Balik Kabut Sterling

Kastel Blackwood berdiri tegak di atas bukit yang diselimuti kabut tebal, tampak seperti raksasa batu yang siap menelan siapa pun yang masuk. Arkanza dan Aira diturunkan dari mobil hitam dengan kawalan ketat. Arkanza tidak membiarkan tangan Aira terlepas dari genggamannya sedikit pun, meskipun beberapa laras senjata api mengarah tepat ke punggung mereka.

"Selamat datang di rumah, Nona Aira. Meskipun saya ragu Anda akan merasa betah di sini," sindir Arthur Kingsley sambil membukakan pintu kayu ek raksasa di gerbang utama.

Arkanza menoleh, menatap Arthur dengan tatapan yang bisa membekukan darah. "Berhentilah bersandiwara, Arthur. Di mana Edward? Aku tidak punya banyak waktu untuk melihat-lihat bangunan tua yang bau tanah ini."

"Sabar, Tuan Malik. Tuan Edward sedang menunggu di ruang kerja utama," jawab Arthur tenang.

Mereka melangkah masuk. Interior kastel itu dipenuhi dengan lukisan-lukisan tua keluarga Sterling. Namun, di tengah aula besar, terdapat sebuah bingkai foto yang paling mencolok—foto Riana, ibu Aira, saat masih muda. Namun, foto itu disilang dengan cat merah darah, dan di bawahnya terdapat tulisan yang membuat Aira gemetar: "PENCURI."

"Apa maksudnya ini, Arkan?" bisik Aira, wajahnya pucat. "Kenapa mereka menyebut Ibuku pencuri?"

Arkanza merangkul bahu Aira, menariknya lebih dekat. "Jangan dengarkan mereka, Sayang. Itu hanya taktik pengecut untuk menjatuhkan mentalmu. Ibumu adalah pahlawan, bukan pencuri."

"Oh, benarkah, Arkanza?" sebuah suara berat dan berwibawa muncul dari atas tangga spiral.

Seorang pria tua dengan rambut perak yang tertata rapi, mengenakan setelan jas Inggris yang sangat mahal, turun perlahan. Itulah Edward Sterling. Matanya dingin, tajam, dan tidak memiliki setetes pun rasa empati.

"Edward Sterling," desis Arkanza.

"Arkanza Malik. Putra dari Syarif yang tidak berguna," balas Edward sambil berhenti di depan foto Riana. "Kau ingin tahu apa yang dicuri wanita ini? Dia tidak hanya mencuri harta keluarga Sterling. Dia mencuri 'Jantung' dari kekaisaran kami."

Edward melemparkan sebuah buku catatan kecil bersampul kulit tua ke meja marmer di depan Aira. "Ibumu membawa lari kode enkripsi untuk seluruh akun penyimpanan emas rahasia keluarga Sterling di Swiss. Dia melarikan diri ke Indonesia bukan karena cinta pada Alan, tapi karena dia ingin menghancurkan keluarga ini dari dalam!"

Aira menggelengkan kepala. "Tidak mungkin! Ibuku tidak pernah bercerita soal itu! Dia hidup menderita di Indonesia, dia bekerja keras hanya untuk memberiku makan!"

"Itu karena dia terlalu takut untuk mencairkannya!" bentak Edward, suaranya menggelegar di aula. "Dia tahu, sekali dia menyentuh dana itu, aku akan menemukannya. Dan sekarang, kode itu ada padamu, Aira. Itulah sebabnya kau masih hidup sampai sekarang. Katakan padaku, di mana Riana menyembunyikan kunci itu?!"

Arkanza melangkah maju, menutupi tubuh Aira sepenuhnya dari pandangan Edward. "Dia tidak tahu apa-apa, Edward. Dan meskipun dia tahu, aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya."

Edward tertawa sinis. "Kau masih ingin bermain pahlawan, Arkanza? Lihat dirimu. Kau berada di wilayahku, dikelilingi orang-orangku. Kau pikir penyakit 'kutukan'mu itu tidak akan kambuh jika aku memerintahkan mereka untuk menyeret istrimu ke ruang bawah tanah?"

Mendengar ancaman itu, aura Arkanza berubah. Bintik merah tipis mulai muncul di rahangnya, tapi kali ini ia tidak terlihat lemah. Ia justru tampak seperti predator yang sedang terpojok.

"Coba saja," tantang Arkanza dengan suara rendah yang mematikan. "Sentuh satu ujung rambutnya, dan aku pastikan kastel ini akan menjadi kuburan massal bagi semua orang di sini, termasuk kau. Kau lupa siapa aku? Aku adalah pria yang selamat dari sabotase pesawatmu. Kau pikir senjata-senjata ini menakutiku?"

"Arkan, jangan..." bisik Aira cemas, memegang lengan Arkanza.

Arkanza menoleh sekilas pada Aira, matanya berkilat penuh obsesi. "Diamlah, Aira. Pria ini harus tahu bahwa kau adalah milikku, dan tidak ada satu pun Sterling di dunia ini yang bisa memerintahmu."

Arkanza kembali menatap Edward. "Kau ingin kodenya? Mari kita buat kesepakatan. Biarkan Aira pergi ke kedutaan Indonesia dengan aman, dan aku akan tinggal di sini sebagai jaminan sampai kau mendapatkan apa yang kau inginkan."

"Tidak! Aku tidak mau meninggalkanmu!" teriak Aira.

Edward tersenyum licik. "Tawaran yang menarik, Arkanza. Tapi aku punya rencana yang lebih baik. Bagaimana jika kalian berdua tetap di sini, di menara utara? Kalian punya waktu 24 jam untuk memberikan kode itu, atau aku akan mulai mengirimkan potongan jari suamimu ini ke Indonesia, Aira. Satu per satu."

Edward memberi isyarat pada pengawalnya. "Bawa mereka ke menara. Dan pastikan Nona Aira tidak mendapatkan akses ke apa pun selain suaminya."

Menara Utara – Tengah Malam

Arkanza dan Aira dikunci di sebuah ruangan mewah namun dingin di puncak menara. Arkanza segera memeriksa setiap sudut ruangan untuk mencari kamera pengintai. Begitu merasa aman, ia langsung ambruk di sofa, napasnya berat. Serangan alergi akibat stres tadi mulai menyerangnya lagi.

"Arkan!" Aira segera menghampiri, memeluk Arkanza dan membiarkan suaminya menghirup aromanya. "Kenapa kau melakukan itu? Kenapa kau menawarkan dirimu sebagai jaminan?"

Arkanza mencengkeram pinggang Aira, menariknya duduk di pangkuannya. "Karena aku tidak bisa melihatmu terancam, Aira. Kekuasaan Edward di sini mutlak. Kita butuh waktu untuk menghubungi Reno dan tim bantuan di luar."

"Tapi kode itu... aku benar-benar tidak tahu di mana Ibu menyimpannya," isak Aira.

Arkanza mengusap air mata Aira, lalu mencium bibirnya dengan penuh kepemilikan. "Aku tahu. Ibumu tidak akan pernah membiarkanmu terbebani oleh hal berbahaya seperti itu. Kode itu pasti ada di suatu tempat yang dekat denganmu selama ini, tapi kau tidak menyadarinya."

Arkanza menatap kalung liontin yang masih dipakai Aira. "Aira... kalung itu. Apakah kau pernah membukanya?"

Aira tertegun. "Ini hanya liontin foto, Arkan. Ibu bilang jangan pernah membukanya kecuali aku benar-benar merindukannya."

"Buka sekarang, Aira. Ini waktunya."

Dengan tangan gemetar, Aira membuka pengait liontin perak itu. Di balik foto Riana yang tersenyum, terdapat sebuah ukiran mikroskopis berupa koordinat geografis dan sebuah deretan angka biner.

"Ini dia..." bisik Aira.

Arkanza menyeringai pahit. "Sekarang kita memegang bom waktu di tangan kita, Sayang. Jika kita memberikannya, dia akan membunuh kita. Jika tidak, dia juga akan membunuh kita."

Arkanza menarik Aira ke dalam pelukannya, menidurkan kepala Aira di dadanya. "Tapi dia melakukan satu kesalahan besar. Dia menempatkan kita di ruangan yang sama. Dan selama aku masih bernapas, aku akan memastikan pamanmu itu menyesal karena telah mengundang kita ke sini."

...****************...

Di tengah malam yang sunyi, terdengar suara langkah kaki di luar pintu menara. Bukan langkah kaki pengawal, melainkan suara gesekan sesuatu yang tajam. Sebuah surat diselipkan di bawah pintu. Isinya hanya satu kalimat: "Aku adalah pelayan rahasia ibumu yang masih setia. Temui aku di ruang bawah tanah lewat jalur pembuangan air di jam 3 pagi, atau kalian akan mati saat fajar tiba."

1
Ms. R
Ka ceritanya sangat menarik, saya suka. tapi nama2nya bikin gak mood baca, ini seperti cerita mafia Eropa tapi namanya indo banget, maaf ka gak enak dibaca nya
Ariska Kamisa: hehe maaf ya kak kalo kurang memuaskan🙏
latarnya emang di indo, tapi plot twist nya aira emang keturunan mafia, ibunya kabur ke indo.
total 1 replies
Suginah Ana
critanya bagus menegangkan q suka
Ariska Kamisa: terimakasih kak 🙏
total 1 replies
Ariska Kamisa
emang agak tsunder sih arkan 🤣
🍒⃞⃟🦅 ☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
ini dnamakan keluar mulut buaya masuk mulut harimau🤣 dua² ngeri
umie chaby_ba
seru nih ... penasaran akhirnya gimana ? apa penyakitnya Arkan akan sembuh atau selamanya akan bergantung pada Aira . /Whimper/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!