NovelToon NovelToon
Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Romansa / Komedi / Slice of Life / Urban
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Gia mengira hidupnya sudah berakhir saat karier cemerlangnya di Jakarta hancur dalam semalam akibat fitnah dari mantan tunangannya, Niko. Pulang ke kampung halaman untuk menjaga kedai kopi tua milik ayahnya adalah pilihan terakhir untuk menyembuhkan luka.
Namun, kedai itu ternyata sarang para pengutang! Yang paling parah adalah Rian, tukang bangunan serabutan yang wajahnya selalu belepotan debu semen, tapi punya rasa percaya diri setinggi langit. Rian tidak punya uang untuk bayar kopi, tapi dia punya sejuta cara untuk membuat hari-hari Gia yang suram jadi penuh warna—sekaligus penuh amarah.
Saat Gia mulai merasa nyaman dengan kesederhanaan desa dan aroma kopi yang jujur, masa lalu yang pahit kembali datang. Niko muncul dengan kemewahannya, mencoba menyeret Gia kembali ke dunia yang dulu membuangnya.
Di antara aroma espresso yang pahit dan senyum jail pria tukang utang, ke mana hati Gia akan berlabuh? Apakah kebahagiaan itu ada pada kesuksesan yang megah, atau justru nyangkut di dalam d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Barista Gagal dan Nasib Seribuan

Gia menatap nanar ke arah mesin espresso di depannya. Aroma kopi yang biasanya tercium elegan di kafe-kafe Jakarta, kini terasa seperti bau kegagalan yang menyengat. Tiga bulan lalu, ia masih mengenakan setelan kerja seharga jutaan rupiah dan memimpin rapat divisi pemasaran. Sekarang? Ia hanya mengenakan celemek kain kusam milik ayahnya yang baunya sudah mirip gudang tua.

"Hidup memang suka bercanda ya, Pak," gumam Gia pada mesin kopi yang berderit itu.

Gia baru saja mau mengelap meja kayu yang sudah mulai lapuk ketika seorang pria masuk dengan sandal jepit yang mengeluarkan bunyi tak-tek-tak-tek yang menjengkelkan. Pria itu memakai kaus oblong warna hitam yang sudah memudar warnanya menjadi abu-abu monyet, lengkap dengan beberapa noda semen yang mengering di celana jinsnya.

Itu Rian. Si "Duta Utang" nomor satu di kampung ini.

"Neng Gia, kopi satu. Hitam ya, sehitam masa depan saya kalau nggak dapet proyek minggu ini," ujar Rian sambil nyengir, menampakkan barisan gigi yang rapi—satu-satunya hal yang tampak 'mahal' dari penampilannya yang berantakan.

Gia menghentakkan kain lap ke meja dengan suara keras. "Bayar utang dulu, Rian! Catatan utang kamu sudah sampai ke halaman belakang buku kas Bapak. Aku nggak mau nambahin lagi."

Rian tertawa renyah. Tanpa rasa bersalah, ia duduk di kursi kayu tinggi pojok bar sambil menopang dagu. "Galak banget. Padahal kalau senyum dikit, kopinya jadi nggak usah pakai gula. Masukkan ke catatan saya saja dulu, Neng. Nanti kalau mandor cairkan uang borongan, saya lunasin sampai akar-akarnya. Janji, deh."

"Nggak ada janji-janji! Ini kedai kopi, bukan pegadaian," ketus Gia. Namun, tangannya tetap bergerak otomatis menyiapkan cangkir. Sialan, dia terlalu tidak tega melihat wajah lelah pria itu yang sepertinya baru saja memikul semen berkarung-karung.

Gia menuangkan air panas ke bubuk kopi, memperhatikan uapnya yang membumbung. Ia meletakkan cangkir itu di depan Rian dengan kasar. Rian menyesapnya pelan, lalu matanya terpejam sejenak seolah sedang meminum kopi dari hotel bintang lima.

"Enak. Beda sama buatan Bapakmu. Ada rasa... rasa amarahnya sedikit, tapi entah kenapa malah bikin nagih," puji Rian sambil menaikkan satu alisnya.

"Berisik," sahut Gia singkat, meski dalam hati ia merasakan sedikit kebanggaan yang aneh. Setidaknya, ilmu barista yang ia pelajari dari kursus mahal di Jakarta tidak benar-benar terbuang sia-sia di sini.

"Ngomong-ngomong, Neng," Rian mencondongkan tubuh ke depan. Aroma maskulin yang bercampur bau matahari dan debu tipis tercium oleh Gia. "Kamu itu nggak cocok pakai muka cemberut terus. Orang kota kalau pulang kampung itu harusnya cari ketenangan, bukan cari kerutan di jidat."

Gia terdiam. Kalimat itu menembus pertahanan egonya. Ia baru saja mau membalas dengan kalimat pedas ketika tiba-tiba terdengar suara rem mobil yang berdecit keras di depan kedai.

Sebuah sedan mewah berwarna hitam mengkilap—yang sangat tidak cocok berada di jalanan berbatu desa ini—berhenti tepat di depan pintu. Debu jalanan beterbangan menyelimuti bodi mobil yang mahal itu.

Seorang pria dengan setelan jas rapi dan jam tangan berkilau turun dari sana. Mata Gia membelalak. Seluruh tubuhnya mendadak kaku seolah disiram air es. Itu Niko. Mantan atasannya, sekaligus mantan tunangannya yang telah menghancurkan kariernya dan membuatnya melarikan diri ke pelosok desa ini.

"Gia? Jadi benar kamu sembunyi di tempat kumuh ini?" suara Niko terdengar begitu tajam dan meremehkan, memecah ketenangan sore itu.

Gia mematung. Tangannya gemetar hebat hingga hampir menjatuhkan kain lap di genggamannya. Di saat ia merasa dunianya akan runtuh untuk kedua kalinya, tiba-tiba sebuah tangan kasar namun hangat merangkul bahunya dengan sangat santai.

"Waduh, Neng Gia, ini tamu dari mana? Rapi amat kayak mau ke kondangan," Rian bertanya dengan nada polos yang dibuat-buat. Pria tukang bangunan itu berdiri tegak di samping Gia, menatap Niko dengan tatapan yang sulit diartikan. "Mau nagih utang juga kayak saya, atau mau beli kopi?"

Gia menoleh ke arah Rian. Pria yang tadi ia maki-maki karena utang seribu perak itu, kini berdiri di sampingnya seperti tameng yang kokoh.

1
Satri Eka Yandri
penasaran pov gia wktu di kota,di fitnah apa yah?
Sefna Wati: ayo baca bab selanjutnya kak
biar GK penasaran waktu gia di kota kenapa difitnah🥰🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!