menceritakan seorang siswi bernama Aria putri siswi dingin dan Sasha arka siswi berandalan, menceritakan keseharian mereka di sekolah dan teman baru di tahun terakhir sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 5
Pagi itu, atmosfer di SMA Garuda Bangsa terasa lebih mencekam dari biasanya. Aria Putri bukan tipe orang yang memberikan ancaman kosong.
Sebelum bel masuk berbunyi, dia sudah berdiri di depan ruang Kepala Sekolah dengan laporan lengkap mengenai pelanggaran Sasha Arka.
Begitu Sasha melangkah masuk ke gerbang sekolah dengan wajah mengantuk dan *hoodie* putihnya, pengeras suara sekolah langsung memanggil namanya dengan nada dingin.
"Panggilan kepada siswi Sasha Arka kelas 3-1, segera menuju ruang Kepala Sekolah sekarang juga."
Di dalam ruangan tersebut, Sasha harus melewati proses ceramah panjang yang membosankan dari guru BK dan Kepala Sekolah,
sementara Aria berdiri di sudut ruangan seperti saksi bisu yang penuh kemenangan. Hasilnya? Sebagai bentuk pendisiplinan awal sebelum pemanggilan orang tua, Sasha dijatuhi hukuman fisik: memungut sampah di seluruh area sekolah hingga jam pelajaran kedua berakhir.
"Lakukan dengan benar, Sasha. Aku akan memeriksa setiap sudut," ucap Aria saat mereka keluar dari ruangan.
Sasha hanya mendengus, menyambar penjepit sampah dengan kasar. "Puas kau, Tuan Putri?" desisnya sebelum berlalu dengan kekesalan yang meluap-luap.
---
Satu jam berlalu. Matahari mulai terasa menyengat. Sasha berada di bagian belakang sekolah, area yang jarang dilewati orang karena berbatasan langsung dengan tembok tinggi dan pepohonan rimbun.
Saat ia sedang memungut botol plastik dengan malas, suara *gedebuk* keras terdengar dari balik tembok.
Sasha menoleh dan melihat empat orang siswa laki-laki kelas dua sedang mencoba memanjat pagar untuk bolos sekolah.
Mereka sudah berada di atas tembok, namun gerak-gerik mereka membeku saat melihat Sasha berdiri di bawah sana dengan penjepit sampah di tangan.
"Mampus... ada Sasha," bisik salah satu dari mereka, wajahnya mendadak pucat.
Keempat murid itu terdiam di atas pagar, bingung harus turun ke dalam atau meloncat ke luar. Mereka tahu reputasi Sasha yang bisa menghajar orang tanpa ampun.
Sasha menatap mereka datar, lalu sebuah ide licik muncul di kepalanya. Ia menyeringai tipis, sebuah senyuman yang jarang terlihat namun sangat mengintimidasi.
"Kalian mau ke mana?" tanya Sasha santai sambil menyandarkan punggungnya di batang pohon besar.
"Anu, Kak... kami cuma mau..."
"Turun," perintah Sasha singkat.
Keempat siswa itu patuh. Mereka turun dari pagar dengan gemetar. "Tolong jangan lapor Kak Aria, Kak. Kami kapok."
Sasha melempar penjepit sampah dan kantong plastik besarnya ke arah mereka. "Siapa bilang aku mau lapor? Aku malas berurusan dengan OSIS. Tapi, karena kalian sudah mengganggu waktu istirahatku, kalian yang selesaikan hukuman ini. Pungut semua sampah di area belakang ini sampai bersih total. Kalau ada satu puntung rokok pun yang tertinggal saat aku kembali nanti, aku pastikan kalian tidak akan bisa memanjat pagar lagi seumur hidup. Paham?"
"Paham, Kak! Siap!" jawab mereka serempak, merasa lebih baik memungut sampah daripada harus berhadapan dengan tinju Sasha.
Sasha kemudian duduk santai di bawah pohon, memperhatikan keempat juniornya bekerja keras layaknya pelayan pribadi. Beberapa menit kemudian, area itu bersih mengkilap.
"Sudah bersih semua, Kak," lapor salah satu dari mereka sambil terengah-engah.
Sasha melirik kantong plastik yang sudah penuh. Ia mengibaskan tangannya pelan. "Bagus. Sekarang pergi sana, terserah mau lompat pagar atau masuk ke kelas. Jangan sampai aku melihat wajah kalian lagi hari ini."
"Makasih, Kak Sasha!" Mereka segera menghilang, melanjutkan niat bolos mereka dengan terburu-buru.
Sasha bangkit berdiri, membersihkan celananya dari debu. Alih-alih kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran sejarah, ia justru berjalan ke arah yang berlawanan. Baginya,
hukuman sudah selesai karena sampah sudah berpindah ke kantong. Ia melangkah menuju kantin yang sepi, memesan kopi botol, dan duduk di sana dengan kaki terangkat satu ke atas kursi, mengabaikan bel pelajaran yang masih berdering jauh di kelas sana.
---
Baru saja Sasha hendak membuka tutup botol kopinya dan menikmati semilir angin kantin yang sepi, sebuah tarikan kuat dan mendadak mendarat di pergelangan tangannya. Sentuhan itu dingin, namun cengkeramannya sangat bertenaga.
Sasha tersentak dan menoleh dengan tatapan membunuh. "Apa-apaan kau—"
Kalimatnya terputus saat ia melihat siluet tegas Aria Putri yang berdiri di belakangnya. Aria tidak tampak lelah sedikit pun, meskipun ia baru saja berkeliling memantau persiapan ujian di blok lain.
Matanya yang tajam menatap botol kopi di tangan Sasha, lalu beralih ke wajah Sasha yang penuh peluh.
"Mau ke mana kau?" tanya Aria tanpa basa-basi, suaranya datar namun sarat akan otoritas.
Sasha menyentak tangannya dengan kasar hingga cengkeraman Aria terlepas. Ia mengusap pergelangan tangannya sambil mendengus kesal. "Tentu saja ke kantin. Kau punya mata, kan? Aku baru saja menyelesaikan tugas hukuman sialan itu. Area belakang sudah bersih mengkilap, kau bisa cek sendiri kalau kau tidak percaya."
Aria melirik ke arah lorong menuju area belakang. Ia memang sudah melihat kantong-kantong sampah yang terikat rapi di sana—hasil kerja keras para junior yang diancam Sasha tadi.
Aria tahu ada sesuatu yang tidak beres dengan kecepatan kerja itu, namun ia memilih untuk tidak mendebatnya sekarang.
"Area itu memang sudah bersih," ujar Aria dingin. "Tapi hukumanmu adalah memungut sampah *sampai jam kedua pelajaran berakhir*,Dan sekarang jam kedua baru saja selesai, yang berarti kau harus masuk ke kelas untuk jam pelajaran ketiga. Kau tidak punya izin untuk berkeliaran di kantin."
"Aku lelah, Aria! Aku sudah bekerja seperti budak!" bohong Sasha dengan nada tinggi, mencoba memancing simpati yang ia tahu tidak akan pernah ada.
"Semua murid punya kewajiban yang sama. Kau sudah membuang banyak waktu di semester ini," Aria melangkah mendekat, menghalangi akses Sasha menuju meja kantin. "Masuk ke kelas sekarang, atau aku akan mencatat ini sebagai tindakan pembangkangan sanksi. Kau ingin orang tuamu dipanggil saat kau sedang memegang rokok seperti kemarin, atau saat kau sedang belajar di kelas?"
Mendengar ancaman tentang orang tuanya lagi, rahang Sasha mengeras. Ia menatap Aria dengan dendam yang membara, namun akhirnya ia menghentakkan kakinya ke lantai. "Cerewet sekali kau! Baiklah, aku masuk!"
---
Sasha berjalan dengan langkah yang diseret menuju kelas 3-1, diikuti oleh Aria di belakangnya bak seorang sipir yang menggiring narapidana.
Di dalam kelas, suasana sudah berganti menjadi pelajaran Bahasa Inggris. Mrs. Damayanti, guru senior yang sangat disegani, sedang menuliskan beberapa kalimat kompleks dalam bentuk *Conditional Sentences* di papan tulis.
"Nice of you to join us, Sasha, Aria," sindir Mrs. Damayanti tanpa menoleh. "Please, take your seats."
Sasha menjatuhkan tubuhnya di kursi paling belakang dengan suara yang cukup keras, menarik perhatian seluruh kelas.
Ia menyandarkan punggungnya, melipat tangan di dada, dan menatap langit-langit dengan bosan. Sementara itu, Aria duduk di barisan depan, langsung mengeluarkan buku catatannya dan fokus sepenuhnya pada penjelasan guru.
"Alright, who can complete this sentence and explain the context?" Mrs. Damayanti menunjuk sebuah kalimat di papan tulis: *"If the student had followed the rules, she wouldn't have been punished."*
Mata guru itu menyapu kelas sebelum akhirnya mendarat pada sang Ketua OSIS. "Aria, please."
Aria berdiri dengan tenang, suaranya terdengar jernih dan sangat lancar tanpa aksen yang kaku. "That is a third conditional sentence, Ma'am. It refers to an impossible condition in the past and its probable result. The context suggests a regret about something that already happened. If she had followed the rules—which she didn't—she wouldn't have been punished. But since she broke them, the punishment was inevitable."
Penjelasan Aria yang sempurna dan penggunaan tata bahasa yang sangat fasih membuat beberapa murid berbisik kagum. Ia tampak begitu bersinar di bawah lampu kelas, potret siswi teladan yang tak tercela.
Sasha, yang melihat pemandangan itu dari pojok belakang, hanya bisa berdecak sinis. "Cih, pamer," gumamnya pelan.
Bagi Sasha, kemahiran Aria dalam berbahasa Inggris atau keteraturannya dalam hidup hanyalah sebuah sandiwara yang melelahkan. Ia merasa mual melihat bagaimana semua orang memuja kedisiplinan Aria.
Tanpa mempedulikan Mrs.Damayanti yang masih menjelaskan materi, Sasha menarik *hoodie* putihnya hingga menutupi kepala, melipat tangannya di atas meja sebagai bantal, dan memejamkan matanya rapat-rapat.
Bersambung...