Di Benua Timur, di mana pegunungan menusuk awan dan kabut spiritual menyelimuti hutan purba, nyawa manusia biasa seringkali tidak lebih berharga daripada rumput di tepi jalan.
Desa Sungai Jernih adalah tempat yang damai, tersembunyi di lembah kecil di kaki Pegunungan Kabut Hijau. Penduduknya hidup sederhana bertani, berburu, dan menyembah "Para Abadi" yang terkadang terlihat terbang melintasi langit dengan pedang cahaya. Bagi mereka, para kultivator itu adalah dewa pelindung.
Namun bagi Li Wei, hari ini, dewa-dewa itu membawa neraka.
Li Wei, pemuda berusia lima belas tahun dengan tubuh kurus namun sorot mata tajam, sedang menuruni bukit dengan keranjang anyaman di punggungnya. Ia baru saja selesai mencari tanaman obat liar. Ibunya sakit batuk sejak musim dingin lalu, dan tabib desa berkata akar Ginseng Roh tingkat rendah mungkin bisa membantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23: Palu dari Puncak Besi
Jalan rahasia di belakang Puncak Pengobatan adalah jalur tikus tua yang tertutup semak berduri dan lumut licin. Biasanya, jalan ini hanya digunakan oleh pencari herbal liar.
Kini, jalan itu dipadati oleh ratusan orang.
Li Wei berjalan di posisi paling belakang, bertindak sebagai penjaga belakang. Setiap langkahnya meninggalkan jejak darah sebagian darah musuh, sebagian darahnya sendiri. Tongkat Penembus Langit di bahunya terasa dua kali lebih berat dari biasanya.
Di depannya, barisan murid Puncak Pengobatan bergerak dalam diam. Xiao Lan memimpin di depan. Tidak ada yang berani menyalakan obor. Mereka bergerak hanya dengan cahaya bulan merah yang menembus sela-sela dedaunan.
Suasana mencekam. Di kejauhan, suara ledakan dan teriakan dari sekte utama masih terdengar, mengingatkan mereka bahwa neraka hanya berjarak beberapa bukit.
"Bertahanlah," bisik Li Wei pada seorang murid muda yang tersandung akar pohon. Ia membantunya berdiri dengan sisa tenaga.
Tiba-tiba, Giok Dao Abadi di dadanya bergetar.
Li Wei mengangkat tangan. "Berhenti!"
Barisan terhenti seketika. Xiao Lan menoleh dengan wajah waspada. "Li Wei? Ada musuh?"
Li Wei menyipitkan mata, menatap ke arah persimpangan jalan setapak di depan, di mana jalur dari Puncak Pengobatan bertemu dengan jalur lama dari Puncak Penempaan Besi.
"Ada yang datang," kata Li Wei pelan. "Jumlahnya sekitar lima puluh. Qi mereka berat dan stabil."
"Klan Wang?" tanya Xiao Lan cemas, tangannya meraba kantong racun.
"Bukan," Li Wei menggeleng. "Langkah mereka terlalu berat untuk pembunuh. Dan mereka..."
Semak-semak di persimpangan itu tersibak kasar.
Sesosok tubuh raksasa setinggi dua meter melangkah keluar. Ia tidak mengenakan jubah halus, melainkan kulit tebal yang hangus terbakar. Kulitnya hitam karena jelaga, dan di tangannya ia memegang sebuah palu tempa seukuran gentong air.
Di belakangnya, puluhan murid berotot kekar mengikuti, memikul peti-peti berat berisi logam dan senjata setengah jadi.
Itu adalah murid-murid Puncak Besi.
Raksasa itu mengangkat palunya saat melihat rombongan Xiao Lan. "Siapa di sana?! Jika kalian anjing Sekte Darah, akan kujadikan paku peti mati!"
Xiao Lan mengenali suara itu. "Kakak Tie Shan?"
Raksasa itu menurunkan palunya, matanya membelalak di balik wajah yang penuh abu. "Nona Xiao Lan? Puncak Pengobatan?"
Tie Shan, murid tertua Puncak Besi (Qi Condensation Lapis 6 Puncak), menjatuhkan palunya dengan bunyi DUNG keras dan berlari memeluk Xiao Lan (dengan hati-hati agar tidak meremukkannya).
"Langit masih punya mata!" seru Tie Shan, suaranya menggelegar. "Kukira kalian sudah habis dibantai. Kami melihat Golem Darah menyerang gerbang kalian dari atas bukit."
"Kami selamat berkat Saudara Li Wei," Xiao Lan menunjuk ke belakang.
Tie Shan menoleh. Matanya menyipit saat melihat Li Wei yang berdiri bersandar pada tongkat besi berkaratnya.
"Li Wei? Si Juara Turnamen?" Tie Shan melangkah mendekat, matanya menilai. Sebagai ahli tempa, dia tidak melihat Li Wei, tapi melihat senjata di bahunya.
"Batang besi itu..." mata Tie Shan berbinar. "Itu bukan besi biasa. Kepadatannya luar biasa. Dan kau membawanya seolah itu ranting kayu setelah bertarung seharian?"
Li Wei mengangguk hormat. "Saudara Tie. Bagaimana kondisi Puncak Besi?"
Wajah Tie Shan berubah suram. Ia meludah ke tanah.
"Hancur. Tetua kami meledakkan tungku utama untuk membunuh dua Tetua Sekte Darah yang mencoba mencuri senjata Pusaka. Beliau... gugur dalam ledakan itu."
Suara Tie Shan bergetar, tapi dia tidak menangis. Murid Puncak Besi tidak menangis; mereka hanya menjadi lebih keras.
"Kami membawa sisa bijih langka dan senjata yang bisa diselamatkan," lanjut Tie Shan, menunjuk peti-peti di belakangnya. "Tapi kami terkepung. Jalan utama diblokir. Kami mencoba memutar lewat sini, tapi tidak tahu harus ke mana."
Li Wei menatap Tie Shan, lalu menatap Xiao Lan.
"Aku punya tempat," kata Li Wei tegas. "Lembah Abu. Tempat itu terpencil, memiliki sumber air sendiri, dan dilindungi formasi kabut. Musuh tidak akan memprioritaskannya karena dianggap tanah tandus."
"Lembah Abu?" Tie Shan ragu. "Tempat pembuangan itu?"
"Tempat itu sekarang adalah bentengku," jawab Li Wei. "Tapi kita punya masalah. Untuk ke sana, kita harus melewati Ngarai Angin. Aku mendeteksi ada pos blokade Sekte Darah di sana."
Tie Shan tertawa kasar, mengangkat palu raksasanya. "Blokade? Saudara Li, kau punya palu (tongkatmu), dan aku punya palu. Apa gunanya blokade jika kita bisa menghancurkannya?"
Li Wei tersenyum tipis. Akhirnya, seseorang yang berbicara bahasa kekerasan yang sama dengannya.
"Bagus. Rencananya begini," Li Wei mulai menggambar di tanah. "Saudara Tie dan murid Puncak Besi akan menjadi Tameng Depan. Kalian tarik perhatian mereka. Buat keributan sebesar mungkin."
"Sedangkan aku..." mata Li Wei berkilat dingin. "Aku akan memutar dan menghabisi pemanah mereka dari belakang."
"Xiao Lan, kau dan para tabib tetap di tengah. Siapkan pil pemulih Qi. Begitu blokade hancur, kita lari tanpa henti sampai ke Lembah."
Tie Shan memukul dadanya. "Serahkan padaku. Tanganku gatal ingin memukul kepala Iblis Darah daripada memukul besi panas."
Ngarai Angin.
Benar saja, sebuah pos darurat telah didirikan oleh Sekte Darah. Sekitar tiga puluh murid berjubah merah menjaga celah sempit itu, dipimpin oleh seorang pengendali mayat.
"Berhenti! Siapa itu?!" teriak penjaga.
Dari kegelapan, Tie Shan berjalan keluar sendirian, palu di bahu, seringai lebar di wajah.
"Pelangganmu!"
BOOM!
Tie Shan menghantamkan palunya ke tanah. Gelombang kejut tanah menjatuhkan barisan depan musuh.
"Serang!" teriak murid-murid Puncak Besi yang muncul di belakangnya. Mereka mengenakan zirah berat buatan sendiri, menerjang seperti tank baja.
"Tahan mereka! Pemanah, tembak!" teriak komandan musuh.
Para pemanah Sekte Darah di atas tebing membidik.
Namun, sebelum satu anak panah pun lepas...
Wush! Wush! Wush!
Bayangan hitam melesat di atas tebing.
Li Wei.
Ia tidak menggunakan pedang. Ia menendang pemanah pertama jatuh ke jurang, mematahkan leher pemanah kedua dengan tangan kosong, dan melempar pemanah ketiga ke arah komandan di bawah.
Kekacauan terjadi di dua faksi. Depan dihajar palu besi, atas dihajar iblis tongkat.
"Mundur! Formasi rusak!"
Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, pos blokade itu rata dengan tanah.
Kerja sama antara Puncak Besi dan Li Wei terbukti mematikan.
Saat fajar menyingsing, rombongan besar itu akhirnya melihat kabut abu-abu yang familiar.
Lembah Abu.
Li Wei mengeluarkan token identitasnya dan menyuntikkan Qi.
"Buka."
Kabut ilusi terbelah, memperlihatkan jalan masuk.
Tie Shan dan murid-murid lainnya ternganga saat masuk. Mereka mengira akan melihat tanah tandus. Tapi yang mereka lihat adalah ladang subur (bekas panen), aliran air yang jernih, dan aura Qi yang meski tipis, terasa sangat murni dan menyegarkan.
"Selamat datang di rumah baru kita," kata Li Wei, tubuhnya ambruk duduk di batu besar, kelelahan akhirnya menyusulnya.
Xiao Lan segera berlutut, memberinya pil.
Tie Shan menatap lembah itu, lalu menatap Li Wei dengan rasa hormat yang mendalam.
"Saudara Li," kata Tie Shan serius. "Kau bukan hanya menyelamatkan nyawa kami. Kau memberi kami harapan."
Di kejauhan, asap hitam dari Sekte Langit Biru utama semakin tebal. Sekte telah jatuh.