Julius Randle Seorang Laki-laki yang Memiliki aura yang mampu membekukan ruangan, namun seketika mencair hanya oleh senyum satu wanita.
Jane Mommartre, Seorang Gadis Yang menganggap dirinya Hanya Figuran Dan Hanya Debu yang tidak Terlihat Dimata Julius Randle, Dengan segala kekaguman dari jarak Tiga Meter, Dia Sudah menyukai Julius Randle Sejak Lama.
Dibalik Layar seorang Mr A dan Ms J sebagai pelengkap, yang ternyata Mr A adalan Julius Yang Tak tersentuh, Dan Ms J adalah Jane Si gadis Tekstil.
Cinta mereka tumbuh di antara jalinan Kerja sama Tekstil. Julius yang kaku perlahan mencair oleh Jane si Ms J, menciptakan momen-momen manis yang puncaknya terjadi di malam penuh kenangan.
Kekuatan cinta mereka diuji oleh manipulasi kejam Victoria Randle, Yang merupakan ibu Dari Julius Randle . Fitnah mendorong ibu, pesan singkat palsu, hingga tuduhan perselingkuhan membuat Julius buta oleh amarah. Jane diusir dalam keadaan hancur, membawa rahasia besar di Rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan yang Mendistorsi Waktu
Pagi itu, sebelum koper-koper dimasukkan ke dalam bagasi, Julius menghampiri Jane yang sedang berdiri di dekat lobi resort. Tanpa banyak bicara, ia menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna biru navy dengan pita satin yang senada.
"Untukmu," ucap Julius singkat. Suaranya rendah, nyaris tenggelam oleh suara mesin mobil yang mulai dipanaskan.
Jane tertegun, tangannya ragu untuk menyambut kotak itu. Namun, Lucia yang muncul entah dari mana langsung mendorong bahu Jane. "Terima kasihnya nanti saja, Jane! Ambil dulu, atau Julius bakal berdiri di sini sampai tahun depan. Terima saja, itu hadiah kecil dari si bos karena kerja kerasmu membantu risetnya!"
Dengan wajah merona, Jane akhirnya menerima kotak itu, merasakannya seperti benda berharga yang sangat rapuh di genggamannya.
Perjalanan pulang ke kota dimulai. Posisi duduk di dalam SUV besar itu berubah total. Clark mengambil alih kemudi dengan Lucia di sampingnya, posisi yang sengaja diatur Lucia agar area tengah menjadi wilayah pribadi. Di kursi paling belakang, Henry dan Patrick sibuk dengan urusan mereka sendiri, terutama Henry yang tidak berhenti bercerita tentang deretan wanita seksi yang ia temui di club minggu lalu.
Di kursi tengah, suasana terasa seperti berada di dimensi yang berbeda. Hanya ada Jane dan Julius.
Baru satu jam perjalanan, Julius tampak sangat santai. Tangannya yang biasanya kaku di atas lutut, kini bergerak ke arah Jane. Dengan gerakan yang sangat halus dan tanpa izin, jemarinya mulai memainkan helai rambut Jane. Ia melilitkan ujung rambut Jane di jarinya, membelainya dengan ibu jari, seolah itu adalah kain sutra paling halus yang pernah ia temukan.
"Julius... rambutku berantakan," bisik Jane, jantungnya berdebar kencang.
"Tidak. Ini indah," jawab Julius tanpa menoleh, matanya menatap keluar jendela, namun jemarinya terus bergerak secara ritmis di rambut Jane. Ia sama sekali tidak memedulikan sekitarnya.
Tiba-tiba—CIIIIIIIT!
Clark menginjak rem dengan sangat mendadak, membuat semua orang di mobil terlonjak. "Sori! Ada kucing lewat!" seru Clark dari depan, yang entah kenapa terdengar sangat dibuat-buat.
Tubuh Jane terlempar ke depan, namun sebuah lengan kokoh dengan cepat menariknya kembali. Sebelum Jane bisa bernapas normal, lengan Julius sudah melingkar dengan protektif di pinggangnya. Julius tidak melepaskannya. Ia justru menarik Jane lebih dekat, membiarkan kepala Jane bersandar di bahunya.
"Clark, menyetirlah dengan benar," tegur Julius dingin, namun tangannya di pinggang Jane terasa sangat hangat dan protektif.
"Wuih! Pak Bos gercep banget!" Henry berteriak dari belakang, kepalanya melongok di antara celah kursi. "Eh Jane, lo tau nggak, cewek yang gue temuin di Bali itu badannya..."
"Henry, tutup mulutmu," potong Julius datar, suaranya mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah. "Suaramu mengganggu Jane yang sedang istirahat."
Patrick menyenggol Henry sambil tertawa kecil. "Diem lo, Hen. Jangan ganggu orang lagi simulasi jadi couple."
Sepanjang sisa tiga jam perjalanan, Julius benar-benar tidak melepaskan rangkulannya. Ia tetap memainkan rambut Jane dengan tangan satunya, sementara tangannya yang lain tetap mengunci pinggang Jane. Sesekali, jika Clark sengaja melewati jalanan berlubang atau mengerem mendadak (yang terjadi cukup sering), Julius akan mempererat pelukannya.
Jane memejamkan mata. Di dalam pelukan ini, ia tidak lagi merasa seperti figuran. Ia merasa seolah naskah hidupnya baru saja ditulis ulang oleh pria di sampingnya. Bau parfum sandalwood Julius dan kehangatan tangannya membuat Jane lupa bahwa di ujung jalan ini, ada kota yang penuh dengan intrik saham, kemewahan yang dingin, dan sosok Grace Liberty.
Untuk saat ini, dalam ruang sempit SUV ini, Jane adalah pusat semesta Julius.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍😍😍😍