NovelToon NovelToon
Ayah Apa Salahku?

Ayah Apa Salahku?

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

"Ketika seorang anak ingin dicintai tapi selalu dijadikan alasan"

Kanaya ditinggalkan ibunya sejak bayi berumur 14 bulan dan tumbuh bersama ayah yang selalu menyalahkannya atas setiap kegagalan hidup.

Saat ayahnya menikah lagi, kasih sayang yang dulu sempat ia rasakan perlahan hilang.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang berubah menjadi sumber luka.

Kanaya hanya ingin diakui sebagai anak, bukan beban.
Namun semakin ia berusaha, semakin ia disalahkan.

Sampai akhirnya ia hanya bisa bertanya dalam diam—
Ayah, apa salahku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LANGKAH BARU SETELAH FAJAR

Permintaan Mbah Akung sore itu terasa begitu berat dan mendalam. Di ruang tengah yang biasanya penuh tawa, kini hanya ada keheningan yang sesekali pecah oleh suara helaan napas. Mbah Uti masih terbaring di rumah sakit, dan mundurnya Mbok Darmi karena urusan keluarga seperti menambah beban di pundak Bagas.

Bagas menatap ayahnya yang tampak jauh lebih tua dalam beberapa hari ini. Ia kemudian melirik Kanaya yang sedang tertidur lelap di sofa dengan buku mewarnai yang masih terbuka.

"Gas, Mbok Darmi sudah pamit tadi. Dia benar-benar nggak bisa ditinggal karena cucunya di kampung juga sakit. Bapak harus jaga Ibu di rumah sakit, Maya juga sudah mulai sibuk sama ujian di sekolahnya," ucap Mbah Akung pelan, suaranya parau. "Bisa nggak, kalau kamu dinas malam, Kanaya kamu bawa saja? Bapak nggak tenang kalau dia di rumah cuma sama Maya, kasihan Mbakmu juga kalau harus bangun tengah malam urus Naya sementara dia harus mengajar pagi-pagi."

Bagas terdiam sejenak, membayangkan bagaimana ia harus membawa balita berumur enam tahun itu ke lingkungan pabrik yang keras, bising, dan dingin saat malam hari. Namun, ia tahu tidak ada pilihan lain. Sebagai seorang ayah sekaligus anak, ia harus mengambil tanggung jawab ini.

"Bisa, Yah. Bagas usahakan," jawab Bagas akhirnya dengan nada mantap. "Nanti Bagas minta izin sama kepala shift untuk bawa Naya ke ruang istirahat karyawan. Di sana ada kasur kecil dan AC, mungkin Naya bisa tidur di sana sementara Bagas kontrol mesin."

Malam itu, untuk pertama kalinya, Kanaya tidak memakai piyama bermotif lumba-lumba untuk tidur di kasur empuknya. Ia memakai jaket tebal, syal rajutan Mbah Uti, dan tas ransel berisi bantal kecil serta susu kotak.

"Ayah, kita mau kemping ya?" tanya Kanaya polos saat mereka berjalan menuju parkiran motor.

"Iya, Sayang. Kemping di tempat kerja Ayah. Nanti Naya jadi asisten Ayah ya? Tapi syaratnya, Naya harus bobo pintar di dalam ruangan, nggak boleh lari-lari ke luar," jawab Bagas sambil memakaikan helm kecil ke kepala putrinya.

Sesampainya di pabrik, kehadiran Kanaya mengundang perhatian rekan-rekan kerja Bagas. Mereka terheran-heran melihat Bagas menggendong anak kecil di jam masuk shift malam. Namun, setelah mendengar kondisi keluarga Bagas, semua rekan kerjanya justru merasa iba dan berusaha membantu.

"Sini, Gas, biar Naya tidur di ruangan saya saja, lebih tenang," tawar Pak joko, kepala regu yang sudah dianggap Bagas seperti kakak sendiri.

Bagas menggelar selimut di pojok ruangan yang bersih. Kanaya, dengan kepolosan yang luar biasa, tidak mengeluh sedikit pun. Ia justru merasa petualangan ini sangat seru. Sebelum memejamkan mata, ia memegang tangan Bagas.

"Ayah... Ayah jangan capek-capek ya kerjanya. Naya jagain Ayah dari sini," bisik Kanaya sebelum akhirnya jatuh terlelap karena kelelahan.

Bagas menatap wajah putrinya yang tenang di bawah lampu neon ruang istirahat yang remang. Hatinya tersayat melihat Kanaya harus melewati malam-malam seperti ini, namun ia juga merasa bangga. Putrinya yang cerdas itu seolah mengerti bahwa saat ini keluarganya sedang berjuang. Di antara deru mesin pabrik yang bising di luar sana, Bagas bekerja dengan semangat berkali-kali lipat, tahu bahwa di ruangan sebelah, ada harta paling berharganya yang sedang menantinya pulang.

Peralihan tugas Bagas dari Security Pabrik Laundry menjadi Security Outlet di pusat kota ternyata membawa perubahan besar dalam keseharian mereka. Jika dulu di pabrik suasananya gersang dan penuh deru mesin besar, kini di outlet utama, Bagas berada di garda depan yang lebih bersih dan modern. Namun, tanggung jawabnya tetap sama: menjaga keamanan dan ketertiban, termasuk saat ia terpaksa membawa Kanaya karena situasi di rumah yang sedang sulit.

Kehadiran Kanaya di pos jaga dan area lobi outlet membuat suasana kantor yang biasanya kaku menjadi jauh lebih hangat. Kanaya, dengan seragam SD-nya yang masih rapi meskipun hari sudah beranjak malam, duduk di sebuah kursi tinggi di dekat meja resepsionis, seolah-olah ia adalah "Security Kecil" yang sedang mendampingi ayahnya.

"Ayah, itu Om yang pakai baju biru belum bayar ya? Kok dia langsung pergi?" tanya Kanaya dengan suara polos namun lantang saat melihat seorang pelanggan keluar membawa kantong laundry-nya.

Bagas yang sedang berdiri tegap di dekat pintu otomatis langsung menoleh dan tertawa kecil. "Itu namanya langganan tetap, Sayang. Dia sudah bayar di muka. Naya pinter banget sih, matanya teliti sekali kayak asisten Security," puji Bagas sambil mengusap kepala putrinya.

Rekan-rekan Bagas di bagian admin dan kasir outlet sangat menyukai kehadiran Kanaya. Gadis kecil itu tidak hanya diam; berbekal ajaran berhitung dari Mbah Akung, ia sering membantu "mengecek" jumlah baju yang masuk.

"Tante, ini bajunya ada satu, dua, tiga... lima! Kok di kertas tulisannya enam?" ucap Kanaya saat melihat Mbak Sari, bagian admin, sedang menghitung setumpuk kemeja.

Mbak Sari terkejut dan menghitung ulang. "Eh, iya benar! Ada yang terselip satu di bawah meja. Ya ampun, Naya... kamu lebih teliti dari Tante! Mas Bagas, anakmu ini benar-benar jenius, ya. Mbah Akung pasti bangga banget kalau lihat cucunya sudah bisa koreksi kerjaan admin."

Tawa pecah di kantor outlet malam itu. Bagas merasa sangat terbantu karena meskipun Kanaya harus ikut bekerja bersamanya, putrinya itu tidak pernah rewel. Kanaya justru merasa bangga bisa "bekerja" bersama ayahnya. Di matanya, ayahnya adalah pahlawan yang menjaga gedung besar itu, dan ia adalah sang asisten yang bertugas memastikan semua angka dan huruf di sana benar.

Saat jam menunjukkan pukul sembilan malam dan outlet mulai sepi, Kanaya mulai tampak mengantuk. Bagas membawanya ke ruang istirahat staf yang bersih. Di sana, di atas sofa panjang, Bagas menyelimuti Kanaya dengan jaket security-nya yang besar.

"Bobo ya, Nak. Nanti kalau shift Ayah selesai, kita pulang lihat Mbah Uti," bisik Bagas.

Kanaya mengangguk pelan, tangannya memeluk tas sekolahnya yang berisi buku matematika dari Mbah Akung. Di tengah harum aroma detergen dan pewangi laundry yang khas di kantor itu, Kanaya tertidur lelap dengan perasaan aman, tahu bahwa "Security" terhebat di dunia sedang berjaga tepat di depan pintunya.

Berita duka itu datang tepat saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur, membawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Setelah perjuangan panjang melawan sakitnya, Mbah Uti akhirnya mengembuskan napas terakhir dengan tenang. Di dalam kamar rumah sakit yang hening, Mbah Akung hanya bisa terdiam sembari menggenggam tangan istrinya yang sudah mendingin, sementara Maya pecah dalam tangis di pelukan Bagas.

Dunia yang tadinya penuh warna bagi Kanaya, tiba-tiba berubah menjadi abu-abu.

Pagi itu, suasana di depan rumah yang hanya berjarak sepuluh rumah dari sekolah itu tampak sangat berbeda. Bender kuning sudah terpasang di ujung gang, dan kursi-kursi plastik mulai ditata di halaman. Kanaya, yang masih mengenakan seragam sekolah karena rencananya pagi itu ia akan diantar Maya, berdiri mematung di ambang pintu. Ia melihat orang-orang datang dengan wajah sedih, menyalami Mbah Akung yang tampak begitu rapuh.

"Ayah... Mbah Uti mana? Katanya mau pulang?" tanya Kanaya dengan suara kecil. Ia belum sepenuhnya paham arti dari kata "meninggal", namun ia bisa merasakan ada sesuatu yang hilang secara permanen.

Bagas berlutut di hadapan putrinya. Matanya merah dan sembap, namun ia mencoba sekuat tenaga untuk tidak hancur di depan Kanaya. "Naya sayang... Mbah Uti sudah pulang ke rumah Allah. Sekarang Mbah sudah nggak sakit lagi, sudah bisa jalan lagi di sana, nggak perlu pakai kursi roda atau infus lagi."

Kanaya menunduk, menatap buku tulis matematikanya yang masih terselip di saku tas. "Terus... siapa yang mau lihat Naya hitung sampai seratus, Yah? Naya sudah hafal hurufnya juga... Mbah Uti belum dengar Naya baca."

Mendengar ucapan polos itu, Maya yang berada di dekat sana langsung menghambur memeluk Kanaya. Mereka menangis bersama di tengah kerumunan orang. Di hari pemakaman, Kanaya tidak meronta. Ia justru sangat tenang, seolah kecerdasan yang diajarkan Mbah Akung selama ini memberinya kekuatan untuk memahami bahwa hidup memang memiliki awal dan akhir.

Saat tanah mulai menutupi pusara, Kanaya mendekat. Ia meletakkan sebuah bungan kecil di atas gundukan tanah merah itu. Dengan suara cadelnya yang khas, ia berbisik lirih, "Mbah Uti, nanti Naya tetap belajar hitung sama Mbah Akung ya. Naya bakal jadi anak pintal biar Mbah Uti senang di selga (surga)."

Mbah Akung, yang sejak tadi mencoba tegar, akhirnya luruh saat mendengar bisikan cucunya. Ia merangkul bahu Kanaya dan Maya. Kehilangan ini memang sangat berat, namun melihat Kanaya, mereka tersadar bahwa Mbah Uti telah meninggalkan warisan terbaiknya: yaitu kasih sayang yang kini tumbuh subur di dalam hati gadis kecil itu.

Rumah itu mungkin akan terasa lebih sepi tanpa kehadiran Mbah Uti, tapi cahaya kecil bernama Kanaya akan memastikan bahwa kehangatan keluarga mereka tidak akan pernah benar-benar padam.

Setelah tanah makam mulai mengering dan karangan bunga di depan rumah telah disingkirkan, keluarga itu harus menghadapi kenyataan pahit bahwa tidak ada lagi suara Mbah Uti yang memanggil mereka untuk sarapan. Kehidupan baru dimulai dengan langkah yang terasa lebih berat, namun mereka sadar bahwa duka tidak boleh menelan masa depan Kanaya. Mbah Akung kini lebih banyak menghabiskan waktu di teras, sering kali melamun menatap kursi kosong di sampingnya. Maya yang menyadari hal itu, berusaha tetap tegar di depan adik dan ayahnya, meskipun setiap kali ia masuk ke dapur dan melihat celemek ibunya yang masih tergantung, dadanya terasa sesak. Mereka mulai membagi tugas baru; Bagas yang kini lebih mapan di posisi security outlet mulai mengatur jadwal agar tetap bisa menemani Kanaya belajar, sementara Maya mengambil alih peran mengelola rumah sepenuhnya.

Suatu malam, saat hujan rintik membasahi kaca jendela, mereka berkumpul di ruang tengah. Kanaya duduk di pangkuan Mbah Akung sambil memegang buku rapot sekolahnya yang baru saja dibagikan. Suasana hening sejenak sebelum Kanaya memecah kebisuan itu dengan kepolosannya yang khas.

"Mbah Akung, lihat... Naya dapat bintang lima dari Ibu Guru karena Naya paling cepat hitung tambah-tambah," ucap Kanaya sambil menunjukkan kertas ujiannya. "Mbah jangan sedih terus ya? Nanti kalau Mbah sedih, Naya jadi lupa angka delapan bentuknya gimana."

Mbah Akung tersenyum tipis, meski matanya masih menyimpan kabut kesedihan. Ia mengusap rambut cucunya dengan sayang. "Iya, Naya. Mbah nggak sedih lagi kalau lihat Naya pintar begini. Naya ingat kan pesan Mbah Uti? Katanya Naya harus jadi anak yang kuat."

Bagas yang sedang melipat seragam kerjanya di sudut ruangan menimpali, "Yah, mulai besok Bagas ambil shift pagi saja. Kasihan Mbak Maya kalau harus urus rumah sendirian terus. Biar Bagas yang jemput Naya sekolah, terus nanti sorenya Bagas bisa temani Ayah jalan-jalan ke taman biar nggak di rumah terus."

Maya mengangguk setuju sambil menuangkan teh hangat untuk ayahnya. "Iya, Yah. Kita harus tata lagi hidup kita. Aku sudah minta izin ke kepala sekolah untuk tidak ambil jam tambahan sore, jadi aku bisa fokus dampingi Naya dan jaga Ayah. Kita harus kuat, karena kalau kita lemas, kasihan Naya. Dia masih kecil, dunianya jangan sampai ikut gelap karena kita berduka terus-menerus."

"Tapi, Bu... kalau Naya rindu Mbah Uti, Naya boleh nangis nggak?" tanya Kanaya tiba-tiba, membuat suasana kembali haru.

Maya berlutut di depan Kanaya, memegang kedua tangan mungil itu. "Boleh, Sayang. Menangis itu boleh. Tapi setelah nangis, Naya harus ingat kalau Mbah Uti sayang sekali sama Naya. Mbah Uti pasti senang di surga kalau lihat Naya rajin belajar berhitung sama Mbah Akung. Naya mau kan bikin Mbah Uti bangga?"

Kanaya mengangguk mantap, lalu ia turun dari pangkuan kakeknya dan menghampiri meja kecil untuk mengambil pensilnya. "Naya mau tulis surat buat Mbah Uti. Naya mau kasih tahu kalau Ayah Bagas sekarang nggak pelit lagi beli mainan, terus Ibu Maya masaknya sudah enak mirip Mbah Uti."

Mendengar celetukan itu, Bagas dan Mbah Akung akhirnya tertawa lepas untuk pertama kalinya sejak kepergian sang nenek. Tawaran tawa itu seolah menjadi tanda bahwa meskipun ada lubang besar di hati mereka, cinta yang tersisa masih cukup kuat untuk merajut kembali kebahagiaan. Mereka belajar bahwa menata hidup baru bukan berarti melupakan yang telah pergi, melainkan membawa semangat orang yang dicintai ke dalam setiap langkah yang diambil demi masa depan Kanaya yang masih sangat panjang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!