Elara Vance mengira hidupnya di London akan tenang setelah lulus kuliah seni. Namun, satu kesepakatan rahasia ayahnya menyeret Elara ke dunia Julian Moretti—pengusaha muda dengan pengaruh luar biasa yang gerak-geriknya selalu dipenuhi misteri. Demi melindungi keluarganya, Elara setuju untuk masuk ke dalam sebuah pernikahan kontrak.
Julian itu dingin dan penuh kendali, namun ia memiliki satu aturan: tidak boleh ada yang menyentuh Elara selain dirinya. Di balik kemewahan mansion Moretti, Elara harus mencari tahu siapa pria itu sebenarnya, sambil menyembunyikan cincin rahasia di jarinya yang menjadi tanda bahwa ia adalah milik sang penguasa bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: KEBENARAN YANG MEMBUTAKAN
Angin badai menderu, mencoba merobek Elara dari jaring-jaring nelayan yang bergoyang hebat di sisi luar mercusuar. Dunianya adalah kegelapan yang bergetar. Ia tidak tahu seberapa tinggi ia berada, atau seberapa dalam jurang di bawahnya. Ia hanya tahu satu hal: ia harus bergerak menjauh dari suara Silas.
"Kau tidak punya tempat untuk lari, Elara!" teriak Silas dari jendela di atasnya. Suara itu teredam oleh deru baling-baling helikopter yang semakin mendekat.
Tiba-tiba, sebuah tangan besar menangkap pergelangan kaki Elara. Silas berhasil meraihnya.
"Lepaskan!" Elara menendang dengan liar, namun dalam kegelapannya, ia kehilangan orientasi. Ia merasakan tubuhnya terseret kembali ke arah balkon beton yang dingin.
"Julian! Tembak!" teriak Silas ke arah langit. "Tembak kami berdua jika kau berani!"
Namun, sebuah suara lain membelah badai. Bukan suara Julian, dan bukan suara Silas yang penuh kemenangan. Itu adalah suara serak yang datang dari arah pintu balkon—suara yang sangat Elara kenal.
"Hentikan, Silas! Lepaskan dia!"
Itu Ayahnya. Thomas Vance.
"Ayah?" Elara merintih, tangannya mencengkeram besi pagar balkon saat Silas menariknya naik.
"Kau seharusnya diam di bawah, Pak Tua!" Silas mengacungkan senjatanya ke arah Thomas yang berdiri gemetar, didukung oleh tiang penyangga.
"Julian tidak pernah memesan chip itu, Silas," suara Thomas terdengar pecah oleh tangis. "Dia tidak pernah tahu soal kontrak sepuluh tahun lalu sampai dia menemukan dokumennya di brankas ayahnya sendiri sebulan yang lalu."
Elara membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak. "Apa... apa maksudmu, Ayah?"
Thomas melangkah maju, suaranya kini tertuju langsung pada Elara, mengabaikan Silas yang mulai terlihat bingung. "Julian menyembunyikan dokumen itu darimu bukan untuk menipumu, tapi untuk melindungiku! Dia tahu jika kau tahu kebenarannya, kau akan hancur."
"Siapa..." Elara menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. "Siapa yang menandatangani kontrak itu, Ayah?"
Hening sejenak. Hanya ada suara hujan yang menghantam beton.
"Aku, Elara," bisik Thomas. "Aku yang menjualmu. Aku butuh uang untuk menyelamatkan nyawaku sendiri dari utang judi Dewan. Aku yang mengizinkan mereka menanamkan Silk di matamu saat kau masih balita. Julian... Julian adalah orang yang menghabiskan sepuluh tahun terakhir mencoba membeli kembali kontrakmu agar kau bisa bebas."
Dunia Elara yang sudah gelap kini terasa runtuh lebih dalam. Kebencian yang selama ini ia arahkan pada Julian—bahan bakar yang membuatnya bertahan hidup malam ini—ternyata adalah sebuah kesalahan fatal. Julian adalah perisainya, sementara ayahnya adalah pisau yang menusuknya sejak awal.
"Kau... kau menjualku?" suara Elara nyaris tak terdengar.
"Aku terpojok, Elara! Aku pikir aku bisa menebusmu nanti!"
"Cukup dramanya!" Silas berteriak, kehilangan kesabaran. Ia menarik Elara berdiri, menggunakan tubuh gadis itu sebagai perisai saat sosok hitam meluncur turun dari tali helikopter.
Julian Moretti mendarat di balkon seperti malaikat maut. Pakaiannya basah kuyup, wajahnya penuh luka, namun matanya hanya tertuju pada satu titik: Elara yang pucat dan tak menentu arah pandangnya.
"Lepaskan dia, Silas," suara Julian terdengar tenang, namun itu adalah ketenangan dari seseorang yang tidak lagi memiliki apa pun untuk dipertaruhkan. "Dewan sudah mencabut perintahmu. Kau bertindak sendiri sekarang."
"Aku tidak butuh Dewan!" Silas menekan moncong pistol ke pelipis Elara. "Aku punya kuncinya di sini! Dan jika aku tidak bisa memilikinya, tidak ada yang bisa!"
"Julian..." Elara berbisik. Ia tidak bisa melihat Julian, tapi ia bisa merasakan kehadirannya. Rasa bersalah yang amat sangat menghantamnya. "Julian, maafkan aku... aku tidak tahu..."
"Jangan bicara, Elara," ucap Julian lembut. "Tetaplah bernapas. Hanya itu yang aku butuhkan darimu."
"Ayahmu benar, kan?" Silas tertawa gila. "Julian si pahlawan kesiangan. Dia mencintaimu, Elara. Dan itu adalah kelemahannya yang paling besar."
Tepat saat Silas hendak menarik pelatuk, sebuah kilatan cahaya dari lampu sorot helikopter membutakan Silas sejenak. Elara, dengan indra pendengaran yang kini jauh lebih tajam, mendengar pergeseran berat tubuh Silas.
Ia tidak menunggu. Elara menghantamkan kepalanya ke belakang, tepat ke arah hidung Silas, lalu menjatuhkan dirinya ke lantai.
BANG!
Suara tembakan meletus. Elara merasakan panas peluru menyerempet bahunya. Di saat yang sama, ia mendengar suara hantaman fisik yang brutal. Julian telah menerjang Silas.
Pertarungan itu singkat dan mematikan. Julian tidak lagi menahan diri. Ia menghujamkan pukulan demi pukulan hingga Silas tidak lagi bergerak. Julian kemudian berbalik, merangkak di lantai yang basah menuju Elara.
"Elara! Kau terluka?" tangannya yang gemetar meraba bahu Elara.
Elara memegang tangan Julian. Ia tidak bisa melihat wajah pria itu, tapi ia bisa merasakan air mata yang jatuh dari pipi Julian ke tangannya.
"Kau bukan monsternya, Julian," bisik Elara sambil terisak. "Aku salah... aku sangat salah..."
Julian menarik Elara ke dalam pelukannya, mendekapnya begitu erat seolah-olah ia bisa menyatukan kembali jiwa Elara yang hancur. "Aku tidak peduli siapa yang salah, Elara. Aku hanya ingin membawamu pulang."
Namun, di sudut balkon, Thomas Vance berdiri menatap mereka dengan tatapan hampa. Ia menyadari bahwa pengampunan tidak akan pernah ada baginya.
"Jaga dia, Julian," ucap Thomas pelan.
Sebelum Julian atau Elara bisa bereaksi, Thomas melangkah mundur, menjatuhkan dirinya ke dalam kegelapan jurang di bawah mercusuar.
"AYAH!!!" teriak Elara ke arah kegelapan yang tak berujung.